aeronetika di Siberia bersorak gembira. “Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Adasedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awanyang empuk bagai kapas. “Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri. “Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?” “Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka.Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh.Tapi ngakunya sudah bebas B.H.” “Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah danGomorah?” “Hampir sama.” “Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?” “Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negaratetangga, Malaysia.” “Adakah umatku di Malaysia?” “Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.” “Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!” “Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.” “90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta.Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?” “Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar disurga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!” “Aneh. Gilakah mereka?” “Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetanggayang se-agama!” “Aneh!” “Memang aneh.” “Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!” “Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?” “Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.” “Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?” “Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati. “Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.” “Apa peduliku dengan nabi palsu!” “Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!” “Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad. “Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis,disambut tertawa riuh rendah.Nabi tengadah ke atas. “Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumihancur sekalipun!” Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:
Langit Makin Mendung – Ki Pandjikusmin | 3
Leave a Comment