• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Oleh : AgustiantoBelakangan ini semakin banyak muncul perusahaan-perusahaan yang menjual produknyamelalui sistem Multi Level Marketing (MLM). Karena itu, perlu dibahas hukumnyamenurut syari’ah Islam. Perlu dicatat, bahwa perusahaan
money game
yang berkedok MLM bukanlah termasuk MLM., seperti BMA dan sejenisnya.Perusahaan BMA adalah bisnis paling zalim dan jelas-jelas menipu orang. Bisnis haramyang menggunaan sistem piramida itu pasti merugikan sebagian besar masyarakat danhanya menguntungkan segelintir orang yang lebih dahulu masuk.Tulisan ini tidak membahas
money game
/penggandaan uang tersebut, karena ia tidak termasuk kepada MLM, dan hukumnya telah jelas haram. Tulisan empat serangkai,Prof.Bahauddin Darus, Drs.Agustianto,MAg, Dr.Ramli Abdul Wahab dan Miftahuddin,SE,MBA, telah mengemukakan dua belas dalil dan alasan keharaman bisnis BMA dansejenisnya tersebut.
Sistem Pemasaran MLM
Pakar marketing ternama Don Failla, membagi marketing menjadi tiga macam. Pertama,
retail 
(eceran), Kedua,
direct selling 
(penjualan langsung ke konsumen), Ketiga
multilevel marketing 
(pemasaran berjenjang melalui jaringan distribusi yang dibangun denganmemposisikan pelanggan sekaligus sebagai tenaga pemasaran).Kemunculan trend strategi pemasaran produk melalui sistem MLM di dunia bisnismodern sangat menguntungkan banyak pihak, seperti pengusaha (baik produsen maupun perusahaan MLM).Hal ini disebabkan karena adanya penghematan biaya dalam iklan, Bisnis ini jugamenguntungkan para distributor yang berperan sebagai
simsar
(Mitra Niaga) yang ingin bebas (tidak terikat) dalam bekerja.Sistem marketing MLM yang lahir pada tahun 1939 merupakan kreasi dan inovasimarketing yang melibatkan masyarakat konsumen dalam kegiatan usaha pemasarandengan tujuan agar masyarakat konsumen dapat menikmati tidak saja manfaat produk,tetapi juga manfaat finansial dalam bentuk insentif, hadiah-hadiah, haji dan umrah, perlindungan asuransi, tabungan hari tua dan bahkan kepemilikan saham perusahaan.(Ahmad Basyuni Lubis, Al-Iqtishad, November 2000).
Perspektif Islam
Bisnis dalam syari’ah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalat yang hukumasalnya adalah boleh berdasarkan kaedah Fiqh,”Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hattayadullad dalilu ‘ala tahrimiha (Pada dasarnya segala hukum dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil/prinsip yang melarangnya).Islam memahami bahwa perkembangan budaya bisnis berjalan begitu cepat dan dinamis.
 
Berdasarkan kaedah fikih di atas, maka terlihat bahwa Islam memberikan jalan bagimanusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem, teknik danmediasi dalam melakukan perdagangan. Namun, Islam mempunyai prinsip-prinsip tentang pengembangan sistem bisnis yaituharus terbebas dari unsu
dharar 
(bahaya),
 jahalah
(ketidakjelasan) dan
 zhulm
( merugikan atau tidak adil terhadap salah satu pihak).Sistem pemberian bonus harus adil, tidak menzalimi dan tidak hanya menguntungkanorang yang di atas. Bisnis juga harus terbebas dari unsur MAGHRIB, singkatan dari limaunsur : 1.Maysir (judi), 2.Aniaya (zhulm), 3.Gharar (penipuan), 4.Haram, 5.Riba (bunga),6. Iktinaz atau Ihtikar dan 7. Bathil.Kalau kita ingin mengembangkan bisnis MLM, maka ia harus terbebas dari unsur-unsur di atas. Oleh karena itu, barang atau jasa yang dibisniskan serta tata cara penjualannyaharus halal, tidak haram dan tidak syubhat serta tidak bertentangan dengan prinsip-prinsipsyari’ah.di atas.MLM yang menggunakan strategi pemasaran secara bertingkat (
levelisasi
) mengandungunsur-unsur positif, asalkan diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya disesuaikandengan syari’ah Islam. Bila demikian, MLM dipandang memiliki unsur-unsusilaturrahmi, dakwah dan tarbiyah.Menurut Muhammad Hidayat, Dewan Syari’ah MUI Pusat, metode semacam ini pernahdigunakan Rasulullah dalam melakukan dakwah Islamiyah pada awal-awal Islam.Dakwah Islam pada saat itu dilakukan melalui teori
 gethok tular 
(mulut ke mulut) darisahabat satu ke sahabat lainnya. Sehingga pada suatu ketika Islam dapat di terima olehmasyarakat kebanyakan.(Lihat, Azhari Akmal Tarigan, Ekonomi dan Bank Syari’ah,FKEBI IAIN, 2002, hlm. 30).Bisnis yang dijalankan dengan sistem MLM tidak hanya sekedar menjalankan penjualan produk barang, tetapi juga jasa, yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus, hadiah dan sebagainya, tergantung prestasi, dan level seorang anggota. Jasa marketing yang bertindak sebagai perantaraantara produsen dan konsumen. Dalam istilah fikih Islam hal ini disebut Samsarah /Simsar. (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, jilid II, hlm 159)Kegiatan samsarah dalam bentuk distributor, agen, member atau mitra niaga dalam fikihIslam termasuk dalam akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang laindengan imbalan, insentif atau bonus (ujrah) Semua ulama membolehkan akad seperti ini(Fikih Sunnah, III, hlm 159).Sama halnya seperti cara berdagang yang lain, strategi MLM harus memenuhi rukun jual beli serta akhlak (etika) yang baik. Di samping itu komoditas yang dijual harus halal(bukan haram maupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermafaat. MLM tidak bolehmemperjualbelikan produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan modus penawaran (iklan) produksi promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dankesusilaan.1. /falah.
 
Insentif dan penghargaanPerusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada mereka yang berprestasi. Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yanglainnya disebabkan keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu, danmelakukan berbagai upaya positif dalam memperluas jaringan dan levelnya secara produktif. Kaidah Ushul Fiqh mengatakan:” Besarnya ijrah (upah) itu tergantung padakadar kesulitan dan pada kadar kesungguhan.Penghargaan kepada Up Line yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya(Down Line) dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan (tarbiyah, pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) memang patut di lakukan. Dan atas jerih payahnya itu ia berhak mendapat bonus dari perusahaan, karena ini selaras dengan sabdaRasulullah:” “Barangsiapa di dalam Islam berbuat suatu kebajikan maka kepadanyadiberi pahala, serta pahala dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangisedikitpun”(hadist).Intensif diberikan dengan merujuk skim ijarah. Int
ensif ditentukan oleh duakriteria, yaitu dari segi prestasi penjualan produk dan dari sisi berapaberapa banyak down line yang dibina sehingga ikut menyukseskankinerja.Dalam hal menetapkan nilai insentif ini,
ada tiga syarat syari’ah yang harusdipenuhi, yakni:adil, terbuka, dan berorientasi falah (keuntungan dunia dan akhirat).Insentif (bonus) seseorang (Up line ) tidak boleh mengurangi hak orang lain di bawahnya(down line), sehingga tidak ada yang dizalimi. Sistem intensif juga harus transparandiinformasikan kepada seluruh anggota, bahkan dalam menentukan sistemnya dan pembagian insentif (bonus), para anggota perlu diikutsertakan, sebagaimana yang terjadidi MLM Syari’ah Ahad-Net Internasional. Dalam hal ini tetap dilakukan musyawarah,sehingga penetapan sistem bonus tidak sepihak. Selanjutnya, keuntungan dalam bisnisMLM, berorientasi pada keuntungan duniawi dan ukhrawi. Imam Al-Ghazali dalam IhyaUlumuddin mengatakan bahwa keuntungan dalam Islam adalah keuntungan dunia danakhirat. Keuntungan akhirat maksudnya, bahwa dengan menjalankan bisnis itu, seseorangtelah dianggap menjalankan ibadah, (asalkan bisnisnya sesuai dengan syari’ah). Dengan bisnis, seseorang juga telah membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.Penting disadari, pemberian penghargaan dan cara menyampaikannya hendaknya tetapdalam koridor tasyakur, untuk menghindarkan penerimanya dari takabu(bangga/sombong) dan kufur nikmat, apalagi melupakan Tuhan. MLM yang Islamisenantiasa berpedoman pada akhlak Islam..Sebagaimana disebut di atas bahwa penghargaan yang diberikan kepada anggota yangsukses mengembangkan jaringan, dan secara sungguh-sunguh memberikan pembinaan(tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah), harus selaras dengan ajaranagama Islam. Karena itu, applause ataupun gathering party yang diberikan atas prestasiseseorang, haruslah sesuai dengan nilai-nilai aqidah dan akhlak. Ekspressi penghargaanatas kesuksesan anggota MLM, tidak boleh melampaui batas (bertantangan dengan ajaranIslam). Applause yang diberikan juga tidak boleh mengesankan kultus individu,mendewakan seseorang. Karena hal itu dapat menimbulkan penerimanya menjaitakabbur, dan ‘ujub. Perayaan kesuksesan seharusnya dilakukan dalam bingkaitasyakkur. (Lihat, Drs.H.Muhammad Hidayat, MBA, Analisis Teoritis Normatif MLMdalam Perspektif Muamalah, 2002)
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...