Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Pendidikan Anak Tunanetra

Sejarah Pendidikan Anak Tunanetra

Ratings: (0)|Views: 26 |Likes:

More info:

Published by: Luthfi Dyah Ayu Widawati on Jul 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2014

pdf

text

original

 
Sejarah Pendidikan Anak TunanetraA.Sejarah Pendidikan Anak Tunanetra di DuniaSekolah pertama bagi anak tunanetra yang diberi nama L’instution Nationale des Jueves Aveugles di Eropa didirikan di Paris pada tahun 1784oleh Valentin Hauy, tetapi jelas bahwa di berbagai bagian Eropa sejumlahkecil anak tunanetra sudah menerima pendidikan formal sebelum tahuntersebut, kadang-kadang di sekolah setempat bersama-sama dengan anak-anak yang awas. Beberapa dari anak-anak tersebut, dalam masa kehidupannyaselanjutnya, bahkan berhasil mencapai prestasi nasional maupun internasionaldalam berbagai bidang kebudayaan dan akademik. Salah seorang dariindividu luar biasa ini adalah akademisi Inggris Nicholas Saunderson yanglahir pada tahun 1682 dan kehilangan penglihatannya pada masa bayinyakarena cacar. Dia dididik di sebuah sekolah di Penistone di Yorkshire danmenonjol dalam sastera klasik dan kemudian dalam matematika. Diaselanjutnya masuk Cambridge University, di mana dia diangkat sebagai profesor dalam bidang matematika, dan meniti karir yang menonjol hinggameninggalnya pada tahun 1739 (Ritchie, 1930).Contoh lainnya adalah pendeta terkemuka dan kepala sekolah di Skotlandiayang bernama Thomas Blacklock, yang meskipun buta sejak bayi, dididik disebuah sekolah dasar biasa. Dia banyak menulis puisi dan merupakan salahseorang sahabat pujangga Robert Burns.Lowenfeld (1974) mengemukakan bahwa munculnya para "self-emansipator" pada awal abad ke-18 ini merupakan salah satu faktor yangmendorong minat orang terhadap pendidikan bagi orang-orang yangtunanetra. Akan tetapi, contoh-contoh yang baik ini sesungguhnya merupakantopeng bagi keberadaan yang menyedihkan dari kemiskinan dan kebodohanyang merupakan nasib dari kebanyakan orang tunanetra di Eropa pada abadke-18 dan awal abad ke-19.
 
Selama masa-masa rusuh yang mengitari Revolusi Perancis, sekolahyang didirikan oleh Hauy itu untuk sementara luput dari perhatian orang, danHauy melanjutkan pekerjaannya di Berlin dan St. Petersburg di mana diamembantu mendirikan sekolah-sekolah khusus baru bagi tunanetra. Selamadua dekade berikutnya sekolah-sekolah semacam ini berdiri di kota-kota besar lain di seluruh Eropa. Sekolah khusus bagi tunanetra pertama di Inggrisdibuka di Liverpool pada tahun 1891 dan diikuti oleh sekolah-sekolah diEdinburgh, Bristol, London dan kota-kota besar lainnya. Pendirian sekolah-sekolah di Inggris tersebut dipelopori oleh badan-badan sukarela filantropisatau organisasi-organisasi keagamaan, dan sering dilengkapi dengan bengkel- bengkel kerja dan rumah-rumah khusus untuk tunanetra dewasa yang disebut"asylum" (rumah suaka). Meskipun sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra diInggris sudah terorganisasi dengan baik sejak tahun 1860-an, tetapi sekolah-sekolah tersebut baru melayani sebagian saja anak-anak tunanetra yangmembutuhkan pendidikan. Menurut Hurt (1988), kampanye untumendapatkan pendidikan dasar bagi semua anak yang tunanetra dimulai padatahun 1869. Elizabeth Gilbert, puteri tunanetra dari Uskup Chichester,menggalang sebuah petisi yang menuntut agar anak-anak tunanetra tercakupdi dalam perundang-undangan nasional tentang pendidikan dasauniversal. Pendidikan dasar universal diperkenalkan di Inggris pada tahun1870. Meskipun undang-undang tidak mewajibkan sekolah-sekolah umumlokal untuk mencakupkan di dalam penyelenggaraannya anak-anak yangtunanetra, tetapi anak-anak tunanetra dengan jumlah yang cukup besar diterima di banyak sekolah umum lokal.B.Sejarah Pendidikan Anak Tunanetra di IndonesiaPada tanggal 26 April 1901 diresmikanlah awal usaha penyantunantunanetra Indonesia oleh Jhr. E. Th. Van Bethem Van Berg, Dr. H.A.Weshoff, Ds. W. Van Lingen, R.A.A Soeria Atmadja dan lain-lain.Perkumpulan ini diberi nama “ Vereniging tot Verbetering van het lot der Blinden in Nederlandsch Oost-Indie”, dengan Surat Keputusan Pemerintah Nomor 9 tanggal 6 Agustus 1901. Sebagai pelindungnya adalah Gubernur 
 
Jenderal W. Rooseboom. Pimpinan pertama dalam usaha ini dijabat oleh J.W.Van der Zanden yang diresmikan pada upacara pembukaan BandoengscheBlinden Institute (Lembaga Rumah Buta) pada tanggal 16 September 1901 diJalan Cicendo No. 2 Bandung. Dengan mengikuti perkembangan jumlahmurid, pada bulan Mei 1902 Lembaga Rumah Buta pindah ke Jalan BragaBandung. Saat itu Wakil Direktur Lembaga tersebut adalah Ny. VanHoogeven Sterk, dan Dr. Weshoof sebagai Pengawas Hariannya. Permulaanusaha tersebut menarik perhatian berbagai kalangan baik di dalam maupunluar negeri. Bantuan-bantuanpun berdatangan antara lain dari Negeri Belandadan Raja Muangthai. Keberhasilan usaha ini digunakan untuk memulai pembukaan workshop.Pada tahun 1902 dibelilah sebidang tanah seluas 3 bahu yang terletak di Jalan Pajajaran No. 52 Bandung. Setelah dibangun dengan bantuanPemerintah maka pada tanggal 24 Juli 1903 kompleks Rumah Buta Bandungdiresmikan oleh Ketua Kehormatan Perkumpulan Residen yaitu G.J.A.FOosthout yang kemudian diserahkan kepada Ketua Perkumpulan yakni Dr.Weshoof. Dan sejak itu Lembaga Rumah Buta berlokasi di Jalan Pajajaran No. 52 Bandung yang sekarang terkenal dengan PSBN “ Wyata Guna “.Direktur Lembaga Van der Zanden pada tahun 1902 meninggal dunia,kemudian diganti oleh W. Molenaar yang kemudian pada tahun 1904digantikan oleh F. Mewes.Dalam bidang pendidikan Lembaga Rumah Buta mulai menerapkansuatu sistem baru yaitu dengan cara meraba, mencium dan mencicipi sehinggailmu tumbuh-tumuhan dan tentang tanah liat tidak lagi asing bagi tunanetra.Dalam tahun 1904 workshop telah dapat memberikan pekerjaan teratur kepada49 orang tunanetra dengan bahan-bahan baku yang murah dan biasa terdapatdi desa, dengan maksud bahwa di kemudian hari para pekerja tunanetra ituakan dapat mencari nafkah sendiri di desa masing-masing.Di bidang pendidikan anak asuh tak kalah dengan anak awas. Hal inidibuktikan dengan adanya anak asuh tunanetra yang telah dapatmenyelesaikan pendidikan Lyceum (setingkat SMU sekarang) dengan baik.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->