• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Oleh : AgustiantoPendahuluanDalam mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia, keberadaan blueprint ekonomiIslam menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Blueprint ekonomi Islammerupakan suatu policy direction yang harus ditempuh dalam pengembangan ekonomiIslam di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup panjang. Ruang lingkup ekonomiIslam dalam blueprint tidak hanya sekedar lembaga-lembaga keuangan Islam, seperti perbankan syariah, asuransi, pasar modal, leasing, lembaga keuangan mikro BMT, zakatdan waqaf, tetapi juga meliputi ekonomi makro, kebijakan moneter, APBN, pendidikanekonomi Islam, juga tentang perdagangan dan industri, pengembangan sector pertaniandan kelautan dan sebagainya. Dengan demikian, blueprint ekonomi Islam harus lebihkomprehensif. Blueprint juga merumuskan sasaran-sasaran ekonomi syariah, tahapan-tahapan pelaksanaannya, langkah konkrit dan implementasinya Dengan demikian, blueprint ekonomi Islam adalah suatu tatanan ekonomi syariah, arah kebijakan, sasaran, pengaturan, evaluasi dan juga peran dari stakeholder Dengan adanya blueprint, maka para pegiat ekonomi Islam, baik akademisi, praktisi,ulama, pemerintah maupun masyarakat ekonomi syariah secara umum, memiliki rujukanmengenai arah pengembangan ekonomi Islam di Indonesia, serta memiliki panduandalam menentukan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk memandu kearah pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan.Berkaitan dengan itu, Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), telah berupayamenyusun blueprint ekonomi Islam tersebut. Upaya penyusunan blueprint tersebut mulaidilakukan pada momentum Muktamar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia pada tangal18-19 Semptember 2005 di Medan, Sumatera Utara. Namun hasilnya belum final, karenamasih membutuhkan pembahasan lebih komprehensif. Hasil rumusan blueprintMuktamar Medan tersebut disempurnakan lagi pada tanggal 3 Maret 2006 pada acaraMusyawawah Kerja Nasional IAEI di Jakarta.Mengapa blueprint ekonomi Islam menjadi penting?Ada sejumlah alasan yang menyebabkan pentingnya blueprint pengembangan ekonomiIslam di Indonesia1. Ekonomi Islam mengajarkan nilai-nilai luhur yang universal, seperti keadilan,kemanfatan (maslahah) kebersamaan, kejujuran, kebenaran, keseimbangan, transparansi,anti eksploitasi, anti penindasan dan anti kezaliman. Semua nilai-nilai ini menjadi prinsiputama ekonomi Islam. Nilai-nilai mulia ini menjadikan ekonomi Islam merupakanekonomi masa depan umat manusia, karena karakternya yang universal dan rahmatanlil’alamin. Atas dasar ini maka ekonomi Islam di Indonesia perlu (harus) dikembangkan2. Pengembangan ekonomi Islam di Indonesia saat ini dilakukan secara parsial olehmasing-masing lembaga keuangan syariah. Bank Indonesia merumuskan blueprint perbankan syariah Indonesia, PINBUK dan BMT Centre merumuskan blueprint BMTdan LKMS, BAZNAS merumuskan pengembangan Zakat. Karena itu dibutuhkan suatusinergi bersama untuk membentuk (merumuskan) suatu cetak biru ekonomi IslamIndonesia.
 
3. Kondisi di atas, mengakibatkan ada sektor yang lebih maju, namun ada sektor yangtertinggal, meskipun idealnya kedua sektor ini idealnya berjalan seiring sejalan karenaketertinggalan satu sektor akan mengganggu progress perkembangan sektor lainnyaterutama dalam jangka panjang.Kerangka blueprint terdiri dari latar belakang, visi dan misi serta sasaran, manfaat dantantangan, sektor-sektor penting ekonomi syariah, sasaran dan aplikasinya. Bagian akhir  blueprint ekonomi Islam (seharusnya) merumuskan tahapan-tahapan (terget pencapaian) pengembangan ekonomi syariah dalam jangka waktu tertentu, seperti (2005-2010, 2011-2015, 2016-2020, 2021-2025).Latar BelakangSejarah pergerakan ekonomi Islam di Indonesia secara formal sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1911, yaitu sejak berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islamyang dibidani oleh para entrepreneur dan para tokoh Muslim saat itu. Bahkan jika kitamenarik sejarah jauh ke belakang, jauh sebelum tahun 1911, peran dan kiprah para santri(umat Islam) dalam dunia perdagangan cukup besar. Banyak penelitian para ahli sejarahdan antropologi yang membuktilan fakta tersebut .Di panggung internasional, kemunculan ilmu Islam ekonomi modern, dimulai pada tahun1970-an, meskipun pada masa klasik Islam, telah muncul pemikiran-pemikirancemerlang tentang ekonomi Islam, seperti Al-Ghazali, Ibnu Taymiyah Ibnu Khaldun, dansebagainya. Bahkan ekonomi Islam itu seseunguhnya telah lahir sejak masa nabiMuhammad Saw.Kemunculan ekonomi Islam di masa modern, ditandai dengan kehadiran para pakar ekonomi Islam kontemporer, seperti Muhammad Abdul Mannan, M. Nejatullah Shiddiqy,Kursyid Ahmad, An-Naqvi, M. Umer Chapra, Baqir Shadr, dll. Sejalan dengan itu berdiriIslamic Development Bank pada tahun 1975 dan selanjutnya diikuti pendirian lembaga-lembaga perbankan dan keuangan Islam lainnya di berbagai negara. Pada tahun 1976 para pakar ekonomi Islam dunia berkumpul untuk pertama kalinya dalam sejarah padaInternational Conference on Islamic Economics and Finance, di Mekkah.Di Indonesia, kemunculan lembaga-lembaga keuangan Islam modern dimulai tahun1990an, yang ditandai berdirinya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992, kendatipun benih-benih pemikiran ekonomi dan keuangan Islam telah muncul jauh sebelum masatersebut. Sepanjang tahun 1990an perkembangan ekonomi syariah di Indonesia relatif lambat. Tetapi setelah terpaan krisis moneter 1997, khususnya sejak tahun tahun 2000anterjadi gelombang perkembangan yang sangat pesat ditinjau dari sisi pertumbuhan asset,omzet dan jaringan kantor lembaga perbankan dan keuangan syariah.Setelah terjadi krisis 1997, hampir seluruh bank konvensional dilkuidasi karenamengalami negative spread, kecuali bank yang mendapat rekap dari pemerintah melaluiBLBI dalam jumlah besar mencapai Rp 650 triliun. Bank-bank konvensional itu bisadiselamatkan dengan bantuan BLBI.Krisis tersebut membawa hikmah bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia.Pemerintah dan DPR mengeluarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentangPerubahan Undang-Undang No 7/1992. Pasca UU tersebut sejumlah bank konversikepada syariah dan membuka unit usaha syariah. Perkembangan itu selanjutnya diikutioleh lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya, seperti asuransi syariah, pasar modalsyariah, reksadana syariah, obligasi syariah, pegadaian syariah dan sebelumnya telah berkembang lembaga keuangan mikro syariah BMT.
 
Dari perkembangan lembaga perbankan dan keuangan syariah tersebut perlu dicatat.Pertama, bank syari’ah telah menunjukkan ketangguhannya dalam masa krisis moneter.Ketika bank-bank konvensional mengalami likuidasi, bank syariah dapat bertahan, karenasistemnya bagi hasil, sehingga tidak wajib membayar bunga pada jumlah tertentu kepadanasabah sebagaimana pada bank konvensional.Kedua, pemerintah telah membantu bank-bank raksasa agar bisa bertahan dengan BLBIyang disusul dengan pembayaran bunga obligasi dan SBI dalam jumlah ratusan triliunanrupiah. Secara ekonomi kenegaraan, Bank-bank konvensional ribawi sesungguhnyaadalah parasit bagi perekonomian negara, karena bank konvensional tersebut telahmenguras dana APBN setiap tahun dalam jumlah yang sangat besar.Ketiga, bank-bank syariah sepeserpun tidak dibantu pemerintah, sementara bank konvensional telah menguras keuangan negara dalam jumlah yang signifikan.Keempat, FDR bank syariah senantiasa tinggi, dalam masa yang panjang bertengger diatas 100 %. Ini menunjukkanbahwa dana pihak ketiga bersifat produktif/diinvestasikankepada usaha masyarakat. Sementara bank konvensional cukup lama bertengger di angka30-40 %. Walaupun kini LDRnya di atas 50-60 % namun secara riil, fungsiintermediasinya masih sangat rendah. Hal ini sekaligus menjadi beban negara, karena penempatan dananya di SBI meniscayakan bunga. Membayar bunga SBI tetap menjadi beban rakyat Indonesia yang mayoritas miskin.Pada saat yang bersamaan juga mulai muncul lembaga pendidikan tinggi yangmengajarkan ekonomi Islam, walaupun pada jumlah yang sangat terbatas, antara lainSTIE Syariah di Yogyakarta (1997), D3 Manajemen Bank Syariah di IAIN-SU di Medan(1997), STEI SEBI (1999) , STIE Tazkia (2000), dan PSTTI UI yang membukakonsentrasi Ekonomi dan Keuangan Islam, pada tahun 2001. Semenjak Muktamar IAEISeptember 2005 di Medan, pertumbuhan program studi Ekonomi Islam makin pesat.Semua Perguruan Tinggi Islam Negeri dalam bentuk IAIN dan UIN telah membuka prodiEkonomi Islam. Demikian pula sebagiian besar STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islamnegeri) di seluruh Indonesia. Perkembangan yang pesat juga terjadi di berbagaiPerguruan Tinggi Umum dan Swasta, seperti UNAIR Surabaya, UGM Yogya, UNANDPadang, USU Medan , Trisakti, Paramadina dan tentunya Universitas Asy-Syafi’iyah.Dari paparan di atas terlihat dengan jelas pertumbuhan pesat ekonomi islam, baik dalam bentuk praktik di sektor keuangan maupun di dunia akademis. Sehubungan itu,diperlukan arah yang jelas dan langkah yang strategis agar pengembangan ekonomi islamdi Indonesia tidak salah arah atau bersifat sporadis. Untuk itulah diperlukan blueprintekonomi Islam di Indonesia.Penyusunan blueprint ini tetap mempertimbangkan bahwa ekonomi syariah adalah bagian dari sistem ekonomi nasional, karena itu, penyusunan blueprint ekonomi islam inimempertimbangkan rencana-rencana strategis lainnya, seperti rencana pembangunan jangka menengah nasional dan rencana pembangunan Jangka panjang.Penyusunan blueprint ekonomi Islam ini juga mempertimbangkan blueprint lembaga-lembaga ekonomi syariah yang terkait, seperti blueprint perbankan syariah yang disusunoleh Bank Indonesia, blueprint pengembangan BMT dan blueprint pengembngan Zakat diIndonesia.Visi dan MisiVisi dan misi pengembangan ekonomi syariah disusun dengan mengacu pada nilai dasar Islami yang pada pelaksanaannya harus dapat dihayati dan diterapkan dalam setiap
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...