Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Untitled

Untitled

Ratings: (0)|Views: 328 |Likes:

More info:

Published by: Aprilia Xaviethree Peleselut on Aug 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

 
Kepatuhan Hukum Terhadap Etika Berlalu Lintas485
TINGKAT KEPATUHAN HUKUM SISWA SMA KARTIKA IV-3 SURABAYATERHADAP ETIKA BERLALU LINTAS MENURUTUNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALANAprilia Safitri
094254014 (PPKn, FIS, UNESA)aprilia.safitri014@gmail.com
Tamsil Rahman
0003046209 (PPKn, FIS, UNESA)tamsilrahmanunesa@yahoo.com
Abstrak 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana tingkat kepatuhan hukum siswa SMA KartikaIV-3 Surabaya terhadap etika berlalu lintas menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel dalam penelitian ini diambil secara
 stratifilied random sampling 
yakni sebesar 85 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket dan dokumentasi.Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif persentase. Hasil penelitianmenunjukkan tingkat kepatuhan hukum siswa SMA Kartika IV-3 Surabaya terhadap etika berlalu lintasmenurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 masuk dalam kategori cukup patuh. Namun, kualitastingkat kepatuhan terhadap hukum masih dalam taraf 
compliance
atau menghindari sanksi atau hukuman.Maka, efektivitas berlakunya suatu aturan hukum atau perundang-undangan dalam hal ini Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 masih rendah. Hasil angket yang disebarkan pada siswa diketahui bahwa ada tigafaktor yang melatarbelakangi siswa mematuhi hukum yakni (1) adanya rasa takut terhadap sanksi dantindakan petugas kepolisian bila ia melanggar peraturan, (2) adanya
 
kesadaran dari diri sendiri bahwamenaati peraturan lalu lintas sangat penting untuk keselamatan diri sendiri maupun orang lain, dan (3)adanya sikap saling menghargai dan menghormati antar pengguna jalan. Selain itu diketahui juga ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak patuh pada hukum yakni terburu-buru, keadaan (mendesak atau darurat dan terpaksa), dan faktor lupa.
Kata Kunci :
Kepatuhan Hukum, Etika Berlalu lintas, dan Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2009
Abstract
This study aims to describe how the level of compliance of the law of school students Kartika IV-3Surabaya of the traffic ethics according to Law No. 22 of 2009. This research is descriptive quantitative.The samples taken with technique stratifilied random sampling is equal to 85 students. Data was collectedthrough questionnaires and documentation. The analysis technique used in this study is a descriptiveanalysis of the percentage of. The results showed high levels of compliance of the law students Kartika IV-3 Surabaya of the traffic ethics according to Law No. 22 of 2009 in the category of pretty obedient.However, the quality level of compliance with the law is still in the stage of compliance or avoidingsanctions or penalties. Thus, the effectiveness of a rule of law or enactment of legislation in this regard theAct No. 22 of 2009 is still low. The results of a questionnaire distributed to the students aware that there arethree factors behind students comply with the law (1) the fear of sanctions and actions of police officerswhen he was breaking the rules, (2) an awareness of themselves that obeying traffic rules is very importantfor safety of themselves or others, and (3) the existence of mutual appreciation and respect between roadusers. Also, there are also several factors that cause students do not adhere to the law namely haste (urgentor emergency and forced), and the forgotten factor.
Keywords
: Legal Compliance, traffic Ethics, and Law No. 22 of 2009
PENDAHULUAN
 
Indonesia adalah negara berkembang dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Total jumlah penduduk Indonesia untuk tahun 2012/2013 mencapai237.641.326 dengan rincian usia dibawah 15 tahunsebesar 68.603.263 (28,9%) dan untuk usia 15 tahunsampai dengan 64 tahun sebesar 157.053.11 (66,1%)
 
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Nomor 1 Volume 3 Tahun 2013sedangkan untuk usia di atas 64 tahun sebesar 11.984.951(5,0%). Sebagai salah satu negara berkembang di duniadengan jumlah penduduk yang menembus angka 200 juta,mengakibatkan dibutuhkannya sarana dan prasarana untuk menunjang mobilitas yang tinggi diantara penduduknya.Karena pada era globalisasi seperti saat ini transportasimerupakan sarana yang sangat penting dalammemperlancar kegiatan manusia.Berbagai jenis transportasi yang telah tercipta dewasaini sangat memudahkan manusia dalam memenuhikebutuhannya, akan tetapi dari semua jenis transportasi,sepeda motor masih menjadi alat transportasi favorit dikalangan masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu saranatransportasi yang paling diminati, ada 6 (enam) alasanmengapa sepeda motor lebih banyak dimanfaatkan, yaitu:irit bahan bakar, harga jauh lebih murah, lebih mudahdiperbaiki, dapat meluncur sepanjang jalan, dapat sampai
lebih cepat, serta lebih ”
Stylish
”.
) 
Hal ini dapat dilihat berdasarkan data dari AsosiasiIndustri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Penjualan sepedamotor di Indonesia pada tahun 2011 bahkan melampaui penjualan di dua benua. Total penjualan sepeda motor diEropa dan Amerika jika digabungkan tak mampumenandingi penjualan di Indonesia. Profil penggunasepeda motor sebagian besar adalah golongan menengah bawah yang mencapai 56,5% dari total penduduk Indonesia.Seiring dengan banyaknya masyarakat yangmemanfaatkan sepeda motor sebagai sarana transportasisehari-hari tidak diimbangi dengan sikap bertanggung jawab dan patuh atau taat terhadap etika berlalu lintas atautata cara berlalu lintas yang baik dan benar menurutUndang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang LaluLintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Sehingga, banyak menyebabkan terjadinya kecelakaan. Padahal dalamUndang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dalam pasal 258telah dijelaskan bahwa :
“Masyarakat wajib berperan serta dalam
 pemeliharaan sarana dan prasarana jalan, pengembangan disiplin dan etika berlalu lintas,dan berpartisipasi dalam pemeliharaanKeamanan, Keselamatan, Ketertiban, danKelancaran Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan.”
 Kepatuhan hukum masyarakat terhadap etika berlalulintas dapat dikatakan masih rendah. Hal ini dapat dilihatdalam kehidupan sehari-hari banyak pengguna kendaraansepeda motor yang menyalip kendaraan tanpamengindahkan rambu-rambu atau marka jalan,mengemudikan kendaraan bermotor tidak dengan penuhkonsentrasi karena sambil mengoperasikan teleponseluler, mendesain sepeda motornya tidak sesuai denganstandar pabrik bahkan tidak melengkapi diri dengan SIM.Padahal SIM merupakan bukti kompetensi bagiseseorang yang telah lulus uji pengetahuan, kemampuandan keterampilan untuk mengemudikan kendaraan bermotor di jalan dengan benar sesuai persyaratan yangditentukan berdasarkan Undang-undang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (LLAJ). Pelanggaran semacam ini seringkali dilakukan oleh pelajar. Dalam triwulan pertama tahun2012, mahasiswa dan pelajar mendominasi pelanggaranlalu lintas (lalin) di Surabaya. Jenis pelanggaran tertinggikarena pengendara tidak memiliki Surat Izin Mengemudi(SIM) dengan jumlah 17.466 pelanggar, kemudian disusul pelangaran marka dengan jumlah 14.872 pelanggar dan pelanggraan rambu-rambu lalu lintas dengan jumlah 6.868 pelanggar.(http://www.surabayapost.co.id) Hal ini diperkuat oleh pernyataan KasatlantasPolrestabes Surabaya, AKBP Asep Akbar Hikmana, yangmenyatakan bahwa pelanggar lalu lintas menurut profesimasih didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa dengan jumlah pelanggar sebanyak 20.262 orang. Dimana posisi pelanggar menurut tingkat pendidikan secara berturut-turut masih didominasi pelajar SLTA sebanyak 24.098,SLTP sebanyak 17.122 dan mahasiswa sebanyak 8.704dengan jenis kendaraan masih didominasi kendaraan rodadua (R2) sebanyak 46.806.(http://www.surabayapost.co.id/?) Sementara itu data Polrestabes Surabaya menyatakan perbandingan data kecelakaan selama Tahun 2012 tercatat1.131 kecelakaan, naik 1,07 % dari tahun sebelumnya.75% kecelakaan melibatkan kendaraan roda dua danfatalitas kecelakaan pengendaraa roda dua lebih tinggi.Tercatat, selama tahun 2012 korban meninggal pengendara R2 (roda dua) dan R4 (roda empat) sebanyak 310 jiwa (turun dari tahun 2011). Korban luka berat 468 jiwa (turun dari tahun 2011) dan luka ringan 831 jiwa(naik dari tahun 2011) dengan kerugian lebih banyak yakni sekitar Rp. 1,1 M (kerugian tahun 2008 sekitar Rp.850 juta).(http://www.surabayapagi.com/index.php?) Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pelanggaran lalu lintas banyak yang dilakukan olehkalangan pelajar dengan tingkat pendidikan secara berturut-turut masih didominasi pelajar SLTA. Olehkarena itu, perilaku berkendara siswa yang seringmelakukan pelanggaran dalam berlalu lintas menarik untuk dikaji. Faktor menarik tersebut dapat dilihat daritingkat kepatuhan siswa terhadap peraturan dalam berlalulintas yakni Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentangLLAJ serta faktor yang menyebabkan pelajar mematuhi peraturan dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009tentang LLAJ .Karena begitu luasnya cakupan dalam UU No.22Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan, pada penelitian ini hanya akan dibatasi pada item-item
etika berlalu lintas
atau tata cara dalam berlalu lintas
 
Kepatuhan Hukum Terhadap Etika Berlalu Lintas487kendaraan roda dua pelajar SMA Kartika IV-3 Surabayayang meliputi menggunakan helm SNI, menggunakan jalur sebelah kiri, menggunakan kaca spion,menggunakan lampu petunjuk arah, mengemudi sesuaidengan kecepatan yang diperbolehkan, memperlambatkecepatan pada tempat penyeberangan pejalan kaki/dekatsekolah/tempat keramaian atau pada persimpangan dantikungan, menyalakan lampu utama pada siang maupunmalam hari, memarkir dan menghentikan kendaraan,mengemudi dengan penuh konsentrasi, memiliki suratijin mengemudi, dan mematuhi rambu lalu lintas.Hasil observasi atau studi pendahuluan di SMAKartika IV-3 Surabaya diperoleh data awal bahwasebagian kendaraan siswa tidak dilengkapi dengan duaspion, serta ketika mengendarai motor sebagian dari siswaada yang tidak menggunakan helm. Hal ini merupakanmasalah yang sangat serius untuk dikaji dan diperhatikanagar menemukan alternatif yang positif untuk masasekarang dan yang akan datang (observasi awal tanggal 5Februari 2013).Alasan dipilih responden dari siswa SMA Kartika IV-3 Surabaya, hal ini dikarenakan siswa SMA Kartika IV-3Surabaya merupakan beberapa dari generasi muda yang berpendidikan dan sebagai bagian dari masyarakat yangmempunyai peran penting dalam mewujudkan ketertibanlalu lintas yaitu dengan mematuhi segala peraturan lalulintas yang bisa terwujud apabila siswa tersebutmempunyai kesadaran hukum. Alasan kedua penelitimengambil responden siswa SMA Kartika IV-3 Surabayaadalah bahwa baik siswa maupun siswi pada umumnya banyak yang berkendara dengan kendaraan bermotor untuk menuju ke sekolah mulai dari mereka yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah sampai yang bertempat tinggal jauh dari sekolah. Alasan lainnya adalahkarena di sekolah siswa juga diajarkan Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang di dalamnyamengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang baik.Berkaitan dengan hal ini maka sangat menarik sekaliuntuk meneliti tentang kepatuhan hukum siswa SMAKartika IV-3 Surabaya terhadap etika berlalu lintasmenurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009.
 
Sedangkan rumusan masalah dalam penelitian iniadalah bagaimana tingkat kepatuhan hukum siswa SMAKartika IV-3 Surabaya terhadap etika berlalu lintasmenurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009?.Hipotesis yang diajukan peneliti pada penelitian ini bahwatingkat kepatuhan hukum siswa SMA Kartika IV-3Surabaya terhadap etika berlalu lintas menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 masih rendah. Menurutasumsi peneliti tingkat kepatuhan hukum siswa sangatdipengaruhi oleh sanksi yang ada dalam suatu peraturan.Kepatuhan adalah suatu kondisi yang tercipta dan berbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yangmenunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,keteraturan dan ketertiban. Sikap atau perbuatan yangdilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakansebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani bilamana tidak dapat berbuat sebagaimana lazimnya(Prijadarminto, 2003).Sementara itu pengertian hukum sendiri menurutImmanuel Kant (dalam Kansil, 1989:36) adalah:
“aturan tingkah laku para anggota masyarakat,
aturan yang daya penggunanya pada saat tertentudiindahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminandari kepentingan bersama dan yang jika dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yangmelakukan pe
langgaran itu”.
 Utrecht (dalam Kansil, 1989:38) memberikan batasanhukum sebagai berikut: hukum adalah himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dankarena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.Dengan demikian, kepatuhan atau ketaatan hukum pada hakikatnya adalah serangkaian perilaku seseorangatau subjek hukum yang menunjukkan nilai taat, patuh,setia, teratur dan tertib terhadap peraturan-peraturan(perintah-perintah dan larangan-larangan). Menurut Ali(1993:302) kepatuhan hukum atau ketaatan hukum adalahkesadaran hukum yang positif. Sementara ituketidaktaatan hukum padahal yang bersangkutan memilikikesadaran hukum, berarti kesadaran hukum yangdipunyainya adalah kesadaran hukum yang negatif.Kesadaran hukum masyarakat tidak identik dengankepatuhan atau ketaatan hukum masyarakat itu sendiri.Hal ini dikarenakan kesadaran hukum yang dimiliki olehmasyarakat belum menjamin masyarakat tersebut akanmentaati suatu aturan hukum atau perundang-undangan(Ali: 1993:300).Menurut Soerjono, 1986:49-50, sitir pendapatnya L.Pospisil, 1971:200-201 (dalam Otje Salman:1989:53-55)ada beberapa faktor yang menyebabkan warga masyarakatmematuhi hukum, antara lain:a)
 
compliance,
yaitu:
“an overt ac
ceptance induced by expectation of rewards and an attempt to avoid possible punishment 
 – 
 not by any conviction in the desirability of the enforced nile. Power of the influencing agent is based on
‘means
-
control” and, as a consequence, the influenced 
 person
conforms only under surveillance”.
 Suatu kepatuhan yang didasarkan pada harapan akansuatu imbalan dan usaha untuk menghindari diri darihukuman atau sanksi yang mungkin dikenakan apabilaseseorang melanggar ketentuan hukum. Kepatuhan inisama sekali tidak didasarkan pada suatu keyakinan padatujuan kaidah hukum yang bersangkutan, dan lebihdidasarkan pada pengendalian dari pemegang kekuasaan.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->