Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pangemanann

Pangemanann

Ratings: (0)|Views: 107|Likes:

More info:

Published by: Dedy Ahmad Hermansyah on Aug 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/04/2014

pdf

text

original

 
Pangemanann, Sang Penjaga Mata Radar Hindia
Mengaji Tetralogi #9 
Mengaji kali ini akan merangkum 14 bab Rumah Kaca, seri keempat sekaligus yangterakhir Tetralogi Buru Bung Pram. 14 bab itu akan dipecah ke dalam empatrangkuman: dari bab 1-4; bab 5-7; 6-9; dan 10-14. Jadi akan ada empat catatanuntuk seri Rumah Kaca ini.Di dalam Rumah Kaca, Minke tidak lagi menjadi pusat penceritaan. MelainkanPangemanann, seorang anggota kepolisian Hindia Belanda. Pangemanann ini sudahmuncul pada beberapa bab terakhir seri Jejak Langkah. Rumah Kaca ini pembacatidak akan bertemu lagi dengan kisah pahit-manisnya percintaan. Bagi beberapaorang mungkin Rumah Kaca ini agak sedikit berat dan agak ‘membosankan’. Karenadi dalamnya melulu bicara perihal sejarah, politik, dan sebagainya. Tapi RumahKaca ini memiliki keunikan tersendiri dari tiga seri sebelumnya.Minke sendiri dibuang ke Ambon. Pangemanann ikut mengantarnya sampai tujuan.Di Ambon, berbagai ketentuan diberlakukan atas diri Minke. Salah satunya iamendapat pesangon sama dengan jumlah saat ia sekolah di STOVIA. Cuma sedikitdikurangi, mengingat ia tak lulus. Ia juga hanya boleh menerima surat tanpa bisamembalas. Bisa membaca terbitan-terbitan tanpa boleh menanggapi dalam bentuktulisan. Ia juga diwajibkan selalu melapor siapa-siapa tamu yang datang kerumahnya.Frischboten dipulangkan ke Belanda. Ia begitu dicintai oleh kalangan Pribumi, catatPangemanann. Frischboten-lah yang selalu membuka tangannya membantu Pribumimendapat keadilan hukum. Prinses dan si Piah rupa-rupanya mematai-matai rumahbaru Pangemanann yang awalnya menjadi milik suaminya, Minke. Setelah tersadarbahwa dua wanita yang ia anggap tahu bersetia itu, Pangemanann melapor kepolisi. Dan polisi menyeret mereka berdua, mereka sepanjang jalan dipukuli dandianiaya.Bagi kami, Rumah Kaca ini adalah cermin untuk melihat soal benih-benihkebangkitan nasionalisme dari sudut pandang colonial. Karena memakai kaca matacolonial, otomatis pembaca juga diajak berjarak dalam melihat dan menilai tokoh-tokoh yang ada di dalam tiga seri sebelumnya. Dan yang terpenting, tentu saja:Rumah Kaca ini adalah ruang bagi Pram untuk menjelaskan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan pemerintah colonial Belanda dalam membendung danmemberangus aktifitas-aktifitas kaum Pribumi yang dianggap bakal merongrongkekuasaan kolonialisme. Usaha-usaha itu kemudian dijalankan oleh Pangemanannlewat satu metode pencatatan dan pengarsipan yang rapih semua aktifitas Pribumiyang berusaha merongrong kekuasaan colonial. Arsip ini, dalam istilah sinopsisroman, adalah mata radar Hindia. Maka dengan begitu, Pangemanann tak lainadalah penjaga mata radar Hindia.
Siapa Pangemanann?
 
Sebagaimana telah disebutkan, dalam Rumah Kaca pusat penceritaan sepenuhnyaada pada Pangemanann. Kita tak akan mendengar lagi suara Minke secaralangsung. Seluruh gambaran tentang Minke kini dihadirkan dari kacamata siPangemanann. Maka sangat perlu kita tahu siapa Pangemanann ini. Tentu sajasumber yang memberitahu siapa dia kita dapatkan dari kata-kata Pangemanannsendiri.Pangemanann adalah pria Pribumi yang tak pernah mengenal orang-tuanya. Iayatim piatu sejak kecil. Pamannya, adik dari ayahnya, Frederick Pangemanann, yangkemudian memungutnya. Sepasang suami-istri asal Prancis mengambilnya sebagaianak pungut. Itu saat dia menjelang lulus dari E.L.S.. Ayah angkatnya seorangapoteker di Menado. Ia bernama Tuan De Cagnie. Rupanya sepasang suami-istrisangat berkenan dengan Pangemanann. Kebetulan mereka memang tak punyaanak. Maka tak lama kemudian ia dibawa pulang ke Lyon. Di sana mereka punyaapotik dan pabrik obat kecil.Ia bertemu dengan istrinya, Paulette, di Lyon. Istrinya adalah anak seorang petaniyang, dalam kata-katanya, tak tak tahu apa-apa tentang dunia. Mereka kawin disebuah gereja desa yang telah tua, dengan tanpa restu dari orang-tua istrinya.Meski begitu, merekalah yang memberikan saksi. Setelah itu, ia membawa sertaistrinya ke negeri-negeri asing, ke Nederland, dan akhirnya ke Hindia.Ia punya empat orang anak. Yang pertama bernama Bernardus, kedua Hubertrus,ketiga Mazquis dengan panggilan Mark, dan terakhir Desiree—artinya
dia yang dirindukan 
, nama pacar Napoleon Bonaparte dan dipanggil Dede. Dua yangpertama meneruskan pelajaran di H.B.S. dan Fakultas Geologi di Nederland. Duaterakhir—Mark dan Dede—masih tinggal bersamanya.Pangemanann adalah seorang anggota kepolisisan pemerintah Hindia Belanda. Iamenjabat pangkat tertinggi untuk seorang Pribumi: Inspektur Polisi tingkat-I.Pangemanann sangat loyal dengan pekerjaannya. Ia mencintai pekerjaannya. Iasudah berikrar untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepolisian.Datanglah satu tugas aneh kepadanya yang diberikan oleh komandannya: KomisarisVan Dam tot Dam. Saat itu umurnya sudah empatpuluhan. Tugas ini, akan dibahastersendiri dalam mengaji kali ini, yang akan mengantarkan Pangemanann kepadaperang batin yang tiada berkesudahan. Nuraninya menggugatnya. Sepanjangempat bab pertama Rumah Kaca ini kegalauan batin dan kekacauan psikismenghampar di hampir setiap halaman.Rumah Kaca ini sejatinya adalah catatan yang dibuat Pangemanann untukdipersembahkan kepada istri dan anak-anaknya. Ia menuliskan Rumah Kaca inidalam umurnya yang limapuluh. Ia sungguh percaya, dalam umur segitu, orangsudah bisa mantap menilai segala yang telah dilewati. Ia menilai diri sendiri: sejakkecil sampai menjadi Inspektur Polisi ia berada sepenuhnya pada jalan Tuhan.Sisanya ia berjalan di atas lumpur, jauh dari yang dikehendaki Tuhan.Khawatir istri dan anak-anaknya tak mengetahui cerita sebenarnya darikehidupannya, maka ia pun membuat catatan tentang betapa tak sucinya dia.
“Kalianlah anak-anakku, yang menjatuhkan penilaian. Kalian akan tahu tentang diriku dan seluruh tanah Hindia, tempat aku lahir dan bekerja menghamba pada Gubermen demi nafkah dan kesenangan-kesenangan hidup. Barangkali lebih jujur 
 
 jika aku katakan tempat aku bergelimang di dalam lumpur….Maka bila aku berhasil dapat menyelmatkan tulisan ini, dan sampai pada tangan kalian, hendaknya kepada catatan-catatanku ini kalian beri judul 
Rumah Kaca…
” 
Latar belakang penugasan Pangemanann. Berawal dari si Pitung,
zihhh zihhh zihhh….
 Tahun 1912 adalah tahun terberat buat Gubernur Jenderal Idenburg. Setahunsebelumnya sudah mulai terasa ada gelumbang perubahan besar yang menggulungdi bumi Hindia. Gelumbang itu datang sebagai sambungan dari gelumbang yangdatang dari Tiongkok: Dinasti Ching tumbang. Seorang terpelajar berpendidikandokter telah memimpin negeri itu: Sun Yat Sen. Sukses revolusi yang ia memimpinkini mulai menjalar ke Hindia. Semangat nasionalisme juga merasuk ke orang Tiongkok di Hindia.Gubernur Jenderal tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak punya kekuasaan sah untukmemberangus. Bukan wewenangnya. Masalah Tiongkok adalah masalahKementerian Luar negeri di s’Gravenhange. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusahamembendung dalam jangka panjang arus nasionalisme tersebut. Ia ambil inisiatif untuk membelah masyarakat Tionghoa agar ada di kalangan mereka yang memihakkepada pemerintah colonial. Maka dalam lapangan pendidikan ia pun mendirikansekolah H.C.S., Hollandsch Chineesche School, sekolah dasar berbahasa Belanda.Akan tetapi, satu hal yang tak bisa ia atasi sendiri: pengaruh revolusi Tiongkok itusendiri terhadap terpelajar Pribumi! Seorang siswa tidak lulus STOVIA jelas-jelassudah terpengaruh dengan arus revolusi tersebut. Dia bentuk organisasi yangberkiblat kepada kaum nasionalis Tiongkok. Ia punya satu senjata ampuh yang iasebarkan bernama
boycott 
. Ia sangat ingin membangun nasionalisme di kalanganPribumi. Ia menuliskan isi pikirannya untuk dibaca bangsanya dalam terbitan yangia pimpin sendiri bernama
Medan.
Orang itu bernama Minke. Dan tugas berat yangtak bisa diatasi sendiri oleh Gubernur Jenderal itu kemudian dipikulkan di pundakseorang Jacques Pangemanann.Lalu mengapa harus Pangemanann? Mengapa bukan orang lain? Jawaban ataspertanyaan ini: karena hanya Pangemanann yang paham benar arus gelumbangbenih-benih nasionalisme Pribumi ini. Pangemanann paling paham tentang gejala-gejala baru yang terjadi di Hindia. Dan tugas ini memang tergolong pekerjaan barudalam tugas kepolisian Hindia. Mengutip Komandan Pangemanann, Komisaris BesarDonald Nicolson, yang menyerahkan tugas ini kepadanya:
“Tugas ini berdasarkan kertas Tuan sendiri, Tuan Pangemanann. Orang lain takkan mengerti seluk beluk perkara. Ini bukan soal pidana, bukan urusan tangkap maling. Ini soal khusus, dan Tuan sendiri juga yang telah merintis arah pekerjaan baru ini.” 
‘Kertas’ yang dimaksud komandannya adalah catatan dan laporan ilmiah yangdisusun Pangemanann setelah dia berhasil menaklukkan sisa-sisa gerombolan siPitung. Namun, kertas Pangemanann tak hanya membuka jalan baginya dalammendapatkan tugas baru itu, juga menjadi awal perang batin yang abadi yang diarasakan. Dari sana lah ia mengetahui watak kolonialisme yang semakin harisemakin ia benci dan ia kutuk. Tugas itu membuat ia harus bergelut selama lima tahun dengan Koran dan majalahterbitan Hindia, membikin interpiu, mempelajari dokumen, menyusun naskah kerja.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->