Serasi
- Januari 20063
DialogPembaca
A
nda bisa mengirimkan surat melalui pos, faxatau email ke redaksi majalah Serasi. Harapsertakan identitas diri yang jelas. Surat yangtidak dimuat, tidak akan dikembalikan.
R
edaksi menerima tulisan dalam bentuk artikel atau opini dan foto mengenai lingkungan perkotaan.Untuk tulisan dan foto yang dimuat disediakan honorarium dan nomor bukti majalah.Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi berhak menyunting naskah yang dikirim.Pengirim harus menyertakan identitas dan alamat yang jelas.Tulisan dan foto yang tidak dimuat,tidak akan dikembalikan.
J
akarta, kota yang pernah mewarnai kehidupanku selama 2 tahun yang lalunamun bukanlah kota persinggahan terakhirku, ternyata aku harus kembalike kampung halamanku untuk merawat dan menjaga orangtuaku sembaribekerja.Sewaktu di Jakarta aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, setiap hari harusbergelayutan di bus umum dan berdesakan dengan penumpang lain. Dalamperjalanan menuju kantor aku sering mengamati kawasan kumuh yang lokasinyatidak jauh dari Kampung Melayu, di pinggir kali Ciliwung. Sekilas terlihat kondisilingkungan yang jauh dari standar kesehatan pada umumnya, mereka yangtinggal di sana adalah golongan
the poor
yang hidup serba kekurangan. Daerah-daerah kumuh seperti ini banyak ditemui di Jakarta, bukan hanya di bantaransungai, tapi juga di pinggir-pinggir rel kereta api. Dari membaca surat kabar,banyak dari penghuninya adalah pendatang dari luar kota yang mencari rejekidi Jakarta.Ekses penghunian kumuh ini jelas adalah lingkungan yang tidak sehat;terbatasnya sarana air bersih, pembuangan air limbah maupun sampah yangsemuanya nyemplung ke sungai-sungai atau selokan. Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana caranya supaya lapangan kerja juga terbuka di daerah-daerah? Aku telah mengalami sendiri, bahwa Jakartamenjadi pilihanku untuk mengadu nasib. Bahwa kemudian aku pulang kampung,pertimbangannya adalah untuk menjaga orangtua.Tampaknya hal ini merupakan masalah yang harus dicarikan jalan keluar denganserius. Kalau tidak, kota-kota besar terutama ibukota Jakarta akan kewalahanmenampung urbanisasi.
Sesulih Edi, SEKaryawan Bank Danamon, Kudus
K
ondisi sungai-sungai yang mengalirdi tengah kota Jakarta memangunik. Pada saat musim kering, sungaikelihatan dangkal dan sangat kotorkarena penuh sampah, warna air yangtersisa keruh hijau kehitaman. Saatdatang musim hujan sungai meluapakibat meningkatnya lintasan airpermukaan
(run-off)
dan penyebab halini antara lain adalah kurangnyadaerah resapan dan kapasitas kanalbanjir yang tidak mencukupi. Banjirbukan cuma menggenangi gang-gangdi perkampungan, tetapi jalan-jalanutama juga sering penuh genangan airyang meluap baik dari sungai maupungot-got di pinggir jalan yang keba-nyakan tersumbat sampah, air bisamencapai selutut dan tercium aromasampah serta busuknya air selokan.Walaupun hujan deras baru turunsebentar, langsung saja terjadi banjirdan jalanan macet di mana-mana.Permasalahan yang dihadapi tam-paknya adalah belum terpadunya pro-gram pengendalian banjir
(flood control),
program drainase, danprogram kebersihan kota. Sungguhfenomena ini bukan cuma mengganggupemandangan, tapi terutama jugagangguan kesehatan, gangguan trans-portasi yang pasti berdampak padakegiatan sosial-ekonomi, disamping juga menurunkan citra kota Jakartasebagai ibukota negara.Belum tersedianya dana antara lainuntuk pembangunan kanal, selalumenjadi alasan. Apa tidak bisa dica-rikan jalan keluar lain dengan biayaterjangkau?
Sidik Mahasiswa BSI, Jakarta
d o k . P r o g r a m A d i p u r a K L H
Leave a Comment