tentang negara. Dalam teori tentang negara, sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf besar. Dalam teori tentang negara, arti 'teks' yang semula tersembunyi seketika muncul,dan apa yang semula kabur dan ruwet menjadi jelas dan dapat dibaca. Namun negara bukanlah segala-galanya, serta negara tidak mencerminkan dan tidak menyerap seluruhaktivitas manusia, meskipun kegiatan manusia dalam perkembangan sejarahnya berhubungan erat dengan bertumbuhnya negara. Plato bertitik tolak dari manusia yangharmonis serta adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian jiwa atas 3 fungsi,yaitu:· Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).· Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).· Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai puncak dan pelingkup).Menurut Plato, negara diibaratkan sebagai Manusia Besar, sebagai organisme yang terdiriatas 3 bagian atau golongan yang masing-masing sepadan dengan suatu bagian jiwa,yaitu:· Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedagang.· Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit.· Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan dan kekuasaan.Plato juga mengajarkan teori tentang pra-eksistensi jiwa. Dia mengatakan sebelum kitadilahirkan, atau sebelum kita memperoleh suatu status badani, kita sudah berada sebagai jiwa-jiwa murni dan hidup di kawasan lebih tinggi di mana kita memandang suatu duniarohani. Sejak kita dilahirkan, kita berada di bumi dan jiwa kita meringkuk dalam penjaratubuh, terbuang dari daerah tinggi itu. Karena penjelmaan dalam tubuh itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri dan dengan mendadak tidak lagi menyadari pengetahuan tentangidea-idea dalam dunia kayangan dulu. Dari sini Plato kemudian mengembangkan teoritentang manusia. Manusia pada mulanya adalah roh murni yang hidup dari kontemplasiakan yang ideal dan yang ilahi. Jadi, kemungkinan dan makna ultimate keberadaanmanusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Tetapi kita gagal mencapai kehidupan yang sebagaimana mestinyakarena kita menyimpang dari kiblat idea-idea tersebut, sehingga kita langsung terhukumdengan dipenjarakannya jiwa ke dalam tubuh. Kita harus berusaha naik ke atas danmemperoleh perhatian dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi itu. Akan tetapikemungkinan untuk mewujudkan makna ini sangat dibatasi karena kita terbelenggudalam materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih jauh lagi dan tenggelam dalam rawa-rawa materi dan sensual.Kemungkinan yang paling jahat ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinyasendiri (egoisme radikal) dan kepada benda-benda jasmani (materialisme dansensualisme). Jadi, bagi manusia, dunia dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya duniaserta tubuh dapat merayu dia ke arah kemungkinan-kemungkinan yang jahat, tetapi dapat juga mendorong dia kepada kemungkinan-kemungkinan yang baik. Manusia memilikisuatu daya yang kuat dan gemilang yang dapat mendorong dia ke atas, yaitu cinta (eros).Eros adalah daya kreatif dalam diri manusia, pencetus kehidupan, inspirator para penemu,seniman dan genius. Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan, membebaskankita dari kesendirian kita, dan mengajak kita ke pesta, musik, tarian, dan permaian. Plato
Leave a Comment