Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
23Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Potensi wilayah pesisir Tulang Bawang Lampung Oleh Indra Gumay Yudha

Potensi wilayah pesisir Tulang Bawang Lampung Oleh Indra Gumay Yudha

Ratings: (0)|Views: 2,105 |Likes:
Published by Indra Gumay Yudha
Wilayah Pesisir Kabupaten Tulang Bawang memiliki sumberdaya alam yang berpotensi untuk pengembangan wilayah tersebut, baik di bidang perikanan, pertanian/perkebunan, dan peternakan
Wilayah Pesisir Kabupaten Tulang Bawang memiliki sumberdaya alam yang berpotensi untuk pengembangan wilayah tersebut, baik di bidang perikanan, pertanian/perkebunan, dan peternakan

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Indra Gumay Yudha on May 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2012

pdf

text

original

 
 
POTENSI EKONOMI WILAYAH PESISIRKABUPATEN TULANG BAWANG
Oleh: Indra Gumay Yudha, M.Si(Staf Pengajar PS Budidaya Perairan, Fak. Pertanian, Univ. Lampung)Email: indra_gumay@yahoo.com1.
PROFIL WILAYAH PESISIR TULANG BAWANG 1.1 Gambaran Umum
Wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah peralihan antara daratan dan lautan,ke arah darat adalah daerah daratan yang masih dipengaruhi oleh fenomena yangterjadi di lautan seperti pasang surut, abrasi, intrusi air laut, dan lain-lain;sedangkan ke arah laut adalah wilayah laut yang masih dipengaruhi oleh aktivitasyang terjadi di daratan. Wilayah pesisir dan lautan di masa lalu kurang mendapatperhatian oleh pemerintah. Pemerintah pada saat itu lebih menitikberatkanpembangunan di sektor pertanian yang mengarah pada terciptanya swasembadapangan. Hal ini dapat dilihat dari minimnya sarana dan prasarana yang telahdibangun oleh pemerintah di wilayah pesisir bila dibandingan dengan kawasanataupun sektor lainnya, sehingga menyebabkan ketertinggalan dan menjadikanmasyarakat pesisir hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.Akibat minimnya perhatian pemerintah saat itu terhadap pembangunan pesisir danlaut menyebabkan pengelolaan wilayah tersebut menjadi semakin tidak menentu.Menurut Dahuri (2000), gambaran atau potret pembangunan pesisir dan laut dimasa lalu adalah sebagai berikut:
Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan pada umumnya bersifat ekstraktif, tidakberkelanjutan dan hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk.
Menciptakan
ekonomi dualistik 
dimana terjadi kesenjangan yang lebar antarakelompok pengusaha kecil (tradisional) dengan pengusaha besar.
Indra Gumay Yudha: Potensi Ekonomi Wilayah Pesisir Kab. Tulang Bawang
1
 
 
Kawasan pesisir dan laut dianggap sebagai “keranjang sampah” dari berbagai jenis limbah dan sedimen yang berasal dari kegiatan di darat.
Konflik (egoisme) sektoral, dimana sektor-sektor yang dapat menghasilkan
cash money 
jangka pendek dan tidak memerlukan kualitas lingkungan yangtinggi.
Terjadi ketidakseimbangan tingkat pemanfaatan dan kerusakan lingkunganantar wilayah.Wilayah pesisir di Kabupaten Tulang Bawang merupakan bagian dari pantai timurLampung yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Kerusakan lingkungan yangterjadi akibat pengembangan tambak udang terjadi di hampir seluruh wilayahtersebut. Alih fungsi lahan yang pada mulanya berupa hutan mangrove menjaditambak udang secara tidak terkontrol telah menimbulkan peningkatan abrasipantai, penurunan produksi perikanan akibat hilangnya fungsi mangrove sebagaihabitat, tempat mencari makan, dan tempat pembesaran ikan dan biota lautlainnya, serta masalah-masalah lingkungan lainnya. Gambaran ini dapat dilihat diwilayah pesisir Kabupaten Tulang Bawang yang berada di sekitar KecamatanDente Teladas dan Rawajitu Timur.Sebagian besar penduduk desa yang berada di wilayah pesisir bermatapencaharian sebagai nelayan dan petambak. Kondisi hutan mangrove yangterdapat di desa-desa tersebut pada umumnya sudah rusak karena telahdialihfungsikan menjadi areal pertambakan. Ketebalan hutan mangrove dari tepipantai rata-rata paling jauh hanya 25 meter, mulai dari muara Way Seputih hinggamuara sungai Tulang Bawang. Hanya sebagian kecil hutan mangrove, lebihkurang 1 km, yang terletak di bagian utara muara sungai Tulang Bawang yangmasih mempunyai ketebalan hingga 100 m. Itupun sudah mulai terancamkeberadaannya karena di bagian belakangnya sudah rusak digunakan sebagaitambak. Tambak-tambak tersebut mulai batas tanaman mangrove hinggabeberapa kilometer ke dalam.Sistem tambak yang ada di wilayah tersebut umumnya menggunakan sistemtambak yang diadopsi dari Pati (Jawa Tengah), yaitu dengan membersihkan arealtambak dari pohon-pohon mangrove, sehingga sistem ini dianggap sebagai sistem
Indra Gumay Yudha: Potensi Ekonomi Wilayah Pesisir Kab. Tulang Bawang
2
 
 
yang mengancam keberadaan hutan mangrove. Para petambak yang mengadopsisistem ini mengganggap hutan mangrove mengganggu tambak, karena:menghalangi angin yang digunakan untuk sirkulasi udara alami, menyusahkanpada waktu panen karena terganggu akar-akar tanaman mangrove, luasantambak menjadi berkurang, udang tidak dapat ke tengah atau menyebar, danmenjadi tempat berkumpulnya hama tambak, seperti biawak, ular, danlingsang/berang-berang.Pentingnya keberadaan hutan mangrove sebenarnya sudah diketahui olehmasyarakat petambak. Hal ini karena penyuluhan dan sosialisasi tentang hutanmangrove sering dilakukan oleh aparat instansi terkait, baik dari kabupatenmaupun dari provinsi. Mereka umumnya sudah mengetahui bahwa hutanmangrove tidak boleh ditebang sepanjang 200m sebagai jalur hijau di tepi pantai.Meskipun demikian selalu saja ada orang yang melanggar ketentuan tersebutuntuk membuat tambak.Dari hasil pengamatan di sekitar Sungai Burung (Kecamatan Dente Teladas)diperoleh data berupa Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, danIndeks Nilai Penting (INP) untuk fase pohon dan fase pancang, sedangkanvegetasi pada fase tiang tidak ditemukan pada petak contoh. Pada fase pohon, jenis pohon yang menyusun hutan mangrove yang ditemui hanya 3 jenis denganINP terttinggi dimiliki oleh pohon
Avicennia marina 
sebesar 205, 54 %, disusuloleh
Rhizopora 
 
apiculata 
sebesar 75,84 %, sedangkan yang terkecil adalah jenis
Sonneratia 
 
alba 
sebesar 18,62 %. Pada fase pancang, jenis
Avicennia marina 
  juga memiliki nilai INP tertinggi yaitu sebesar 201,05 %, disusul jenis
Rhizopora apiculata 
sebesar 82,44 %, dan yang terkecil adalah
Sonneratia alba 
sebesar16,52 %. Pada fase semai, jenis
Avicennia marina 
tetap mendominasi dengan jumlah sebanyak 6 buah, disusul
Rhizopora apiculata 
sebanyak 4 buah, dan yangpaling sedikit adalah jenis
Sonneratia alba 
sebanyak 1. Dari hasil analisis vegetasidapat disimpulkan bahwa hutan mangrove yang ada di plot sampel dan sekitarnyaterdiri dari 3 jenis saja. Ini berarti bahwa jenis vegetasi yang menyusun hutanmangrove tersebut sangat sedikit jenisnya. Upaya pangkayaan jenis yangdisesuaikan dengan kondisi lahan yang ada harus segera dilakukan.
Indra Gumay Yudha: Potensi Ekonomi Wilayah Pesisir Kab. Tulang Bawang
3

Activity (23)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Awi Regar liked this
Joko Subiyanto liked this
achmadhussein liked this
Amalia Febriani liked this
Anjar Purbaya liked this
Ali Mashudi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->