• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Tafsir Ayat Pluralisme: Pandangan Allamah Thaba’thaba’iOleh: Muchtar LuthfiAl-Quran adalah kitab suci terakhir yang diturunkan kepada Nabi terakhir sebagaisumber ajaran primer untuk agama samawi terakhir yang diberi nama Islam. Bagiseorang muslim, argumentasi al-Quran merupakan suatu hal yang bersifat aksiomatis.Argumentasi al-Quran memiliki kekuatan lebih dibanding argumentasi teks agamalainnya sehingga harus lebih diutamakan. Sesuai dengan konsensus segenap kaummuslimin, siapa saja yang meragukan argumentasi al-Quran, maka ia tergolong orangyang telah keluar dari agama Islam atau kafir—sesuai dengan berbagai teks agamaIslam yang ada, al-Quran maupun hadis. Maka semua ulama dan intelektual muslimselalu berusaha untuk menyandarkan setiap wacana dan pemikiran yang dikemukakannyadengan argumentasi teks agama, khususnya teks al-Quran, dengan anggapan danharapan bahwa wacana yang dilontarkannya akan diterima oleh kaum muslimin.Dalam sebuah ayat al-Quran disebutkan bahwa semua ayat yang tercantum dalam al-Quran tidak akan pernah keluar dari dua kategori;Pertama, ayat-ayat yang makna zahirnya bersifat aksiomatis (muhkamaat)Kedua, ayat-ayat yang makna zahirnya bersifat ambigu (mutasyabihaat).Dalam menjelaskan hal ini, Allah swt berfirman[1].: ”Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamât, itulahpokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihât. Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayatmutasyabihât untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahaltidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalamilmunya berkata, “Kami beriman kepada (semua isi) al-Kitab itu, semuanya ituberasal dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)melainkan orang-orang yang berakal”.Dari sini jelas sekali, bahwa sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untukmengikuti ayat-ayat yang bersifat jelas dari sisi pemaknaan zahir. Dari sini,mungkin akan muncul beberapa pertanyaan seperti; bagaimana nasib ayat-ayat yangbersifat ambigu? Apa fungsi penurunan ayat-ayat semacam itu? Bukankah al-Quransecara umum diturunkan untuk menjadi pedoman bagi kaum beriman sebagai petunjukmenuju kebahagiaan abadi nan sejati di akhirat kelak? Jika kita dilarang untukmengikuti ayat-ayat semacam itu, lantas kenapa ayat seperti itu diturunkan,bukankah hal itu meniscayakan bahwa penurunannya bersifat sia-sia, dan mungkinkahAllah melakukan hal yang sia-sia? Bukankah kesia-siaan merupakan keburukan yangharus dijauhkan dari Dzat Suci Ilahi? Jawaban dari semua pertanyaan tersebut dapatteringkas pada satu kalimat; “al-Quran memiliki beberapa metode penafsiran yangjelas dan legal”. Sebagaimana Islam pun melarang penggunaan metode penafsirandengan pendapat pribadi (tafsir bir ra’yi).Mengenal Metode Penafsiran AllamahDari sekian banyak tata cara penafsiran yang ditawarkan oleh para ulama’ Islam,metode penafsiran ayat al-Quran dengan ayat lainnya memiliki kekhususantersendiri. Metode ini, metode penafsiran al-Quran dengan al-Quran, hanyadiajarkan oleh para imam Ahlul Bayt as saja yang telah mereka dapatkan secarakhusus dari Rasulullah saww. Sangat banyak riwayat dari Ahlul Bayt as yangmenjelaskan bahwa ayat-ayat yang tercantum dalam al-Quran saling berkaitan danmenjelaskan satu sama lainnya. Salah satu kelebihan metode ini adalah ia tidakakan pernah terkena problem perputaran mata rantai (daur) legalitas, tidak sepertimetode penafsiran dengan riwayat (baca: hadis). Jika ayat al-Quran hanya dapatditafsirkan dengan hadis saja, sedang kebenaran hadis sendiri sesuai denganriwayat yang ada harus disesuaikan dengan al-Quran, maka problem yang timbuladalah dalam penentuan tolok ukur kebenaran, manakah yang harus didahulukan; al-Quran sebagai penyaring hadis, ataukan hadis sebagai penafsir al-Quran? Untuk itu,Ahlul Bayt Nabi as sebagai al-Quran yang berbicara (al-Quran an-Nathiq) sesuaihadis ats-Tsaqalain yang diriwayatkan oleh Sunni maupun Syiah, tidak akan dapatdipisahkan dari al-Quran yang diam (al-Quran as-Shamith) telah mengajarkan kepadapara pengikutnya tentang metode penafsiran al-Quran dengan al-Quran.[2]
 
Salah satu penafsir al-Qur’an dari kalangan pengikut Ahlul Bayt yang menerapkanmetode itu adalah Allamah Sayid Muhammad Husein al-Hasani at-Thaba’thab’i at-Tabrizi. Kitab beliau yang terkenal adalah al-Mizan fii Tafsir al-Qur’an. Selainsebagai seorang pakar tafsir, beliau juga seorang pakar fikih, filsafat dan mistikIslam kontemporer yang telah mencetak generasi-generasi unggul seperti: AyatullahSyahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Hasan Zadeh Amuli, Ayatullah Jawadi Amuli,Ayatullah Misbah Yazdi, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Jakfar Subhani danmasih banyak lagi pribadi-pribadi lain yang tercatat pernah berguru kepada beliau.Pada kesempatan ini, kita akan menelaah secara ringkas penafsiran beliau berkaitandengan ayat al-Qur’an yang telah dipakai oleh sebagian kaum muslimin pendukungkonsep pluralisme agama.Penafsiran Allamah tentang Ayat PluralismeBagi kaum muslimin pendukung pemikiran pluralisme agama, mereka menyangka bahwaayat 62 darisurat al-Baqarah merupakan dalil teks agama yang sangat renyah untuk dikonsumsisebagai penguat argument mereka. Dengan menafsirkannya sesuai dengan teori mereka,lantas mereka beranggapan dan ingin menetapkan bahwa pluralisme agama telahdisetujui oleh Allah swt. Dalam ayat yang berbunyi; “Sesungguhnya orang-orangmukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapasaja yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh,mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadapmereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati ”[3], mereka menyimpulkan bahwadalam ayat ini Allah swt telah memberikan dua syarat agar manusia dapat meraihkeselamatan abadi kelak di akhirat; iman kepada Allah juga hari akhir dan amalsaleh. Terserah apapun agamanya, selama mereka memenuhi kedua syarat tersebutniscaya mereka akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.Jadi, setiap agama dapat menghantarkan pengikutnya yang beriman dan beramal salehpada keselamatan abadi di akhirat kelak.Berkaitan dengan syarat pertama yaitu keimanan, Allamah menjelaskan tentangpengulangan kata “beriman” dalam ayat tersebut. Pengulangan ini membuktikan bahwa;kata iman pada kata kedua yaitu “man aamana” (barangsiapa yang beriman)menunjukkan pensifatan iman dengan arti yang sebenar-benarnya, “iman sejati”.Berbeda dengan kata iman pertama pada kata “innalladzina aamanuu” (sesungguhnyaorang-orang yang beriman) yang menunjukkan arti iman secara zahir saja, iman yangbelum teruji[4]. Dalam banyak ayat al-Quran, kata iman sering disandingkan dengandengan kata amal saleh[5]. Seakan-akan al-Quran ingin menjelaskan bahwa iman yangmerupakan pekerjaan hati tidak akan bisa dipisahkan dengan ketaatan yang terjelmadalam amal saleh sebagai perwujudan zahir keimanan. Iman tanpa pengamalan zahir(baca: ketakwaan) tiada akan memberi kesan apapun, juga sebaliknya, amal tanpaiman tidak akan memberi kesan apapun dalam keselamatan abadi. Atas dasar inilah,maka dalam surat al-Baqarah ayat 62 tersebut dinyatakan bahwa syarat keselamatanadalah iman dan amal saleh. Apakah yang menjadi hakikat dan obyek iman dan amalsaleh tersebut akan sedikit kita singgung dalam tulisan singkat ini.Iman yang belum teruji tadi (iman zahir) mirip dengan yang disinyalir dalam sebuahayat darisurat al-Hujurat. Allah berfirman: “Orang-orang Arab badui itu berkata; “Kamitelah beriman”, Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah“Kami telah tunduk” karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamutaat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala)amalmu…Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang berimankepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihaddengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yangbenar”[6].Rasul yang dimaksud disini adalah rasul utusan Allah yang terakhir karena pascapengutusan Muhammad saww tidak ada lagi rasul yang diutus. Agama Muhammad adalahagama terakhir, syariatnya adalah syariat terakhir dan kitabnya adalah kitabterakhir. Semua itu bersifat mendunia[7], karena itu ajarannya berlaku hingga hari
 
akhir zaman kelak. Umat Muhammad mencakup semua manusia pasca pengutusan beliau.Jadi, ketika Muhammad berdakwah kepada umat agama lain maka tidak ada alasan umattersebut menyatakan bahwa “Aku bukan umat-mu, wahai Muhammad” atau “Engkau telahmerebut umat nabi lain, wahai Muhammad”. Maka orang yang beriman dan beramal salehharus mengikuti segala perintah Allah swt dan selanjutnya mengikuti Muhammad sawwdengan semua ajarannya sebagai wujud zahir dari keimanan kepada Allah dan Rasulyang hubungan keduanya bersifat vertikal. Dalam al-Quran terdapat beberapa ayatyang menyejajarkan secara vertikal ketakwaan kepada Allah dan ketaatan kepadaRasul. Allah swt berfirman agar Rasul menyatakan: “Bertakwalah kepada Allah dantaatilah aku”[8]. Atau dalam ayat lain Allah berfirman: “Katakanlah: “Jika kalian(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi danmengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[9].Dalam surat lain Allah swt berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan:“Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnyabukan orang-orang yang beriman”[10]. Dalam ayat ini, Allah swt menyebutkan kata“Di antara manusia”, bukan menggunakan kata “di antara kaum muslimin”, atau “diantara pengikut Muhammad “ atau bahkan “di antara kaum mukmin”. Hal inimeniscayakan bahwa nama orang beriman, orang Yahudi, orang Nasrani atau orangShabi’in hanyalah gelar zahir yang tidak ada faedahnya di mata Allah. Allah swttiada akan melihat gelar dan sebutan zahir saja. Hanya iman sejati kepada Allahdan hari akhir (kiamat) plus amal saleh saja yang menjadi tolok ukur sejati dimata Allah dalam memberi keselamatan abadi di alam sana. Atas dasar ini, dalamayat tersebut Allah swt tidak menggunakan kata “man aamana minhum” (barangsiapayang beriman dari mereka). Tentu dari sini jelas di mana letak perbedaan antarapenggunaan kalimat “barangsiapa yang beriman…” dan kalimat “barangsiapa yangberiman dari mereka”. Dan seandainya Allah swt menggunakan kalimat “barangsiapayang beriman dari mereka…” sebagai alternatif kedua (dengan menambahkan kata “darimereka”) , maka hal ini akan memberi konsekuensi sesuai dengan tata bahasa Arabbahwa kata ganti “mereka” tersebut akan kembali kepada sesuatu yang terdekat (al-maushul al-lazim) dari hubungan (shilah) tadi, yaitu kelompok agama-agama. Hal inidilakukan untuk menjaga urutan (nadzm) yang jelas, sesuai dengan tata bahasa yangtepat[11]. Namun, pada kenyataannya, ternyata Allah swt tidak menggunakanalternatif kedua tersebut. Sayangnya, dalam terjemahan al-Quran berbahasaIndonesia versi DEPAG terdapat kesalahan yang berakibat fatal. Di situ terdapatkata “di antara mereka”, padahal dalam teks asli Arab-nya tidak terdapat kata“minhum”. Kalau kita mau berprasangka baik (husnudzan) terhadap penerjemahan versibahasa Indonesia tersebut, maka bisa kita katakan; mungkin mereka ingin menjagatata bahasa Indonesia yang baik, tetapi di sisi lain penerjemahan semacam itumengakibatkan tidak terjaganya amanat dari bahasa aslinya (Arab) yang tentunyajuga bertentangan dengan amanat Ilahi.Allamah menambahkan terdapat banyak ayat dalam al-Qur’an yang semuanya membuktikanbahwa tolok ukur sejati bagi kemuliaan dan keselamatan sejati adalah penghambaanmurni (al-ubudiyah). Penamaan zahir dari kelompok manusia tidak akan bermanfaatsama sekali di mata Allah. Dan tidak ada gelar kesempurnaan apapun bagi suatuobyek yang dapat memberikan kesempurnaan dan keselamatan sejati melainkanpenghambaan murni tadi[12]. Dalam tolok ukur penghambaan murni ini, bukan hanyatidak ada beda antara nama dan gelar zahir seperti Islam, Yahudi, Nasrani,Shabiin, Zoroaster, Konfusius dsb, bahkan antara pribadi yang bergelar nabi danmanusia biasa seperti kita pun tidak ada bedanya. Sebagai bukti dari pernyataanini, silahkan lihat ayat lain dari surat al-‘An’am. Alah swt berfirman: “Itulahpetunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscayalenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”[13]. Juga salah satu ayatdari surat al-Fath, di situ Allah swt berfirman tentang para sahabat Nabi danorang-orang yang beriman bersamanya dengan ungkapan: “Muhammad itu adalah utusanAllah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orangkafir tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujudmencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...