Mendudukkan Hadits Kuraib dalam Prespektif Penentuan Awal/ Akhir Romadhon dan Problem Kesatuan Umat Islam
-
2
-
Kami menujukan risalah ini bagi sahabat sahabat kami yang sedang kebingungan dan terombangambing dalam masalah penentuan awal/akhir ramadhan apakah harus mengikuti pendapat pemerintahatau tidak. Kebingungan itu sebenarnya tidak perlu terjadi asal setiap orang mengetahui benar bagaimanapendapat itu digali (di-
istinbath
) lalu
qona’ah
(menetapi) terhadap kebenaran proses dan hasil istinbathtersebut, terlepas apakah hasil akhirnya sama atau tidak dengan yang diyakini selama ini. Denganmengetahui pokok pembahasan tersebut pada akhirnya yang diharapkan adalah kesadaran bahwa bahwabisa memahami kewajaran perbedaan pendapat untuk kemudian sebagai sesama
muqolid
(pengikut pendapat ulama) ataupun sebagai
tholibin
(orang yang baru belajar) tidak saling mencela satu sama lain.
Bunyi dari Hadits Kuraib
"Artinya : Dari Kuraib : Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu'awiyahdi Syam. Berkata Kuraib : Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dantampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) padamalam Jum'at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbasbertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ;"Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? Jawabku : "Kami melihatnya pada malam Jum'at".Ia bertanya lagi : "Engkau melihatnya (sendiri) ?" Jawabku : "Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu'awiyah Puasa".Ia berkata : "Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kamisempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) ". Aku bertanya : "Apakahtidak cukup bagimu ru'yah (penglihatan) dan puasanya Mu'awiyah ? Jawabnya : "Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami".
Hadits ini telah dikeluarkan oleh: Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa'i (4/105-106), Tirmidzi(No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-Fathur-Rabbaani 9/270), semuanya dari jalan : Ismail bin Ja'far, dan Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraibdari Ibnu Abbas. Berkata Imam Tirmidzi : Hadits Ibnu Abbas hadits : Hasan-Shahih Gharib. Berkata ImamDaruquthni : Sanad (Hadits) ini Shahih.
1
Bahwa ternyata Ibnu Abbas RA kemudian tidak menyamakan awal/akhir Ramadhan dengan penduduk Syam setelah persaksian Kuraib, mendorong munculnya berbagai asumsi penyebab perilaku tersebut. Danasumsi yang paling menonjol terhadap sikap beliau tersebut adalah karena beliau menilai Madinah danSyam
berbeda jarak sehingga harus menggunakan ru’yatul hilal masin
g masing wilayah. Padahalstatement seperti
(karena berbeda mathla’)
itu sekali lagi adalah penafsiran dari pembaca, bukanungkapan dari Ibnu Abbas itu sendiri. Dan atas hadits itulah oleh kemudian Imam Syafi'i memunculkanteori
ikhtilaf al-
Matali’
, yakni bahwa rukyat di suatu kawasan, tidak dapat diberlakukan untuk seluruhdunia.
2
Demikian pula muncul ragam pendapat dalam menafsirkan statement Ibnu Abbas RA : "
Hakadza AmaranaRasulullah
" (Begitulah Rasulullah menyuruh kami), yakni apakah hadits diatas b
isa dimarfu’ kan kepada
Rasul ataukah statusnya mauquf pada Ibnu Abbas RA dan merupakan ijtihad beliau semata. Penggolonganini sangat penting sebab hadits mauquf (atsar sahabat) secara klasifikasi adalah termasuk golongan haditsdhoif dimana kita dilarang berhujah dengan hadits dhoif dalam masalah hukum syara khususnya lagidalam masalah ibadah. Karenanya, maka kita menjadi wajib mengerti pula ciri ciri perbedaan antara
hadits marfu’
dengan hadits mauquf . Hal ini insyaAllah akan kami terangkan pada dua bab berikutnya.
Posisi Hadits Kuraib di antara Hadits-Hadits Shiyam lainnya
Setelah kita membaca hadits Kuraib, maka berikut kami sampaikan hadits-hadits shiyam lainnya agarselintas pembaca bisa membandingkan hadits Kuraib dengan hadits hadits berikut yang semua diambildari kitab Bulughul Marom Min Adilatil Hukmi karya Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani
3
:
Add a Comment