Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KORUPSI BANTUAN SOSIAL

KORUPSI BANTUAN SOSIAL

Ratings:
(0)
|Views: 26|Likes:
Published by Paul SinlaEloE
Oleh. Paul SinlaEloE
Pemerintahan daerah merupakan penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD RI Tahun 1945. Demikianlah yang tertera dalam pasal 1 angka 2 UU No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah.
Oleh. Paul SinlaEloE
Pemerintahan daerah merupakan penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD RI Tahun 1945. Demikianlah yang tertera dalam pasal 1 angka 2 UU No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah.

More info:

Published by: Paul SinlaEloE on Aug 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2013

pdf

text

original

 
KORUPSI DANA BANTUAN SOSIAL…
??
1
Paul SinlaEloE
2
1)Pemerintahan daerah merupakan penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah danDPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistemdan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD RI Tahun 1945.Demikianlah yang tertera dalam pasal 1 angka 2 UU No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah.2)Dalam menjalankan fungsi Pemerintahan Daerah dibidang kemasyarakatan dan guna memeliharakesejahteraan masyarakat dalam skala tertentu, Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan sosialkepada kelompok/anggota masyarakat yang dilakukan secara selektif dan tidak mengikat.3)Bantuan sosial untuk organisasi kemasyarakatan harus didasarkan pada kriteria kejelasan peruntukan penggunaannya, dengan memperhatikan kaedah dalam rangka optimalisasi fungsi APBD sebagaimanadiamanatkan dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Tentang Pengelolaankeuangan daerah khususnya Pasal 16 ayat (3) menyebutkan bahwa pengalokasian bantuan sosial tahundemi tahun harus menunjukkan jumlah yang semakin berkurang agar APBD berfungsi sebagai instrumen pemerataan dan keadilan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.4)Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Buletin Teknis Nomor 10 tentang Belanja Bantuan Sosial Bab III Ketentuan Belanja Bansos bagian 3.5.1 PenerimaBantuan Sosial pada Paragraf 1 yang menyatakan bahwa, “Penerima belanja bantuan sosial dapat meliputianggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan namun harus dipilih secara selektif yaitu yang perludilindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial”. Pada Paragraf 4 juga menyatakan bahwa, “Belanja bantuan sosial dapat juga diberikan kepada lembaga pendidikan, keagamaan atau lembaga sosial lainyang menangani individu/kelompok masyarakat yang memiliki risiko sosial. Belanja bantuan sosial dapatdiberikan dalam bentuk penyelenggaraan sekolah, kegiatan penyuluhan, pendampingan dan advokasiuntuk individu atau masyarakat yang memiliki risiko sosial”5)Pada Konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), Belanja Daerah pada APBD NTT TA 2010 ditargetkansebesar Rp. 1.257.423.965.150,00 dengan realisasi sebesar Rp. 1.148.082.389.719,00 atau 91,30%. Daritotal belanja yang demikian,
Belanja Bantuan Sosial ditargetkan sebesar Rp. 52.957.700.000,00dengan realisasi sebesar Rp. 49.739.497.703,00 atau 93,92%.
Sesuai dengan perencanaan, dana bantuan sosial ini akan dipergunakan untuk:
Pertama,
Belanja bantuan sosial organisasi masyarakatdengan besaran anggaran Rp. 24.200.000.000,00, namun yang direalisasikan hanya sebesar Rp.22.714.227.703,00.
Kedua,
Belanja bantuan sosial organisasi sosial/kelompok masyarakat dengan totalanggaran Rp. 13.573.500.000,00 dan yang direalisasi hanya sejumlah Rp. 12.867.070.000,00.
Ketiga,
Belanja Bantuan pendidikan sebanyak Rp. 15.184.200.000,00, tetapi yang berhasil direalisasikan Cumasebesar Rp. 14.158.200.000,00. Keseluruhan dana bantuan sosial dalam APBD NTT TA 2010 ini di kelolaoleh Biro Keuangan dan Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi NTT.6)Dalam pengelolaan anggaran bantuan social ini, diketahui terdapat sejumlah permasaalahan, yakni:1.
Mekanisme pencairan dana realisasi biaya penunjang kegiatan pemerintahan dankemasyarakatan tidak didukung dokumen memadai.
Salah satu kegiatan yang ditangani oleh BiroKeuangan dalam belanja bantuan sosial organisasi kemasyarakatan adalah bantuan biaya penunjangkegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan lainnya, dengan anggaran dalam DPPA Perubahan T.A.2010 sebesar Rp. 17.400.000.000,00. Pengujian pada penatausahaan Belanja Bantuan Sosial periode bulan Januari s.d. September 2010 diketahui bahwa terdapat realisasi sebesar Rp. 6.509.000.000,00dalam bentuk pemberian tunai dengan bukti berupa kuitansi tanda terima oleh pihak internalPemerintah Provinsi NTT. (NB:
Wawancara dengan Kuasa Pengguna Anggaran Belanja BantuanSosial pada Biro Keuangan dijelaskan bahwa realisasi tersebut digunakan untuk pemberian bantuan
1
Pointers untuk Diskusi Terbatas, MEMBEDAH KORUPSI DI NTT (Suatu Catatan Kritis Awal Tahun), yangdilaksanakan oleh Lembaga Bhakti Flobamora di Restoran Nelayan, Kota Kupang, 6 Januari 2012.
2
Staf Div. Anti Korupsi PIAR NTT
Page
1
of 
3
 
tunai kepada masyarakat pada saat pihak internal Pemerintah Provinsi NTT melaksanakankunjungan ke daerah-daerah di wilayah Provinsi NTT. Tidak ada bukti tanda terima oleh masyarakat  sebagai dokumen pertanggungjawaban pemberian bantuan tersebut. Selain itu, tidak ada dokumen pendukung berupa rincian penggunaan dana atau proposal atau dokumen lain yang dipersamakan. Pada 90 lembar kuitansi (42%) dari total 214 kuitansi, dokumen pencairan dana didukung nota dariGubernur NTT yang berisi pengajuan penyiapan dana
). Selain itu, ditemukan juga Dalam dokumen penatausahaan Belanja Bantuan Sosial diketahui terdapat Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp.4.086.500.000,00 yang diterima oleh pihak internal dengan bukti hanya berupa kwitansi internal dan Nota Gubernur, dengan rincian:
Pertama,
Bantuan biaya penunjang kegiatan pemerintahan dankemasyarakatan yang diberikan kepada pihak internal (eksekutif) Provinsi NTT, seluruhnya 70kuitansi sebesar Rp. 2.666.500.000,00,
Kedua,
Bantuan biaya penunjang kegiatan pemerintahan dankemasyarakatan yang diberikan kepada pihak internal (legislatif) Provinsi NTT dalam rangka bantuan pemberdayaan masyarakat, seluruhnya 55 kuitansi sebesar Rp. 1.420.000.000,00. (NB:
Wawancaradengan Kuasa Pengguna Anggaran Belanja Bantuan Sosial pada Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi NTT dijelaskan bahwa realisasi tersebut digunakan untuk pemberian bantuan tunai kepadamasyarakat pada saat pihak internal Pemerintah Provinsi NTT melaksanakan kunjungan ke daerah-daerah di wilayah Provinsi NTT. Tidak ada bukti tanda terima dan proposal dari pihak penerimabantuan sebagai dokumen pertanggungjawaban pemberian bantuan tersebut. Selain itu, tidak adadokumen pendukung berupa rincian penggunaan dana atau proposal/permohonan dana
)
.
2.
Realisasi belanja bantuan sosial tidak sesuai peruntukan.
Berdasarkan pengujian pencatatan dandokumen pendukung realisasi belanja bantuan sosial pada kegiatan bantuan biaya penunjang kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan lainnya yang dikelola oleh Biro Keuangan diketahui bahwaterdapat transaksi sebesar Rp. 607.341.000,00 yang tidak sesuai peruntukan. Realisasi sebesar Rp.173.246.000,00 digunakan untuk membayar tagihan biaya iklan dan penggunaan repiter radio.Realisasi sebesar Rp. 434.095.000,00 digunakan untuk membiayai perjalanan dinas. Hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip bantuan sosial yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.3.
Realisasi belanja bantuan sosial belum dilengkapi dengan pertanggungjawaban.
Realisasi belanja bantuan sosial pada Biro Keuangan sebesar Rp13.117.064.303,00 belum dilengkapi dengan pertanggungjawaban penggunaan dana dari penerima bantuan kepada pemberi bantuan, terdiri dari:
(1).
Belanja Bantuan Sosial Kepada Lembaga/Organisasi Sosial Kemasyarakatan pada kode rekening5.1.5.01.01 dengan anggaran sejumlah Rp. 9.874.304.303,00.
(2).
Belanja Bantuan KepadaOrang/Kelompok Masyarakat/Anggota Masyarakat pada kode rekening
 
5.1.5.01.02 dengan anggransebesar Rp. 1.051.660.000,00.
(3).
Belanja Bantuan Pendidikan pada kode rekening 5.1.5.01.03dengan anggaran sebanyak Rp. 2.191.100.000,00. (NB:
Wawancara dengan Kuasa Pengguna Anggaran Belanja Bantuan dijelaskan bahwa bantuan yang diberikan bersifat bantuan lepas dantidak ada penyampaian pelaporan/pertanggungjawaban bantuan dari penerima bantuan. Pemeriksaan secara uji petik terhadap realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Lembaga/Organisasi Sosial Kemasyarakatan (5.1.5.01.01) pada Biro Kesejahteraan Rakyat diketahui belanja bantuan sosial sebesar Rp. 216.800.000,00 belum dilengkapi dokumen pertanggungjawaban penggunaan dana dari penerima bantuan. Dengan demikian, pada kedua satuan kerja tersebut, nilai belanja bantuan sosial yang belum dilengkapi dengan pertanggungjawaban adalah sebesar Rp. 13.333.864.303,00
).7)Realita pengelolaan anggaran bantuan sosial yang seperti ini secara yuridis tidak sesuai dengan PeraturanPemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pasal 61 ayat (1) yangmenyatakan bahwa, “Setiap pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih”.8)Pengelolaan dana bantuan sosial yang seperti ini, juga bertentangan dengan:
Pertama,
Peraturan MenteriDalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pasal 45 ayat (1)yang menyatakan bahwa, “Bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraanmasyarakat” dan pada pasal 45 ayat (2) yang menyatakan bahwa, “Bantuan sosial diberikan tidak secaraterus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif, dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya”.
Kedua,
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang PedomanPengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 133 ayat (2) yang menyatakan bahwa, “Penerima subsidi, hibah, bantuan sosial, dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa
Page
2
of 
3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->