Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Agama Dan Kekerasan

Agama Dan Kekerasan

Ratings: (0)|Views: 170|Likes:
Agama dan kekerasan dalam sebuah ajaran.
Agama dan kekerasan dalam sebuah ajaran.

More info:

Published by: Vincent Kalvin Wenno on Aug 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/04/2013

pdf

text

original

 
Agama dan Kekerasan
Bisakah kekekersan di lakukan atas nama agama?Memahai tetang agama adalah penting apa lagi Ideologi dari agama yang pada hakikatnyamemiliki perspektif dan tujuan dengan ideology liberalism dan komunisme.Agama menjadi cirri yang banyak terutama dari penentuan tipologi kegamaan karena diselingidengan wujud, gerak dan tujuan dari ideology tersebut.Ideologi keagamaan senatiasa mendasarkan pemikiran, cita-cita serta moral pada ajaran agamatertentu. Gerakan politik mendasarkan pada ideology keagamaan lasimnya sebagi suatu reaksiatas ketidak adalian , penindasan dan pemaksaan terhadap suatu bangsa, etnis, kelompok yangdasarnya pada agama.Initinya Agma menolak kekerasa atas nama Agama maka itu ada beberapa para ahli dan penjelasmeraka dan juga pandangan saya terhadap kekarasan di pakai atas nama agama.Menurut Para Ahli tentang kekerasan atas nama agama :
 
Agama anti Diskriminasi dan anti Kekerasan: Belajar dari Hubungan Kristen-Islam di Timur Tengah
 Tatkala politik kekerasan yang berwajah konflik agama menggejala akhir-akhir ini, menyusuldesakan tokoh-tokoh agama di Ciganjur untuk segera menghentikan segala bentuk politisasiagama.
 
Gus Dur
mengemukakan pernyataannya bahwa Indonesia harus segera menentukansikap: memilih
 Negara teokrasi
(yang mendasar-kan Negara pada agama) atau
 Negara sekuler 
(yang memisahkan Negara dari agama). Istilah "Sekuler" sudah sejak lamamenimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi demikian lebihdiarahkan pada penerapan sistem itu, yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, di mana proses penyelenggaraan Negara disterilkan sama sekali dari moral agama.Fenomena tersebut boleh disebut
Sekularisme
. Padahal istilah
Sekularisasi
 
(berasal dari kataLatin:
 saecu-lum,
"dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam agama
totalitaskosmik 
(ontokrasi)
yang mengkeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap rajadan negara. Dalam kekuasaan-kekuasaan absolut tersebut, agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan. Justru, melalui
Sekularisasi
itu ditempatkan kembali"(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia (
 saeculum
) yang profan belaka.Dalam sejarah agama-agama Semitik, proses itu dimulai dari Israel (agama Musa): "
 Here abreaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth
".
3
) (Disini diputuslah lingkaran alam yang melilit abadi dan mite tanpa waktu). Dengan proses itu,selanjutnya di dunia Barat melalui
Renaisance
dan
Aufklaerung
, -- meminjam padanan istilahyang diusulan Cak Nur, -- melakukan proses
de-Sakralisasi
yang menghantam kekuasaan
 
absolut "
 Droit Divin
" (kekuasaan ilahi Raja),
4
) yang di belahan Timur lazim disebut kekuasaan"Dewa-raja".
Agama, Kekuasaan dan Kekerasan: Belajar dari Sejarah Perjumpaan
 Banyak ahli sepakat adanya kaitan yang sangat erat antara kekuasaan dan kekerasan. Ketikaagama tersubordinasi di bawah kekuasaan, disana ia gagal menjalankan fungsi profetis/kenabiannya, lalu menjelma sebagai "alat legitimasi" kekuasaan untuk meloloskan kemauan-kemauan politik suatu golongan. Lebih-lebih bila agama itu mayoritas di suatu negara, ia sangat potensial dijadikan legitimasi kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya kepada ummat.Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu. Ketika Konstantinagung menjadi Kristen tahun 313, ia menjadikan Kekristenan sebagai "agama Negara". Memang,Kekristenan seperti "naik kelas": dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di katakombe-katakombe (gua-gua) wilayah kekaisaran Roma, menjadi agama negara,dengan segala atribut kebanggaannya.Euforia yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari agama tertindas ke agama negaraini, dalam
Gereja Orthodoks Syria
digambarkan dalam kisah para penghuni gua Efesus. Kisahitu secara lengkap dijumpai dalam buku berjudul:
Ahl al-Kahfi fii Mushadir Al Suryaniyyat 
 , 6 
)dikisahkan tujuh orang pemuda yang bersembunyi di sebuah gua pada masa penganiayaan Kaisar Dakeus yang memerintah tahun 249-251, yang oleh takdir Ilahi
ditidurkan panjang 
sampai tahun447, ketika Kaisar Deodeus II yang sudah menjadi Kristen dan menjadikan Kekristenan sebagaiagama Negara. Tetapi sejak Roma memposisikan dirinya menjadi "pelindung" gereja-gerejaKristen di wilayah kekuasaannya (di Timur Tengah), justru lembar-lembar sejarah berikutnyaditandai dengan pertumpahan demi pertumbahan darah. Kenyataannya, Gereja Orthodoks Syriahanya sebentar saja merayakan "euphoria Konstantinus" itu, selanjutnya menjadi Gereja yang paling teraniaya oleh sesama Kristen: mereka menjadi sasaran fitnah, dicap sebagai aliran
heresy
 (sesat) bahkan penganiayaan fisik oleh pihak Byzantium, sampai --justru tentara Arab Muslimlahyang membebaskan mereka. Nasib yang sama juga menimpa Gereja Koptik di Mesir, sebagaimana dicatat oleh
Aziz S. Atiya
,dalam
History of Eastern Christianity.
) Kisah gugurnya Menas saudara Ba-thrik Koptik Benyamin, pada tahun 632 sebagai
martyr 
(syu-
hada’) di tangan Cyrrus, utusan Kaisar 
Heraklitus, telah mendorong mereka lebih menyambut pemerintahan Islam sebagai pembebasmereka kira-kira 7 tahun sesudah peristiwa tersebut.Apakah yang dapat dipelajari dari pengalaman sejarah Gereja Syria dan Koptik ini?
 Pertama,
 bahwa ternyata :Politisasi agama (oleh pihak Byzantium) yang menggunakan kelompok mayoritas Kristen, telahmenyebabkan serangkaian penindasan atas nama "kebenaran", bukan hanya terhadap agama lain,tetapi juga terhadap lingkungan agama sendiri yang berbeda formula keimanannya.
 Kedua,
 pengalaman perjumpaan yang intens dengan umat beragama lain, mengantarkan pada pengakuanterhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang lebih luas yang tidak terkungkung agamasendiri, sehingga orang-orang Kristen tertindas ini justru menyambut tentara Arab-Islam sebagai pembebas yang adil. Pengalaman nyata perjumpaan antar iman ini, telah mengajar orang-orang
 
Kristen Orthodoks di Timur Tengah untuk melakukan proses -- yang akhir-akhir ini acap disebut
"crossing over"
atau
"pasing over"
(melintas batas Agama) -- dan membaptiskan nilai-nilaikeadilan dan kebaikan, dari manapun asalnya, sebagai keadilan dan kebaikan sejati. Sebaliknya,mereka juga sekaligus belajar dewasa dalam beragama, yang antara lain ditandai dengan sikap
otokritik :
jujur mengakui bahwa brengsek itu tetap brengsek, kendati hal itu terjadi dalam agamasendiri.
Manusia untuk Agama, atau Agama untuk Manusia?
Setiap agama mempunyai klaim-klaim eksklusif, yang bila dibawakan secara vulgar akanmenjadi pemicu dalam hubungan antaragama. Tanpa menyangkal adanya penegasan semacamitu dalam setiap agama, Gereja-gereja Timur meneruskan penghayatan patristik/
 salafiyah
Gereja,mencoba memahami ayat-
ayat eksklusif itu dengan lebih serius merenungi pribadi ‘Isa alMasih
secara
theantropos
. Maksudnya, memahami al-Masih dalam relasi "Yang Ilahi-yang insani".Karena itu, kata ganti diri
 
Aku:
 
menunjuk kepada
Kalimatullah 
yang
 ghayr al-Makhluk 
(bukanciptaan) dan qadim, yang bersama Ruh Allah berdiam dalam Allah Yang Mahaesa, tetapisekaligus juga
Makhluq
(ciptaan) dalam nuzulNya sebagai Manusia. Yang pertama mutlak,universal dan kekal, sedangkan yang kedua relatif, terbatas dan temporal.
 Kahal, eklesia
(gereja) atau
ummat 
adalah jalan, bukan tujuan (betapapun paling baiknya agamatersebut dalam penghayatan penganutnya). Dalam kesadaran penuh memproklamasikan sebuah
esoterisme, ‘Isa al
-Masih merelativisir eksoterisme :
"Hari Sabat 
(baca:
agama
)
diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat 
(baca:
agama
)" (Markus 3:27). Karena itu misiagama-agama adalah kemanusiaan.Harus ditekankan, setiap agama mempunyai nilai-nilai universal dalam dirinya. Tetapi ketika prinsip-prinsip itu harus berjumpa dengan kenyataan empiris, ia dibungkus oleh bingkai partikular berupa
"organized religion".
Pemutlakan terhadap agama sebagai agama (dan bukanterhadap Allah), -- sadar atau tidak -- telah melahirkan sikap diskriminatif terhadap pihak lainyang berbeda formula keimanannya. Karena itu, mengor-bankan prinsip-prinsip kebenaranuniversal di bawah "bingkai partikular" suatu agama, nyata-nyata suatu bentuk 
"de-humanisasi".
Di sini religiositas, yang lebih menunjuk pada kualitas penghayatan seseorang atasajaran yang diyakininya, ditun-dukkan oleh bentuk formal rumus-rumus keagamaan yang baku.Untuk fenomena di atas, kita dapat belajar dari sejarah panjang diskriminasi "atas nama agama".Apa yang harus kita katakan, ketika untuk alasan "kebenaran" agama: "
The medieval Church did 
not view the taking of a man’s life as lightly as does the modern state" 
?.
12
) (Gereja abad pertengahan tidak memandang bahwa merampas nyawa manusia se-enteng yang terjadi di Negara modern sekarang). Apa pula yang mesti kita katakan, di abad kita sekarang inipun, kitamasih membaca dalam
Qanun-i Shahadat
(Hukum Pembuktian) yang berlaku di Pakistan(1984): bahwa di ruang pengadilan kesaksian seorang pria Kristen hanya bernilai separuhdibanding kesaksian pria Muslim?.
13
) Tentu saja, praktek semacam ini sangat jauh dari teladan-teladan luhur seperti yang diberikan Nabi Muhammad dan para sahabatnya terhadap
ahlu adz-Dzimmiy
(Yahudi/Kristen) pada masanya. Juga, bukankah
"concerto for violence" 
-- meminjamistilah
Max I. Dimont
,
14
) -- yang tanpa rasa bersalah selalu dimainkan oleh gereja abad-abadPertengahan, begitu jauhnya dengan sabda-sabda Yesus da-lam Injil, yang bahkan harus

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->