Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
chin yung- hina kelana

chin yung- hina kelana

Ratings: (0)|Views: 1,014 |Likes:
Published by Dicky Wizanajani r
Salah satu kisah silat romantis terbaik yang diciptakan oleh chin yung.

Menceritakan tentang petualangan Lenghou Tiong (Linghu Cung) yang penuh dengan intrik-intrik dan penderitaan.

Sumber: serialsilat.tungning.com
Salah satu kisah silat romantis terbaik yang diciptakan oleh chin yung.

Menceritakan tentang petualangan Lenghou Tiong (Linghu Cung) yang penuh dengan intrik-intrik dan penderitaan.

Sumber: serialsilat.tungning.com

More info:

Published by: Dicky Wizanajani r on Jun 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning
sendiri
PDF by Kang Zusi
HINA KELANA

Cerita silat karya Jin Yong,
dengan judul asli: Siau-go-kangouw,
atau dalam Bahasa Inggris:
Smiling Proud Wanderers.
Disadur ke Bahasa Indonesia oleh Gan KL,
dengan judul: Hina
Kelana, cetakan tahun 1967, terdiri dari 144 bab

Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning
sendiri
PDF by Kang Zusi
Bab 1. Si Gadis Penjual Arak

Di depan sebuah gedung megah yang dibangun di jalan raya pintu
gerbang barat kota Hokciu di provinsi Hokkian terdapat dua altar batu
di kanan-kiri, di atas altar-altar batu itu masing-masing menjulang
tinggi sebuah tiang bendera, dua helai bendera hijau tampak berkibar-
kibar tertiup angin. Bendera sebelah kiri bersulamkan seekor singa
jantan yang garang, bendera yang lain bersulamkan empat huruf yang
berbunyi \u201cHok-wi-piaukiok\u201d, huruf-huruf yang indah dan kuat itu
terang ditulis oleh kaum ahli yang ternama.

Pintu gerbang gedung itu bercat merah dengan hiasan paku-paku
tembaga yang besar dan digosok mengilat. Di atas pintu terdapat
sebuah papan merek berdasar hitam dan berhuruf kuning emas yang
tertulis \u201cHok-wi-piaukiok\u201d (perusahaan pengawalan Hok-wi), di bawah
huruf-huruf besar itu terlintang pula dua huruf lebih kecil yang
berbunyi \u201cKantor Pusat\u201d.

Di dalam pintu terdapat dua baris bangku panjang di sebelah kanan
dan kiri, tampak berduduk di situ delapan laki-laki yang berdandan
kencang ringkas, semuanya gagah-gagah dan sedang mengobrol dan
bersenda gurau.

Sekonyong-konyong dari pekarangan belakang terdengar suara
derapan kuda, kedelapan laki-laki itu serentak berbangkit terus lari
keluar. Dari pintu samping sebelah barat gedung itu tertampak
menerjang keluar lima penunggang kuda untuk kemudian berhenti di
depan pintu gerbang tadi.

Kuda yang paling depan ternyata putih mulus, tepian pelana kuda itu
seluruhnya terbuat dari sepuhan perak. Penunggangnya adalah
seorang pemuda berpakaian perlente berusia antara 18-19 tahun. Di
atas pundak pemuda itu tampak hinggap seekor burung elang
pemburu, pedang bergantungan di pinggangnya, gendewa dan panah
juga terbawa di punggungnya, sedangkan tangan kirinya memegang
pecut kuda.

Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning
sendiri
PDF by Kang Zusi

Keempat penunggang kuda yang mengikut dari belakang itu
semuanya berbaju warna kuning cekak. Dari gaya tunggangan mereka
jelas sekali kepandaian menunggang kuda mereka teramat tinggi.

Setiba kelima orang itu di depan pintu besar Piaukiok, tiga di antara
kedelapan laki-laki tadi lantas berseru, \u201cSiaupiauthau (pemimpin
muda) hendak pergi berburu lagi!\u201d

Pemuda perlente itu hanya mengakak tawa saja, \u201cTarrrr\u201d, pecutnya
dibunyikan di udara, kuda putih tunggangannya mendadak berdiri
sambil meringkik, habis itu terus membedal ke depan secepat terbang.

Seorang laki-laki lantas berseru pula, \u201cSu-piauthau, hendaklah nanti
membawa pulang seekor babi hutan lagi supaya kita bisa
menggayangnya dengan sepuas-puasnya.\u201d

\u201cSudah tentu, paling sedikit kau akan kebagian ekornya!\u201d jawab
seorang laki-laki setengah umur yang mengikut di belakang pemuda
perlente tadi.

Maka di tengah gelak tertawa orang-orang itu kelima penunggang
kuda itu pun sudah pergi jauh.

Perusahaan pengawalan \u201cHok-wi\u201d (rezeki dan wibawa) itu adalah suatu
Piaukiok terbesar di daerah Kanglam (selatan sungai Tiangkang),
Congpiauthau (pemimpin umum, pemilik) she Lim bernama Cin-lam.
Piaukiok itu adalah perusahaan warisan leluhur keluarga Lim, sampai
di tangan Lin Cin-lam sudah turun-temurun tiga angkatan.

Kakek Lim Cin-lam bernama Lim Wan-tho dan terkenal karena ilmu
pedang \u201cPi-sia-kiam-hoat\u201d yang meliputi 72 gerakan, ilmu pukulan
\u201cHoan-thian-ciang\u201d yang meliputi pula 108 gerakan, serta 18 batang
panah \u201cGin-ih-cian\u201d, sejak kakeknya itu membuka Piaukiok di
kampung halamannya sendiri, yakni kota Hokciu, hanya dalam waktu
10 tahun saja nama Hok-wi-piaukiok sudah termasyhur dan
berkembang dengan subur.

Semula ada juga kawanan bandit yang mengganggu barang