• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
 1
KONSEPSI DASAR ADAT MINANGKABAU
 
Oleh : Afifi Fauzi Abbas
A.
 
Pengertian Adat Minangkabau
Setiap suku bangsa atau bangsa, sejak dari yang tertutup atau primitif sampaikepada yang terbuka struktur masyarakatnya atau modern, umumnyamempunyai pandangan hidup sendiri, yang berbeda satu dengan yang lainnya.Pandangan hidup suatu suku bangsa atau bangsa ialah perpaduan dari nilai-nilaiyang dimiliki oleh suku bangsa atau bangsa itu sendiri, yang mereka yakinikebenarannya, dan menimbulkan tekad pada suku bangsa atau bangsa itu untukmewujudkannya Suku bangsa Minangkabau (orang Minang), yang merupakansalah satu suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia mempunyaipandangan hidup sendiri yang berbeda dengan pandangan hidup suku-sukubangsa lainnya. Pandangan hidup orang Minang tertuang dalam ketentuan adat,yang disebut dengan ADAT MINANGKABAU.Dapat diakatakan bahwa Adat Minang adalah merupakan falsafah kehidupanyang menjadi budaya atau kebudayaan Minang. Ia merupakan suatu aturan atautata cara kehidupan masyarakat Minang yang disusun berdasarkan musyawarahdan mufakat dan diturunkan secara turun temurun secara alamiah
1
 Pengertian adat dalam kehidupan sehari-hari orang Minang memberikanmakna sebagai
Sawah diagiah bapamatang, ladang diagiah bamintalak, Nak babedo tapuang jo sadah, Nak babikeh minyak jo aia, Nak balain kundua jolabu
.
2
 Ungkapan petatah petitih ini merupakan kaidah sosial yang mengatur tatanilai dan struktur masyarakat, yang membedakan secara tajam antara manusiayang berbudaya dengan binatang dalam tingkah laku dan perbuatannya. Dengan
Bahan yang disampaikan untuk Pembekalan Kuliah Kerja Sosial Keluarga MahasiswaMinang Korkom UIN Syarif Hidayatullah di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kab.50Kota-Sumbar
1
Jurnalis Kamil Dt.Toenaro nan Bapandiang Ameh,
 Adat Minangkabau Dalam KehidupanMasyarakat dan Bernegara Sepanjang Masa
, makalah Simposium Adat Minangkabau 26 April1991 di Jakarta, t.d., h.3
2
Artinya : Sawah harus diberi pematang (pembatas), ladang harus diberi tanda-tandapembatas, agar berbeda tepung dengan kapur sirih, sehingga terpisah air dengan minyak,sehingga berbeda antara labu (kolak) dengan labu (sayur) .
 
 2
demikian adat Minang mengatur tata nilai dalam kehidupan mulai dari hal yangsekecil-kecilnya sampai kepada perihal kehidupan yang lebih luas, misalnyakehidupan politik, ekonomi, hukum, dsb.
B.Dasar Filsafat Adat Minangkabau
 Dalam adat Minangkabau terdapat beberapa ketentuan yang memberikan cirikhas kepada adat Minang sebagai falsafah dan pandangan hidup. Ketentuan ituadalah fatwa-fatwa adat Minang berdasarkan ketentuan alam nyata. Dengandemikian maka adat Minangkabau itupun dengan sendirinya mempunyai dasarfalsafah yang nyata pula
3
Pertumbuhan dan perkembangan adat Minangsemenjak dahulu kala secara garis besarnya terbagi atas dua priode; yaitu priodesebelum Islam datang dan priode setelah Islam datang.Sebelum Islam dianut oleh masyarakat Minang, tata nilai kehidupanmasyarakat Minang umumnya dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan BudaSebelum tahun 914 Masehi di Minangkabau terdapat kebudayaan Hindu, dansebagai bukti sejarah, ditemukannya Candi Muara Takus. Namun kebudayaanHindu ini tidak mempunyai bekas dalam kebudayaan Minang.
4
dan ketentuanadatnya hanya didasarkan pada kaidah-kaidah alam yang diformulasikan olehpikiran manusia sesuai dengan keinginannya, sehingga bisa terjadi prilaku atauperbuatan tidak terpuji tetapi dibenarkan oleh adat.Ketentuan-ketentuan ini digambarkan dalam berbagai bentuk dan corak yangmerupakan pernyataan langsung dari ketentuan-ketentuan itu berupa
 petatah petitih
, pantun, gurindam dsb. Umumnya mengandung anjuran dan aturandalam bertingkah laku berdasarkan ketentuan alam secara langsung denganperumpamaan. Inilah yang dimaksud oleh petatah petitih adat yang berbunyi
"Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak kanyiru. Nan satitik jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru
"
5
 Jadi sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau, nenek moyang orangMinang telah menjadikan sunnatullah yang terdapat dalam alam ini sebagaidasar adat Minangkabau. Apa yang terjadi di alam dijadikan sebagai guru ataui'tibar bagi kehidupan Alam yang terkembang di hadapan kita sebagai makhluk
3
Nasroen,
Dasar dan Falsafah Minangkabau
, (Jakarta, Bulan Bintang, 1971), h.37
4
Lihat Nasroen,
Ibid 
, h.20
5
Artinya : Penakik pisau siraut, ambil galah batang lintabung, silodang ambil untuktempian. Yang setitik jadikan laut, yang sekepal jadikan gunung, terkembang jadi guru.
 
 3
Allah adalah flora, fauna dan benda alam lainnya. Pada alam ini berlaku hukumalam (
sunnatullah
)
 
Berdasarkan
 
hukum alam ini dibuatlah ketentuan adatberupa petatah petitih, misalnya : api panas dan membakar, air membasahi danmenyuburkan, kayu berpokok, berdahan, berdaun, berbunga dan berbuah,lautan berombak, gunung berkabut, ayam berkokok, kambing mengembek,harimau mengaum dsbJadi pada dasarnya pada priode ini adat Minang telah mendasarkanajarannya kepada
sunnatullah
(hukum alam) sebagai guru dan i'tibar. Pada taraf ini adat hanya bersendikan alur dan patut. Setelah Islam datang ke MinangkabauSampai dengan masa pemerintahan Adityawarman (1347-1376), kerajaanPagaruyung (Minangkabau) masih menganut agama Budha. Barulah pada masaanaknya Ananggawarman yang bergelar Raja Alif, Minangkabau telah menjadiIslam.
6
 Secara berangsur-angsur tatanilai kehidupan masyarakat Minang berubahdan dipengaruhi oleh ajaran Islam. Semenjak itu ada yang rumusannya tidak lagididasarkan pada musyawarah dan mufakat, akan tetapi berdasarkan ketetapandan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-nya. Namun yangharus difahamni adalah bahwa ketika Islam datang ke Minangkabau bukan tidakterjadi konflik antara adat dan Islam, akan tetapi konflik itu akhirnya menyatumenjadi integrasi antara adat dan Islam
7
 Tahapan-tahapan yang dilalui sampai mengambil bentuk integrasi itu adalahsbb :
Tahap pertama
adalah tahap
adat basandi alua jo patuik dan syarak basandi dalil 
. Dalam tahap ini adat dan syarak jalan sendiri-sendiri dalam batas-batasyang tidak saling mempengaruhi. Masyarakat Minang mengamalkan agamanyadalam bidang akidah dan ibadah, sedangkan bidang sosial merekamemberlakukan adat
8
 
Tahap kedua
adalah
adat basandi syarak dan syarak basandi adat 
. Dalam tahap ini salah satunya menuntut hak mereka kepada pihaklain sehingga keduanya sama-sama dibutuhkan tanpa ada yang tergeser. Pada
6
Lihat Amir Syarifuddin,
Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau
, (Jakarta, Gunung Agung, 1984), h.132
7
Sebagai bukti dapat dilihat dalam struktur pemerintahan masyarakat Minang setelahIslam berkembang di Minangkabau. Ada Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus, AdaRaja Adat yang berkedudukan di Buo. Juga dibuat Lembaga Kadhi yang berkedudukan di PadangGanting. Lihat Dt.Rajo Malano,
Filsafat Adat Minangkabau
, (Padang, Lembaga Studi Minang-kabau, 1979), h. 97-98
8
Nasroen,
Op.Cit 
., h.160
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...