Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Refleksi Nasib Islam Politik_ Jawaban Atas Artikel Zaid Shakir

Refleksi Nasib Islam Politik_ Jawaban Atas Artikel Zaid Shakir

Ratings: (0)|Views: 1 |Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Jul 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2014

pdf

text

original

 
31/07/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Refleksi Nasib Islam Politik: Jawaban Atas Artikel Zaid Shakir m.hizbut-tahrir.or.id/2013/07/30/refleksi-nasib-islam-politik-jawaban-atas-artikel-zaid-shakir/1/6
HOME BERITA TERBARU TENTANG KAMI FAQ DEKSTOP
Refleksi Nasib Islam Politik: Jawaban Atas Artikel ZaidShakir 
July 30th, 2013 by kafi
Oleh: Dr Reza Pankhurst(Tulisan ini adalah jawaban atas artikel Zaid Shakir yang dimuat di Al-Jazeera English yangberjudul “Kudeta Mesir dan Nasib Islam Politik”)Kudeta militer terhadap Ikhwanul Muslimin yang mendukung pemerintahan Mursi telahmenunjukkan bangkitnya tesis “kegagalan Islam politik”, meskipun peristiwa-peristiwa yang terjadidi Mesir bersamaan dengan pembantaian terhadap para pengunjuk rasa lebih jelas menunjukkankegagalan tren liberal-sekuler yang memiliki persekutuan historis dengan kediktatoran di TimuTengah. Hampir tidak ada yang baru bahwa, “Islam Politik ” berkali-kali telah dinyatakan mati atausekarat – yang paling terkenal adalah pada tahun 1990 yang ditulis oleh seorang orientalisPerancis Olivier Roy dalam bukunya The Failure of Political Islam. Dalam tulisan itu, Royberpendapat bahwa Islam politiktelah gagal karena dikooptasi oleh negara yang sangat inginmelakukan Islamisasi, yang dengan berbuat demikiantidak menawarkan sesuatu yang berbedadan malah menjadi sesuatu yangnormal.Roy menegaskan bahwa “politik”menguasai “agama,” suatu paradigma yang secara efektif menyangkal bahwa Islam memiliki politik yang khas dan karena itu “Islam politik” tidak pernahbisa berhasil karena tidak benar-benar berada di tempat utama. Ada sejumlah alasan mengapaRoy sampai pada kesimpulan ini, sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa dia menganalisaIslam melalui paradigma sekuler dan pemahaman Barat atas pemisahan agama dan politik,ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang Islam ortodoks. Sebagai contoh, Roymengklaim bahwa tidak ada ulama masa lalu yang pernah mengklaim bahwa pendirian Khilafahadalah wajib, padahal yang benar adalah kebalikannya – kewajiban sudah disepakati danperselisihan apapun adalah penyimpangan yang harus dikesampingkan.
VIDEO FOTO KEGIATAN
 
31/07/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Refleksi Nasib Islam Politik: Jawaban Atas Artikel Zaid Shakir m.hizbut-tahrir.or.id/2013/07/30/refleksi-nasib-islam-politik-jawaban-atas-artikel-zaid-shakir/2/6
Pendekatan Normati
Tapi meskipun materi ini telah berulang-ulang dan klise, artikel yang ditulis oleh Imam Zaid Shakir mengenai nasib Islam politik adalah menarik, mengingat latar belakang penulis baik pada ilmupolitik dan Islam normatif. Namun, seperti yang dibuktikan oleh artikel itu sendiri, pelanggaranbebas terhadap paradigma yang dikenakan atas wacana politik dan prakteknya oleh orang lainadalah tidak mudah.Di antara poin yang diangkat dalam artikel itu adalah bahwa Islam politik tidak boleh sektarian –dengan melihat sekilas sejarah yang menunjukkan Islam yang mencoba untuk memaksakanaspek keyakinan agama kepada orang lain yang menyebabkan penindasan dan hal yang kontra-produktif, yang dikenal dengan istilah mihna (inkuisisi) di bawah Khilafah Abbasiyah yangdipimpin oleh Ma’mun.Titik kedua adalah bahwa setiap partai politik Islam tidak boleh egois, dan jika mereka berkuasamereka tidak boleh dilihat hanya memajukan kepentingan mereka sendiri. Hal ini dapat dianggapumum di setiap ideologi dan sistem politik agar menjadi sukses – semakin masyarakat menjadimeritokrasi (meritokrasi adalah kepemimpinan dimana kemajuan didasarkan kepadakemampuan individu-pent), semakin banyak muatan yang mungkin ada. Islam tidak berbeda,dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi secara eksplisit yang menyatakan bahwa “Siapa punyang bertanggung jawab atas masalah umat, dan kemudian menunjuk seseorang atas merekadikarenakan kecintaannya kepada mereka, maka Allah mengutuknya. “Suatu Analisa Politik dengan “Akar-Rohani”Di luar dua hal itu, ada sejumlah isu lain yang layak untuk didiskusikan, sebagian menyatakannyasecara eksplisit dan yang lainnya secara tersirat. Shakir mengingatkan kepada kita bahwa apayang terjadi di Mesir adalah kehendak Allah di mana pada akhirnya semuanya adalah hasil daritindakan yang terjadi di luar kendali manusia, dan kemenangan, atau kekalahan, itu semataadalah dari Allah. Jadi kehendak Allah, menurut Shakir, adalah bahwa tidak boleh ada sebuah“rezim Islam” yang memerintah Mesir. Pelajarannya adalah keputusan Allah agar berhasil dalamkonteks modern, anda harus bekerja ke arah dan di dalam suatu model konstitusional yangmenyatukan diri dengan negara-bangsa, dan melakukan kompromi dengan berbagai aktor politikdi dalamnya. Dengan demikian, tidak ada preseden (awal) di dalam Islam bagi model ini yangoleh karenanya memerlukan pemikiran baru.Dan di sinilah letaknya terputusnya ide-ide yang dia usulkan, keterputusan antara fakta bahwanasib ada di tangan Allah, yang Shakir dengan benar menggambarkannya sebagai salah satumanifestasi terbesar dari Tauhid – penegasan atas kesatuan ilahi – dan tindakan orang berimanterhadap hal ini bahwa ini adalah bagian dari keyakinan yang mendasar. Sementara hal ini seringdisalahpahami sebagai fatalisme, jika dipahami dengan benar pengetahuan bahwa hasil akhir,kemenangan atau kekalahan, penerimaan atau penolakan semuanya adalah dari Allah,merupakan mentalitas revolusioner yang membebaskan hamba Allah dari depresi dan rasa putusasa, keengganan penerimaan atas status quo, dan dari belenggu pragmatisme dan bantuan yangsemuanya berbeda dengan perintah yang ditetapkan dalam sumber-sumber hukum Islam.Kegagalan pemerintah Mursi bukanlah bahwa pemerintahannya tidak cukup pluralistik atau cukup
 
31/07/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Refleksi Nasib Islam Politik: Jawaban Atas Artikel Zaid Shakir m.hizbut-tahrir.or.id/2013/07/30/refleksi-nasib-islam-politik-jawaban-atas-artikel-zaid-shakir/3/6
pragmatis, meskipun ada propaganda kudeta di antara pihak oposisi liberal. Bisa dengan mudahdikatakan bahwa pemerintahannya terlalu banyak mengikuti kehendak orang-orang yangmencoba untuk mengakomodasi tren non-Islam seperti dari kaum sekuler, liberal, dan SCAF, danbersikap eksklusif terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya. Pemerintahannya lebih setuju untukmengelola sisa-sisa sistem era Mubarak daripada melakukan perbaikan secara revolusioner.Ironisnya, adalah kaum sekuler di Mesir yang mengakui bahwa pluralisme hanya bisa berjalan jikaberbagai kelompok berbagi pandangan mendasar yang sama tentang dunia dan politik, telahdipaksa untuk membuang pandangan itu dengan dalih hak istimewa netralitas yang diasumsikandalam sekularisme sebagai hasil kemenangan Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu ketika merekamenolak untuk menanggapi tawaran Mursi sebelumnya, pemerintah junta sementara yangseluruhnya terdiri dari kaum sekularis sekarang sedang mencoba untuk mengecualikan Ikhwanuldaripada mengakomodasi mereka meskipun dilakukan sejumlah kompromi ideologis denganPartai Kebebasan dan Keadilan (FJP-yang merupakan sayap Ikhwan) yang dibuat sebelumnya.Ini adalah sesuatu yang terlambat diakui oleh juru bicara Ikhwan, yang menyadari bahwa mencarikompromi secara terus menerus berarti bahwa pada akhirnya mereka diatur agar tidak ada lagi.Mereka sekarang dihadapkan oleh suatu pilihan – untuk menjadi lebih mensejajarkan ke dalamsistem sekuler, atau kembali ke prinsip-prinsip yang berusaha mendirikan negara Islam yangharus diakui sebagai sebuah proyek revolusioner.Dengan pemahaman politik yang “berakar spiritual” yang ada dalam pikirannya, terdapatkontradiksi yang jelas antara mencari solusi yang paling pragmatis dan akomodatif di dalamstatus quo – yang merupakan gejala mentalitas kalah yang mungkin dibuat lebih pesimis terhadapnasib atas gagalnya eksperimen pemerintahan Mursi – dan di sisi lain mencari solusi Islamsecara komprehensif. Hal ini dikarenakan pada saat Muslim mengakui bahwa sementara diabertanggung jawab atas tindakannya, adalah kehendak Allah yang akan menentukan hasilnya.Dengan kata lain, dia siap menjadi seorang revolusioner, yang bebas dari kepasifan yang munculdari sikap fatalisme dan mengakui perannya adalah untuk mengejar perintah-perintah Allah, danbahwa Allah akan membawa perubahan yang sangat dia inginkan – seperti yang tercantumdalam Quran (47:7) “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Diaakan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. 
Di luar Negara-Bangsa
Hal ini mengarah ke titik final negara-bangsa, dan pemahaman yang tersirat bahwa hal itu adalahsesuatu yang deterministik dan tak terelakkan, suatu evolusi alami dari masyarakat manusia.Suatu studi kritis terhadap negara bangsa akan menyoroti bahwa tidak ada evolusi ataudeterministik tentang hal itu sama sekali. Melainkan hal ini muncul dari keadaan tertentu danperistiwa-peristiwa di Eropa setelah periode kekaisaran, yang saat itu banyak terdapat negara-kota dan kerajaan feodal, karena keputusan-keputusan yang diambil oleh para aktor politik didalamnya. Penerapan hal ini di Timur Tengah terjadi setelah kekalahan Khilafah Utsmani dalamPerang Dunia Pertama, yang setelah keruntuhannya negara bangsa dipaksakan secara artifisialdi wilayah tersebut. Dengan kata lain, itu hanyalah hasil dari usaha manusia, baik dalam

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->