Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
nikah Mut'ah

nikah Mut'ah

Ratings: (0)|Views: 1,126 |Likes:
Published by heri

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: heri on May 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
Nikah Mut’ahOleh:Muchtar Luthfi Sudah menjadi kesepakatan segenap kaum muslimin bahwa nikah mut’ah pernah ada padazaman Rasul sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab standar Sunni maupunSyiah. Disebutkan bahwa Rasul (saww) pernah membolehkan pernikahan jenis tersebut,akan tetapi lantas terjadi perbedaan pendapat diantara para pengikut Islam adakahRasul sampai akhir hayat beliau tetap membolehkan pernikahan itu ataukah tidak?Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebelum pulangnya Rasul (saww) kerahmatullah beliau telah melarang pernikahan tersebut atau dengan istilah yangsering dipakai hukum dibolehkannya nikah mut’ah telah mansukh (terhapus). Sebagianlagi mengatakan bahwa sampai akhir hayat beliaupun beliau tidak pernahmelarangnya, akan tetapi seorang yang bernama Umar bin Khatab lah yang kemudianmelarangnya sewaktu ia menjabat kekhalifahan. Dari dua pendapat diatas dalam tulisan ini akan di bahas manakah dari pendapattersebut yang lebih dekat pada kenyataan? Apakah nikah mut’ah telah dimansukh olehRasul atau tidak? Kalaulah tidak lantas apakah wewenang dan dasar yang dipakaioleh Umar untuk mengharamkannya? Adakah ia melakukan berdasarkan konsep ijtihad?Sedang Imam Ali (as) –sebagai khalifah keempat ahlissunnah- tidak pernahmengharamkannya? Bolehkah dalam Islam melakukan ijtihad walau bertentangan denganayat atau riwayat yang sebagai sumber utama syariat Islam? Kalaulah kita terimabahwa nikah jenis itu haram karena ijtihad Umar kenapa mut’ah haji (haji tamattu’)yang juga diharamkan oleh Umar tetap dianggap halal oleh seluruh kaum muslimin?Bukankah kalau kita menerima ijtihad Umar tentang pelarangan nikah mut’ah berartijuga harus menerima pelarangannya atas mut’ah haji? Lantas apakah alasanahlissunnah menerima pelarangan nikah mut’ah sedang mut’ah haji tetap merekahalalkan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita munculkan daripermasalahan-permasalahan mut’ah yang sering dipakai sebagai bahan untukmelumatkan mazhab Syi’ah karena hanya Syi’ahlah (imamiah itsna asyariah) yangsampai sekarang ini masih tetap menganggapnya halal. Yang perlu diingat oleh pembaca yang budiman adalah bahwa kita disini dalam rangkamencari kebenaran akan konsep hukum mut’ah dan lepas dari permasalahan praktisdari hal tersebut, oleh karenanya dalam membahas haruslah didasari oleh argumendari teks agama ataupun akal dan bukan bersandar pada emosional maupun fanatismegolongan. Argumentasi dari Kitab-kitab Standar Ahlissunnah akan Pembolehan Nikah Mut’ah Sebagaimana yang telah singgung diatas bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan olehAllah (swt) sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh ulama’ kaum muslimin,hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi: “dan (diharamkan atas kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budakyang kamu miliki, (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapanNya ataskamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istridengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina, maka (istri-istri) yang telahkamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai(dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadapsesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu,sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(Qs; An-Nisaa’:24) Jelas sekali bahwa ayat tersebut berkenaan denga nikah mut’ah sebagaimana yangtelah dikemukakan oleh para perawi hadis dari sahabat-sahabat Rasul seperti: IbnuAbbas, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Habib bin Abi Tsabit, Said bin Jubair,Jabir bin Abullah al-Anshari (ra) dst.
 
 Pendapat beberapa ulama’ tafsir dan hadis ahlussunnah Adapun dari para penulis hadis dan penafsir dari ahlussunnah kita sebutkan sajasecara ringkas: 1. Imam Ahmad bin Hambal dalam “Musnad Ahmad” jilid:4 hal:436. 2. Abu Ja’far Thabari dalam “Tafsir at-Thabari” jilid:5 hal:9. 3. Abu Bakar Jasshas dalam “Ahkamul-Qur’an” jilid:2 hal:178. 4. Abu bakar Baihaqi dalam “as-Sunan-al-Qubra” jilid:7 hal:205. 5. Mahmud bin Umar Zamakhsari dalam “Tafsir al-Kassyaf” jil:1 hal:360. 6. Fakhruddin ar-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib” jil:3 hal:267. 7. dst. Pendapat beberapa Sahabat (Salaf Saleh) dan Tabi’in Beberapa ungkapan para sahabat Rasul dan para tabi’in (yang hidup setelah zamanpara sahabat) sebagai contoh pribadi-pribadi yang mengingkari akan pelarangan(pengharaman) mut’ah: Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapakan oleh Thabari dalam kitabtafsirnya (lihat: jil:5 hal:9) dimana Imam Ali bersabda: “jika mut’ah tidakdilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”.Riwayat ini sebagai bukti bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar bin Khatab,lantas setelah banyaknya kasus perzinaan dan pemerkosaan sekarang ini –berdasarkanriwayat diatas- siapakah yang termasuk bertanggungjawab atas semua peristiwa itu? Abdullah bin Umar bin Khatab (putera khalifah kedua), sebagaimana yang dinukiloleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya (lihat: jil:2 hal:95) dimanaAbdullah berkata ketika ditanya tentang nikah mut’ah: “Demi Allah, sewaktu kitadizaman Rasul tidak kita dapati orang berzina ataupun serong”. Kemudian berkata,aku pernah mendengar Rasul bersabda: “sebelum datangnya hari kiamat akan munculmasihud-dajjal dan pembohong besar sebanyak tiga puluh orang atau lebih”. Lantassiapakah yang layak disebut pembohong dalam riwayat diatas tadi? Adakah orang yangmemutar balikkan syariat Rasul layak untuk dibilang pembohong? Abdullah bin Masud, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya(lihat: jil:7 hal:4 kitab nikah bab:8 hadis ke:3), dimana Abdullah berkata:“sewaktu kita berperang bersama Rasulullah sedang kita tidak membawa apa-apa,lantas kita bertanya kepada beliau: bolehkah kita lakukan pengebirian? Lantasbeliau melarang kita untuk melakukannya kemudian beliau memberi izin kita untukmenikahi wanita dengan mahar baju untuk jangka waktu tertentu. Saat itu beliaumembacakan kepada kami ayat yang berbunyi: “wahai orang-orang yang berimanjanganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagikalian dan janganlah kalian melampaui batas…”(Qs Al-Ma’idah:87) Cobalah renungkan makna ayat dan riwayat diatas lantas hubungkanlah antarapenghalalan ataupun pengharaman nikah mut’ah! Manakah dari dua hukum tersebut yangsesuai dengan syariat Allah yang dibawa oleh Rasul? Imran bin Hashin, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya
 
(lihat: jil:6 hal:27 kitab tafsir; dalam menafsirkan ayat: faman tamatta’a bil-umrati ilal-hajji (Qs Al-Baqarah)), dimana Imran berkata: “Diturunkan ayat mut’ahdalam kitabullah (Al-Qur’an) kemudian kita melakukannya di zaman Rasul, sedangtidak ada ayat lagi yang turun dan mengharamkannya, juga Rasul tidak pernahmelarangnya sampai beliau wafat”. Riwayat seperti diatas juga dinukil oleh ImamAhmad bin Hambal dalam kitan musnadnya. Dua riwayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ayat yang menghapus (nasikh)penghalalan mut’ah dan juga sebagai bukti mahwa mut’ah sampai akhir hayat Rasulbeliau tidak mengharamkannya. Ibn Abi Nadhrah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya(lihat: jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8), dimana Ibn abi nadhrahberkata: “Dahulu Ibn abbas memerintahkan (baca:menghalalkan) nikah mut’ah sedangIbn zubair melarangnya kemudia peristiwa tersebut sampai pada telinga Jabir binAbdullah al-Anshori (ra) lantas dia berkata: “Akulah orang yang mendapatkan hadistersebut, dahulu kita melakukan mut’ah bersama Rasulullah akan tetapi setelah Umarberkuasa lantas ia mengumumkan bahwa; “Dahulu Allah menghalalkan buat Rasul-Nyasesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka umat pun menyempurnakan haji dan umrahmereka, juga melakukan pernikahan dengan wanita-wanita tersebut, jika terdapatseseorang menikahi seorang wanita untuk jangka wanita tertentu niscaya akankurajam ia dengan batu”.Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya(lihat: jil:1 hal:52). Dikatakan bahwa Abi Nadhrah berkata: “Aku berkata kepadaJabir bin Abdullah Anshari (ra), sesungguhnya Ibn zubair melarang nikah mut’ahsedangkan Ibn Abbas membolehkannya”. Kemudian ia (Jabir) mengatakan: “Melaluidiriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama Rasulullah(saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) punmengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetapposisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada duajenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah dan nikah mut’ah”. Dua riwayat diatas dengan jelas sekali menyebutkan bahwa pertama orang yangmengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bukan Rasul ataupun turun ayat yangberfungsi sebagai penghapus hukum mut’ah sebagaimana yang dikatakan sebagian orangyang tidak mengetahui tentang isi kandungan yang terdapat dalam buku-buku standarmereka sendiri. Sebagai tambahan kami nukilkan pendapat Fakhrur Razi dalam tafsir al-Kabir, ketikamenafsirkan ayat 24 surat an-Nisa. Ar-Razi mengutip ucapan Umar (“ Dua jenismut’ah yang berlaku di masa rasulullah, yang kini ku larang dan pelakunya akankuhukum, adalah mutah haji dan mut’ah wanita” ) dalam menetapkan pengharaman nikahmut’ah. Begitu juga tokoh besar dari kamu Asy,ariyah, Imam al-Qausyaji dalam kitabSyarh At-Tajrid, dalam pengharamannya mut’ah adalah ucapan Umar (ucapan Umar: Tigaperkara yang pernah berlaku di zaman Rasulullah, kini kularang, kuharamkan dankuhukum pelakuknya adalah mut’ah wanita dan mutah haji serta seruan (azan): hayya‘ala khayr al-‘amal (marilah mengerjakan sebaik-baik amal)). Qusyaji membelatindakan Umar ini, menyatakan bahwa semata-mata takwil atau ijtihad Umar. Abdullah ibn Abbas, sebagaimana yang dinukil oleh al-Jasshas dalam Ahkamul-Qu’an(jil:2 hal:179), Ibn Rusyd dalam bidayatul mujtahid (jil:2 hal:58), Ibn Atsirdalam an-Nihayah (jil:2 hal:249), al-Qurtubi dalam tafsirnya (jil:5 hal:130),suyuti dalam tafsirnya (jil:2 hal:140) dikatakan bahwa Ibn Abbas berkata: “semogaAllah merahmati Umar, bukanlah mut’ah kecuali merupakan rahmat dari Allah bagiumat Muhammad (saww) jikalau ia (Umar) tidak melarang mut’ah tersebut niscayatiada orang yang menghendaki berbuat zina kecuali ia bisa terobati” Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Khalqan dalam kitab Wafayaatul-A’yaan jil:6

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iwan Setiawan liked this
zcm_family4157 liked this
Andy Lau liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->