Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword or section
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Asmaraman S. KPH_Pendekar Gila

Asmaraman S. KPH_Pendekar Gila

Ratings: (0)|Views: 1,011 |Likes:
Published by sandi sarbin

More info:

Published by: sandi sarbin on Jun 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
 
 Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Pendekar Gila
 ___________________________________________________________________________ 
Bab 1 ...
KURANG lebih sepuluh li jauhnya di sebelah barat daya dari So-cou, terdapat sebuah telagaTai-hu yang amat indah pemandangannya. Airnya bening dan tak pernah surut, demikianbeningnya sehingga segala warna yang berada di pinggir dan di atasnya tercermin kedalamnya menimbulkan tata warna yang indah mengagumkan. Langit biru terhias awan-awanputih, daun-daun pohon berwarna hijau dihias bunga-bunga merah kuning dan kebiruanmembayang dalam air, agaknya lebih hidup dari pada warna aslinya. Apabila tidak ada angin bertiup, air telaga Tai-hu demikian tenang, licin mengkilap bagaikanlukisan besar tertutup kaca. Sewaktu terdapat angin bertiup, air menjadi hidup bergoyanggoyangmendatangkan keriput dan membuat seluruh pemandangan yang terbayang didalamnya berubah aneh dan lucu.Sukar untuk melukiskan keindahan telaga ini. Di sebelah kiri terdapat tetumbuhan kecil terdiridari bermacam-macam bunga liar yang seakan-akan sengaja mendekati telaga agar bungabungaitu dapat bercermin setiap waktu, mengagumi kecantikan sendiri di dalam bayanganair.Di sebelah kanan penuh dengan pohon-pohon besar yang berbatang bengkak-bengkok sepertitubuh orang-orang sedang menari, dengan cabang dan rantingnya penuh daun itu bergerakgeratertiup angin, mendatangkan suara berkerisik seakan-akan banyak daun itu salingbercakap-cakap memuji keindahan telaga dan cabang-cabang merupakan tangan dan jari-jari2para penari ulung yang sedang menari menurutkan irama yang didatangkan dari desau anginlalu.
 
Di sebelah kanan, yakni di seberang sana, terdapat beberapa buah bangunan kecil berbentuk menara-menara mungil yang dicat merah, hijau, biru dan kuning, nampak indah merupakanperpaduan yang harmonis antara keahlian tangan dan otak manusia dan keaslian alam disekelilingnya.Di sebelah sini, terdapat tanah pasir yang bersih dan banyak sekali perahu-perahu tambangandiikat pada patok-patok yang ditancapkan di atas pasir. Inilah perahu-perahu sewaan yangdapat disewa setiap saat oleh para pelancong yang ingin menghibur hatinya di telaga itu.Di dekat menara-menara yang kecil mungil itu banyak terdapat orang berdagang, di antaranyadapat dibeli arak, makanan dan juga di situ banyak orang menjual alat tulis seperti pit, tinta,kertas atau kain putih yang biasa ditulisi, bahkan ada pula yang kosong dan belum dilukis.Semua ini disediakan bagi para pelancong yang sebagian besar tergerak hatinya melihatkeindahan alam ini dan yang menimbulkan hasrat untuk menulis sajak atau melukiskeindahan itu di atas kertas, kain ataupun di atas kipas.Pada hari itu, telaga Tai-hu istimewa ramainya. Tidak heran oleh karena musim bunga telahtiba. Bunga-bunga beraneka ragam mekar semua dan membuat pemandangan di sebelah kiritelaga nampak luar biasa indahnya. Angin bertiup perlahan, membawa sari kembang yangharum semerbak ke sekeliling telaga.Berbagai macam orang datang mencari hiburan di telaga Ti-hu pada waktu itu. Akan tetapiyang terbanyak di antara mereka adalah para pelajar dan sasterawan, yang dapat dikenal darikeadaan pakaian mereka. Juga ada beberapa orang bangsawan yang menghibur hati di telagaitu, ternyata dari perahu mereka yang dihias bendera dan para penjaga yang berdiri di kepalaperahu atau yang mengawal dengan perahu kecil terpisah.Di atas beberapa buah perahu yang besar dan yang berbau bangsawan, terdengar nyanyiannyanyianindah diiringi musik yang menawan hati. Memang, kalau orang ingin berpelesir diatas perahu sambil mendengarkan nyanyian indah, asal orang mempunyai uang, mudah sajamaksudnya ini tercapai. Di situ telah siap sedia “calo-calo” atau makelar yang dapatmencarikan penyanyi-penyanyi yang dapat disewa untuk menghibur hati mereka yang sukamendengar suara merdu.Setiap datang musim semi, alang-alang yang hijau segar tumbuh di pinggir telaga, menari-naritertiup angin di atas air menambah indah pemandangan. Dan pada hari itu, di dekat rumputalang-alang ini, nampak sebuah perahu kecil yang diduduki oleh tiga orang pemudaberpakaian pelajar. Mereka masih muda sekali, rata-rata berusia tak lebih dari lima belastahun, berwajah tampan dan bersikap halus bagaikan gadis-gadis simpanan.Seorang di antaranya yang paling cakap dan tampan mengenakan pakaian serba hijau dengangaris-garis kuning. Topinya juga berwarna kuning. Mukanya lebar dan tampan, denganalisnya yang berbentuk golok dan hitam sekali membuat wajahnya makin nampak putih.Biarpun sikapnya lemah lembut, namun sepasang matanya yang bersinar cerdik dan mulutnyayang berbentuk keras itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemuda yang berkemauankeras.3
 
Dua orang kawannya juga berwajah cakap dan sikap mereka gembira, berbeda denganpemuda baju hijau yang agak pendiam. Seorang mengenakan pakaian biru dan yang keduaberpakaian kuning. Menilik dari bahan pakaian yang mereka pakai, dapat diduga bahwaketiganya adalah pelajar-pelajar yang tidak kaya, karena sungguhpun pakaian mereka rapi danbersih, namun terbuat dari bahan yang tidak mahal.Mereka bertiga duduk di papan perahu menghadapi sebuah meja persegi kecil. Seguci kecilarak dengan tiga cawan terletak di atas meja itu, dan sebungkus kue kering menemani arak.Mereka bercakap-cakap sambil makan kue dan minum arak. Selain arak dan kue, juganampak tiga buah kipas yang masih kosong, yang mereka beli di dekat menara tadi. Alat-alattulis lengkap berada pula di situ, berikut sebuah buku syair kuno yang tebal dan sudah kuningkertasnya karena terlalu tua.Pemuda baju hijau itu adalah putera seorang bangsawan yang telah meninggal dunia. Karenasemasa hidupnya, ayahnya memegang jabatan dengan jujur dan adil sehingga tidak sepertipembesar lain, hidupnya miskin, hanya mengandalkan gajinya yang tidak seberapa besar.Bangsawan she Lie itu tidak mau menjalankan pemerasan kepada rakyat sebagaimana yanglazim dilakukan oleh setiap orang berpangkat pada masa itu, hingga pada suatu waktu iamenderita sakit sampai meninggal dunia, ia tidak meninggalkan warisan harta besar selainkepandaian yang dimiliki oleh putera tunggalnya ini yang bernama Tiong San. Memangsemenjak kecil, bangsawan Lie telah banyak mempergunakan uangnya untuk memberipelajaran ilmu kesusasteraan kepada puteranya dengan pengharapan agar kelak dapatmenduduki pangkat tinggi. Akan tetapi, biarpun Tiong San dalam usia lima belas tahun telah lulus dengan baik dalamujian pemerintah, namun pada masa itu sukarlah bagi seorang pelajar untuk merebutkedudukan tinggi dalam kalangan pemerintah. Oleh karena mereka yang berwenangmenetapkan pembagian pangkat adalah seorang yang hanya memandang uang sogokan.Siapa saja yang memiliki uang dan berani memberi suapan besar, biarpun belum pernah lulusujian, akan dapat memiliki pangkat kecil dengan amat mudah. Sebaliknya Tiong San yangtelah ditinggal mati ayahnya hidup dengan ibunya yang mengandalkan hasil kerajinan tangan,biarpun hasil ujiannya baik, namun tak mungkin bisa memperoleh pangkat yang bagaimanakecilpun!Hal ini amat menyedihkan hatinya dan ia menjadi sebal melihat keadaan petugas-petugaspemerintah yang hanya memandang harta itu. Hatinya menjadi tawar, bahkan ia tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk memegang pangkat. Sehingga andaikata ia mendapattawaran untuk menduduki sebuah pangkat, ia tentu akan menolaknya.Pada hari itu, ia meninggalkan rumahnya dan diberi ijin oleh ibunya untuk bermain-main ditelaga Tai-hu yang agak jauh letaknya dari kampung tempat tinggalnya, oleh karena ibunyamerasa kasihan melihat kesedihan puteranya dan ingin melihat puteranya itu bergembiradengan kawan-kawannya. Maka pergilah Tiong San dengan dua orang kawannya itumenghibur diri di telaga Tai-hu. Kedua orang kawannya itu adalah kawan-kawan sekolahnyayang melanjutkan pelajarannya di kota raja, dan kini sedang berlibur kembali ke kampung

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
airmaster liked this
yon_samelly liked this
sapardi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->