Sampai saat ini, market share
bank syariah di Indonesia, relatif masih kecil, yaitusekitar 1,6% dari total asset bank secara nasional. Bank Indonesia, dalam
blueprint
perbanmkan syariah telah memasang target 5% pada Desember 2008. Hal ini artinya,dalam tempo 21 bulan ini asset perbankan syariah harus melejit 3,5 kali lipat. Jikasekarang asset perbankan syariah Rp 26 triliun, maka di tahun 2008 assetnya menjadi Rp91,57 triliun, sebuah loncatan yang spektakuler.Mencapai target 5% tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit, jika pemerintah turuntangan dalam mencapainya, misalnya mengkonversi salah satu bank BUMN menjadisyariah. Namun upaya konversi tersebut tampaknya sulit terjadi. Meskipun pemeroinmtah tidak melakukan lkoversi, kita tetap yakin target 5% tercapai, asalkanBank Indoesia serius melakukan akselerasi.Lalu bagaimana strategi mencapai target 5% tersebut?. Banyak cara. Banyak caraunorganik maupun secara organik.
•
<!–[if !supportLists]–>
<!–[endif]–>Startegi mendorong Bank-bank memilikiUUS agar meningkatkan market share Uusnya menjadi 5%.
•
<!–[if !supportLists]–>Konversi total ke syariah salah satu bank BUMN.
•
<!–[if !supportLists]–>Optimalisasi office channeling
•
<!–[if !supportLists]–>Aliansi strategis dan sinergi riilMenurut Siti Fajriyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia, jumlah nasabah Bank syariahsaat ini, baru sekitar 2 juta orang. Padahal jumlah umat Islam potensial untuk menjadi
customer
bank syariah mencapai 100 juta orang. Dengan demikian, mayoritas umat Islam belum berhubungan dengan bank syariah. Sampai awal tahun 2007, asset bank syariah baru mencapai Rp 27 triliun.Banyak faktor yang menyebabkan mengapa umat Islam belum berhubungan dengan bank-syariah, antara lain
Pertama
, Tingkat pemahaman dan pengetahuan umat tentang bank syariah masih sangat rendah. Masih banyak yang belummengerti dan salah faham tentang bank syariah dan menggangapnya sama saja dengan bank konvensional, Bahkan sebagian ustaz yang tidak memiliki ilmu yang memadaitentang ekonomi Islam (ilmu ekonomi makro;moneter) masih berpandangan miringtentang bank syariah.
Kedua,
Belum ada gerakan bersama dalam skala besar untuk mempromosikan bank syariah.
Ketiga
, Terbatasnya pakar dan SDM ekonomi syari’ah.
Keempat,
Peran pemerintah masih kecil dalam mendukung dan mengembangkanekonomi syariah.
Kelima,
Peran ulama, ustaz dan dai’ masih relatif kecil. Ulama yang berjuang keras mendakwahlan ekonomi syariah selama ini terbatas pada DSN dankalangan akademisi yang telah tercerahkan. Bahkan masih banyak anggota DSN yang belum menjadikan tema khutbah dan pengajian tentang bank dan ekonomi syariah.
Keenam,
para akademisi di berbagai perguruan tinggi, termasuk perguruan Tinggi Islam belum optimal.
Ketujuh
, peeran ormas Islam juga belum optimal membantu danmendukung gerakan bank syariah. Terbukti mereka masih banyak yang berhubungandengan bank konvensional.
Kedelapan
, dan ini yang paling utama, Bank Indonesia dan
Leave a Comment