lagi waras setelah sebelumnya ia sendiri kaget bukan main mendengar teriakan orang tuayang tiba-tiba itu.“Haks… haks…!! Kau jangan takut begitu, anak muda… Aku bukan orang gila, kotainilah yang gila… Huahahahaha…!!! Hiks!,” kata orang tua itu dengan suara serak sambilkembali meneguk minumannya, kemudian bersandar pada sebuah tembok, menggelosor, lalududuk.Marjo sedikit mulai merasa bahwa orang tua di hadapannya tidaklah berbahaya. Justruia terkejut pikirannya bisa ditebak. Ia harus cepat-cepat menanyakan sesuatu pada orang tuaitu. Ia jongkok, dan mulai bertanya.“Pak Tua, sebenarnya ini dimana? Kota apa ini?!,” tanya Marjo dengan suara pelan.Orang yang dipanggilnya Pak Tua itu hanya mengernyitkan alis. Lalu tawanya meledak.Marjo langsung berpikir, bahwa ia harus meralat anggapannya tadi. Sudah jelas orang tua dihadapannya adalah seorang yang sinting. Ia berdiri, dan sudah hendak pergi ketika ia dengar orang tua itu menyahut.“Pastilah kau orang dari masa lalu yang kutunggu-tunggu”Giliran Marjo yang mengernyitkan alis.“Apa maksudmu, Pak Tua?”“Hng…?? Huahahahahaha…!!! Do’aku ternyata Engkau kabulkan juga, Ya Tuhaaan!Hahahahaha!!! Engkau kirim juga manusia abad lalu kemari!!!,” orang tua itu berteriak girang sambil menatap langit dengan mata berbinar. Marjo masih berdiri dengan pandangantak mengerti. Tiba-tiba pandangannya membentur sebuah kertas kumal yang tersembul disalah satu saku pakaian kumal orang tua itu. Dengan cepat Marjo menyambar kertas tersebut.Tertera berbagai angka dengan kotak-kotak di sisinya. Matanya tak percaya. Orang tua itusedikit kaget, lalu tertawa lagi.“Ini… kalender tahun sekarang?!,” Marjo bertanya lirih dengan suara serak.“Huahahaha…!!! Itu kalender dua puluh delapan tahun lalu! Saat masih ada manusia-manusia di negeri ini yang masih hidup dari usaha percetakan,” jawab orang tua tersebut.Marjo kembali jongkok perlahan.“Apa maksudmu dengan ’saat masih ada manusia’ itu?”“Heh! Tenang… Akan aku jelaskan padamu, anak muda…”Marjo bersiap menyimak apa yang bakal dikatakan orang tua itu.“Empat puluhan tahun lalu, negeri ini sudah kehilangan para juru tulis dan koleganya,haks! Kalau dalam istilah di zamanmu, barangkali namanya penulis dan penerbit ya, hiks!”Sekonyong-konyong Marjo merampas botol yang masih menempel di mulut orang tuaitu, dan melemparnya jauh-jauh hingga terdengar suara pecahan yang cukup keras.“Minumanmu sudah habis, Pak Tua! Sekarang cepat jelaskan semuanya padaku apayang telah terjadi dengan serius!,” ucap Marjo dengan suara meledak-ledak.“Huahahahaha!! Jangan marah begitu, anak muda. Akan aku jelaskan, hiks! Sebabkau memang wajib mengetahuinya. Haks!”Marjo masih mampu menahan geram. Efek mabuk dan suara tawa orang tua itu membuatnyasedikit muak.“Semuanya berawal ketika sebuah kejumudan terjadi, hingga akhirnya menjadi statusquo berkepanjangan. Dimana hampir semua anak-anak generasi muda negeri ini sudah tak lagi memiliki minat baca satu persen pun! Semua penulis negeri ini, baik para sastrawan,esais, kolumnis, novelis, cerpenis, penyair, pokoknya semua penulis buku-buku, berhentimassal dari kegiatannya menulis. Royalti yang mereka dapat teramat kecil, bahkan bisakukatakan nominalnya hanya mampu buat makan ala kadarnya selama satu minggu. Buku- buku seluruh penulis di negeri ini, semuanya gagal pasar, lalu membusuk dimakan waktu,
Kabar Buruk dari Masa Depan – Aris Susanto | 2
Leave a Comment