Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pengertian assesment

pengertian assesment

Ratings: (0)|Views: 157|Likes:
Published by MazRio Sekayu

More info:

Published by: MazRio Sekayu on Aug 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/21/2014

pdf

text

original

 
PENGERTIAN ASESMEN SERTA FORMATNYA
Pengantar
 
 Asesmen
merupakan cara salah satu kegiatan pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yangharus dilakukan konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/berlangsung. Asesmen merupakan salah satu bagian terpentingdalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka asesmen dalam bimbingandan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untukmenggali dinamika dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitumengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada padamasalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untukmemecahkan masalah yang dihadapi konselee. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling,namun juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konselee.Asesmen merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konselee dalam memecahkan masalah. Asesmenyang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi denganmenggunakan indicator-indikator yang ditetapkan dan dikembangkan oleh guru BK/konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konseleemerupakan pengembangan dari area kompetensi dasar pada diri konselee yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri,
 performance test
, tes psikologis, observasi,wawancara, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus dilakukan dengan berhati-hati sesuai dengankaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah karena asesmen yang tidak memadai akan menyebabkan tritmen gagal; atau bahkan dapatmemicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri konselee. Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada konselee, tidakberarti konselor harus menilai (
to
 
assess
) semua latar belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu. Kadangkala konselormenemukan bahwa ternyata
―hidup‖ konselee sangat menarik. Namun demikian tidaklah efisien dan tidak etis untuk menggali semuanya selama hal
tersebut tidak relevan dengan tritmen yang diberikan untuk mengatasi masalah konselee. Karena itu, setiap guru pembimbing/konselor perlu berpegang
pada pedoman pertanyaan sebelum melakukan asesmen; yaitu ―Apa saja yang perlu kuketahui mengenai klien?‖. Hal itu berkaitan d
engan apa saja yangrelevan untuk mengembangkan intervensi atau tritmen yang efektif, efisien, dan berlangsung lama bagi konselee.Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:1. menstimulasi konselee maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan2. menjelaskan masalah yang senyatanya3. memberi alternatif solusi untuk masalah4. menyediakan metode untuk dengann memperbandingkan alternatif shg dapat diambil keputusan5. memungkinkan evaluasi efektivitas konselingSelain itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara apa ini (
what is
) dengan apa yang diinginkan(
what is desired 
) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling.Asesmen memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model pendekatan konseling. Jika kedua komponentersebut
didesain dengan pendekatan ―
client centered”
 
atau
 
“bottom up”,
 
asesmen akan mengarah pada inovasi. Hal ini memiliki makna bahwaasesmen tidak hanya berorientasi pada hasil/produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses konseling, yaitu mulai dari membuka konselingsampai dengan mengakhiri konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling dengan hasil konseling. Dengan demikianasesmen akan benar-benar bisa memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan diambil oleh konselee dapat benar-benarsesuai dengan kemampuan diri konselee itu sendiri.Asesmen yang tidak dilakukan secara objektif, akan berpengaruh pada pelayanan konseling oleh konselor sekolah/ guru bimbingan konseling. Hal ini akanberakibat tidak baik pada diri konselee, bahkan terhadap konselor itu sendiri untuk jangka panjang maupun jangka pendek.Asesmen dalam bimbingandan konseling adalah asesmen yang berbasis individu dan berkelanjutan. Semua indikator bukan diukur dengan soal seperti dalam pembelajaran, tetapidiukur secara kualitatif, kemudian hasilnya dianalisis untuk mengetahui kemampuan konselee dalam mengambil keputusan pada akhir konseling, dalammelaksanakan keputusan setelah konseling, serta melihat kendala/masalah yang dihadapi konselee dalam proses konseling maupun kendala dalammelaksanakan keputusan yang telah ditetapkannya.Ruang lingkup dalam asesmen (
assesment need areas)
 
dalam bimbingan dan konseling ada lima, yaitu:1.
Systems assessment,
yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai status dari suatu sistem, yang membedakan antara apaini (
what is it
) dengan apa yang diinginkan (
what is desired 
) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ditetapkanatau
outcome
yang diharapkan dalam konseling.2.
Program planning
, yaitu perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untukmenyeleksi bagian
bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan konselee; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang memberikan informasi-informasi nyata yang potensial.Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat konselee mampu membedakan latihan yang dilakukan pada saatkonseling dan penerapannya di kehidupannyata dimana konselee harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.3.
Program Implementation
, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata;yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.4.
Program Improvement,
dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan: (a) evaluasi terhadapinformasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan dicapai dalam program, (c) program-progam yang berhasil, dan (d) informasi-informasi yangmempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.5.
Program certification,
yang merupakan akhir kegiatan. Menurut
Center for the Study of Evaluation
(CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasisumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan dilakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepadakonselee. Dalam hal ini evaluator berfungsi pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
B. Tujuan Asesmen
 Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:1.
 
Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konselee mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkaribahwa ia bermasalah2.
 
Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konseleesecara mendetil3.
 
Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konselee4.
 
Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi palingkecil dari beberapa alternatif tersebut5.
 
Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konselee atau belum
 
Selain itu, asesmen digunakan pula untuk menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang dihadapi konselee, untuk memilih/mengembangkanintervensi terhadap area yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar untuk mendesain dan mengelola terapi, untuk membantu mengevaluasiintervensi, serta untuk menyediakan informasi yang relevan untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul untuk setiap fase konseling.Pada asesmen berbasis individu, asesmen dipakai untuk mengumpulkan informasi asli atau autentik mengenai konselee sehingga diperoleh informasimenyeluruh tentang diri konselee secara utuh, dan untuk memberikan penilaian yang objektif. Selain itu, secara terperinci asesmen berbasis individubertujuan untuk:1.
 
Mengembangkan cara konselee merespon (verbal dan/atau non verbal) pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh guru BK.2.
 
Melatih konselee untuk berpikir dalam upaya pemecahan masalah3.
 
Membentuk kemandirian konselee dalam berbagai masalah atau membentuk individu menjadi mandiri.4.
 
Melatih konselee mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan. melalui proses konseling.5.
 
Membentuk individu yang terbuka dalam berbagai hal, termasuk membuka diri dalam konseling6.
 
Membina kerjasama yang baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
 
7.
 
Membelajarkan konselee untuk menilai terhadap cara melaksanakan keputusannya secara konsekuen.Asesmen berbasis individu akan mengukur seluruh kemampuan konselee, baik keterampilan personal (
 personal skills)
, keterampilan social (
social skills)
,keterampilan memecahkan masalah (
 problem solving skills)
, dan keterampilan memilih alternative (
Choice alternative skills).
Jika hal inidilakukan maka asesmen akan dapat:(a) membantu sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran karena konselee sebagai siswa dapat berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran,(b) memudahkan guru dalam pembelajaran di kelas karena siswa tidak banyak masalah,(c) memudahkan guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugas bimbingan dan konseling
khususnya dalam konseling,(d) membantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,(e) mendorong konselee untuk memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dalam berbagai hal (seperti mendapatkan informasi studi, pekerjaan,dan memecahkan masalah (masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir), dan(f) menyajikan informasi berkesinambungan tentang kegiatan kegiatan layanan bimbingan dan konseling.Dalam tiap fase konseling, asesmen (menurut Hood & Johnson, 1993) mempunyai tujuan yang bisa jadi berbeda-beda. Hal ini terlihat dalamtabel berikut ini:
Fase tritmen
 
Pertanyaan yangditujukan bagi asesmen
 Skrining awal
Apakah konselee tepat untuk layanan ini?
Jika tidak tepat, dirujuk kemana?Identifikasi dan analisismasalah
Apa masalah konselee?
Apakah masalah konselee mengundangmasalah tritmen?
Faktor apa yang membuat masalah konselee terusberlangsung?Seleksi tritmen
Alternatif tritmen apa yang membuat konseleenyaman?
Alternatif tritmen apa yang membuatlingkungan konselee nyaman?
Alternatif tritmen apa yang membuat terapisnyaman?
Tritmen mana yang optimum dalam menyelesaikan masalah konselee?Evaluasi tritmen
Apakah evaluasi tritmen dapat dipercaya?
Perubahan apa yang terjadi pada masalah danperilaku?
Apakah perubahan terjadi karena tritmen?
 Biaya apa yang harus dikeluarkan untuktritmen?
Apakah keuntungan yang didapat dari tritmenmemadai dengan biayanya?
Apakah tritmen harus dihentikan atau dilanjutkan?
C
.
Interpretasi Asesmen
 
Jika hanya dilihat dari ‗mata‘ awam, sebenarnya data asesmen tidak menyuarakan apa
-apa. Data dalam asesmen hanya berarti jika dilihat bersamaandengan data-data lain; yaitu perfomansi individu yang menjadi konselee, perfomansi kriterion yang dipakai untuk asesmen, atau norma yang dipakaiuntuk menentukan posisi konselee disbanding kriterionnya. Jika dibahas lebih lanjut, maka ada beberapa pendekatan yang diguna
kan untuk ‗membaca‘
data yang didapat dari asesmen, diantaranya adalah:§ Pendekatan
client-referenced 
satu asesmen perfomansi konselee disandingkan dengan perfomansi konselee yang bersangkutan lainnya, dan artididapat dari seberapa baik skor perfomansi-perfomansi tersebut dikaitkan; misal dengan memberikan
 pre test
dan
 post test
saat melakukan tritmentertentu pada konselee§ Pendekatan
criterion-referenced 
asesmen perfomansi konselee disandingkan dengan standar perfomansi, dan arti didapat dari seberapa dekat skorkonselee dengan standar perfomansi§ Pendekatan
norm-referenced 
asesmen perfomansi konselee disandingkan dengan perfomansi kelompok referensi yang sesuai, dan arti didapat dariposisi skor konselee dengan perfomansi kelompok referensi.
D
.
Langkah-langkah Asesmen
 Apapun bentuk dan jenis asesmen yang dilakukan, hal ini tetap menuntut suatu perencanaan, termasuk pada saat melakukan analisis. Dengan demikianmaka akan diperoleh alat ukur atau instrumen yang benar-benar dapat diandalkan (valid) dan dapat dipercaya (reliabel) dalam mengukur apa yangseharusnya diukur. Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan asesmen:
1. Perencanaan
 Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen adalah:a. Memilih fokus asesmen pada aspek tertentu dari diri konseleeSalah satu penentu keberhasilan konseling adalah kemauan dan kemampuan konselee itu sendiri. Dalam konseling, keputusan akhir untuk pemecahanmasalah yang dihadapi ada pada diri konselee. Konselor/guru BK bukan pemberi nasihat, bukan pengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukankonselee dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
 
Karena itu, untuk keberhasilan konseling, konselee dapat bekerjasama dengan guru BK/konselor, dan dengan bantuan guru BK maka konselee diharapkanmampu memunculkan ide-ide pemecahan masalah, dan konselee memiliki keberanian serta kemampuan untuk mengambil keputusan, mampu memahamidiri sendiri, dan mampu menerima dirinya sendiri. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka konselor menentukan akan melakukan asesmen denganmemfokuskan pada salah satu aspek dalam diri konselee saja.b. Memilih instrumen yang akan digunakan.Setelah ditentukan fokus area asesmen, Anda dapat merencanakan instrumen yang akan digunakan dalam asesmen. Banyak instrumen yang dapatdigunakan dalam asesmen seperti tes psikologis, observasi, inventori, dan sebagainya. Tetapi untuk menentukan instrumen sangat tergantung pada aspekapa yang akan diasesmen. Misalnya Anda akan melihat kerjasama konselee dalam konseling, maka instrumen dapat menggunakan
checklist
,tetapi apabilaAnda memfokuskan asesmen tentang kemampuan konselee dalam memecahkan masalah, maka Anda dapat mempergunakan tes psikologis.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih instrumen dalam asesmen diantaranya yaitu: (i) kemampuan guru BK sendiri, (ii) kewenangan guru BK(baik dalam mengadministrasikan maupun dalam interpretasi hasilnya), (iii) ketersediaan instrumen, (iv) waktu yang tersedia, dan (v) dana yang tersedia.c. Penetapan waktuPerencanaan waktu yang dimaksud adalah kapan asesmen akan dilakukan. Penetapan waktu ini sangat erat berhubungan engan persiapan pelaksanaanasesmen. Persiapan akan banyak menentukan keberhasilan suatu asesmen, misalnya mempersiapkan instrumen, tempat, dan peralatan lain yangdiperlukan dalam pelaksanaan asesmen. Apalagi jika pelaksana asesmen tersebut bukan guru BK itu sendiri, misalnya karena instrumen yang digunakanuntuk asesmen adalah tes psikologis (tes intelegensi, inventori kepribadian, tes minat jabatan, dan sebagainya). Dalam hal ini apabila guru BK tidakmemiliki kewenangan, maka guru BK dapat minta bantuan orang yang memiliki kewenangan, misalnya psikolog atau orang yang telah memiliki sertifikasiyang memberikan kewenangan untuk mengadministrasikan tesdimaksud.d. Validitas dan reliabilitasApabila instrumen yang kita gunakan adalah buatan sendiri atau dikembangkan sendiri, maka instrumen itu perlu diuji validitas dan reliabilitasnya.Karena validitas dan reliabilitas merupakan suatu syarat mutlak suatu instrumen asesmen. Namun apabila kita menggunakan instrumen yang sudahterstandar, Anda tidak perlu mencari validitas dan reliabilitas karena instrumen tersebut sudah jelas memenuhi persyaratan sebagai suatu instrumen.
2. Pelaksanaan
Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikandalam melaksanakan asesmen adalah pelaksanaannya harus sesuai dengan manual masing-masing instrumen. Manual suatu instrumen biasanya memuat:(i) cara mengerjakan, (ii) waktu yang digunakan untuk mengerjakan asesmen, (iii) kunci jawaban, (iv) cara analisis, dan (v) interpretasi.
3. Analisis data
 Langkah selanjutnya adalah analisis data, yaitu melakukan analisis terhadap data yang diperoleh melalui instrumen yang digunakan untuk mengambildata. Analisis dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing-masing instrumen. Metode analisis data dalam asesmen konselingsangat tergantung data yang diperoleh. Misal data yang diperoleh berbentuk kualitatif atau data kuantitatif.Apabila data bersifat kualitatif, maka kita melakukan analisis data kualitatif. Metode analisis data kualitatif misalnya deskriptif naratif. Wilcox dalamFarida (2000) misalnya menggunakan pendekatan
key incident
‖ dalam analisis deskripsi kualitatif tentang kegiatan pendidikan.
 Pendekatan
key incident
memungkinkan bagi kita untuk memasukkan sejumlah besar kesimpulan dari bermacam-macam data yang berasal dari berbagaisumber, misalnya dari catatan lapangan, dokumen informasi demografi, atau wawancara. Apabila banyak data kualitatif yang dianalisis sementaraasesmen masih berlangsung maka beberapa analisis dapat ditunda pelaksanaannya sampai evaluator selesai melakukan asesmen. Saat melakukan analisisdata kualitatif, perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: (i) yakinkan semua data telah tersedia, (ii) buatlah salinan data untuk berjaga-jagakalau ada yang hilang, (iii) aturlah data dalam judul dan masukkan dalam file, (iv) gunakan sistem kartu-kartu dalam map, (v) periksa kebenaran hasilasesmen.Apabila data bersifat kuantitatif maka analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik. Dalam bimbingan konseling, statistik biasa digunakan untukanalisis data hasil tes psikologis, misalnya tes inteligensi, tes bakat, dan sebagainya. Dewasa ini, program statistik dapat dengan mudah dilakukan denganbantuan komputer, seperti program excel, LISREL, SPSS, dan sebagainya.
4. Interpretasi data
 Interpretasi diartikan sebagai upaya mengatur dan menilai fakta, menafsirkan pandangan, dan merumuskan kesimpulan yang mendukung. Penafsiranharus dirumuskan dengan hati-hati, jujur, dan terbuka. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ada dalam interpretasi, yaitu:(i) Komponen untuk menafsirkan / interpretasi hasil analisis dataInterpretasi berarti menilai objek asesmen dan menentukan dampakasesmen tersebut. Pandangan evaluator juga mempengaruhi penafsiran/interpretasi ata. Untuk asesmen yang akan digunakan untuk membantu fungsipendidikan, maka hasil asesmen harus diinterpretasikan sebagai sarana untuk mengetahui kebaikan konselee, dan dapat menjadi bahan pertimbangandalam tindakan berikutnya bagi orang-orang lain yang berkepentingan/berwenang (Cronbach dalam Farida, 2000).(ii) Petunjuk untuk menafsirkan analisis dataWorthen dkk. (dalam Farida, 2000) menyatakan bahwa para evaluator telah mengembangkan metode yang sistematik untuk melakukan interpretasi.Diantara metode-metode tersebut yang sering dipakai akhir-akhir ini adalah: (i) menentukan apakah tujuan telah dicapai, (ii) menentukna apakahhukum, norma-norma, demokrasi aturan, dan prinsip-prinsip etik tidak dilupakan, (iii) menentukan apakah analisis kebutuhan telah dikurangi, (iv)menentukan nilai pencapaian, (v) bertanya kepada kelompok penilai, melihat kembali data, menilai keberhasilan dan kegagalan, menilai kelebihan dankelemahan penafsiran, (vi) membandingkan variabel-variabel penting dengan hasil yang diharapkan, (vii) membandingkan analisis yang dilaporkan olehprogram yang usahanya sama, dan (viii) menafsirkan hasil analisis dengan prosedur yang menghasilkannya. Namun demikian, menginterpretasikan databukan hanya pekerjaan evaluator saja, akan tetapi evaluator hanya memberikan pandangan saja dari sekian banyak pandangan.
5. Tindak lanjut
 Tindak lanjut adalah menindak lanjuti hasil asesmen atau penggunaan hasil asesmen dalam konseling. Beberapa kegiatan tindak lanjut diantaranyaadalah apakah konselee perlu melakukan konseling yang memfokuskan pada aspek yang berbeda lainnya, apakah konselee perlu mendapatkan tritmentertentu, atau bahkan bisa jadi konselee perlu mendapatkan rujukan (
refferal
)kepada pihak ketiga. Rujukan diperlukan jika guru pembimbing/konselor tidak mempunyai kewenangan atau tidak mempunyai kemampuan untukmenangani masalah yang dihadapi konselee. Misalnya jika klin sudah mengalami gangguan psikotik, maka konselee perlu dirujuk ke psikiater; jikakonselee mengalami gangguan dislesia maka perlu dirujuk ke terapis khusus yang menangani gangguan tersebut.Untuk konseling yang berbasis individu, maka langkah-langkah khusus peerlu dilakukan, yaitu dengan cara:1.
 
menentukan fokus yang akan dinilai (misal cara konselee dalam merespon, ide-ide pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan sebagainya)2.
 
menentukan teknik untuk penilaian (misal dengan observasi, konferensi kasus, atau wawancara)3.
 
menggunakan teknik penilaian yang telah ditentukan4.
 
melakukan analisis data yang diperoleh dan membicarakan hasilnya dengan konselee5.
 
menanggapi data dengan cermat, dan6.
 
melaporkan data yang telah diolah (laporan hasil konseling)
E
.
Cara Pengumpulan Informasi Asesmen
 Pengumpulan informasi untuk asesmen berbasis individu dapat dilakukan secara resmi/formal, dan tidak resmi/informal. Secara resmi misalnya, individudipanggil untuk melakukan wawancara konseling dengan konselor, atau guru BK meminta individu melakukan tes psikologis dan/atau tes perbuatan(
 performance test
). Secara tidak resmi, misalnya konselee mengerjakan kegiatan-kegiatan yang sengaja dibuat untuk melaksanakan hasil keputusan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->