berencana, keberlimpahan remaja adalah hasil alami. Dalam peningkatan penduduk, kami tidak jauh dari6% indeks kenaikan penduduk dari negara model Saudi Arabia. Hal ini memberikan supply para remajake madrasah-madrasah terpencil. Disana termasuk yang diculik, yatim atau pun anak-anak terlantar.Kemudian ada orang tua yang terlampau miskin untuk membesarkan mereka. Mereka secara sederhanamenjual atau mendermakan anak-anak lelaki untuk tabligh atau jihad atau tugas agama lainnya. Merekamemaknai perbuatan pengecut menjadi tindakan mulia.Pengajar menyalahgunakan anak-anak telah berlangsung lama sepanjang ada pengajar dan anak-anak.Tetapi tidak ada yang terorganisir seperti yang terjadi di Pakistan. Penyalahgunaan ini (diluar penyalahgunaan seksual) membuat bencana. Melangkah ke luar dari kota besar, kamu akan melihatratusan bahkan ribuan anak-anak kecil – dari usia enam sampai tiga puluh enam bulan. Sampai kini,anak-anak ini mengamati cara hidup mereka yang lebih tua, mereka hidup dan bersikap seperti anjing tak terlatih. Ini adalah kenyataan di Pakistan dan tak ada militer atau pemimpin politik yang susah tidur malam karena hal ini.Salah kelola keamanan negara telah membuat pemerintahan terlalu sibuk sehingga pergerakanmasyarakat menjadi prioritas yang rendah. Meskipun dalam dunia yang sempurna, pemimpin kami tidak dapat berbuat banyak tentang itu. Pekerjaan itu diluar kemampuan mereka. Hanya melaporkan itulah peran pemimpin selama tigapuluhan tahun terakhir. Mereka terikat protokoler dan tak ada waktu untuk yang lain.Apakah ini tetap dan tak ada perubahan. Tidak, tidak dalam tiga dasa warsa lainnya. Tiga dasa warsasetelah mengerjakan hal ini. Penurunan drsatis jumlah anak yang diproduksi, pendidikan modern untuk fondasi perang, sekolah dan guru standar dunia nomor satu. Maka mulai menghitung semuanya bersamaandi tempat ini.Dari Zia ke Zardari, dan semua di atara mereka, tak seorang pun mengakui bahwa kami mempunyaimasalah kelebihan penduduk. Demikian ini adalah ketakutan terhadap pandangan kaum agamakonservatif.Ini adalah persamaan: populasi yang berkembangbiak seperti tikus setara dengan kemiskinan setaradengan umpan meriam untuk organisasi agama dan jaringan teroris. Apakah anak-anak ini lebih baik di banding bekerja di bengkel motor dan pembuatan karpet? Mungkin ILO atau NGO dapat menjawab pertanyaan ini. Mereka sangat diam untuk sesuatu yang lebih buruk daripada pekerja anak.Ada alasan untuk itu: dalam hal keyakinan atau kepercayaan agama, tak seorang pun berani. Segalamacam perbuatan jahat, ilegal, atau tindakan tak manusiawi dapat diberikan sanksi apabila agama atausekte tertentu membuktikan bahwa itu bukan bagian dari iman. Kamu dapat sekarat di rumah sakit tetapitak seorang pun memberimu obat halusinasi narkotika. Tetapi kamu dapat menggunakan zat itu adalah bila itu menjadi bagian dari iman kamu. Di tahun 2006, Mahkamah Agung mengesahkan hal itu.Anak-anak kami menghadapi ketakutan masa depan bukan karena Taliban ( mereka sangat sedikit) tetapikarena gelombang agama ultra konservatif yang telah melanda negara ini. Madrasah-madrasah terpencilmungkin mengubah anak-anak lelaki menjadi lebah jantan. Tetapi kemudian ada ribuan madrasah diseluruh pedesaan Pakistan yang memproduksi lebah-lebah baru yang mungkin tidak akan menjadi pelaku bom bunuh diri tetapi tidak selaras dengan kehidupan dunia. Anak-anak ini perlu diselamatkan.Alfred Hitchcock, Direktur perfilman besar dengan spesialisasi menakutkan orang, ketika mengendaraidi Swiss tiba-tiba menunjukkan ke luar jendela mobil dan mengatakan, ” Itu yang paling menakutkan yang pernah saya telah lihat. ” Itu adalah pendeta yang bercakap-cakap dengan anak lelaki kecil, dengantangannya di punggung sang anak.Hitchcock mengeluarkan tubuhnya dari jendela mobil dan berteriak, ” Lari, pemuda kecil! Lari untuk hidup kamu! “
Last Modified : May 14th, 2009 Filed under :Semangat IndonesiaNavigate :Previous post/ Next post
Comments (No comments)What do you think?
Terorisme di Pakistan: Lebah Jantan Pedesaan Tidak Memperbaiki Ma...http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=5152 of 315/06/2009 12:11
Leave a Comment