• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi adakelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik),yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompokkecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi ada populasi bangsa ataukawasan yang etrlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa,perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakanpelopor perjuanganrakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidakdipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatanpersenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketikakau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlahkecil persenjataan yang dengan itukau mempertahankan diri melawan penindas.Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatuarea. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambilcontoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semuakarakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemebrani,pengetahuan tenbtang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentangtaktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungandari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkanoleh kekuatan pemerintah.Setelah menganalisis corak bekerjanya gerilya, bentuk-bentuk perjuangannya, dan pemahamanbahwa basis mereka adalah diantara massa, pertanyaan yang tersisa adalah : untuk apakahperjuangan gerilya ? Kita musti sampai pada kesimpulan yang tak terhindari bahwagerilyawan/wati adalah pembaru sosial, yang mengangkat senjata menanggapi protes marahrakyat menentang para penindasnya, dan yang berjuang untuk mengubah sistem sosial yangmembelenggu saudara-saudaranya dalam kemiskinan dan kehinaan. Ia bangkit menentangkondisi tertentu dan mengabdikan dirinya dengan seluruh kekuatannya sehingga keadaanmemungkinkan hancurnya cetakan lembaga yang menindas itu.Bila kita menganalisis lebih dalam lagi taktik perang gerilya , kita akan melihat bahwa pejuanggerilya harus memiliki pengetahuan perihal daerah operasinya , jalur-jalur dan rute untukmelarikan diri, kemungkinan-kemungkinan untuk manuver kilat, seberapa luas dukungan rakyat,secara alamiah, dan tempat-tempat persembunyian. Ini semua menunjukkan bahwa pejuanggerilya akan melakukan aksinya didaerah yang berbukit-bukit dan jarang penduduknya.Ditempat-tempat demikian perjuangan rakyat untuk tuntutan-tuntutannya terutama diarahkan danhampir eklusif adalah mengubah bentuk pemilikan tanah: dengan kata lain, pejuang gerilya diatassegalanya merupakan revolusioner agraria. Ia menginterpretasikan keinginan massa besar petani untuk menjadi pemilik tanah, alat produksi mereka, ternakternak mereka, segala yangtelah mereka rindukan selama bertahun-tahun, terhadap perbaikan kehidupan dan kesuramanmereka selama ini.Patut dicatat bahwa dalam interpretasi dewasa ini ada dua jenis perang gerilya, salah satunya –perjuangan yang hendak mengimbangi tentara reguler besar, sebagaimana kasus gerilya Ukrainadi Uni Soviet—bukan interese analisis ini. Kita interese dalam perjuangan menentang kekuasaanyang ada, apakah kolonial atau bukan, yang hanya menetapkan dan mengembangkan dirinyadidaerah pedesaan. Dalam kasus demikian , basis ekonomi diberikan oleh aspirasi untukpemilikan tanah.Cina Mao berawal dari perjuangan kelompok-kelompok buruh diselatan, yang dipukul dan hampir dimusnahkan. Mereka mapu menstabilkan diri dan mulai melangkah maju hanya ketika , setelahLong March ke Yenan, menduduki kawasan-kawasan pedesaan dn melakukan reformasi agrariasebagai dasar tuntutannya. Perjuangan Ho Chi Minh di Indochina berbasiskan pada petanisawah, yang ditindas dibawah kekejaman kolonial Peraancis; dengan kekuatan itu melangkahmaju mengalahkan penjajah. Dalam kedua kasus tersebut ada masa selingan perang patriotikmenentang invasi Jepang, namun basis perjuangan untuk tanah tidak hilang. Dalam kasus
 
Aljazair, gagasan besar nasionalisme Arab memilik pasangan ekonominya dalam kontrolterhadap hampir seluruh tanah pertanian olehnsejuta warga perancis. Dan dalam beberapanegara, seperti Puerto rico, dimana kondisi khusus dari kepulauan itu tidak memungkinkanpecahnya pernag gerilya, semangat kaum nasionalis, sungguh terluka oleh tindakan-tindakandiskriminasi yang dikenakan terhadap mereka dalam kehidupan sehar-sehari, memiliki basisnyadalam aspirasi petani (bahkan walaupun sudah mengalami proletarisasi) berupa tuntatanterhadap tanah yang telah dirampas oleh para Yangkee (AS) dari mereka. Gagasan pokok yangsama tersebut, meski dalam bentuk yang berbeda-beda,mengilhami petani kecil, petani, danbudak dari perkebunan-perkebunan timur Kuba untuk merapat bergandengan dan bersama-sama mempertahankan hak untuk memiliki tanah selama tiga puluh tahun perang pembebasan.
1
Perang adalah selalu sebuah perjuangan dimana kedua pesaing berusaha melenyapkan lainnya.Disamping menggunakan kekuatan, mereka menggunakan jalan lain bagi segala kemungkinantipu dan muslihat untuk mencapai hasil yang diinginkan. Taktik dan strategi militer adalah sebuahekspresi dari aspirasi kelompok geri;lya dan dengan cara tertentu melaksanakannya; dan metodatersebut berusaha mengambil keuntungan dari titik-titik lemah musuh.“Pukul dan lari”, sementara kalangan secara mencemooh menyebut cara gerilya itu : dan itumemang benar. Pukul dan lari, menunggu, bersembunyi dan kemudian menyerang dengan tiba-tiba, pukul dan lari lagi, dan melakukannya terus menerus, tanpa memberikan kesempatanberistirahat kepada musuh. Secara keseluruhannya, menampakkan sikap negatif, sikap mundur,menhindari pertarungan frontal. Bagaimanapun juga, semuanya itu adalah konsisten denganstrategi umum dari perang gerilya, yang mana adalah sama dalam hal tujuan akhir daripeperangan apapun juga: menang, melenyapkan musuh.Jadi jelaslah bahwa perng gerilya merupkan suatau fae saja yang tidak oleh dirinya sendiri bisamenghasilkan kesempatan mencapai kemenangan penuh. Ia hanya salah satu dari fase utamapeperangan dan akan berkembang dan membentang hingga tentara gerilya , melaluipertumbuhan yang mantap, memeproleh karakteristik sebuah tentara reguler. Pada saat itu iatelah siap melakukan pukulan yang menentukan terhadap musuh dan mencatat kemenangan.Keberhasilan akan selalu menjadi produk dari tentara reguler, walaupun asal-usulnya bisa jadidari tentara gerilya.Sekrang, sebagaimana jenderal dari sebuah divisi dalam sebuah perang modern tidaklah harusmati dalam memimpin pasukannya, hendaknya jangan mati dalam setiap pertempuran. Ia harussiap memberikan hidupnya, namun kualitas positif yang sesungguhnya dari perang gerilya bahwamasing-masing pejuang gerilya harus siap mati , bukan mempertahankan sesuatu yang ideal,namun membuat sesuatu yang ideal menjadi suatu realita. Inilah dasar, esensi perjuangangerilya: Kekuatan luar biasa dengan mana sebuah nukleus kecil manusia, pelopor bersenjata darimemandang jauh melampaui taktik obyektif sesaat, bergerak maju secara sungguh-sungguhuntuk mencapai sebuah cita-cita, mendirikan sebuah masyarakat baru, menghancurkan bentukanmasyarakat lama, dan mencapai, sekali dan selama-lamanya, keadilan sosial yang merekaperjuangkan.Dipandang dengancara ini, semua kata-kata yang remeh-temeh kemudian memperolehkemuliaan yang sejati, kemuliaan yang kaum gerilya ingin sempurnakan; dan pertanda baikbahwa kita berbicara berbelit-belit perihal cara –cara yang kita gunakan untuk mencapai tujuan.Sikap perjuangan, sikap yang tidak pernah kehilangan inti pati oini, keteguhan dalammenghadapi problem-problem besar dari sasaran akhir ini, adalah juga kemuliaan dari kaumpejuang gerilya.APA YANG HARUS KITA PELAJARI dan APA YANG HARUS KITA AJARKANDesember 1958
1 Acuiannya adalah pada tigapuluh tahun perang kemerdekaan Kuba melawan Spanyol, menentang daritahun 1868 hingga 1898.
 
Artikel ini ditulis pada minggu-minggu terakhir sebelum kemenangan, dipublikasikan pada tanggal1 Januari 1959 di Patria, organ resmi Tentara Pemberontak di Propinsi las Villas.Di bulan Desember ini, bulan peringatan kedua pendaratan Granma, sangat bermanfaat untukmenilik kembali tahun-tahun perjuangan bersenjata dan pertempuran revolusioner kita selama ini.Gejolak pertama diberikan oleh kudeta Batista pada tanggal 26 Juli 1953, dengan penyerbuantragis Moncada itu.Jalanan ini masih panjang dan penuh dengan kesulitan serta kontradiksi. Pada rangkaian setiapproses revolusioner yang diarahkan secara tulus dan bila para pejuangnya sendiri tidakmenghambatnya, selalu akan terjadi serangkaian interaksi resiprokal antara pimpinan dan massarevolusioner. Gerakan 26 Juli pun merasakan efek dari hukum sejarah ini. Masih terdapat jurangpemisah antara kelompok kaum muda yang antusias yang melakukan penyerbuan garnisunMoncada pada dini hari 26 Juli 1953, dan pemimpin-pemimpin Gerakan itu pada saat ini, bahkansekalipun orang-orangnya adalah sama. Selama lima tahun perjuangan ini –termasuk duapeperangan terbuka—telah membentuk semangat revolusioner kita yang senantiasa berhadapandengan kenyataan dan kearifan naluriah rakyat.Sesungguhnyalah, kontak kita dengan massa petani telah mengajarkan pada kita adanyaketidakadilan nyata di dalam sistem hubungan pemilikan pertanian pada saat ini. Kaum tani telahmeyakinkan kita demi adanya perubahan fundamental yang adil dalam sistem pemilikan tersebut.Mereka menyinari praktek kita sehari-hari dengan kapasitas pengorbanan-dirinya, keagungan,dan kesetiaan.Namun kita juga mengajarkan sesuatau. Kita telah mengajarkan bagaimana menghilangkansemua ketakutan terhadap penindasan musuh. Kita telah mengajarkan bahwa senjata ditanganrakyat adalah lebih unggul dibanding tentara-tentara bayaran itu. Pendeknya, sebagaimanadinyatakan pepatah umum yang tak perlu diulang-ulang lagi : dalam persatuan ada kekuatan.Dan para petani yang telah menyadari akan kekuatan dirinya mendesak gerakan, pelopoperjuangannya, untuk maju lebih berani menuntut, hingga menghasilkan undang-undangreformasi agrariaSierra Maestra no.3.
1
Pada saat ini, undang-undang tersebut merupakankebanggan kita, lambang perjuangan kita, alasan kita untuk hadir sebagai sebuah organisasirevolusioner.Namun ini bukanlah selalu pendekatan kita terhadap masalah-masalah sosial. Pengepunganbenteng kita di Sierra, dimana kita tidak memiliki hubungan yang sungguh penting dengan massarakyat, dimana sesekali kita mulai merasa lebih yakin kepada senjata kita daripada yakinkebenaran ide-ide kita. Karena inilah, kita kemudian mengalami kepedihan pada tanggal 9 April,saat mana menandai perjuangan sosial dimana Alegria de Pio –satu-satunya kekalahankitadalam lap[angan pertempuran—telah gambarkan dalam perkembangan perjuanganbersenjata.Dari Alegria de Pio kita dapat menarik pelajaran revolusioner agar tidak mengalami kegagalanlagi dalam pertempuran lainnya. Dari peristiwa 9 April itu, kita juga belajar bahwa strategiperjuangan massa mengikuti hukum-hukum yang tak bisa di belokkan atau dihindari.Pengalaman-pengalaman itu secara jelas memberi pelajaran kepada kita. Untuk kerja diantaramassa petani –dimana kita telah mempersatukan mereka, tak peduli afiliasinya, dalamperjuangan demi tanah—saat ini saat ini kita menambahkannya dengan tuntutan kaum buruh
1 UU .no.3 Sierra Maestra dicanangkan oleh tentara pemberontak pada 10 Oktober 1958. Undang-undangini menjamin pemilikan tanah kaum petani penggarap, penghuni ‘liar’, dan petani bagi hasil, yang masing-masing memperoleh pembagian kurang lebih dua
Caballerias
(67 Are). Undang-undang ini merupakan pendahuluan bagi reformasi agraria yang lebih menyeluruh yang dicanangkan oleh pemerintah revolusioner  pada 17 Mei 1959.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...