yang dapat dimanfaatkan dari “memperlebar secara bebas batas-batas nasional dan politiskita”.
1
Dengan demikian menurut Snouck segalanya akan secara sukarela menghampirimereka. Kanalisasi pergerakan nasional yang bergandengan tangan dengan otoritas lokalplus Islam itu menurutnya dapat dilakukan dengan “memberikan pendidikan barat kepadapenduduk Indonesia terutama kaum elitnya dapat membuat mereka menyimpang dari jalurIslam ke arah persatuan kebudayaan dengan orang Belanda…”
2
Seperti telah diketahui perkembangan Islam pasca dibukanya Terusan Suez cenderungberirama Arabic. Akar tradisi di Minang, Aceh dan Semenanjung Malaya memang memilikikedekatan dengan pusat-pusat ortodoksi Islam, seperti Mekkah, Kairo, Baghdad dan Turki.Terutama Padang dan Minang, wilayah ini telah mendapat terpaan dari rasionalitas yangdibangun oleh Mohammad Abduh
3
yang kemudian diteruskan oleh Syaikh Ahmad Khatib.
4
Lalu di Jawa, berdirinya Demak Bintara sebagai sebuah patron baru tidaklah kemudianmemberangus akar-akar puritanisme Hindu-Budha. Hal itu nampak dari bagaimana setelahmenggantikan kedudukan Sultan Pajang,
Senopati
sesegera mungkin memproklamirkanotoritas ‘Mataram Baru-nya’ melalui padu-padan budaya pra-pasca Hindu-Budha.Secara utuh, konsep kesesuaian ini sendiri mencapai puncaknya pada jaman
Sultan Agung
.Raja ketiga Mataram ini berusaha melebur pergesekan antara ‘sisa-sisa’ Hindu-Budha (bacaMajapahit) dengan pergerakan Islam.
5
Jurang sosial dan kultural antara keduanya diikat
1
Abd al-Ghaffar
atau lebih dikenal dengan nama Christian Snouck Hurgronje telah dengangemilang membaca sekat antara kaum ulama dan adat di Aceh. Keberhasilannya melihat celah itumembuat Belanda berhasil memenangkan perang panjang dengan Aceh yang telah menghabiskandana besar. Merujuk pada pola kerja Belanda tersebut, menjadi pertanyaan yang menarik bagipenyusun, untuk mengetahui siapakah kiranya yang telah ‘mengarsiteki’ kerja besar itu di Jawa. Lih.Hurgronje, Snouck. 1973.
Islam di Hindia Belanda
(terjemahan). Jakarta: Bharatara.
2
Dalam Kahin, 1995: 62-63.
3
Mohammad Abduh, seorang pembaharu Islam di Kairo, Mesir. Tahun 1884 bersama Jamalal-Din al-Afghani menerbitkan dua majalah Islam di Paris yang kemudian menggoncang rasionalitasEropa dan bahkan dunia Islam sendiri. Majalah tersebut dibinasakan kolonial Inggris di dunia Timurdan dilarang di Mesir dan India. K.H. Ahmad Dahlan berhasil memperoleh dan berusahamenerapkannya di Jawa.
4
Syaikh Ahmad Khatib adalah seorang keturunan hakim Paderi yang kemudian menetap diMekah dan menjadi guru bagi banyak generasi pembaharu Islam, seperti Syaikh Muhammad DjamilDjambek, Haji Abdul Karim Abdullah, Haji Abdullah Ahmad (Minangkabau), Syaikh Sulaiman ar-Rasuli (Bukittinggi), Kyai Haji Hasjim Asj’ari (pemimpin Nahdlatul Ulama), dan Kyai Haji AhmadDahlan (pendiri Muhammadiyah). Lih. Noer: 1996, 39.
5
Menurut penyusun, peleburan yang diupayakan Agung tidak terbatas pada pengertian yangsempit melainkan cenderung komprehensif-spekulatif. Hal ini terlihat dari beberapa kebijakan awal dimasa kepemimpinannya, terutama ‘kedekatannya’ dengan pihak kolonial. Sikap akomodatifnyaterlihat dari kesepakatan-kesepakatan seperti pertukaran 4 meriam dengan ijin mendirikan bentengbagi Belanda di Jepara, selain janji untuk memberi bantuan batu bata bagi pembangunan benteng,tidak menarik bea dan lain-lain. Menurut de Graaf & Pigeaud (1986: 54), kerjasama ini dapat ditafsirsebagai usaha untuk memperluas ‘kewibawaan’ pedalaman selain usaha ‘merekrut’ kekuatan militerdan armada laut kolonial untuk menghadapi kekuatan pesisir yang masih belum mau mengakuikedaulatannya secara utuh. Disisi lain bagi penyusun, kedekatan ini merupakan sinyalemen gerilyadari dalam. Secara positif berarti melakukan kerjasama yang saling ‘menguntungkan’ dengan pihak
Leave a Comment
menyegarkan neh bacaan!!!