karena kami telah memerangi orang-orang kafir (antek Amerika dan thaghut) di Bali seperti yangdiperintahkan Allah yang berbunyi
faqtulu al-musyrikina kaffah… faqtulu al-musyikin haytsuwajadtumuhum/ tsaqiftumuhum... faqtuluhum hatta latakuna fitnah
(bunuhlah semua orangmusyrik…di mana pun kalian berjumpa dengan mereka…bunuhlah mereka hingga tak ada fitnah)".Amrozi cs berargumen bahwa “Ayat-ayat itu menurut satu versi dalam tafsir al-Qurthubimenusakh dan mengamandemen ayat-ayat yang turun sebelumnya tentang anjuran mengampuniorang kafir dan jihad defensif terbatas dari agresi musyrikin, sehingga kesimpulan Amrozi cs jihadadalah ofensif.” “Kwakakakaka,” malaikat tertawa terbahak-bahak untuk kedua kalinya mendengar jawabanAmrozi cs yang konyol itu. Karena penasaran, malaikat mendatangkan Imam al-Qurthubi untukdimintai klarifikasi dan keterangan lebih lanjut. Malaikat bertanya, “Wahai Imam al-Qurthubi benarkah dalam tafsirmu ada konsep jihad ofensif?” Imam al-Qurthubi menjawab, “Dalam tafsir, saya memang mengutarakan dua pendapat; antara 'versi tekstual pronasikh-mansukh yang menyimpulkan jihad ofensif' dan 'versi kontekstual kontra nasikh-mansukhyang menyimpulkan jihad defensif'.” “Coba dech malaikat Anda rujuk dalam Tafsîr al-Qurthûbi, cetakan Dar al-Sya'bi, vol. II, h.71, vol. I, h. 62, vol. XVII, h. 203, & vol. XIX, h. 149, vol. II, h. 347, vol. II, h. 35 & vol. V, h.281, vol. III, h. 216, vol. II, h. 192 & 353.” "Sial, Amrozi cs berarti memilih jihad ofensif dengan mencari justifikasi dari penafsiranyang tekstual", keluh malaikat. Malaikat memperingatkan, “Penafsiran tekstual itu reduktif dan rawan menimbulkan stigma bahwa Islam adalahagama pedang, agama bom, dan agama kekerasan, seperti stigma negatif kalangan mainstreamBarat. Andaikan nasikh-mansukh kalian terapkan dalam ayat-ayat jihad yang sejatinya turunsecara gradual, sama saja kalian menganggap sebagian ayat al-Quran yang turun pada fase-faseawal sebagai ayat impoten dan tak punya fungsi sosial untuk konteks kekinian.” Nah, para pemikir Islam yang kritis dan progresif yang berdiri di barisan antrian hanyamangguk-mangguk menyetujui statemen malaikat tadi.Amrozi cs berapologi, “Oke dech, ijtihad kami memang salah, tapi—seperti kata Rasulullahsaw—kami tetap berhak mendapatkan pahala satu (man akhtha`afalahu ajrun wahidun).Malaikat menimpali, “Kalian memang mendapatkan pahala satu, tapi pahala itu belum mencukupi untukdijadikan modal masuk surga. Pahala kalian yang satu itu tak seberapa jika dibandingkan dengandosa kalian akibat membunuh orang-orang Bali dan wisatawan legal yang telah mendapat jaminankeamanan dari negara. Ingat itu wahai teroris yang berjubah!!! Maukah kalian aku masukkan keneraka?” Amrozi cs, yang kali ini diwakili oleh Ali Gufron, mengutarakan keberatan. Dengan lantangia berkilah, “Kami tidak bermaksud membunuh orang tak berdosa, kami hanya ingin memerangikemungkaran. Selain itu, kami juga sudah dieksekusi sebagai balasan perbuatan kami, meskikami sebenarnya tak rela dengan eksekusi itu.” “Iya, tapi cara amar ma'ruf nahi munkar kalian, seperti saya katakan tadi, tidakprosedural,” tegas malaikat.Malaikat diam sejenak mempertimbangkan matang-matang. Amrozi cs pun menunggukeputusan malaikat sambil pegang-pegang jenggot lagi.
Trio Bomber – Irwan Masduqi | 2
Leave a Comment
yg mnyesal pasti anda sndiri klau tidak bertobat dgn mngada-ada , pak bro