HomeTentang KamiKirim TulisanDhruva, Tekad Pengabdian Seorang Anak Recent Article links:
Article
Makanan Ber-aura Kekejaman dan KecemasanMempengaruhi Nusantara
Sepasang suami isteri bercengkerama di meja makan berduaan saja. Di depan mereka, menu dagingsudah sedikit sekali, karena kesukaan mereka hanya tahu, tempe dan sayur-sayuran. Ternyata dalam nasidan sayuran pun sudah ada pengaruh kekejaman dan kecemasan yang masuk ke dalam tubuh mereka. Marikita dengarkan pembicaraan mereka.
Sang Suami:
Tahukah Isteriku, nasi yang kita makan saat ini sudah jauh berbeda dari nasi yang kitamakan sewaktu kita masih kecil?
Sang Isteri:
Kalau dari rasa, aku kira hampir sama, padi rajalele tetap pulen dan bijinya besar-besar dan utuh. Maksud Suamiku, prosesnya produksinya yang berbeda?
Sang Suami:
Coba simak uraianku ini. Perhatikan kecemasan petani masa kini. Mengolah tanah dengantraktor, menanam benih, membeli pupuk dan insektisida, semuanya membutuhkan modal cukup besar.Musim yang tak dapat diduga, sehingga tanaman sering kekeringan atau terendam banjir. Harga panenyang biasa merosot, Pupuk yang sering langka, kemudian apakah modal pinjaman bisa dikembalikan?Berbagai kecemasan petani sepanjang masa tanam akan mempengaruhi, memberi vibrasi kecemasankepada tanaman padi yang ditanamnya. Selanjutnya, padinya kita makan, apakah padi penuh vibrasikecemasan ini tidak membuat kita lebih mudah cemas? Bukankah padi ini yang akan menjadi otak jantungdan organ lain?
Sang Isteri:
Akan tetapi, bukankah kita membayar harga beras dengan harga yang wajar, suamiku?
Sang Suami:
Mungkin iya, tetapi siapa yang banyak menerima keuntungannya? Bukankah penyedia mesintraktor, perusahaan penyuplai benih dan sarana pertanian dan juga distributor produk pertanian? Apakah petani kita makmur? Tahun-tahun belakangan ini petani diming-imingi tanaman hibrida, hasilnya berkalilipat. Tetapi butir-butir padi ini dikebiri, sehingga petani tidak bisa membuat benih sendiri, harustergantung pada benih buatan pabrik. Selanjutnya, tanaman ini memiliki sifat rakus unsur hara, sehinggaharus dibantu pupuk kimia. Tanaman ini juga rentan hama, maka perlu pembasmi serangga yang juga dari bahan kimia. Bahan kimia ini tidak memberi ruang hidup bagi makhluk hidup dalam tanah. Sehingga tak ada unsur hara alami, dan petani semakin tergantung pada pupuk kimia.
Sang Isteri:
Maksud Suamiku, ada pihak yang hanya berproduksi berdasar kalkulasi untung rugi danmelalaikan dampak lingkungan? Vibrasi ketidak hormatan terhadap lingkungan ini akan mempengaruhilingkungan yang menjadi kurang bersahabat dengan manusia?
Sang Suami:
Bukan hanya itu Isteriku, atmosfir materialistis membentuk petani menjadi kejam, semuahama harus ‘dibunuh’ dengan zat kimia yang tanpa disadari juga ‘membunuh’ makhluk di sekitarnya.Petani yang materialistis, tamak dan serakah terhadap produktivitas. Padahal kehidupannya sendiri
Makanan Ber-aura Kekejaman dan Kecemasan Mempengaruhi Nusantara...http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=3651 of 315/06/2009 12:3
Leave a Comment