Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Laki - Laki & Penghapusan KDRT

Laki - Laki & Penghapusan KDRT

Ratings: (0)|Views: 6|Likes:
Published by Paul SinlaEloE
Oleh. Paul SinlaEloE & Adi Nange
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia, kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga merupakan tindakan diskriminasi. Oleh karena itu, KDRT harus dihapuskan. Dengan maksud itulah, para pengambil kebijakan membentuk UU No. 23 Tahun 2004, Tentang Penghapusan KDRT.
Oleh. Paul SinlaEloE & Adi Nange
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia, kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga merupakan tindakan diskriminasi. Oleh karena itu, KDRT harus dihapuskan. Dengan maksud itulah, para pengambil kebijakan membentuk UU No. 23 Tahun 2004, Tentang Penghapusan KDRT.

More info:

Published by: Paul SinlaEloE on Aug 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

 
LAKI-LAKI DAN PENGHAPUSAN KDRT
Oleh. Paul SinlaEloE & Adi Nange
Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Harian Pagi TIMOR EXPRESS, tanggal 22 Maret 2010
 
Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT), merupakan salah satu bentukpelanggaran hak-hak asasi manusia,kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga merupakan tindakan diskriminasi.Oleh karena itu, KDRT harusdihapuskan. Dengan maksud itulah,para pengambil kebijakan membentukUU No. 23 Tahun 2004, TentangPenghapusan KDRT.Dalam Pasal 1 UU No. 23 Tahun 2004,disebutkan bahwa yang dimaksuddengan KDRT adalah Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yangberakibat timbulnya kesengsaraan ataupun penderitaan secara fisik, seksual, psikologis danatau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam
Rumah Tangg
.Lingkup rumah tangga yang dimaksud dalam UU No. 23 Tahun 2004 meliputi: Suami, Istri dan Anak, Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan Suami, Istri dan Anak karenahubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan dan perwalian yang menetap dalamRumah Tangga dan atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalamrumah tangga tersebut. Artinya, orang yang bekerja membantu rumah tangga akan dipandangsebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yangbersangkutan.Sedangkan bentuk kekrasan yang dilarang adalah:
 Pertama,
Kekerasan Fisik. Perbuatan yangditujukan terhadap fisik seseorang yang mengakibatkan rasa sakit, atau luka berat.
Kedua,
 Kekerasan Psikis. Perbuatan yang mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri, kemampuanuntuk bertindak, rasa tidak berdaya atau penderitaan psikis berat
Ketiga,
 Kekerasan Seksual.Berbagai bentuk manipulasi, eksploitasi maupun pemaksaan untuk melakukan tindakanseksual hanya demi pemuasan pelaku, tanpa memperhatikan dampaknya pada korban.
Keempat,
Penelantaran. Tidak memberikan nafkah, membatasi/melarang untuk bekerjasehingga korban berada di bawah kendalinya. (Pasal 5 s/d Pasal 9 UU No. 23 Tahun 2004).Walaupun UU No. 23 Tahun 2004, Tentang Penghapusan KDRT ini telah diundangkan dalam LN-RI Tahun 2004 No. 95, Tambahan LN-RI No. 4419, pada tanggal 22 September 2004, namunhingga kini kasus KDRT masih terus terjadi dan semakin menjadi-jadi. Pada konteks NusaTenggara Timur (NTT), Kasus KDRT bukan saja terjadi pada kalangan rakyat, tetapi dilakukan juga oleh mereka yang menjabat/menduduki jabatan-jabatan penting pada setiap levelpemerintahan yang ada di “Bumi Flobamoraini.
Page
 
1
 
 
 Catatan Akhir Tahun PIAR NTT berkaitan dengan Tindak Kekerasan dan Pelanggaran HAMsepanjang tahun 2009 di NTT, menunjukan bahwa di NTT telah terjadi 385 peristiwa/kasustindak kekerasan dan Pelanggaran HAM yang memakan korban sebanyak 3.677 orang. Catatan Akhir Tahun PIAR NTT berkaitan dengan Tindak Kekerasan dan Pelanggaran HAM sepanjangtahun 2009, juga membuktikan bahwa kasus KDRT di NTT menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus sebanyak 57 kasus. Sedangkan yang menjadi korban dalam kasus KDRTsebanyak 59 orang. (NB:
Keseluruhan kasus KDRT sepanjang tahun 2009 di NTT yang dimuat dalam Catatan Akhir Tahun PIAR NTT, hanya merupakan kasus yang diadvokasi oleh PIAR NTT 
).Data Pendampingan RUMAH PEREMPUAN sejak tahun 2006-2009, juga menunjukan bahwakasus KDRT selalu menempati ranking teratas dari berbagai jenis kasus kekerasan lain yangdialami oleh perempuan dan Anak. Pada tahun 2006, RUMAH PEREMPUAN mendampingi 190kasus yang mana 73 kasusnya adalah kasus KDRT. RUMAH PEREMPUAN di tahun 2007,mendata 95 kasus KDRT dari 178 kasus yang didampinginya. Untuk tahun 2008, terdapat 98kasus KDRT dari 177 total kasus yang didampingi oleh RUMAH PEREMPUAN. Sedangkan untuktahun 2009, RUMAH PEREMPUAN mendampingi 191 kasus yang mana 100 diantaranya adalahkasus KDRT.Berdasarkan pengalaman pendampingan RUMAH PEREMPUAN dan PIAR NTT, ditemukanbahwa terjadinya kasus KDRT di NTT, kebanyakan dipicu oleh Budaya Patriarkhi yakni budayayang memberi pembenaran terhadap penguasaan atau superioritas laki-laki atas perempuan.Budaya Patriarkhi yang merupakan hegemoni laki-laki atas perempuan ini terlegitimasi dalamnilai, norma sosial di masyarakat.Menurut Koordinator RUMAH PEREMPUAN, Libby SinlaEloE (2009), ciri-ciri dari budayapatriarkhi yang nampak dalam kehidupan bermasyarakat di NTT, adalah:
Pertama 
,Masyarakatmembesarkan anak laki-laki dengan menumbuhkan keyakinan bahwa anak laki-laki harus kuat,berani dan tidak toleran.
Kedua 
,Laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalammasyarakat.
Ketiga 
,Persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harusditutup karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah sosial.
Keempat,
Pemahamanyang keliru terhadap ajaran agama mengenai aturan mendidik istri, kepatuhan istri pada suami,penghormatan posisi suami sehingga terjadi persepsi bahwa laki-laki boleh menguasaiperempuan.
Kelima,
tradisi bahwa istri bergantung pada suami, khususnya ekonomi.
Keenam,
 Kepribadian dan kondisi psikologis suami dan anak yang tidak stabil.
Ketujuh,
tradisi bahwalaki-laki dianggap
superior 
dan perempuan
inferior 
.PIAR NTT dan RUMAH PEREMPUAN dalam kerja-kerja pendampingannya mendata berbagaidampak dari kasus KDRT yang dialami oleh korban.
Pertama 
,DAMPAK FISIK: Dampakkekerasan terhadap fisik korban seperti lebam, lecet, patah tulang, kepala bocor, pusing, dll.
Kedua 
,DAMPAK PHSIKIS: Dampak phsikis dari seksualitas korban takut berhubungan seks,hilangnya keinginan untuk berhubungan seks, trauma, gangguan kejiwaan dll. Semua korbanKDRT juga mengalami gangguan psikis seperti cemas, gelisah, malu, rendah diri, keinginanuntuk bercerai, gangguan ingatan.
Page
 
2
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->