• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Serial Bu Kek Siansu>BKS 6_Pendekar Bongkok>Asmaraman S. Kho Ping Hoo>Post By http://cersilkita.blogspot.com
1
 
SIE Kauwsu (Guru Silat Sie) membaca surat itu dengan kedua tangan agak gemetar danmukanya berubah pucat. Karena senja hari telah tiba dan cuaca tidak begitu terang lagi, dia lalumenyalakan sebuah lampu meja, kemudian dibacanya sekali lagi surat itu. Sehelai kertas yangbertuliskan beberapa buruf dengan tinta merah. "Sie Kian, akhirnya aku dapat menemukanengkau! Sebelum malam ini habis, seluruh keluargamu dan segala mahluk yang hidup di dekatrumahmu, akan kubunuh semua!" Demikianlah bunyi surat itu. Tanpa nama penulisnya. Akantetapi, Sie kauwsu atau Sie Kian tahu benar siapa penulisnya. Tadi dia menemukan surat itu padadaun pintu belakang rumahnya, tertancap pada daun pintu dengan sebatang piauw (senjatarahasia) beronce merah. Dia mengenal benar piauw itu. Lima tahun yang lalu, dia pernah terlukapada pundaknya oleh piauw seperti itu. Dia tahu benar siapa pemilik piawsu, siapa penulis surat.Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu, dia melakukan perjalanan ke daerah Hok-kianuntuk mengunjungi seorang sahabat lamanya. Juga dia ingin melancong, karena semenjak menjadi guru silat, dia tidak pernah sempat melancong. Kini dia mempunyai seorang muridterpandai yang dapat mewakilinya mengajar para murid sehingga diamempunyai kesempatan untuk pergi. Kepergiannya direncanakan selama satu bulan. Dia tidak dapat membawa anak isterinya, karena anaknya yang ke dua, baru lahir beberapa bulan yanglalu. Masih terlalu kecil untuk diajak pergi. Anaknya yang pertama, seorang anak perempuanyang sudah berusia lima belas tahun, juga tidak dapat diajak pergi karena harus membantuibunya di rumah. Maka diapun pergi seorang diri ke timur. Di dalam perjalanan inilah terjadinyaperistiwa itu. Dia melihat perampokan di dalam hutanterhadap sebuah keluarga bangsawan yang melakukan perjalanan dengan kereta. Perampok ituadalah sepasang suami isteri yang masih muda. Kurang lebih duapuluh lima tahun usia mereka.Sie Kian turun tangan melindungi bangsawan itu dan terjadilah perkelahian antara dia
 
Serial Bu Kek Siansu>BKS 6_Pendekar Bongkok>Asmaraman S. Kho Ping Hoo>Post By http://cersilkita.blogspot.com
2
dan suami isteri itu. Ternyata suami isteri itu lihai juga, akan tetapi mereka masih belum mampumengalahkan Sie Kian yang pandai bersilat pedang. Perkelahian itu berakhir dengan kematianisteri perampok itu, dan luka parah pada perampok yang dengan penuh duka memanggul jenazah isterinya dan menanyakan Sie Kian. Sie Kian sendiri juga terluka di pundaknya, terkenasebatang senjata rahasia piauw yang dilempar oleh perampok itu.Pendekar Bongkok 2"Sie Kian, kalau engkau membunuhku, aku tidak akan begini merasa sakit hati," demikianperampok itu sebelum pergi. "Juga kalau engkau hanya menghalangi perbuatan kami merampok,akupun tidak perduli. Akan tetapi engkau telah membunuh isteriku tercinta dan aku bersumpahbahwa kelak aku akan mencarimu dan aku akan membunuh seluruh keluargamu dan semuapenghuni rumahmu!" Setelah mengeluarkan ucapan itu, perampok muda itu pergi dengan mukaberduka. Sie Kian membiarkannya pergi dan mengira bahwa ucapan itu tentu hanya ancamanseorang perampok yang kecewa. Akan tetapi, ternyata hari ini ada surat dan piauw beroncemerah! Perampok itu ternyata bukan hanya meninggalkan ancaman kosong belaka dan hari ini,kurang lebih lima tahun semenjak peristiwa itu, perampok itu benar-benar datang untuk melaksanakan ancamannya dan sumpahnya! Diam-diam Sie Kian bergidik. Ancaman dalam suratitu sungguh menyeramkan. Akan tetapi, dia tidak takut! Selama hidupnya, Sie Kian adalahseorang lakilaki yang jantan. Demi membela kebenaran, dia tidak takut kehilangan nyawa! Ancaman surat itu hanya ancaman seorang penjahat, seorang perampok, dan dia akanmenyambutnya, menandinginya dengan sikap seorang pendekar sejati! Tidak, dia tidak akanminta bantuan orang lain! Setelah termenung sejenak, Sie Kian menyimpan surat dan piauw ituke dalam kantung bajunya, dan diapun memasuki kamar di mana isterinya sedang berbaringmenyusui anak mereka, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun dan mereka beri nama SieLiong. Dengan wajah tenang saja Sie Kian duduk di kursi dalam kamar itu dan bertanya kepadaisterinya, di mana adanya puteri mereka yang bernama Sie Lan Hong. Dia dan isterinya memanghanya mempunyai dua orang anak, yaitu pertama Sie Lan Hong yang sudah berusia lima belastahun dan setelah lewat empat belas tahun lebih barulah isterinya melahirkan Sie Liong. "Ia barusaja keluar dari sini, mungkin ia berada di dalam kamarnya," jawab istrinya sambil bangkit duduk karena Sie Liong sudah tidur pulas. "Ada apakah? Kelihatannya engkau begitupendiam." Isteri yang sudah amat mengenal watak suaminya itu bertanya dengan pandang matacuriga melihat sikap suaminya begitu pendiam, tidak seperti biasanya. "Panggil dulu Lan Hong kesini, juga pangil Cu An yang berada di kamarnya. Ada urusan penting sekali yang hendak kubicarakan dengan kalian bertiga." Isteri Sie Kian memandang suaminya dengan heran, akantetapi tidak membantah dan ia lalu keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian ia muncul kembalibersama seorang gadis yang manis, yaitu Lan Hong, dan seorang laki-laki muda berusia kuranglebih duapuluh lima tahun. Pria ini adalah Kim Cu An, murid kepala yang kini membantu Si Kianmemimpin para murid
 
Serial Bu Kek Siansu>BKS 6_Pendekar Bongkok>Asmaraman S. Kho Ping Hoo>Post By http://cersilkita.blogspot.com
3
yang belajar di perguruan silat itu. Karena Kim Cu An seorang yatim piatu yang tidak mempunyaisanak keluarga, maka dia diterima tinggal di rumah gurunya itu, sebagai murid, juga sebagaipembantu guru. Tentu saja Cu An merasa terkejut dan heran ketika oleh ibu gurunya diadipanggil menghadap gurunya di dalam kamar gurunya itu! Setelah isterinya, puterinya danmuridnya duduk di atas bangku dalam kamar itu, dengan sikap masih tenang Sie Kian lalu bicara."Kalian tentu masih ingat akan ceritaku tentang peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu ketikaaku mengadakan perjalanan ke Hok-kian itu, bukan?" "Peristiwa yang mana?" tanya isterinya."Apakah suhu maksudkan pertemuan suhu dengan suami isteri perampok itu?" tanya Cu An.Gurunya mengangguk. "Benar. Seperti telah kuceritakan, aku berhasil menyelamatkan keluargabangsawan dari kota raja yang dirampok oleh perampok yang terdiri dari suami isteri itu. Dalamperkelahian itu, aku terluka senjata rahasia piauw, akan tetapi aku berhasil membunuh isteriperampok itu dan melukainya. Akan tetapi, ketika itu aku tidak menceritakan kepada kalian akansumpah dan dendam perampok yang kematian isterinya itu. Ketika itu kuanggap tidak pentingdan semua perampok yang dikalahkan tentu akanPendekar Bongkok 3mengeluarkan ancaman. Akan tetapi...., hari ini ancaman perampok itu agaknya akandilaksanan!" Sie Kian menarik napas panjang. "Ancaman bagimana?" tanya isterinya, nampak khawatir. "Ketika itu, sambil memanggul jenazah isterinya dan dalam keadaan luka diabersumpah bahwa pada suatu hari dia akan mencariku dan akan membasmi seluruh keluargaku. Ancaman yang keluar dari mulut seorang perampok seperti itu, mana ada harganya untuk diperhatikan dan dianggap serius!" "Akan tetapi.... dia bersumpah karena kematian isterinya, danhal itu berbahaya sekali!" kata isterinya. Sie Kian kembali menarik napas dan dia mengangguk."Benar sekali pendapatmu itu dan sekarang inilah buktinya." Dia mengeluarkan senjata piauw dankertas bersurat itu. "Tadi kutemukan surat ini tertancap piauw di daun pintu belakang. Surat ituberbunyi begini." Sie Kian membacakan surat itu, didengarkan dengan muka pucat oleh isterinya.Lan Hong dan Cua An mendengarkan dengan sikap tenang. Mereka adalah orang-orang mudayang sejak kecil sudah belajar ilmu silat maka memiliki ketabahan besar. "Ayah, kalau dia muncul,kita lawan dia! Penjahat itu sudah sepatutnya dibasmi!" kata Lan Hong dengan penuh semangat."Sumoi benar, suhu. Kita tidak perlu takut menghadapi ancaman dan gertak kosong seorangpenjahat seperti dia...." "Ha-ha-ha-ha-ha...!" Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa yangdatangnya dari atas genteng. Sie Kian meloncat dari kursinya. "Lan Hong, Cu An, kalian menjagaibu dan adik kalian di sini!" berkata demikian, tubuh Sie Kian sudah berkelebat keluar dari dalamkamar itu dan dia segera keluar dan meloncat ke atas genteng. Pada saat dia meloncat ke atasgenteng, terdengar suara anjing mnggonggong di belakang, akan tetapi suara gonggongannyaberubah pekik kesakitan lalu sunyi. Sie Kian melayang turun dan lari ke belakang. Dia tidak melihat berkelebatnya orang, hanya menemukan anjing peliharaannya itu telah mati den sebuahronce merah nampak di lehernya. Anjing itu mati dengan sebatang senjata piauw terbenam di
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...