Salah satu penafsir al-Qur’an dari kalangan pengikut Ahlul Bayt yang menerapkanmetode itu adalah Allamah Sayid Muhammad Husein al-Hasani at-Thaba’thab’i at-Tabrizi. Kitab beliau yang terkenal adalah al-Mizan fii Tafsir al-Qur’an. Selainsebagai seorang pakar tafsir, beliau juga seorang pakar fikih, filsafat dan mistikIslam kontemporer yang telah mencetak generasi-generasi unggul seperti: AyatullahSyahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Hasan Zadeh Amuli, Ayatullah Jawadi Amuli,Ayatullah Misbah Yazdi, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Jakfar Subhani danmasih banyak lagi pribadi-pribadi lain yang tercatat pernah berguru kepada beliau.Pada kesempatan ini, kita akan menelaah secara ringkas penafsiran beliau berkaitandengan ayat al-Qur’an yang telah dipakai oleh sebagian kaum muslimin pendukungkonsep pluralisme agama.Penafsiran Allamah tentang Ayat PluralismeBagi kaum muslimin pendukung pemikiran pluralisme agama, mereka menyangka bahwaayat 62 darisurat al-Baqarah merupakan dalil teks agama yang sangat renyah untuk dikonsumsisebagai penguat argument mereka. Dengan menafsirkannya sesuai dengan teori mereka,lantas mereka beranggapan dan ingin menetapkan bahwa pluralisme agama telahdisetujui oleh Allah swt. Dalam ayat yang berbunyi; “Sesungguhnya orang-orangmukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapasaja yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh,mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadapmereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati ”[3], mereka menyimpulkan bahwadalam ayat ini Allah swt telah memberikan dua syarat agar manusia dapat meraihkeselamatan abadi kelak di akhirat; iman kepada Allah juga hari akhir dan amalsaleh. Terserah apapun agamanya, selama mereka memenuhi kedua syarat tersebutniscaya mereka akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.Jadi, setiap agama dapat menghantarkan pengikutnya yang beriman dan beramal salehpada keselamatan abadi di akhirat kelak.Berkaitan dengan syarat pertama yaitu keimanan, Allamah menjelaskan tentangpengulangan kata “beriman” dalam ayat tersebut. Pengulangan ini membuktikan bahwa;kata iman pada kata kedua yaitu “man aamana” (barangsiapa yang beriman)menunjukkan pensifatan iman dengan arti yang sebenar-benarnya, “iman sejati”.Berbeda dengan kata iman pertama pada kata “innalladzina aamanuu” (sesungguhnyaorang-orang yang beriman) yang menunjukkan arti iman secara zahir saja, iman yangbelum teruji[4]. Dalam banyak ayat al-Quran, kata iman sering disandingkan dengandengan kata amal saleh[5]. Seakan-akan al-Quran ingin menjelaskan bahwa iman yangmerupakan pekerjaan hati tidak akan bisa dipisahkan dengan ketaatan yang terjelmadalam amal saleh sebagai perwujudan zahir keimanan. Iman tanpa pengamalan zahir(baca: ketakwaan) tiada akan memberi kesan apapun, juga sebaliknya, amal tanpaiman tidak akan memberi kesan apapun dalam keselamatan abadi. Atas dasar inilah,maka dalam surat al-Baqarah ayat 62 tersebut dinyatakan bahwa syarat keselamatanadalah iman dan amal saleh. Apakah yang menjadi hakikat dan obyek iman dan amalsaleh tersebut akan sedikit kita singgung dalam tulisan singkat ini.Iman yang belum teruji tadi (iman zahir) mirip dengan yang disinyalir dalam sebuahayat darisurat al-Hujurat. Allah berfirman: “Orang-orang Arab badui itu berkata; “Kamitelah beriman”, Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah“Kami telah tunduk” karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamutaat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala)amalmu…Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang berimankepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihaddengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yangbenar”[6].Rasul yang dimaksud disini adalah rasul utusan Allah yang terakhir karena pascapengutusan Muhammad saww tidak ada lagi rasul yang diutus. Agama Muhammad adalahagama terakhir, syariatnya adalah syariat terakhir dan kitabnya adalah kitabterakhir. Semua itu bersifat mendunia[7], karena itu ajarannya berlaku hingga hari
Leave a Comment