Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahasa Kei

Bahasa Kei

Ratings: (0)|Views: 95 |Likes:
Published by 4ns3lmus

More info:

Published by: 4ns3lmus on Jul 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2014

pdf

text

original

 
“Pengembangan Bahasa Daerah Kei” Makalah Ini dibuat sebagai tugas Mata Kuliah Lingustik Banding oleh Petronela Letsoin. Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon.Program Studi Bahasa Indonesia 2013.
BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar Belakang
Sebagaimana telah dinyatakan dalam undang-undang Dasar 1945 pasal 32 bahwa bahasa daerah yang masih digunakan oleh masyarakat penuturnya dipeliharaoleh Negara. di samping itu, dalam Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah pasal 22 huruf n dinyatakn bahwa dalam penyelenggaraanotonomi daerah mempunyai kewajiban melestarikan nilai social budaya. Berdasarkan penyataan dalam undang-nudang dasar dan undang-undang itu, baik pemerintah pusatmaupun pemerintah daerah mempunyai kewajiban bersama untuk memelihara danmenjaga kelestarian kekayaan budaya bangsa, yaitu bahasa daerah karena di dalam bahasa itu terekam nilai-nilai budaya masyarakat daerah yang dapat menjadi sumber  pengembangan budaya nasional (Dharma, 2011). Negara kesatuan republik Indonesia yang bercirikan “Bhineka Tungga Ika”yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu, secara tersurat mengamanatkan kapada bangsaIndonesia untuk menghargai perbedaan, baik adat –istiadat, agama, dan bahasa.Dengan demikian penghargaan terhadap bahasa daerah yang beragam merupakansuatu keharusan karena penghaergaan terhadap bahasa daerah berarti penghargaanterhadap masyarakat pendukung bahasa daerah itu, sebaliknya sikap abai terhadap bahasa daerah sama artinya dengan mengabaikan keberadaan masyarakat pendukung bahasa itu.Di Indonesia Timur, terdapat kurang lebih 746 bahasa daerah, enam pulluh persen dari itu berada di wilayah Indoneia Timur, yaitu di provinsi papua dan papuaBarat kurang lebih 400 bahasa, Maluku dan Maluku Utara 132 bahasa, dan kuranglebih 40 bahasa ada di Nusa Tenggara Timur, tiga puluh lima persen dari bahasadaerah itu dikhawatirkan mengalami kepunahan pada 2010 (pernyataan wakil
 
2
 presiden dalam
running tex
metro TV, Juli 2007). Kondisi ini tentu di tenggarai olehkurangnya minat generasi muda untuk bertutur dengan bahasa daerahnya karenaadanya kecenderungan meninggalkan tempat kelahiran untuk mencari penghidupanyang lebih baik. Jikam kita abai terhadap kondisi kebahasan yang sangatmemprihatikan ini berarti kita akan kehilangan sebagian kekayaan budaya bangsayang tak ternilai itu karena punahnya bahasa berarti punah pula kekayaan nilai budaya bangsa dan akhirnya hilang keberadaan (eksistensi) bangsa penutur bahasadaerah itu. Oleh karena itu, peril dilakukan tindakan segera unruk menyelamatkandan mengembangkan bahasa-bahasa daerah itu (Dharma, 2011).Bahasa Kei (Veveu Evav) adalah Bahasa yang digunakan oleh Etnik Kei/Evav. Yang Letaknya di Pulau Maluku, Khususnya Kota Tual dan KabupatenMaluku Tenggara. Yakni desa di Pulai Kei Kecil, Kei Besar, Dullah, maupun Pulau- pulau lainnya. Masyarakat Pulau Kur dan Kamear memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Kur, Sedangkan Penduduk Banda Eli yang bertempat di Kei Besar sebagai penutur Bahasa Banda. tapi agak sedikit mirip dengan Bahasa Kei. Tiap Pulau bahkantiap desa memiliki dialek/logat yang berbeda, sehingga kita bisa dengan mudahmengetahui dari mana si penutur itu berasal (Fhionna, 2013)Ada tiga bahasa rumpun austronesia yang dipertuturkan di Kepulauan Kai;Bahasa Kei (Veveu Evav) adalah yang paling luas pemakaiannya, yakni di 207 desadi Kei Kecil, Kei Besar, dan pulau-pulau sekitarnya. Penduduk Pulau Kur danKamear menggunakan Bahasa Kur (Veveu Kuur) dalam percakapan sehari-hari,Bahasa Kei mereka gunakan sebagai lingua franca. Bahasa Banda (Veveu Wadan)digunakan di desa Banda Eli (Wadan El)dan Banda-Elat (Wadan Elat) di bagian baratdan Timur Laut Pulau Kei Besar. Para Pengguna Bahasa Banda berasal dariKepulauan Banda, tempat di mana bahasa itu tidak lagi digunakan. Bahasa Kei tidak memiliki sistem tulisan sendiri. Para misionaris Katolik dari Belanda menuliskankata-kata Bahasa Kai dengan suatu bentuk variasi penggunaan abjad Romawi(@Wiroi, 2010).
 
3
1.2. Perumusan Masalah
Ketika dua atau lebih bahasa bersanding dalam pemakaiannya di masyarakat,ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, kedua bahasa itu hidup berdampingan secara berkeseimbangan dan memiliki kesetaraan. Kedua, salah satu bahasa menjadi lebih dominan, menjadi bahasa mayoritas, dan menjadi lebih berprestise, sementara yang lain berkondisi serba sebaliknya, bahkan terancammenuju kepunahannya. “Rapid change often occurs when there is extensive bilingualism, which can lead to one language being lost altogether” (Anonby, 1999).Kemungkinan kedua menjadi kenyataan di Indonesia dalam kaitan dengan bersandingnya bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah.Kemungkinan akan punahnya suatu bahasa dicemaskan oleh banyak pihak.Berangkat dari keprihatinan akan matinya banyak bahasa, UNESCO (dalam Purwo,2000) mencanangkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional pada suatukonferensi bulan November 1999 dan mulai merayakannya sejak tahun 2000. Adaalasan mendasar mengapa kepunahan suatu bahasa sangat dikhawatirkan. Bahasamemiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapatdipisahkan (Reyhner, 1999 dalam ). Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, Dawson (dalam Anonby, 1999) mengatakan, tanpa bahasa, budaya kita punakan MATI. Hal ini bisa terjadi karena, sebagaimana dikatakan oleh Fishman (1996), bahasa adalah penyangga budaya; sebagian besar budaya terkandung di dalam bahasadan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Ketika kita berbicaratentang bahasa, sebagian besar yang kita bicarakan adalah budaya.
 
Bahasa yang dipakai oleh penduduk kei adalah Bahasa Kei, Bahasa Kur,Bahasa Banda. Kosakata dalam bahasa kei memiliki fonem V (seperti V pada
Via
 dalam Bahasa Latin) yang berbeda dengan fonem F dan P. Penduduk wilayah UtaraPulau Kei Besar membedakan fonem R seperti pada kata
 Rata
dalam BahasaIndonesia, dengan fonem R seperti pada
 français
/f 
ʁɑ̃
s
ɛ
/ dalam bahasa Perancis.Meskipun demikian, dalam bentuk tertulis, kedua fonem ini tidak dibedakan.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->