Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword or section
Like this
5Activity
P. 1
Pembakaran Kuil Thian-lok-si

Pembakaran Kuil Thian-lok-si

Ratings: (0)|Views: 452 |Likes:
Published by sandi sarbin

More info:

Published by: sandi sarbin on Jun 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
Asmaraman S. Kho Ping HooPembakaran Kuil Thian Lok Si
Bagian 01. Pengkhianatan Saudara Angkat.
Kerajaan Tang berada dalam tangan seorang Kaisar yang lemah bagaikan sebuahboneka. Kekuasaan sepenuhnya berada dalam kekuasaan para pembesar yangkorup, terutama para pembesar Thaikam (orang-orang kebiri). Rakyat menderitasekali dibawah penindasan dan penghisapan orang-orang besar yang hanyamementingkan kesenangan sendiri saja. Di mana-mana timbul kerusuhan sebagaiakibat hati tak puas dan perut lapar. Pembesar tertinggi di setiap kota merupakanraja sendiri, dan tuan-tuan tanah di dusun-dusun merupakan raja-raja kecil tanpamahkota.Keadaan ini tidak saja membuat rakyat menderita hidup yang sukar dan sengsara,akan tetapi juga membikin marah hati setiap orang yang sedikitnya mempunyaiperasaan cinta bangsa dan mau yang mau menaruh perhatian kepada keadaanrakyat kecil. Akan tetapi, apa daya mereka ? Kaisar dan para pembesar yang hidupdalam laut kemewahan dan kesenangan dunia itu maklum juga akan ketidakpuasanhati rakyat dan telah menaruh curiga kalau-kalau ada rakyat yang hendakmemberontak. Oleh karena ini, pemerintah membentuk barisan yang kuat, barisanyang terdiri dari orang-orang berkepandaian silat tinggi dan yang khusus diadakanuntuk menindas dan memadamkan api pemberontakan. Khusus digunakan untukmenindas dan menghancurkan rakyat sendiri ! Oleh karena takut akan hukuman,hukuman mati yang diobral secara murah oleh Kaisar dan para pembesar Thaikam,maka sakit hati dan ketidakpuasan para patriot itu hanya terpendam di dasar hatisaja dan mereka hanya berani membicarakan dengan kawan-kawan sehaluan secarasembunyi-sembunyi.Keadaan yang buruk ini pulalah yang menggerakkan hati dan membangunkansemangat dua orang sastrawan terkemuka. Mereka ini adalah Khu Liok dan Ma Eng,dua orang sastrawan pandai yang telah menjadi sahabat baik semenjak merekamasih muda. Kini mereka telah tua dan menjadi orang-orang terpelajar yang amatterkenal karena syair-syair dan tulisan mereka. Bahkan Kaisar dan orang-orang besaramat suka membaca hasil tulisan mereka dan biarpun mereka ini berasal dari rakyatbiasa, namun para pangeran dan orang besar tidak merasa rendah untuk berkenalandan bercakap-cakap dengan dua orang sastrawan ini.
 
Khu Liok dan Ma Eng tinggal di Kotaraja bahkan bertetangga. Mereka seringkalimengadakan pertemuan dan bercakap-cakap dan keduanya memiliki jiwa patriot,merasa marah sekali melihat ketidakadilan Kaisar dan kelaliman para pembesar.Diam-diam mereka mengutuk para pembesar, terutama para Thaikam dan akhirnya,karena sudah tidak tahan lagi menyaksikan penderitaan rakyat kecil, rasa penasarandan sakit hati telah membuat mereka menggerakkan tangan dan mengarang sebuahkitab kecil yang diberi judul “TUHAN TELAH SALAH PILIH”Kitab ini hanya tipis saja dan berisikan sindiran-sindiran dan protes terhadap keadaanrakyat yang sengsara dan terhadap kelaliman pemerintah. Walaupun tidak ditulissecara terang-terangan, namun dari isi karangan dapat dirasakan singgungan-singgungan yang pedas dan membuat telinga para pembesar menjadi merah danmuka menjadi pucat. Para rakyat kecil yang membaca tulisan ini, menyambut denganpenuh semangat dan isi karangan ini telah membangkitkan jiwa mereka untuk tidaktinggal diam saja dan untuk berusaha memberantas pihak yang menindas mereka. Disana-sini para kaum tani mulai mengadakan pertemuan dan perundingan,membicarakan isi tulisan yang sangat berkesan di dalam hati mereka dan timbul pulasemangat mereka untuk menumbangkan kekuasaan yang mencekik leher merekaitu.Kaisar dan para pembesar tentu saja tahu akan hal ini dan mulailah diadakanpengusutan dan penyelidikan untuk mengetahui siapa adanya orang-orang yangbegitu berani untuk menulis karangan semacam itu. Akan tetapi, oleh karena KhuLiok dan Ma Eng tidak menyebutkan nama mereka dalam tulisan itu, para penyelidikitu tak dapat menemukan siapa sebenarnya penulis karangan yang telahmemerahkan telinga Kaisar dan para pembesar.Di antara sekian banyak pangeran yang suka berkenalan dengan Khu Liok dan MaEng, bahkan telah mengirim anak-anak mereka untuk belajar kesusastraan dari duaorang sastrawan besar itu, terdapat seorang pangeran bernama Gu Mo Tek yangtinggal dalam sebuah gedung besar tak jauh dari rumah kedua sastrawan itu. Gu Mo Tek seringkali mengunjungi mereka, bahkan sering pula mengundang keduasastrawan itu untuk berkunjung ke gedungnya. Sambil menghadapi arak wangi danhidangan yang lezat, mereka bertiga bercakap-cakap sampai jauh malam. Keduasastrawan itupun amat suka bercakap-cakap dengan pangeran Gu oleh karenapangeran itupun amat luas pandangannya dan seorang sastrawan yang pandai pula.Hubungan mereka demikian eratnya hingga pangeran Gu mengusulkan untuk
 
mengangkat saudara. Dengan menyalakan hio ditangan, ketiganya mengangkatsaudara, disaksikan oleh Bumi dan Langit.Setelah menjadi saudara angkat, ketiga orang ini makin erat hubungannya. Keluargamereka juga mengadakan perhubungan yang baik sekali dan tidak jarang merekasaling berkunjung. Hal ini berjalan bertahun-tahun sampai pada waktu kedua orangsastrawan ini menulis karangan yang menggemparkan itu.Gu Mo Tek mempunyai dua orang putera yang telah kawin dan kedua orangputeranya ini juga tinggal di dalam gedungnya yang indah dan besar. Merekabernama Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu dan menjadi murid-murid kedua orangsastrawan itu.Khu Liok mempunyai seorang putera bernama Khu Tiong sedangkan Ma Eng jugamempunyai seorang putera bernama Ma Gi. Sungguhpun kedua orang sastrawan Khudan Ma adalah orang-orang lemah yang hanya ahli dalam hal membaca dan menulis,akan tetapi kedua orang puteranya ini telah mempelajari ilmu silat yang tinggi dariseorang tosu di Kunlun-san. Hal ini tidak mengherankan oleh karena kedua orangsastrawan yang berpemandangan luas itu menganggap bahwa kepandaian sastrasaja tak dapat menjamin keselamatan dari gangguan orang-orang jahat. Sedangkanpada waktu itu, memang keadaan di Tiongkok amat buruknya, hingga berlakulahhukum rimba, siapa kuat dia menang.Khu Tiong dan Ma Gi juga telah beristeri, bahkan pada waktu cerita ini terjadi, keduaisteri mereka telah mengandung. Isteri Khu Tiong adalah puteri seorang penjual obatyang pandai dan juga seorang ahli silat, hingga tak mengherankan apabila nyonyaKhu yang cantik itupun pandai pula memainkan senjata tajam. Sebaliknya, isteri MaGi adalah puteri seorang petani yang hanya pandai bekerja di sawah ladang, akantetapi nyonya Ma ini luar biasa cantiknya hingga setiap orang melihatnya pasti akanmerasa kagum dan menyangka bahwa ia adalah seorang puteri dari keraton Kaisar.Kedua keluarga Khu dan Ma itu hidup dalam keadaan cukup dan penuh kebahagiaan,terutama sekali oleh karena keduanya sedang menanti datangnya manusia baruyang akan dilahirkan oleh nyonya Khu dan nyonya Ma. Akan tetapi, keadaan hidupmanusia ini memang tidak tetap, ada pasang surutnya, maka terjadilah peristiwahebat yang menggoncangkan seluruh kehidupan mereka dan mengubah keadaanmereka, bagaikan ketenangan air laut yang tiba-tiba terserang badai mengamuk.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
hardian liked this
yon_samelly liked this
abuesmi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->