Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
POUZN Zinc Indonesia Prof Yatie Medika Okt08

POUZN Zinc Indonesia Prof Yatie Medika Okt08

Ratings: (0)|Views: 234 |Likes:
Published by DewiUtari

More info:

Published by: DewiUtari on May 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2014

pdf

text

original

 
706
NO. 10 TAHUN KE XXXIV, OKTOBER 2008
SUPLEMEN MEDIKA
ROFIL 
B
erbincang dengan profil MEDIKA kali ini,yaitu Prof. Dr. Srisupar Yati Soenarto,PhD., SpA(K), sungguh menyenangkan. Disela kegiatannya yang padat, baik sebagai jurimaupun mediator acara Kongres Ilmu Kese-hatan Anak di Surabaya beberapa waktu lalu,beliau masih menyempatkan waktu berbagiilmu dan pengalamannya sebagai pakar dibidang gastroenterohepatologi anak diIndonesia. Klinisi sekaligus akademisi inimenjabat sebagai Ketua Program StudiMagister Sains Program Pendidikan DokterSpesialis Ilmu Kesehatan Anak (MS-PPDS IKA)Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada,Yogyakarta.Empat dekade bergelut di bidang ilmukesehatan anak dan mendalami gastroente-rohepatologi, membuat Srisupar Yati mema-hami benar mengenai masalah kesehatananak di Indonesia, khususnya tentang diare.Diare dengan segala permasalahannya telahditelusuri oleh istri dari Prof. DR. Dr. SoenartoSastrowijoto, SpTHT, ini sejak tahun 1970-an.Sebagai penyebab kematian nomor 2 setelahradang paru-paru pada anak usia 6 bulanhingga 2 tahun, diare masih merupakanpenyakit anak dengan beban kesakitan, ke-matian, dan biaya yang tinggi. Dalam pidatopengukuhannya sebagai Guru Besar FakultasKedokteran Universitas Gajah Mada, Yogya-karta dengan judul
Penelitian Translasionaldan Kebijakan Berbasis Bukti: Diare padaAnak sebagai Studi Kasus
Δ
, beliau menekan-kan bahwa dalam penyelesaian masalah diareperlu memanfaatkan penelitian translasionalsecara sistematik dan terintegrasi. Penelitiantranslasional merupakan penelitian integratifyang menghubungkan antara ilmu dasar ke-dokteran dengan ilmu klinik untuk mengem-bangkan strategi baru dalam pengembanganterapi di bidang kedokteran. Penelitian trans-lasional yang efektif tidak hanya berhenti pa-da hasil, namun juga harus mempertimbang-kan implementasinya pada tingkat komunitasdalam bentuk suatu kebijakan.Tingkat keparahan diare di negara ber-kembang dipengaruhi oleh malnutrisi dandefisiensi imunitas. Determinan kedua faktorini adalah defisiensi zink. Defisiensi zink dapatmengganggu absorpsi air dan natrium dalamusus.
Penggunaan zink bersama oralit secaraluas pertama kali dilakukan saat bencanatsunami di Aceh pada 2004,
Δ
jelas SrisuparYati. Di daerah bencana tersebut, zinkdiberikan selama 10ƒ14 hari, agar efekprofilaksis diare hingga 2ƒ3 bulan ke depandapat diaplikasikan. Pengobatannya sendiriminimum harus dilakukan selama 10 hari. Jikatidak, rekurensi diare sangat mungkin terjadi.Secara sederhana namun informatif, beliaumembagi pengalamannya saat pemberianzink untuk kasus diare di daerah bencanatsunami.
Δ
Kami tidak mendapatkan kesulitandalam mengimplementasikan pemberianzink. Para orangtua merasa lebih senang,karena penyembuhan diare menjadi lebihcepat. Bahkan, beberapa orangtua protesketika pemberian zink dihentikan,
lanjutwanita yang sangat ramah ini.Efektivitas zink telah teruji pada berbagaipenelitian, termasuk yang dilakukan olehBaqui dkk, di Bangladesh pada 2004
.
Pene-litian ini menunjukkan bahwa penggunaanzink mampu meningkatkan penggunaanoralit dan menurunkan penggunaan antibio-tik, keparahan diare akut, serta risiko kekam-buhan.Untuk mendukung sosialisasi penggu-naan zink oleh Depkes sebagai bagian darikebijakan nasional penanganan diare diIndonesia, sejak 2 tahun lalu Prof. SrisuparYati aktif bergerak dalam
Indonesian Zink Task Force 
yang terdiri dari BKGAI (BadanKoordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia),UKK (Unit Koordinasi Kerja) terkait IDAI(Ikatan Dokter Anak Indonesia), dan Depkes.Semua elemen ini bekerjasama dalam bebe-rapa kegiatan, seperti menyebarluaskaninformasi mengenai manfaat zink, baik kepa-da dokter, petugas kesehatan, maupunmasyarakat luas. Selain itu, juga mendukungperusahaan-perusahaan farmasi untuk mem-buat sediaan zink sebagai obat diare anak.Sebagai dokter anak senior di Indonesia,tidak jarang wanita yang telah dikarunia em-pat cucu ini menjumpai pengobatan diareakut yang tidak rasional, yang justru banyakdilakukan oleh sejawat dokter. Dalam pene-litiannya pada 2007 diketahui bahwa peng-gunaan antibiotik yang irasional pada diareakut di rumah sakit non-pendidikan hampirmencapai 100%, sedangkan di rumah sakitpendidikan hanya 18%. Hal ini juga terjadipada beberapa sejawat yang sudah mendala-mi beberapa pelatihan dan telah mengertipemberian antibiotik yang irasional tersebut.Tentu saja hal ini menimbulkan keprihatinantersendiri. Ketika disinggung mengenai haltersebut, biasanya beberapa sejawat berdalihbahwa mereka terdesak oleh permintaan paraorangtua pasien yang menginginkan agaranaknya diberi obat untuk menghentikandiare, karena sebagian besar orangtua tidakyakin dengan efektivitas oralit dalam pena-nganan diare. Seperti diketahui bahwa oralittidak menurunkan volume feses, frekuensi,dan durasi diare, melainkan hanya dianggapsebagai pengganti cairan yang hilang selamadiare. Oleh karena itu, diperlukan suatu obatyang dapat menurunkan keparahan diare.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat padakasus diare (kecuali pada kasus diare berdarahseperti kolera dan disentri) akan menyebab-kan
Antibiotic Associate Diarrhea (AAD) 
.Berdasarkan penelitian WHO (
World Health Organization 
) yang dilakukan di berba-gai negara, ditemukan manfaat zink sebagaiobat diare untuk anak yang perlu untuk di-konsumsi selama 10 hari berturut
turut, agardapat mengurangi lama dan keparahan diare, juga dapat mencegah berulangnya diareselama 2
3 bulan ke depan.
Penelitianmengenai penggunaan zink pada diare jugamemberikan hasil yang memuaskan, karenapara orangtua merasa anaknya telah diberiobat, seperti pengalaman saya di Aceh,
Δ
jelaswanita yang sangat aktif ini.Hal yang juga tidak kalah pentingnyaadalah kemampuan komunikasi yang baikantara dokter dengan orangtua pasien diare,terutama edukasi mengenai cara pemakaianobat dan kegunaannya, serta kapan haruskembali ke petugas kesehatan jika diaremenjadi lebih parah. Dengan demikian,kompetensi dokter tidak hanya terbatas padakemampuan pengetahuan dan keahlian(
knowledge and skill 
), tetapi juga kompetensiuntuk mengomunikasikan ilmu tersebutkepada pasien.
n
(Tiara)
Prof. Dr. Srisupar Yati Soenarto, PhD., SpA(K):
Zink Sebagai Terapi Baru padaTata Laksana Diare

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
ndoc liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->