Nirwan Syafrin
(Peneliti Institute for Study of Islamic Thought
and Civilization (INSISTS))
Kehadiran Islam liberal dalam dunia pemikiran Islam akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia, telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan panjang. Ini karena banyaknya ide dan gagasan yang mereka usung dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar \u2018aqidah dan syari\u2019at Islam seperti mempertanyakan kesucian dan otentisitas al-Qur\u2019an\u037e1 mengkritik otoritas nabi beserta hadith-hadith sahih-nya, menghujat serta mendiskreditkan sahabat-sahabat nabi dan para \u2018ulama. Umumnya kaum liberalis ini menolak penerapan syari\u2019at Islam. karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya masyarakat hari ini. Secara eksplisit mereka menyatakan beberapa hukum Islam bertentangan dengan prinsip hak-hak asasi manusia (HAM). Seperti hukum Islam yang berkaitan dengan non-Muslim, dikatakan
sangat diskriminatif karena menempatkan penganut agama lain lebih rendah daripada penganut Islam,2 lalu merekapun menghujat hukum murtad karena dianggap bertentangan dengan prinsip kebebasan Agama.3 Belum lagi tentang hukum Islam tentang wanita\u037e ia selalu dituduh tidak ramah dan melecehkan perempuan sehingga mereka menyarankan agar dilakukan penafsiran ulang dan kalau didekonstruksi.4
di Perancis dan menjadi Professor di Sarbone University dalam bidang kajian keIslaman. Idenya ini dapat dibaca dalam beberapa karyanya seperti, Mohammad Arkoun,Al-Fikr al-Islami: Qir\u2019aah \u2018Ilmiyyah (Beirut: Markaz al-Inma\u2019 al-Qawmi dan Al-Markaz al-Thaqafi al-\u2018Arabi, 1996)\u037e idem,Al-Qur\u2019an min al-Tafsir al-Mawruth ila tahlil
Ringkasan ide-ide Arkoun tentang al-Qur\u2019an ini dapat dibaca di Ahmad Idris al-Ta\u2019an al-Hajj, \u201cIntihak Qadasah al-Qur\u2019an fi al-Khitab al-\u2018Ilmani,\u201dAl-Muslim al-Mu\u2019asir, no. 115, 2005, 103 -123\u037e Nu\u2019man \u2018Abd al-Razzaq al- Samarra\u2019i,Al-Fikr al-\u2018Arabi wa al-Fikr al-Ishtishraqi bayn Dr. Muhammad Arkoun wa Dr. Edward Sa\u2019id (Riyad: Dar Tabari li al-Nashr wa al-Tawzi\u2019), hal. 57-66. Dan studi kritis atas idenya bisa dilihat pada, Abdul Kabir Hussain Solihu,Historicist Approach to the Qur\u2019an: Impact of Nineteenth-century Western Hermeneutis in the Writings of Two Muslim
adalah apa yang telah dipraktekkan oleh Aminah Wadud dalam soal mengimami dan menjadi khatib salat Jum\u2019at.5 Beberapa bulanlalu beberapa cendekiawan Muslim Indonesia menyokong praktek salat dengan menggunakan dwi bahasa (Arab dan Indonesia) yang dipraktekkan oleh sekelompok Muslim di Jawa Timur.6 Dan dua tahun silam seorang kiyai (ustad) muda dari organisasi Nahdhatul \u2018Ulama (NU) merekomendasikan agar mengubah waktu pelaksaan ibadah haji yang selama ini dilakukan padaayyam al-tashriq bulan Dhul Hijjah.7
Demikianlah beberapa masalah keislaman yang belakangan ini telah mencuat dalam wacana pemikiran Islam di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Artikel ini mencoba untuk mengeksplorasi dan sekaligus mengkritisi beberapa pandangan pemikir Muslim liberal tentang beberapa isu yang terkait dengan syari\u2019at Islam. Namun sebelum membahas topik tersebut, penulis akan menjelaskan makna liberal dan isu-isu yang terkait dengannya.
mulai menggejala di hampir seluruh belahan dunia Islam seiring dengan derasnya arus ekspansi neo-imperialisme Barat. Di Indonesiatrend ini selalu diidentikkan Jaringan Islam Liberal (JIL), meskipun tidak seluruh liberalis yang ada di Indonesia tergabung dalam Jaringan ini\u037e mereka menyebar di berbagai institusi-institusi perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan juga LSM-LSM. Bila dicermati sejak awal berdirinya, JIL sebenarnya bukanlah sebuah gerakan intelektual murni, tapi gerakan ideologis. Ia lahir sebagai respon terhadap apa yang mereka anggap sebagai radikalisme dan fundamentalisme Islam yang mulai marak seiring dengan jatuhnya rejim pemerintahan Orde Baru Soeharto. Ada yang mengatakan bahwa Jaringan ini hanya merupakan kelanjutan dari gerakan \u2018pembaharuan\u2019 yang pernah digagas Nucholish Madjid, Abdur Rahman Wahid (Gus Dur), Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Harun Nasution dan lain-lain.8 Ada juga yang melihat gerakan JIL sebagai ungkapan ketidak berdayaan dalam berhadapan dengan penomena global yang di dominasi dan dihegemoni peradaban Barat. Mereka merasa rendah diri (inferior) serta silau dengan kemajuan yang diraih Barat sehingga mereka merasakan bahwa bila umat Islam ingin maju maka mereka harus mengikuti jejak langkah Barat. Untuk itu umat Islam harus mengadopsi
prinsip-prinsip seperti demokrasi, kebebasan agama dan berpendapat, persamaan kedudukan laki-laki dan wanita, pemisahan agama dari ruang publik, dan lain sebagainya.
Pada batas-batas tertentu dunia Islam memang perlu mengkaji ulang beberapa kebijakan mereka berhubung isu-isu kebebasan berpendapat, hak wanita, kebebasan dan lain sejenisnya. Tetapi melakukan importasi membabi buta atas konsep Barat tentang persoalan ini tanpa kritis bukanlah langkah yang bijak. Menurut Fazlur Rahman, yang ide-idenya banyak di serap dan dijadikan rujukan kelompok liberal di Indonesia, inilah sesungguhnya salah satu kelemahan gerakan modernis Muslim, \u201cthe
ad hoc issues the Modernists chose were, in the nature of case, those that had become issues in and for the West. Although the Modernists were sincere both in adopting them, their ad hoc character left strong impression that the Modernists were both Westernized and Westernizers.\u201d9
Gerakan liberalisme Islam di Indonesia sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari skenario percaturan politik dan intelektual dunia. Mereka banyak dipengaruhi oleh karya-karya cendikiawan Muslim Arab liberal. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Shahrur, Abdullah Ahmad Na\u2019em, Muhammad Sa\u2019id \u2018Ashmawi, M. \u2018Abid al-Jabiri, Fazlur Rahman, Fatima Mernisi, Amina Wadud, Rif\u2019at Hassan dan pemikir lain yang sangat kritis-dekonstruktif terhadap kajian Islam klasik telah menjadi rujukan utama mereka. Hampir keseluruhan karya para intelektual ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun sayangnya, mereka begitu saja menerima pemikiran para cendikiawan tersebut tanpa kritis.
Tidak dapat dinafikan bahwa popularitas istilah Islam liberal di Indonesia sangat terkait dengan terbitnya karya Charles KurzmanLiberal Islam: A Source Book dalam terjemahan Indonesianya. Tapi jauh sebelum Kurzman, Albert Hourani juga telah menggunakan istilah yang sama untuk bukunyaArabic Thought in the Liberal Age
yang terjadi di dunia Arab pada era Kebangkitan (\u2018asr al-nahdah). Selang lebih kurang dua puluh tahun, Leonard Binder kembali menggunakan perkataan liberal untuk karyanyaIslamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies.11 Hourani tidak memberikan definisi definitif atas terma liberal ini. Demikian juga dengan para pendiri JIL tidak mendefisinikan istilah yang mereka gunakan ini. Bagi Kurzman:
Leave a Comment