Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
46Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kearifan Tradisional

Kearifan Tradisional

Ratings: (0)|Views: 3,616 |Likes:
Published by Andi Muhammad Yusuf

More info:

Published by: Andi Muhammad Yusuf on Jun 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

KEARIFAN TRADISIONAL LINGKUNGAN
Belajar dari Kasus Komunitas-Komunitas Petani dan Nelayan Tradisional
Oleh
Munsi Lampe
Pendahuluan

Kearifan tradisional merupakan salah satu warisan budaya yang ada di masyarakat (tradisional) dan secara turun -menurun dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Kearifan tradisional tersebut umumnya berisi ajaran untuk memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam (hutan, tanah, dan air) secara berkelanjutan. Subak di Bali dan sasi di Maluku merupakan contoh kearifan trad isional yang masih dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan mampu memelihara sumberdaya alam sehingga dapat memberikan penghidupan untuk masyarakat setempat secara berklanjutan. Dari sisi lingkungan hidup keberadaan kearifan tradisional sangat menguntungk an karena secara langsung atau pun tidak langsung sangat membantu dalam memelihara lingkungan serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

Namun demikian dengan makin meningkatnya kebutuhan ekonomi akibat perkembangan jumlah penduduk serta meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, kearifan tradisional tersebut banyak yang telah ditinggalkan dan diganti dengan perhitungan ekonomi tanpa mampertimbangkan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Hal ini dapat dilihat dengan makin rusaknya sumberdaya hutan, hi langnya mata air/ sumber air, rusaknya hutan mangrove, dan lain -lain.

Mengingat begitu pentingnya peranan kearifan tradisional dalam upaya memelihara dan melestarikan fungsi lingkungan hidup, maka kearifan tradisional tersebut perlu terus dipelihara dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari -hari. Upaya ini antara lain dapat dilakukan dengan memasukkan kearifan tradisional menjadi salah satu mata ajar dalam pendidikan lingkungan hidip KLH maupun diklat -diklat yang lain baik di pusat maupun daerah.

Untuk biasa menjadi salah satu mata ajar dalam pendidikan lingkungan yang
pelaksanaannya dibatasi oleh waktu, maka diperlukan materi dan sistematika yang baik
yang kemudian akan disusun menjadi kurikulum pada mata ajar \u201cperanan kearifan
tradisional dalam pengendalian kerusakan lingkungan\u201d oleh Pusdiklat Lingkungan Hidup
KLH.

==Kearifan lingkungan di Indonesia menjadi topik perbincangan yang menarik, bahkan mendesak kepentingannya sehubungan dengan isu program rehabilitasi dan pengelolaan lingkungan, khususnya lingkungan ekosistem laut (mangrof dan terumbu karang) yang mengalami kerusakan pada hampir semua daerah perairan pantai dan pulau - pula, yang menurut hasil penelitian, banyak diakibatkan oleh perilaku pemanfaat, terutama komunitas-komnitas nelayan itu sendiri. Di Indonesia, realitas hubungan manusia dengan lingkungan yang disebut oleh Vayda dan McCay (1975) dan McCay (1978) sebagai\u201cdisrupsi sistem dan relasi tidak seimbang\u201d ini dapat ditunjukkan pada eksploitasi sumber daya perikanan secara berlebihan (dalam Saad, 2000; Semedi, 2001); pengrusakan ekosistem mangrof di Aceh dan Jawa (dalam Saad, 20000), di Sulawesi Selatan (Winarto dkk, 1999), dan di Irian Jaya (Laksono dkk, 2000); pengrusakan ekosistem terumbu karang (Raharjo, 1995; Lampe dkk, 1996/1997; 1997/1998; Tim Peneliti PSTK, 2000); dan pencemaran laut yang pada gilirannya telah berakibat pada terjadinya persaingan dan konflik-konflik antarindividu dan antar kelompok pemanfaat sumber daya laut dari berbagai tempat asal dan etnik (Dahuri dkk, 1996; Kusumaatmadja, 1999), dan meluasnya kemiskinan penduduk desa -desa nelayan pesisir dan pulau -pulau. Isu masalah tak kalah pentingnya ialah lenyapnya ratusan hektar lahan tambak di Aceh, Lampung, dan Sulawesi Selatan oleh ombak akibat hilangnya hutan bakau (mangrove) sebagai pelindung dari ancaman abrasi ombak laut. Akhir -akhir ini, korban tsunami berupa ratusan ribu jiwa penduduk dan pemukimann di Aceh banyak dihubungkan dengan rusaknya ekosistem mangrof di sepanjang pantai Aceh tersebut.

Dari fenomena tersebut patut dipertanyakan, apakah konsep-konsep ekosistem, kelembagaan, kepercayaan/keyakinan, nilai-nilai atau norma-norma masyarakat pada tingkat populasi desa, komunitas etnis, dan kelompok -kelompok yang berbeda -beda yang diasumsikan oleh sebagian pakar ekologi manusia/antropologi ekologi sebagai mekanisme regulasi pemanfaatan sumber daya alam secara merata, berkelanjutan , dan lestari tidak berfungsi lagi atau dalam kondisi sedang terkikis? Fakta ditunjukkan di muka juga lebih merupakan indikator kegaga lam daripada keberhasilan dari berbagai kebijakan

formal pemerintah (berupa larangan) dan kontribusi dari kalangan akademisi dan LSM berupa paradigma atau pendekatan-pendekatan pengembangan atau pegelolaan keterpaduan (integrated management), kemitraan (co-management), atau berbasis masyarakat (community-based management).

Untuk penulisan makalah dalam rangka lokakarya Menggali Kearifan Lingkungan ini, baik kiranya mengidentifikasi dan belajar dari sisa -sisa pengetahuan (kepercayaan, nilai), institusi, dan praktik indigen yang arif lingkungan, yang masih difungsikan di beberapa tempat, termasuk Sulawesi Selatan, meskipun dalam kondisi sedang terkikis, atau sudah tergeser oleh kekuatan usaha -usaha perikanan kapitalis dan modern dari luar tetapi masih diidamkan oleh komunitas pendukungnya. Berikut interpretasi teoretis dan efektivitas praktik kearifan lingkungan. Sebagai penutup ialah saran -saran.

Batasan Tentang Kearifan Tradisional Lingkungan

Kearifan lokal merupakan gagasan/pandangan, pengetahuan, kepercaya an, nilai,
norma, moral dan etika, kelembagaan (melibatkan norma, praktik atau tindakan berpola,
organisasi), dan teknologi yang menyumbang kepada tercipta dan tetap terpeliharanya
kondisi tatanan kehidupan masyarakat di berbagai bidang, kemajuan, dan terj aganya
kondisi ekosistem lingkungan dan sumberdaya sehingga pemanfaatannya oleh kelompok
atau komuniti manusia di situ (sebagai salah satu komponen ekosistem) berlangsung
secara berkesinambungan.

Hadirnya kearifan lokal dalam suatu masyarakat pesisir, khus usnya komuniti
nelayan, bisa merupakan tradisi ataupun rekayasa baru dari masyarakat pendukungnya,
tetapi bisa bersumber dari kebijakan pemerintah, kreasi lembaga perguruan tinggi,
inisiatif LSM, dan lain -lain, yang tersosialisasi kepada dan telah diprakti kkan untuk
selanjutnya ditradisikan oleh masyarakat nelayan pesisir dan pulau -pulau.

Dalam berbagai komuniti/masyarakat bahari (pesisir dan pulau -pulau), termasuk
di Indonesia, kearifan tradisional dalam berbagai wujudnya sebagian masih bertahan dan
difungsikan, sebagian mulai terkikis, dan sebagian besar lainnya sudah menghilang,
sementara ide-ide dan praktik-praktik baru yang ideal dan potensial belum lagi
terlembagakan dan mengakar dalam masyarakat.

Berbagai hasil penelitian pada komuniti -komuniti pesisir dan pulau-pulau,
terutama di Sulawesi Selatan, diperoleh berbagai keterangan/informasi mengandung
kearifan lokal, terutama berkaitan dengan etos ekonomi/berusaha, keselamatan
pelayaran, kehidupan kolektif dan jaminan sosial ekonomi, dan kelestarian ling kungan.

Identifikasi dan Gambaran Sisa -sisa Kearifan Lingkungan dalam Komunitas
Desa-desa Petani dan Nelayan
1. Pemeliharaan Sumberdaya Air

Activity (46)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iman Hilman liked this
Edi Suryadi liked this
Syubbah Abdi liked this
Syubbah Abdi liked this
Syubbah Abdi liked this
Syubbah Abdi liked this
Syubbah Abdi liked this
Syubbah Abdi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->