Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metode Pembelajaran Inquiry

Metode Pembelajaran Inquiry

Ratings: (0)|Views: 128|Likes:
Published by Zen Eva

More info:

Published by: Zen Eva on Jul 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/16/2014

pdf

text

original

 
Metode Pembelajaran Inquiry
Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains terhadap Motivasi BelajarSiswa
 Oleh: Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.
Abstract
Inquiry-Based Learning is a common method in teaching science that often associated with theactive nature of student involvement, investigation and the scientific method, critical thinking,hands-on learning, and experiential learning. It will be studied in this paper whether or not themethod of inquiry-based learning influences the student motivation to learn. Using some theoriesof motivation, it was found that inquiry method positively influences the learning motivation of students. This positive influence occurs when the learning through inquiry method is conductedin appropriated conditions, for example the questions that teachers provide have to producearousal and student curiosity.
I. Pendahuluan Latar Belakang Masalah 
Salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di sekolah adalahmotivasi belajar. Motivasi belajar yang tinggi berkorelasi dengan hasil belajar yang baik,sehingga berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah ini.Jika motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan, maka dapat diharapkan bahwa prestasi belajar siswa juga akan meningkat.Strategi meningkatkan motivasi belajar siswa sering menjadi masalah tersendiri bagi para gurukarena terdapat banyak faktor - baik internal maupun eksternal - yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Guru menerapkan prinsip-prinsip motivasi belajar siswa dalam desain pembelajaran, yaitu ketika memilih strategi dan metode pembelajaran. Pemilihan strategi danmetode tertentu ini akan berpengaruh pada motivasi belajar siswa.Upaya meningkatkan motivasi belajar inilah yang menarik untuk dikaji lebih jauh, sehinggadalam paper ini akan dilakukan studi mengenai pengaruh metode pembelajaran inquiry dalam belajar Sains di sekolah terhadap motivasi belajar siswa itu sendiri. Dalam lingkup yang lebihumum, meningkatnya motivasi belajar siswa juga akan mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Penyelesaian masalah yang akan dikaji dalam paper ini diharapkandapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk memilih strategi dan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan. Sebagai catatan, penyebutan metode inquiry dalamkeseluruhan paper ini mengacu kepada metode inquiry dalam pembelajaran bidang Sains.
Perumusan Masalah 
Dalam paper ini, masalah utama yang dicoba dipecahkan adalah
apakah terdapat pengaruhmetode belajar inquiry dalam belajar Sains di sekolah terhadap motivasi belajar siswa?
II. Deskripsi Teoretik  A. Metode Belajar Inquiry 
Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetapdianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah
metode inquiry
. David L. Haury dalamartikelnya,
Teaching Science Through Inquiry
(1993) mengutip definisi yang diberikan olehAlfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan katalain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).Alasan rasional penggunaan metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahamanyang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jika mereka dilibatkansecara aktif dalam "melakukan" Sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan
 
meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsepmerupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990).Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains dan Matematika (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haurymenyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan
vocabulary
dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikapkeilmiahan dalam diri siswa.Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar  berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak  belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metodeinquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalahyang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber  belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masihdiperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi(Sagala, 2004).Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metodeinquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu
Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources
(Garton, 2005).
Question.
Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancingrasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatanuntuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkanoleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harusdipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini - sesuai dengan
Taxonomy Bloom 
-siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti
evaluasi
,
 sintesis
, dan
analisis
.Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkanharus dibuat atau dikonstruksi.
Student Engangement.
Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatukeharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku,melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahamansiswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interaction.
Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalamkelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation.
Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahanyang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster,karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources.
 
Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
B. Teori - teori Motivasi 
 Motivasi
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang memberikan
energi
bagi
 
seseorang dan apa yang memberikan
arah
bagi aktivitasnya. Motivasi kadang-kadangdibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadi intidari konsep tentang motivasi. Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (
diffuse
), danseringkali dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan arah aktivitasmanusia, misalnya minat (
interest 
), kebutuhan (
need 
), nilai (
value
), sikap (
attitude
), aspirasi, daninsentif (Gage & Berliner, 1984).Dengan pengertian istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat mendefinisikan motivasi belajar siswa, yaitu apa yang memberikan
energi
 
untuk belajar 
bagi siswa dan apa yangmemberikan
arah
bagi aktivitas belajar siswa.Secara umum, teori-teori tentang motivasi dapat dikelompokkan berdasarkan sudut pandangnya,yaitu
behavioral 
,
cognitive
,
 psychoanalytic
,
humanistic
,
 social learning 
, dan
 social cognition
.
1. Teori-teori Behavioral  
Robert M. Yerkes dan J.D. Dodson, pada tahun 1908 menyampaikan
Optimal Arousal Theory
 atau teori tentang tingkat motivasi optimal, yang menggambarkan hubungan empiris antararangsangan (
arousal 
) dan kinerja (
 performance
). Teori ini menyatakan bahwa kinerja meningkatsesuai dengan rangsangan tetapi hanya sampai pada titik tertentu; ketika tingkat rangsanganmenjadi terlalu tinggi, kinerja justru menurun, sehingga disimpulkan terdapat rangsanganoptimal untuk suatu aktivitas tertentu (Yerkes & Dodson, 1908).Pada tahun 1943, Clark Hull mengemukakan
Drive Reduction Theory
yang menyatakan bahwakebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisisentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selaludikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang muncul mungkin bermacam-macam bentuknya (Budiningsih, 2005). Masih menurut Hull, suatu kebutuhan biologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (
drive
) untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhantersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa makhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (
need reduction response
). Menurut teori Hull, dorongan (
motivatorsof performance
) dan
reinforcement 
bekerja bersama-sama untuk membantu makhluk hidupmendapatkan respon yang sesuai (Wortman, 2004). Lebih jauh Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan matematis antara
drive
(energi) dan
habit 
(arah) sebagai penentu dari
behaviour 
(perilaku) dalam bentuk:Behaviour = Drive × HabitKarena hubungan dalam persamaan tersebut berbentuk perkalian, maka ketika
drive
= 0,makhluk hidup tidak akan bereaksi sama sekali, walaupun
habit 
yang diberikan sangat kuat dan jelas (Berliner & Calfee, 1996).Pada periode 1935 - 1960, Kurt Lewin mengajukan
Field Theory
yang dipengaruhi oleh prinsipdasar psikologi Gestalt. Lewin menyatakan bahwa perilaku ditentukan baik oleh
 person
(P)maupun oleh
environment 
(E):Behaviour =
 f 
(P, E)Menurut Lewin, besar gaya motivasional pada seseorang untuk mencapai suatu tujuan yangsesuai dengan lingkungannya ditentukan oleh tiga faktor:
tension
(
) atau besar kecilnyakebutuhan, valensi (G ) atau sifat objek tujuan, dan jarak psikologis orang tersebut dari tujuan(
e
).Force =
 f 
(
,
G
)/
e
Dalam persamaan Lewin di atas, jarak psikologis berbanding terbalik dengan besar gaya(motivasi), sehingga semakin dekat seseorang dengan tujuannya, semakin besar gayamotivasinya. Sebagai contoh, seorang pelari yang sudah kelelahan melakukan
 sprint 
ketika iamelihat atau mendekati garis finish. Teori Lewin memandang motivasi sebagai
tension
yang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->