• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Serasi
- Januari 20061
Dari MejaRedaksi
Rachmat Witoelar -
Menteri Negara Lingkungan Hidup 
Sudariyono -
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat 
Doddy Poetranto -
Asdep Urusan Edukasi dan Komunikasi Lingkungan 
Budiyati AbiyogaSasongko Sigid, Sukatna, R. Susanto, Arif Sumargi, Mashuri Alif,Izwandi Taqim, Abiprasidi, Irman Adipurwanto Moefthi, Semy HavidBernart Erawan, Devi Surisman DAV, Sri WinartinSasongko Sigid, Abiprasidi, Alfarid, Devi Surisman DAVTyas A. Moein, WalimanSartono, Amy Purwatmi, Sri CahyaniDarmanto, Sudarmono
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat 
Kementerian Negara Lingkungan HidupGd. B. Lt. VI, Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24Jakarta 13410, Telp/Fax. (021) 8517184email: kalpataru@menlh.go.idhttp://www.menlh.go.id
PENASIHATPEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN REDAKSIREDAKTUR PELAKSANATIM REDAKSIDATA VISUALGRAFISSEKRETARIATSIRKULASIPENERBITALAMAT REDAKSI
B
encana lingkungan yang hampir merata terjadi selama tahun 2005 ternyata makin intensberlangsung sewaktu kita mengawali tahun 2006. Setiap hari di media massa tidak pernah absen berita-berita mengenai bencana terutama tanah longsor dan banjir di seluruhnusantara. Banyak daerah yang di waktu-waktu sebelumnya tidak pernah mengalami banjir,sekarang juga ikut menghadapi masalah yang sama. Agak ironis, karena tanggal 10 Januariadalah Hari Pencanangan Gerakan Sejuta Pohon, yang semestinya menjadi penahan lahanyang rawan longsor.Bagaimanapun optimisme memang perlu terus menerus disegarkan, terlebih memasukitahun baru yang biasanya merupakan waktu yang tepat untuk merenungkan kembali apa-apa yang sudah lewat dan dengan semangat baru memulai lagi langkah yang lebih baik kedepan. Setelah pada bulan Desember kaum Kristiani merayakan Natal, dalam bulan Januariini kaum Muslim memperingati peristiwa-peristiwa penting Idul Adha dan tahun baru Hijriah,sedangkan pemeluk Kong Hu Cu memperingati Tahun Baru Imlek. Dengan semangat baru,baik kiranya berbagai bencana pada awal tahun disikapi bersama sebagai
warning 
bahwalingkungan hidup sebagai karunia berlimpah dari Yang Kuasa harus mendapat perhatianterus menerus tanpa henti.Biasanya kalau sedang tidak ada kejadian bencana, kita gampang lupa, walaupun sudahmengantisipasi kejadian serupa di depan tapi tidak bersungguh-sungguh melakukan kegiatanpencegahan. Prioritas perhatian (termasuk anggaran) biasanya terfokus pada upayapenanggulangan, padahal segala sesuatunya akan jauh lebih menguntungkan apabila kitabisa mencegah atau paling tidak mengurangi tingkat bencana dengan upaya-upaya preventif.Tampaknya setiap kali kita harus saling mengingatkan, bahwa setelah perusakan alamyang kita lakukan, perbaikannya sangat sulit diwujudkan oleh tangan-tangan manusia yangkemampuannya sangat terbatas untuk mengembalikan karunia Tuhan dalam bentuk kekayaanalam yang luar biasa. Dengan menanam sejuta pohon hari ini, tumbuhnya tidak akan mungkinmengejar akibat perusakan dari pembabatan hutan yang puluhan tahun telah kita biarkanterjadi. Karena hutan tidak semata berisi pohon, tetapi ada beragam kehidupan flora dansatwa di dalamnya, dengan siklus alam yang secara keseluruhan tidak mungkin dibuatduplikatnya melalui rekayasa manusia. Tetapi kita memang harus berupaya semampu kitaagar tidak memperburuk kondisi lingkungan. Dan ’penghutanan kembali’ termasuk programsejuta pohon adalah salah satu iktikad kuat untuk itu.
 
Serasi
- Januari 20062
Dari Meja Redaksi1Daftar Isi2Dialog Pembaca3
Salam Lestari
Hutan Dapat Dipulihkan, Tetapi... 4
Ulasan Utama
 PenghutananKembali 6
Hubungan Internasional
-
Multistakeholders Forestry Program - Asia Forest Partnership 
10
Warna Kehidupan
Gelas Plastik Bekas,Penyambung Hidup11
Tema Film Lingkungan
Bukan Saja Manusia, Alam punPunya Kepentingan15
Kesehatan & Lingkungan
Kumis Kucing 17
Etalase Alam dan Kita
Fauna dan Flora Maskot20
Suluh Khasanah
Kiat Keseharian 25
Kearifan Tradisional
Haji Amin Menghela Ombak28
Bedah Buku
 Almanak Lingkungan Hidup Indonesia1995/199629
Senyum Pahit
34
Peduli Bumi
Lingkungan Hidup: Mengapa PerluPeduli?35
Pengamatan Publik 
 PadamnyaTanah Api 37
Refleksi Alam
40
DaftarIsi
Tulisan dan artikel dalam majalah ini tidak harus selalu mencerminkan pendapat dan kebijakan KLH.Nama individu, organisasi, lokasi aktivitas yang ditampilkan juga tidak selalu mengimplikasikan kebijakan resmi KLH.Kontributor bertanggung jawab atas materinya masing-masing.
 
Serasi
- Januari 20063
DialogPembaca
 A
nda bisa mengirimkan surat melalui pos, faxatau email ke redaksi majalah Serasi. Harapsertakan identitas diri yang jelas. Surat yangtidak dimuat, tidak akan dikembalikan.
R
edaksi menerima tulisan dalam bentuk artikel atau opini dan foto mengenai lingkungan perkotaan.Untuk tulisan dan foto yang dimuat disediakan honorarium dan nomor bukti majalah.Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi berhak menyunting naskah yang dikirim.Pengirim harus menyertakan identitas dan alamat yang jelas.Tulisan dan foto yang tidak dimuat,tidak akan dikembalikan.
J
akarta, kota yang pernah mewarnai kehidupanku selama 2 tahun yang lalunamun bukanlah kota persinggahan terakhirku, ternyata aku harus kembalike kampung halamanku untuk merawat dan menjaga orangtuaku sembaribekerja.Sewaktu di Jakarta aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, setiap hari harusbergelayutan di bus umum dan berdesakan dengan penumpang lain. Dalamperjalanan menuju kantor aku sering mengamati kawasan kumuh yang lokasinyatidak jauh dari Kampung Melayu, di pinggir kali Ciliwung. Sekilas terlihat kondisilingkungan yang jauh dari standar kesehatan pada umumnya, mereka yangtinggal di sana adalah golongan
the poor 
yang hidup serba kekurangan. Daerah-daerah kumuh seperti ini banyak ditemui di Jakarta, bukan hanya di bantaransungai, tapi juga di pinggir-pinggir rel kereta api. Dari membaca surat kabar,banyak dari penghuninya adalah pendatang dari luar kota yang mencari rejekidi Jakarta.Ekses penghunian kumuh ini jelas adalah lingkungan yang tidak sehat;terbatasnya sarana air bersih, pembuangan air limbah maupun sampah yangsemuanya nyemplung ke sungai-sungai atau selokan. Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana caranya supaya lapangan kerja juga terbuka di daerah-daerah? Aku telah mengalami sendiri, bahwa Jakartamenjadi pilihanku untuk mengadu nasib. Bahwa kemudian aku pulang kampung,pertimbangannya adalah untuk menjaga orangtua.Tampaknya hal ini merupakan masalah yang harus dicarikan jalan keluar denganserius. Kalau tidak, kota-kota besar terutama ibukota Jakarta akan kewalahanmenampung urbanisasi.
Sesulih Edi, SEKaryawan Bank Danamon, Kudus
ondisi sungai-sungai yang mengalirdi tengah kota Jakarta memangunik. Pada saat musim kering, sungaikelihatan dangkal dan sangat kotorkarena penuh sampah, warna air yangtersisa keruh hijau kehitaman. Saatdatang musim hujan sungai meluapakibat meningkatnya lintasan airpermukaan
(run-off) 
dan penyebab halini antara lain adalah kurangnyadaerah resapan dan kapasitas kanalbanjir yang tidak mencukupi. Banjirbukan cuma menggenangi gang-gangdi perkampungan, tetapi jalan-jalanutama juga sering penuh genangan airyang meluap baik dari sungai maupungot-got di pinggir jalan yang keba-nyakan tersumbat sampah, air bisamencapai selutut dan tercium aromasampah serta busuknya air selokan.Walaupun hujan deras baru turunsebentar, langsung saja terjadi banjirdan jalanan macet di mana-mana.Permasalahan yang dihadapi tam-paknya adalah belum terpadunya pro-gram pengendalian banjir
(flood control),
program drainase, danprogram kebersihan kota. Sungguhfenomena ini bukan cuma mengganggupemandangan, tapi terutama jugagangguan kesehatan, gangguan trans-portasi yang pasti berdampak padakegiatan sosial-ekonomi, disamping juga menurunkan citra kota Jakartasebagai ibukota negara.Belum tersedianya dana antara lainuntuk pembangunan kanal, selalumenjadi alasan. Apa tidak bisa dica-rikan jalan keluar lain dengan biayaterjangkau?
Sidik Mahasiswa BSI, Jakarta
   d  o   k .   P  r  o  g  r  a  m   A   d   i  p  u  r  a   K   L   H
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...