/  11
 
 Afifi Fauzi Abbas, Ulama dan Perkembangan Intelektuan Keagamaan
59
ULAMA DAN PERKEMBANGANINTELEKTUAL KEAGAMAAN
 
Oleh : Afifi Fauzi Abbas
A. Pendahuluan
.Pengertian Ulama secara bahasa (
lughawi 
) adalah bahwa kata Ulama jama'dari
 Alim
yang artinya terpelajar atau sarjana.
1
Dalam
Encyklopedi of Islam
 dikatakan Ulama (Ulama) adalah bentuk jama' dari kata a'lim yang berartiseorang yang mempunyai kualitas ilmu, pengetahuan , kearifan, sains dalampengertian yang lebih luas dan dalam pengertian maha atau sangat mengetahui(
mubalaghah
). Namun dalam pemakaian, kata Ulama yang populer adalahbentuk jamak dari kata a'lim (
ء
) yang mengetahui, mempunyaipengetahuan, orang alim dan seterusnya.
2
 Dan pengertian Ulama menurut istilah ialah, orangorang yang mendalamiilmu-ilmu keislaman, Teologi, hukum (
 fiqih
), kalam dalam sufisme (
tasawuf 
)dengan menggunakan metode tradisional, syarat yang paling pokok adalah men-guasai kitab kuning dan membacanya, mengartikannya, serta memahaminyatidak salah. dan yang paling Afdhol jika jalur pendidikannya, melalui pondokpesantren. Adapun yang mempelajari ilmu-ilmu keislaman melalui jalur yang laindiberi sebutan intelektual.
3
 Sedangkan dalam
Ensiklopedi Islam
Ulama adalah orang yang tahu atau yangmemiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang denganpengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT.Kata Ulama merupakan bentuk jamak dari 'Alim atau 'Alim, yang keduanyaberarti "yang tahu" atau "yang mempunyai pengetahuan".
4
 Sementara itu, kata jamak Ulama hanya disebutkan dua kali dalam Al-Quran (S.Asy-Syura 197 dan S.Fathir 28). Pada yang pertama adalah mengenai Ulama Bani
1
Ahmad Warson Munawir,
Kamus Arab Indonesia Al Munawwir 
,Surabaya, PustakaProgressif, Cet ke 2 , th 1997, hal 1037.
2
HAR Gibb & Kramers,
Shorter Encyclopedia of Islam
, Leiden, EJ Brill, 1974, h.559-560
3
Nuruzzaman Sidiq,
 Jeram Jeram Peradaban Muslim
, h 160.
4
 
Ensiklopedi Islam,
PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta,th1993, hal120.
 
 Afifi Fauzi Abbas, Ulama dan Perkembangan Intelektuan Keagamaan
60
Israil, yang dapat dipahami sebagai orang-orang yang ahli mengenai agama.M.Yusuf Ali menerjemahkan
'Ulama'u bani Israil 
) dengan "
The learned of thechildren of israel 
" (orang-orang pandai Bani Israel).
5
Orang-orang pandai BaniIsrail yang paham akan syari'at Allah seperti yang diturunkan kepada Nabi Musaini sebetulnya mengetahui kebenaran Al-Quran tetapi tidak banyak yangmengakuinya secara terang-terangan. Ulama Bani Israel yang menerimakebenaran Al-Quran serta menyatakan diri menjadi Muslim antara lain adalahAbdullah bin salam. Kaab Al-Akbar dan lain-lain.Kata Ulama dalam Al-Quran berbicara secara umum, yang berarti para ahli,ilmuan atau sarjana dalam berbagai keahlian. Surat Al-Fathir ayat 28.
ءا د  ى ا اآ اا  ماو باواو سا ور  ا نا
Artinya:
Sebagian di antara manusia, binatang-binatang dan ternak-ternak adayang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah, hanya pa Ulama. Sungguh Allah MahaPerkasa lagi Maha Pengampun
.Pengertian ini dipahami dari konteks ayat, S.Faathir dari ayat 9 s/d ayat 28,dimana Allah mengungkapkan berbagai gejala alam yang merupakan lapanganpenelitian ilmu pengetahuan. Tuhan meminta manusia untuk memperhatikanbagaimana angin mengalihkan awan mendung dan menurunkan air hujan ketanah sehingga merubahnya menjadi daerah pertanian (ayat 9).Manusia diminta untuk memperhatikan asal usul kejadian pertamanyadari tanah, kemudian dari sperma sehingga melahirkan pasangan laki-lakidan perempuan (ayat 11), bagaimana genangan air tawar seperti sungai dandanau dan genangan air asin, yang menghasilkan ikan sebagai santapanmanusia, dan kulit binatang yang dapat dipakai sebagai pakaian (ayat 12),bagai mana orang buta tidak dapat disamakan dengan orang yang mempunyaimatanya melihat, seperti halnya kegelapan tidak dapat disamakan dengancuaca terang, atau orang yang masih hidup tidak dapat berkomunikasidengan orang yang telah meninggal dunia (ayat 18-22).
5
Muhammad Assad,
The Message of The Qoran
, Gibraltar, Dar al-Andalus, 1980, h.573
 
 Afifi Fauzi Abbas, Ulama dan Perkembangan Intelektuan Keagamaan
61
Tuhan juga meminta untuk mengamati tumbuh-tumbuhan berbagaibentuk dan jenis; tanah di lereng bukit dan gunung dengan unsur-unsur batu-batuan serta stratanya yang beragam, dan bagaimana manusia dan bangsahewan dan jenis dan bentuk yang tidak serupa ( ayat 18-22).Tuhan juga meminta untuk mengamati tumbuh-tumbuhan berbagai bentukdan jenis; tanah dilorong bukit dan gunung dengan unsur-unsur batu-batuanserta stratanya yang beragam, dan bagaimana manusia dan bangsa hewan dan jenis dan bentuk yang tidak serupa (ayat 26-28)). Setelah menunjuk semua itu,maka Allah pada ayat 28 dalam surat yang sama menfirmankan bahwa "yangtakut kepada Allah itu tidak lain adalah dari kalangan hambanya yang Ulama",yang mengenal seluk beluk kehidupan bahwa semuanya berasal dari Allah dandiperintahkan bagi manusia dalam rangka bertaqwa kepada-Nya.Sampai disini dapat dipahami bahwa Ulama sebetulnya tidak terbatas padaorang yang mengetahui tentang seluk beluk ajaran Islam yang murnikeagamaan saja, tetapi mencakup semua orang yang mempunyai pengetahuanmendalam pada bidang tertentu atau berbagai bidang. Bila dapatmemanfaatkan potensi yang tersedia, maka Ulama seperti itu secara instinkmenakuti Allah swt. Itulah yang dipahami dari kata Ulama secara bahasa danpraktek yang banyak berlaku dalam sejarah Islam. Teks yang berbunyi"Yangtakut kepada Allah itu tidak lain adalah dari kalangan hamba-Nya yangUlama"oleh Al-Quran ini diterangkan sebagai berikut."Maksudnya yang takut kepada Allah 'azza wajalla dan yang menghormati-Nyadengan penghormatan yang layak adalah orang yang mengenal-Nya sertamengenal kebenaran kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya, sebagai hasilpengamatan atas rahasia alam dan Syari'at-Nya, mereka adalah Ulama.Ketakutan inilah yang akan memancarkan amal kebajikan dan menjauhkankejahatan.
6
 
B. Sejarah Perkembangan Ulama.
Nabi Muhammad saw dilahirkan ditengah-tengah masyarakat jahiliyyahdengan segala bentuk kebodohannya, lalu beliau mendapat amanat dari Allah
6
Yusuf Qardawi, "al-Rasul wa al-Ilm", dalam
Buhuts wa al-Dirasat al-Muqaddamah li al-Muktamar 
, jilid VI, Daukah, Al-Syuun al-Islamiyah li Daulah al-Qatthar, 1981, h.34

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...