Soeharto di Kaki Republik | Hiduplah Indonesia Raya
cita itu—singkatnya, di atas Pancasila. Untuk itulah jutaan pejuang dan syuhada telahmenyerahkan jiwa raganya.Ke manakah disimpan malu besar bangsa yang dulu ”menelantarkan” serta memperhinakanmantan Presiden Soekarno di saat-saat akhirnya (mungkin atas dasar komando perbudakanpada suatu negara asing pula!) dan kini ramai-ramai mikul dhuwur Soeharto bagaikan dewa sucidi saat-saat yang sama? Juga ke manakah disimpan malu besar Orde Baru yang dulu tiadahentinya melafaskan Pancasila setelah menginjak-injaknya habis-habisan?Dalam masalah Soeharto, buku baru bisa ditutup manakala pelbagai kasusnya sudah ditanganisecara serius, komprehensif, dan adil menurut ukuran nasion/republik, bukan semata-matamenurut para ”bablasan Orde Baru” yang kini masih mendominasi kekuasaan. Tak selayaknyaperasaan jutaan orang yang tertindas dan dizalimi sepanjang pemerintahan Soehartodisepelekan. Sebab, menurut kodratnya nasion/republik kita baru ikhlas menutup buku tersebutmanakala kemultiragaman perspektif dan tuntutan keadilan atas pelbagai tragedi danpenyelewengan yang berlangsung di bawah kepemimpinan Soeharto dan, di atas semuanya,rangkaian nilai, prinsip, dan cita-cita tadi telah diindahkan sebagaimana mestinya.Ketiga, andai kata pemerintah mampu menyelesaikan perkara-perkara Soeharto secara adil dankomprehensif, seketika itu juga harkat dan kehormatan kita sebagai nasion/republik akanterangkat luar biasa, di dalam maupun di luar negeri. Serempak akan berlaku ”efek cegah dankoreksi” (deterrent and correction effect) yang sangat luas bagi seluruh praktik pelanggaran HAM,penyalahgunaan kekuasaan, jabatan, dan dana-dana publik yang begitu menggila sepanjangsepuluh tahun terakhir. Ingat, Munir—pahlawan hak-hak asasi manusia, penegak martabatbangsa, yang namanya begitu harum di dalam maupun di luar negeri—dibunuh secara dingindengan impunitas justru di era upaya reformasi!Penyelesaian berharkat seperti itu akan membuat setiap warga republik, khususnya kalangansaudara senasion kita yang beserta keluarga bergiliran atau tanpa henti ditindas dan dizalimisepanjang 32 tahun Soeharto berkuasa, merasa dimanusiakan. Serempak akan berlaku jaminannyata bahwa gairah serta energi tiap warga negara dalam menekuni rangkaian pekerjaan rumahdan perlombaan internasional itu nantinya takkan sia-sia atau direbut seenaknya oleh kekuasaanpemangsa.Bukankah luasnya kanker korupsi serta ajeknya perlindungan lembaga-lembaga peradilan ataspara pelakunya sepanjang 25 tahun terakhir telah menyebarkan apatisme serta mematikansegenap gairah kreativitas pada bangsa kita?PengkhianatanSudah selayaknya kita menyikapi tokoh Soeharto yang sarat masalah itu secara bijak dalamrangka menyantuni nasion/republik kita, yang sekaligus berarti demi kebajikan publik, jika kitaingin melangkah bersama dalam optimisme menyongsong masa depan.
Sikap lebihmenyantuni Soeharto daripada nasion/republik kita bukan hanya tak bisadipertanggungjawabkan, melainkan juga mengandung semacampengkhianatan. Soeharto harus ditempatkan di kaki nasion/republik, bukansebaliknya.
Seperti sudah disinggung, nasion/republik kita tegak di atas rangkaian nilai/prinsip/ cita-cita yang luhur. Rangkaian nilai/prinsip/cita-cita luhur itulah yang mengikat kita dalamkehangatan bernasion. Rangkaian nilai/prinsip/cita-cita luhur ini pulalah yang telah dikhianati dandiinjak-injak secara masif, terutama sejak awal Orde Baru hingga sekarang.Kita dapat memaafkan Soeharto andai kata pelanggarannya hanya bersifat kekhilafan individualsesaat.
Tetapi panjangnya rangkaian pelanggaran besar di bidang HAM dankorupsi adalah sesuatu yang berlangsung puluhan tahun secara sistemikdalam ranah publik di bawah kepemimpinannya.
Hingga kini pun kita sebagai publikmasih terus terdera oleh dampak terusannya. Adapun tuntutan kasus perdata yang kini masih
r
r
r
r
r
r
r
q
Arsip
q
q
January 2008
MTWTFSS
2728293031
http://id.buck1.com/politik-hukum/soeharto-di-kaki-republik-448 (2 of 3)26/01/2008 12:47:47
Select Month
Leave a Comment