Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cerpen Ki Pandjikusmin - Langit Makin Mendung

Cerpen Ki Pandjikusmin - Langit Makin Mendung

Ratings: (0)|Views: 2,137|Likes:
Published by AS

More info:

Published by: AS on May 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2012

pdf

text

original

 
Langit Makin Mendung
Cerpen
Ki Pandjikusmin
*LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisidibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba kebumi, yang konon makin ramai saja. “Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yangbiasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegalkejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.” Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habispikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama:Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw.. “Daulat, ya Tuhan.”  “Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu,buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intanbaiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”  “Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”  “Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”  “Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”  “Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai.Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!” Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadongsedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat,waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang. “Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dankebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”  “Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih. “Tentang apa?”  “Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”  “Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”  “Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahariterlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.Kacamata model kuno dari emasdiletakkan di atas meja dari emas pula. “Bagaimana, ya Tuhan?”  “Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnyapada mati mendadak.”  “Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”  “Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”  “Dan yang mati?”  “Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolakmemberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”  “Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut. “Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”  “Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”  “Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”  “Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka.(Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedangkalian tajam-tajam!” Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.
Langit Makin Mendung – Ki Pandjikusmin | 1
 
 “Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudahkurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kautahu!”  “Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom). “Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri,dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkarasurat jalan.”  “Tidak bisa mereka disogok?”  “Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”  “Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).***Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua KelompokGrup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihakpenerima. Dan masih banyak lainnya. “Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim. “Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.” Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasirterdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa jutalengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwapengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besarharapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga danbumi. “Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harusdapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaumarrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawanrongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik kepihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”  “Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jaditunggangannya waktu ia mikraj. Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yangsudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara. “Benda apa di sana?” Nabi keheranan. “Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”  “Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira). “Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Leninyang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”  “Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihatorang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!” Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibrilmemberi isyarat sputnik berhenti sejenak.Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroqbeserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga
Langit Makin Mendung – Ki Pandjikusmin | 2
 
aeronetika di Siberia bersorak gembira. “Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Adasedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awanyang empuk bagai kapas. “Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri. “Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”  “Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka.Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh.Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”  “Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah danGomorah?”  “Hampir sama.”  “Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”  “Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negaratetangga, Malaysia.”  “Adakah umatku di Malaysia?”  “Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”  “Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”  “Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”  “90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta.Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”  “Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar disurga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”  “Aneh. Gilakah mereka?”  “Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetanggayang se-agama!”  “Aneh!”  “Memang aneh.”  “Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”  “Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”  “Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”  “Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”  “Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati. “Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”  “Apa peduliku dengan nabi palsu!”  “Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”  “Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad. “Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?terdengar suara Iblis,disambut tertawa riuh rendah.Nabi tengadah ke atas. “Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumihancur sekalipun!” Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:
Langit Makin Mendung – Ki Pandjikusmin | 3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Astri Gerlaily liked this
Zulfan Jonathan liked this
Hendra Dra liked this
Adi D. Nugraha liked this
Adi D. Nugraha liked this
warihfirdausi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->