Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemikiran Hasan Hanafi

Pemikiran Hasan Hanafi

Ratings: (0)|Views: 185|Likes:
Published by Nasar Nggusu Waru

More info:

Published by: Nasar Nggusu Waru on Aug 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/28/2013

pdf

text

original

 
30
BAB IIITRADISI DALAM PEMIKIRAN HASAN HANAFIA. Riwayat Hidup dan Karya-Karyanyaa. Riwayat Hidup dan Kondisi Sosio-Kultural Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir pada tanggal 13 Februari 1935 M di Kairo, di dekat benteng Salahudin, daerah perkampungan al-Azhar,
1
dari keluarga musisi yangsangat religius.
2
Keluarga Hasan Hanafi berasal dari Bani Suwayf, sebuah propinsi yang berada di Mesir dalam, dan berurban di Kairo. Mereka mempunyaidarah keturunan Maroko. Kakeknya berasal dari Maroko sementara neneknya berasal dari kabilah Bani Mur yang menunjukkan bahwa Mesir, terutama kotaKairo, mempunyai arti penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan HasanHanafi.Masa kecil Hasan Hanafi berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hidupdibawah penjajahan dan dominasi pengaruh bangsa asing. Kenyataan itumembangkitkan sikap patriotik dan nasionalismenya, sehingga tidak heranmeskipun masih berusia 13 tahun ia berani mendaftarkan diri untuk menjadisukarelawan Palestina pada tahun 1948 M. Tetapi ia ditolak oleh pemudaMuslimin karena dianggap usianya masih terlalu muda. Disamping itu ia juga dianggap bukan berasal dari kelompok pemuda Muslim. Kekecewaan menyelimutidirinya hingga ia menyadari bahwa di Mesir saat itu telah terjadi problem persatuan dan perpecahan.Ketika masih duduk di bangku SMA, tepatnya pada tahun 1951, HasanHanafi menyaksikan sendiri bagaimana tentara Inggris membantai para syuhadadi terusan Suez. Bersama-sama para mahasiswa ia mengabdikan diri untuk membantu revolusi yang telah dimulai pada akhir tahun 1940-an, hingga revolusiitu meletus pada tahun 1952 M. Atas saran-saran anggota Pemuda Muslim, padatahun itu pula ia tertarik untuk memasuki organisasi
 Ikhwanul Muslimin
. Akan
1
Muhidin M. Dahlan,
Postkolonial Sikap Kita Terhadap Imprealisme
, Jendela,Yogyakarta, 2001, hlm. 53
2
Ridwan Hambali,
 Reformasi Intelektual Islam
, Yogyakarta, Ittqo Press, 1998, hlm. 18
 
31tetapi, di tubuh Ikhwanpun terjadi perdebatan yang sama dengan apa yang terjadiketika ingin mendaftarkan diri menjadi sukarelawan Palistina. Kemudian HasanHanafi disarankan oleh para anggota Ikhwanul untuk bergabung dalam organisasiMesir Muda. Ternyata keadaan di dalam tubuh Mesir Muda sama dengan keduaorganisasi sebelumnya. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan Hasan Hanafi atascara berfikir kalangan muda Islam yang terkotak-kotak. Kekecewaannya tersebutmenyebabkan ia memutuskan berkonsentrasi mendalami pemikiran-pemikirankeagamaan, revolusi dan perubahan sosial. Hal ini juga yang menyebabkan ialebih tertarik pada pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb tentang prinsip-prinsipkeadilan sosial dalam Islam.
3
 Sejak tahun 1952 M sampai dengan tahun 1956 M Hasan Hanafi belajar diUniversitas Cairo dan mendapat gelar sarjana pada Fakultas Adab (Sastra Arab) jurusan filsafat. Pada periode ini ia merasakan situasi yang paling buruk di Mesir  pada tahun 1954 M, misalnya, terjadi pertentangan keras antara Ikhwan denganrevolusi. Hasan Hanafi berada pada pihak Muhammad Najib, yang berhadapandengan Nasser. Karena baginya Najib memiliki komitmen dan visi Islam yang jelas.Kejadian-kejadian yang dialami pada waktu itu, terutama yang dihadapidikampus, membuatnya ia bangkit menjadi seorang pemikir, pembaharu danreformis. Keprihatinan yang muncul saat itu adalah mengapa umat Islam selaludikalahkan dan mengapa konflik internal dalam Islam selalu terjadi.
4
 Tahun-tahun berikutnya, Hasan Hanafi berkesempatan untuk belajar diUniversitas Sarbone (
Prancis
) pada tahun 1956 M sampai 1966 M. Ia disinimemperoleh lingkungan yang kondusif untuk mencari jawaban atas persoalan- persoalan mendasar yang dihadapi oleh Negrinya dan sekaligus merumuskan jawaban-jawabannya. Negara Prancis adalah tempat melatih dirinya untuk berfikir secara metodelogis melalui kuliah-kuliah maupun bacaan-bacaan dan karya-karya
3
loc.cit 
.
4
Hal ini sesuai dengan pemikiran Kazuo Shimogoki, dalam karyanya,
Kiri Islam; antara Modernisme dan Post Modernisme; Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi
, LKIS,Yogyakarta, 1993, hlm. 4. Yang meletakkan pemikiran Hasan Hanafi pada tiga wajah, yaitu pemikir revolusioner, reformis tradisi intelektual klasik dan reformis penerus al-Afghani (1838-1896 M).
 
32orentalis. Ia sempat belajar pada seorang reformis katolik, Jean Guitto; tentangmetodologi berfikir, pembaharuan dan sejarah filsafat.
5
Ia belajar fenomenologidari Paul Recour, analisis kesadaran dari Husser dan bimbingan penulisan tentang pembaharuan ushul fikih dari Prof. Masnion. Tak heran jika di
kandang
orentalisia berhasil menguasai tradisi, pemikiran dan keilmuan Barat dengan cukup baik.
6
 Semangat Hasan Hanafi untuk mengembangkan tulisan-tulisannya tentang pembaharuan pemikiran Islam semakin tinggi sejak ia pulang dari Prancis padatahun 1966 M. Ia kemudian ikut serta dengan rakyat berjuang dan membangunkembali semangat nasionalisme mereka. Pada sisi lain, untuk menunjang perjuangnnya Hasan Hanafi mulai memanfaatkan pengetahuan-pengetahuanakademis yang telah diperolehnya, yaitu dengan memanfaatkan media massasebagai jalan perjuangnnya. Ia menulis banyak artikel untuk menanggapi masalah-masalah aktual dan melacak faktor kelemahan umat Islam.Setelah menyandang gelar Doctor dengan desertasi
“Essai Sur La Methode D’exegese
” (esai tentang metode penafsiran) setebal 900 halaman, padatahun 1966 M, Hasan Hanafi pulang ke Mesir dan mengajar di Universitas KairoFakultas Sastra, jurusan Filsafat hingga tahun 1971 M. Selain mengajar diUniversitas Kairo, ia juga sempat menjadi Professor tamu di Prancis dan Belgia(1969-1970 M). Kemudian antara tahun 1971-1975 M ia mengajar di Universitas
5
Hasan Hanafi mendiskripsikan “guru saya” yang bertanggung jawab atas semua formasifilosofis saya adalah Jean Guitton, seorang professor ilmu filsafat di Sarbone dan seorang pemimpin modernis Katolik Roma. Jean Guitton bertindak sebagai pembimbing Hasan Hanafimelalui membaca dan mempelajari Filsafat Barat. Ia juga memberikan panduan kepada HasanHanafi dalam masalah-masalah praktis seperti bagaimana memberikan kuliah umum dan metode-metode penelitian. Jean Guitton pernah ke Mesir (1930-an) yang paling tidak memiliki gambaransedikit tentang Mesir. Metode dan perspektif Jean Guitton membantu mengembangkan pemahaman Hasan Hanafi terhadap pendekatan-pendekatan untuk rekonsiliasi posisi yang berbeda. Hasan Hanafi sendiri mendiskripsikan dirinya sendiri sebagai bangunan di atas JeanGuitton dan kemudian menjulang tinggi. Diskripsi ini menggambarkan perkembangan pemikiranJean Guitton dari kesadaran individu menuju kesadaran sosial, dari kanan ke kiri dan dari agamake revolusi. Saya gunakan kritik yang berhubungan dengan kitab Injil secara negatif dan diamemakainya secara positif untuk memperhatikan sebuah kebenaran. Saya hidup untuk teologikebebasan, sedangkan dia takut orang-orang akan berubah ke Marxisme dan kekerasan, danelemen-elemen asing itu mungkin memasuki kebenaran otentik . Jhon L, Esposito dan Jhon O.Voll,
Tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer 
, terj. Hermawan, Raja Grafindo Persada, Jakarta,2002, hlm. 75-76
6
Dalam satu artikelnya ia mengatakan “itulah Barat yang aku pelajari, aku kritik, akucintai dan akhirnya aku benci, lihat Ridwan Hambali,
op. cit.
, hlm. 220

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->