Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
99Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penerapan Balanced Scorecard pada Koperasi

Penerapan Balanced Scorecard pada Koperasi

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 5,725 |Likes:
Published by masalimu
bagaimana menerapkan balanced scorecard pada badan usaha yang memiliki karakteristik khusus seperti koperasi.
bagaimana menerapkan balanced scorecard pada badan usaha yang memiliki karakteristik khusus seperti koperasi.

More info:

Published by: masalimu on Jun 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

 
Jurnal Universitas Paramadina Vol.1 No. 3, Mei 2002: 245-264
PENERAPAN
BALANCED SCORECARD
SEBAGAI TOLOK UKURPENILAIAN PADA BADAN USAHA BERBENTUK KOPERASI
 Ali Mutasowifin
 
engukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amatpenting bagi perusahaan. Pengukuran tersebut, misalnya, dapat digunakanuntuk menilai keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunanimbalan dalam perusahaan. Selama ini, pengukuran kinerja secaratradisional hanya menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasilmencapai tingkat keuntungan atau
Return on Investment 
yang tinggi akandinilai berhasil, dan memperoleh imbalan yang baik dari perusahaan.Akan tetapi, menilai kinerja perusahaan semata-mata dari aspekkeuangan dapat menyesatkan. Kinerja keuangan yang baik saat inikemungkinan dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka panjang perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurangbaik dalam jangka pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukaninvestasi-investasi demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Mengatasikekurangan ini, ditambah dengan kenyataan betapa aktiva perusahaan-perusahaan di era informasi ini lebih didominasi oleh
intangible assets
yangtak terukur, dicobalah pendekatan baru yang mengukur kinerja perusahaandengan mempertimbangkan empat aspek atau perspektif, yakni perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta proses belajar danberkembang. Keempat perspektif tersebut merupakan uraian dan upayapenerjemahan visi dan strategi perusahaan ke dalam terminologi operasional(Kaplan dan Norton, 1996).Gagasan untuk menyeimbangkan pengukuran aspek keuangandengan aspek non keuangan melahirkan apa yang dinamakan
Balanced Scorecard 
. Pada era kompetisi yang berlandaskan pengetahuan
(knowledge-based competition),
kemampuan organisasi untuk
 
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 3, Mei 2002: 245-264246
mengembangkan, memelihara, serta memobilisasi aktiva tak berwujud
(intangible assets)
yang dimiliki merupakan kunci bagi keberhasilan. Akantetapi, pengukuran aspek keuangan ternyata tidak mampu menangkapaktivitas-aktivitas yang menciptakan nilai
(value-creating activities)
dariaktiva-aktiva tidak berwujud seperti:
Ketrampilan, kompetensi, dan motivasi para pegawai;
Database dan teknologi informasi;
Proses operasi yang efisien dan responsif;
Inovasi dalam produk dan jasa;
Hubungan dan kesetiaan pelanggan; serta
Adanya dukungan politis, peraturan perundang-undangan, dan darimasyarakat (Kaplan dan Norton, 2000).Dengan
Balanced Scorecard 
para manajer perusahaan akan mampumengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilaisaat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan masayang akan datang.
Balanced Scorecard 
memungkinkan untuk mengukur apayang telah diinvestasikan dalam pengembangan sumber daya manusia,sistem dan prosedur, demi perbaikan kinerja di masa depan. Melalui metodeyang sama dapat dinilai pula apa yang telah dibina dalam
intangible assets
 seperti merk dan loyalitas pelanggan.Namun demikian, pembahasan mengenai pengukuran kinerjadengan menggunakan
Balanced Scorecard 
lebih sering dilakukan dalamkonteks penerapannya pada perusahaan atau organisasi yang bertujuanmencari laba
(profit-seeking organisations).
Jarang sekali ada pembahasanmengenai penerapan
Balanced Scorecard 
pada organisasi nirlaba
(not-for- profit organisations)
atau organisasi dengan karakteristik khusus sepertikoperasi, yang ditandai
relational contracting,
yakni saat
owner 
dan
consumer 
adalah orang yang sama, serta di mana
mutual benefit 
anggotamenjadi prioritasnya yang utama (Merchant, 1998). Pada organisasi-organisasi semacam ini, keberhasilan haruslah lebih didasarkan pada
 
 
 Ali Mutasowifin
“Penerapan
Balanced Scorecard 
247
kesuksesan pencapaian misi secara luas daripada sekedar perolehankeuntungan (
www.balancescorecard.org 
).Berlainan dengan perusahaan atau organisasi yang bertujuansemata-mata mencari laba, karakteristik penting lain dari koperasi terlihatdari fungsi dan peran yang diamanatkan oleh UU No. 25/1992 yang diantaranya adalah : "Membangun dan mengembangkan potensi dankemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat padaumumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya" (UUPerkoperasian).Dalam konteks Indonesia, pembahasan mengenai koperasi tentunyatidak boleh diabaikan. Tidak saja karena konstitusi kita, dalam penjelasanPasal 33, dengan tegas menyebutkan bahwa "bangun usaha yang sesuaidengan sistem ekonomi Indonesia adalah koperasi", namun juga karenafakta empiris yang ada. Data yang terakhir, misalnya, menyebutkan bahwasebagian besar kesempatan kerja ternyata dihasilkan oleh pengusaha kecil-menengah dan koperasi. Sementara itu, ditinjau dari segi jumlah, saat initercatat 69.769 buah koperasi primer dan sekunder yang ada di Indonesiadengan anggota mencapai 21.189.357 jiwa (www.dekopin.org). Sebuah jumlah yang sangatlah signifikan.Meskipun demikian, dibandingkan dengan pelaku-pelaku ekonomiyang lain, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan konglomerat, posisikoperasi ternyata masih sangat terbelakang. Nilai aset koperasi pada tahun1993 hanya berjumlah Rp 4 trilyun. Jumlah itu kurang dari 1 persen nilai asetberbagai sektor usaha di Indonesia. Nilai aset terbesar dimiliki oleh BUMNdengan jumlah Rp 269 trilyun, disusun oleh konglomerat dengan jumlah Rp227 trilyun. Sedangkan dalam nilai usaha keadaannya sedikit berbeda.Konglomerat berada di urutan pertama dengan nilai usaha Rp 144 trilyun.BUMN di urutan kedua dengan nilai usaha Rp 80 trilyun. Sedangkankoperasi, dengan nilai usaha sebesar Rp 9,5 trilyun, kembali berada diurutan ketiga (Baswir, 2000).

Activity (99)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yuliani Adhitya liked this
Een Andeskop liked this
Shanti Savitri liked this
Wiwira Agustin liked this
Gigih Fauzan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->