Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Untitled

Untitled

Ratings: (0)|Views: 875|Likes:
Published by Alim Sumarno

More info:

Published by: Alim Sumarno on Aug 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

 
 
JURNAL PENDIDIKANIMPLEMENTASI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PADASEKOLAH INKLUSIF DI SMPN 29SURABAYA
Diajukan Kepada Universitas Negeri SurabayaUntuk memenuhi Persyaratan PenyelesaianProgram Sarjana Pendidikan Luar BiasaITA TRI PUSPITA WATINIM : 091044231UNIVERSITAS NEGERI SURABAYAFAKULTAS ILMU PENDIDIKANPENDIDIKAN LUAR BIASA2013
IMPLEMENTASI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PADA SEKOLAH INKLUSIF
 
 
Ita Tri Puspitawati 091044231 dan Drs. Zaini Sudarto, M.kes(Pendidikan Luar Biasa, FIP, UNESA, e-mail :ItaTripuspita.emailku@gmail.com AbstractLearning activities in an inclusive school setting should be in the design of learningenvironment that is friendly to educate participants, participant teachers and students learning together as a learning community, participants placing students as a learning center, student participantsencourage participation in learning, teachers understand and utilize adaptive learning media, andteachers also have an interest to provide the best service for students This study aims to (1) determinethe planning of teaching and learning in an inclusive school in the SMP 29 Surabaya (2) determine theimplementation of teaching and learning in an inclusive school in the SMP 29 Surabaya (3) determinethe evaluation of teaching and learning in an inclusive school in the SMP 29 Surabaya (4) understandthe constraints faced by SMP 29 Jakarta, in early applied learning activities in Decree No. 70 of 2009(5) determine the solution of the problems encountered, in carrying out learning activities in Decree No. 70 of 2009The research is descriptive qualitative research subjects were students of class VII and subjectteachers at SMP 29 Surabaya The data collection techniques used techniques of observation,interviews and questionnaires. While the analysis of the data using the data reduction phase,categorization, sintesasi and building descriptions.The results can be concluded: (1) There are 25% of the 12 teachers that take into accountindividual differences and 33.5% were considered in drafting the proposed GPK learning devices(syllabi, lesson plans, worksheets, LP and material), (2) The learning activities in an inclusive schoolSMP 29 Surabaya, already well, (3) Evaluation / assessment consists of two assessments in the form of numbers and narrative descriptions, (4) barriers to implementing learning activities on Permendiknas No. 70 of 2009: a) teachers' lack of understanding of individual differences, b) regular students lack respect for the resistance of students with special needs, c) students with special needs tend to be quietand spend more time outside the classroom so that the interaction with the regular students less (5) Thesolution given the constraints faced are: a) memberikan pengarahan kepada guru dan siswa reguler tentang siswa berkebutuhan khusus, b) more emphasis on students with special needs to learn in theclassroom with regular students that a good relationship can interaction.
Keywords
: Implementation, teaching and learning activities, inclusive schools.
PENDAHULUAN
Pendidikan inklusif merupakan suatu pendidikan, dimana semua siswa dengankebutuhan khusus diterima di sekolah reguler yang berlokasi di daerah tempat tinggalmereka dan mendapatkan berbagai pelayanan pendukung dan pendidikan sesuai dengankebutuhanya. Sebagaimana yang ditegaskanmelalui surat edaran Dirjen Dikdasmen No.380 tahun 2003 yang menyatakan pendidikan inklusif merupakan pendidikanyang mengikut sertakan anak-anak yangmemiliki kebutuhan khusus untuk belajar  bersama-sama dengan anak normal lainya(Sugiarmin, 2006:23).Pada permendiknas Nomor 70 tahun2009 dijelaskan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggara pendidikan yangmemberikan kesempatan kepada semua perserta didik yang memiliki kelainan danmemiliki potensi kecerdasan dan/atau bakatistewema untuk mengikuti pendidikan secara bersama-sama dengan perserta didik padaumumnya. Dan pada pendidikan inklusif anak  berkebutuhan khusus tidak mendapat
 
 
 perlakuan khusus ataupun hak-hak istimewa,melainkan persamaan hak dan kewajiban yangsama dengan peserta didik lainnya di kelas itu.Inklusif adalah suatu sistem ideologydimana secara bersama-sama tiap-tiap wargasekolah yaitu masyarakat, kepala sekolah,guru, pengurus yayasan, petugas administrasisekolah, para siswa dan orang tua menyadaritanggung jawab bersama dalam mendidik semua siswa, sehingga mereka berkembangsecara optimal sesuai dengan potensi mereka.dan juga menempatkan siswa berkelainansecara fisik dalam kelas atau sekolah reguler (Budiyanto : 2005)Inklusif bukan sekedar memasukkananak berkelainan sebanyak mungkin dalamlingkungan belajar siswa normal. Tetapiinklusif merupakan suatu sistem yang hanyadapat diterapkan ketika semua warga sekolahmemahami dan mengadopsinya. Inklusif menyangkut juga hal-hal bagaimana orangdewasa dan teman sekelas yang normalmenyambut semua siswa dalam kelas danmengenali bahwa keanekaragaman siswa tidak mengharuskan penggunaan pendekatantunggal untuk seluruh siswa yang dikaruniaikeberbakatan, mereka yang hidupterpinggirkan, memiliki kecacatan, dankemampuan belajarnya berada di bawah rata-rata kelompoknya (
 Kunch
,dalam
Smith
,2012:396).Kegiatan pembelajaran pada sekolahinklusif harus di setting dengan merancanglingkungan pembelajaran yang ramah terhadap perserta didik, guru dan perserta didik belajar  bersama sebagai suatu komunitas belajar,menempatkan perserta didik sebagai pusat pembelajaran , mendorong partisipasi persertadidik dalam belajar, guru memahami danmemanfaatkan media pembelajaran adaptif,dan juga guru memiliki minat untuk memberikan layanan yang terbaik bagisiswa.(Kustawan ,2012:63)Permendiknas No 70 tahun 2009menjelaskan, bahwa dalam kegiatan pembelajaran pada sekolah inklusif terdapat prinsip-prinsip yang harus dijalankan seorangguru yaitu (1) Prinsip motivasi, guru harussenantiasa memberikan motivasi kepada siswaagar tetap memiliki gairah dan semangat yangtinggi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, (2) Prinsip latar/konteks, guru perlumengenal siswa secara mendalam, (3) Prinsipketerarahan, setiap akan melakukan kegiatan pembelajar guru harus merumuskan tujuansecara jelas, menyiapkan bahan dan alat yangsesuai, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat, (4) Prinsip hubungansosial, dalam kegiatan belajar mengajar, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaranyang mampu mengoptimalkan interaksi antaraguru dengan siswa, siswa dengan siswa, gurudengan siswa dan lingkungan serta interaksi banyak arah,(5) Prinsip belajar sambil bekerja,guru harus banyak memberikan kesempatankepada anak untuk melakukan praktek atau percobaan, atau merumuskan sesuatu melalui pengamatan, penelitian atau sebagainya, (6)Prinsip individulisasi, guru perlu mengenalkemampuan awal dan karakteristik setiap anak secara mendalam, bagi dari segi kemapuanmaupun ketidakmampuannya dalam menyerapmateri pembelajaran, kecepatan maupunkelambatannya dalam belajar, dan perilakunya, sehingga kegiatan pembelajaranmasing-masing anak mendapatkan perhatiandan perlakuan yang sesuai, (7) Prinsipmenemukan, guru perlu mengembangkanstrategi pembelajaran yang mampu memncingsiswa untuk terlibat secara aktif, baik fisik,mental, sosial, dan emosional, (8) Prinsip pemecahan masalah, guru hendaknya seringmengajukan berbagai persoalan atau problemyang ada di lingkungan sekitar, dan anak dilatih untuk merumuskan, mencari data,menganalisis dan memecahkannya sesuaidengan kemampuannya.Kenyataan empiris, guru yang mengajar  pada sekolah inklusif, masih belum mampumenerapkan rancangan kegiatan yang sudahdijelaskan pada permendiknas No 70 tahun2009. Guru masih memberikan perlakuan yang berbeda terhadap anak-anak berkebutuhankhusus, dan terkadang mereka masih merasaterbebani dalam mengajar anak-anak  berkebutuhan khusus. Proses pembelajaranoleh guru di kelas setiap anak yang memilikikarakteristik berbeda-beda, guru tetapmenggunakan kurikulum yang sama dengantingkatan kelasnya. Pendekatan pembelajaranyang dipergunakan dalam proses belajar mengajar bersifat klasikal. Sedangkankarakteristik anak yang berbeda-bedatampaknya dalam penggunaan media pembelajaran belum maksimal dapatdigunakan oleh semua anak yang berbedakarakter serta guru tampaknya kurang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->