• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
Download
 
 
S e k i l a s S e j a r a h
Konsolidasi & Mitos Peleburan Periodik dalam Organ Keagamaan
cin pratipa hapsarin
I. Konsolidasi & Mitos Peleburan Periodik: Kelompok Islam Nominal
Pada perkembangannya—khususnya masa Indonesia modern—kelompok Islam sendiriterfragmentasi dalam beberapa golongan. Namun hubungan erat antara kaum reformis Islamdan para pedagang tetap terjalin. Ini dapat terlihat dalam kelompok-kelompok, macamSarekat Islam, Masjumi maupun Muhammadiyah. Menanggapi kecenderungan ini Lombard(III, 2005: 173) berkata,
 
“...telah mencerminkan proses kesadaran yang muncul di kalangan usaha yang masihgoyah, dan justru karena kegoyahannya itulah, mencari dalam Islam pedomanideologis umum yang sanggup membakar semangat mereka. (...) Apapun perbedaandoktrin yang amat banyak itu, semua gerakan di atas agaknya muncul sebagai reaksidari usahawan yang frustasi, dan sekaligus sebagai pembangkitan kembali jaringan- jaringan perniagaan, sekalipun kalangan-kalangan itu telah tertidur beberapa waktudalam tarekat dan pesantren, yang merupakan bentuk oposisi halus. Kini merekatampil kembali dengan hasrat yang kuat untuk membentuk kelas borjuis nasionalseutuhnya”.
Sebenarnya, pasang surut gerakan Islam telah memperoleh cadangan kekuatankonsolidasinya dari ikut campurnya pemerintah kolonial. Seperti gayung bersambut,kelompok otoritas lokal menemukan semangat antikolonialnya melalui Islam. Pergerakanwacana Islam di timur Tengah yang dikomandani Wahabisme beserta kemudahan aksesakibat dibukanya Terusan Suez nampaknya menjadi faktor pendukung yang palingsignifikan pada masa-masa ini sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwasanya gerakanantikolonial bahkan telah dimulai jauh sebelum politik etis diberlakukan.Belanda sendiri dengan antusias menanggapi semangat perlawanan itu dengan satu modelkebijakan baru, dimana mereka berusaha mengeliminir monopolinya. Pada kasus ini lahirnyapolitik etis tidak lain adalah sinyalemen bagi ‘penolakan mereka atas Islam’. Snouck Hurgronje, arsitek Perang Aceh mengatakan bahwa mereka tidak perlu menggunakankekerasan ketika berhadapan dengan kelas menengah Indonesia, asal mereka mengerti apa
 
 
yang dapat dimanfaatkan dari “memperlebar secara bebas batas-batas nasional dan politiskita”.
1
Dengan demikian menurut Snouck segalanya akan secara sukarela menghampirimereka. Kanalisasi pergerakan nasional yang bergandengan tangan dengan otoritas lokalplus Islam itu menurutnya dapat dilakukan dengan “memberikan pendidikan barat kepadapenduduk Indonesia terutama kaum elitnya dapat membuat mereka menyimpang dari jalurIslam ke arah persatuan kebudayaan dengan orang Belanda…”
2
 Seperti telah diketahui perkembangan Islam pasca dibukanya Terusan Suez cenderungberirama Arabic. Akar tradisi di Minang, Aceh dan Semenanjung Malaya memang memilikikedekatan dengan pusat-pusat ortodoksi Islam, seperti Mekkah, Kairo, Baghdad dan Turki.Terutama Padang dan Minang, wilayah ini telah mendapat terpaan dari rasionalitas yangdibangun oleh Mohammad Abduh
3
yang kemudian diteruskan oleh Syaikh Ahmad Khatib.
4
 Lalu di Jawa, berdirinya Demak Bintara sebagai sebuah patron baru tidaklah kemudianmemberangus akar-akar puritanisme Hindu-Budha. Hal itu nampak dari bagaimana setelahmenggantikan kedudukan Sultan Pajang,
Senopati
sesegera mungkin memproklamirkanotoritas ‘Mataram Baru-nya’ melalui padu-padan budaya pra-pasca Hindu-Budha.Secara utuh, konsep kesesuaian ini sendiri mencapai puncaknya pada jaman
Sultan Agung
.Raja ketiga Mataram ini berusaha melebur pergesekan antara ‘sisa-sisa’ Hindu-Budha (bacaMajapahit) dengan pergerakan Islam.
5
Jurang sosial dan kultural antara keduanya diikat
1
 
 Abd al-Ghaffar 
atau lebih dikenal dengan nama Christian Snouck Hurgronje telah dengangemilang membaca sekat antara kaum ulama dan adat di Aceh. Keberhasilannya melihat celah itumembuat Belanda berhasil memenangkan perang panjang dengan Aceh yang telah menghabiskandana besar. Merujuk pada pola kerja Belanda tersebut, menjadi pertanyaan yang menarik bagipenyusun, untuk mengetahui siapakah kiranya yang telah ‘mengarsiteki’ kerja besar itu di Jawa. Lih.Hurgronje, Snouck. 1973.
 Islam di Hindia Belanda
(terjemahan). Jakarta: Bharatara.
2
Dalam Kahin, 1995: 62-63.
3
Mohammad Abduh, seorang pembaharu Islam di Kairo, Mesir. Tahun 1884 bersama Jamalal-Din al-Afghani menerbitkan dua majalah Islam di Paris yang kemudian menggoncang rasionalitasEropa dan bahkan dunia Islam sendiri. Majalah tersebut dibinasakan kolonial Inggris di dunia Timurdan dilarang di Mesir dan India. K.H. Ahmad Dahlan berhasil memperoleh dan berusahamenerapkannya di Jawa.
4
Syaikh Ahmad Khatib adalah seorang keturunan hakim Paderi yang kemudian menetap diMekah dan menjadi guru bagi banyak generasi pembaharu Islam, seperti Syaikh Muhammad DjamilDjambek, Haji Abdul Karim Abdullah, Haji Abdullah Ahmad (Minangkabau), Syaikh Sulaiman ar-Rasuli (Bukittinggi), Kyai Haji Hasjim Asj’ari (pemimpin Nahdlatul Ulama), dan Kyai Haji AhmadDahlan (pendiri Muhammadiyah). Lih. Noer: 1996, 39.
5
Menurut penyusun, peleburan yang diupayakan Agung tidak terbatas pada pengertian yangsempit melainkan cenderung komprehensif-spekulatif. Hal ini terlihat dari beberapa kebijakan awal dimasa kepemimpinannya, terutama ‘kedekatannya’ dengan pihak kolonial. Sikap akomodatifnyaterlihat dari kesepakatan-kesepakatan seperti pertukaran 4 meriam dengan ijin mendirikan bentengbagi Belanda di Jepara, selain janji untuk memberi bantuan batu bata bagi pembangunan benteng,tidak menarik bea dan lain-lain. Menurut de Graaf & Pigeaud (1986: 54), kerjasama ini dapat ditafsirsebagai usaha untuk memperluas ‘kewibawaan’ pedalaman selain usaha ‘merekrut’ kekuatan militerdan armada laut kolonial untuk menghadapi kekuatan pesisir yang masih belum mau mengakuikedaulatannya secara utuh. Disisi lain bagi penyusun, kedekatan ini merupakan sinyalemen gerilyadari dalam. Secara positif berarti melakukan kerjasama yang saling ‘menguntungkan’ dengan pihak 
 
 
dalam kolaborasi perhitungan Hijriah yang digunakan kaum pesantren dan tahun Saka yangdigunakan para penganut kejawen. Perhitungan tahun Jawa yang diundangkan tahun 1633secara keseluruhan menyesuaikan tahun Hijriah yang berdasar bulan. Namun awal hitungantahun dimulai dari tahun satu Saka, yakni tahun 78 M. Selain itu Raja Mataram yang secaraminor terkenal karena sifat ekspansifnya, sempat mengadakan pembaruan tata hukum Islamdan membuka kemungkinan andilnya para ulama dalam hukum kenegaraan (Simuh, 1988:11-13). Secara rutin, Agung juga aktif dalam kegiatan keagamaan, macam shalat Jum’at—hal mana yang tidak dilakukan penggantinya kemudian, Amangkurat I.Setelah rentang panjang—kembali retaknya ‘hubungan Islam-Jawa’ di bawah Raja-rajaMataram pasca Sultan Agung—upaya sintesa yang datang kemudian baru terjadi pada medioabad 19. Adalah
Dipanagara
yang berusaha mengakomodir seluruh kekuatan massa dariberbagai elemen lapisan sosial dalam Perang Jawa (1825-1830), sebuah masa yangmemisahkan jaman
ancient regime
raja-raja Jawa dengan jaman kolonialisme Belanda secarapenuh. Walaupun pertemuan berbagai elemen tersebut cenderung bersifat fisiologis artinyapertemuan dalam ruang fisik yang terbangun dari rasa ketidakpuasan atas rezim berkuasa,namun dukungan Islam (yang diwakili oleh Kyai Maja), keraton (paling tidak 15 dari 29Pangeran), dan birokrat (41 dari 88 Bupati) telah menunjukkan bagaimana ‘kekuatanprimordial’ itu berhasil berdiri dibawah satu payung tunggal, hal mana yang selalu menjadipolemik pada masa-masa sebelumnya.
6
Penaklukan atas Dipanagara oleh pihak kolonial
kolonial namun secara negatif dapat dipadankan dengan usaha menggunting lipatan dari dalam.Derivasi dari hasrat ‘positif’ Agung terlihat dari minatnya akan sejarah perkembangan dunia.Hadirnya penasehat Eropa di Kraton Mataram menunjukkan tingginya minat tersebut (walaupunsebenarnya sudah dimulai sejak jaman Panembahan Seda ing Krapyak). Sementara kekesalan Coenmengenai serangan Agung kepada pihak pemerintah kolonial yang dilakukan dengan meriam kirimanBelanda sendiri, tentu menunjukkan bagaimana sesungguhnya ‘kerja politik’ Agung. Yang menarik dari kasus ini adalah ‘keberanian’ Agung untuk membangun afiliasi strategis dengan pihak pemerintahKolonial. Bagi penyusun hal tersebut bukan semata bersifat taktis melainkan secara esensialmenunjukkan kehendak untuk ‘meleburkan’ berbagai kepentingan dibawah yuridiksi kekuasaannyasebagai bagian dari pola kaum sawah. Walaupun sejarah kemudian menujukkan kegagalan Agung—terutama sejak penyerangannya ke Batavia—tetapi apa yang digagasnya (sebutlah dengan mudah,semacam ‘berkarib dengan musuh’) belum lagi menjadi ‘pilihan sadar’ dan metode yang familiar pada jamannya.
6
Dipanagara adalah cucu dari Sultan Sepuh dan putra sulung dari selir HB III. Ia hidup di jaman Daendles dan Rafles dan tinggal bersama nenekndanya, Ratu Ageng di Tegalreja. Berbedadengan perang kebanyakan di waktu sebelumnya yang merupakan konsentrasi dari pemusatankekuatan untuk memperebutkan tahta, Perang Jawa lahir atas ketidakpuasannya Dipanagara melihatkondisi sosial ekonomi yang berlaku pada masa itu. Disatu sisi ia melihat bagaimana watak parapangeran, keraton maupun para birokrat lainnya justru memperkeruh situasi dengan kewenangan yangmereka miliki, dan karenanya Jawa hampir berada diambang kejatuhan. Di sisi lain, kasus-kasus yangsecara pribadi menimpa Dipanagara seperti
affairs
antara selirnya dengan Asisten Residen Chevallierdan pelebaran jalan yang dilakukan oleh Residen Smissaert di Tegalreja yang menerjang tanahmiliknya menjadi salah satu ‘catatan kaki’ bagi pergerakan ini. Perang Jawa ditanggapi secara khususoleh pemerintah kolonial Belanda karena memadukan unsur Islam di dalamnya. Atas kenyataan itu C.Th. Elout, Menteri Wilayah Jajahan Belanda menolak desakan para pejabat Belanda untuk menghentikan Perang Jawa sesegera mungkin dengan memberi pengakuan terhadap Dipanagarasebagai pangeran merdeka di Jawa Tengah sebagaimana yang pernah dilakukan kepada pendahulu
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

menyegarkan neh bacaan!!!

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...