Ketika Partai Masyumi, media politik milik M. Natsir dibubarkan olehOrde Lama tahun 1960, beliau dan rekan-rekan perjuanganyaditahan dan dikebiri hak-hak politiknya. Maka setelah keluar daritahanan, pada tahun 1967, beliau bersama rekan-rekanperjuangannya mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.Lembaran perjuangan Masyumi kembali dilanjutkan. Dewan Da’wahpun ketika itu tidak saja mewarisi perjuangan tokoh-tokoh Masyuminamun juga aset-asetnya melalui Yayasan Pembangunan Ummat(YPU)). Dewan Dawah menjadikan M. Natsir sibuk dan semakin sibukhingga akhir hayatnya. Melalui Dewan Da’wah, jabatan-jabatanpenting tingkat dunia Islam dipikulnya. Beliau juga hadir dalamforum-forum penting perjuangan Ummat Islam dunia. MenurutHussein Umar
Allahyarham
, kelahiran Dewan Da’wah ini melaluiperenungan M. Natsir yang amat panjang selama di penjara. Dalamistilah M. Natsir, ”kalau dulu berda’wah lewat politik, ketika keranpolitik ditutup, sekarang berpolitik lewat da’wah”.Ranah perjuangan M. Natsir bertambah luas, pengaruhnya semakinmenguat, tidak saja bagi kader perjuangan di negeri kelahirannya,negeri lain pun merasakan denyut juangnya, Raja Faisalmengatakan, ”Natsir bukan saja milik ummat Islam Indonesia, tapipemimpin dunia Islam”. Ketika Jepang dipimpin PM. Takeo Fukuda,Perdana Menteri itu menjadikan M. Natsir sebagai guru politiknya,tidak kurang 200 kali PM Jepang itu mengutus orang pentingnyauntuk menemui M. Natsir hanya sekedar ingin berdialog.Ya, saya lebih setuju M. Natsir bukan milik dan berpihak kepadasiapa-siapa, namun beliau lebih milik dan berpihak pada kebenaran,kejujuran, keikhlasan yang pasti abadi, Itulah yang dida’wahkanoleh seorang M. Natsir, baik ketika keran politik Masyuminyaterbuka atau sekembalinya dari rumah tahanan. Maka, gelarPahlawan Nasional untuk DR. M. Natsir membuka peluang besarbagi pengkaji sejarah untuk meneliti dan menulis sejarah negerinyayang bselum lengkap terekam dan tercatat. Selain itu, gelar ini jugamengajarkan pada generasi sekarang akan pentingnya moral dalamberpolitik, konsisten pada nilai juang universal.Sekedar mengingat, wartawan senior Media Dakwah, Aru Syeif Assad menceritakan, ketika Pak Natsir tiba takdirnya menghadap
IlahiRobbi
, Sabtu 6 Februari 1993, betapa membludaknyapentakziah semalam suntuk di Jalan Jawa (Cokroaminoto) 46,sampai keesokan siangnya ketika jenazah dibawa ke Kramat Raya45 untuk dishalat-jenazahkan di masjid Al-Furqan, Dewan Da’wah.Masjid Al-Furqan yang berlantai tiga termasuk aulanya, diluberipentakziah yang basah kuyup karena hujan lebat. Sholat jenazahdilaksanakan sampai tiga babak. Bisa diyakini yang menghadiritakziah di Kramat 45 ini mencapai 10.000 orang. Sebagianpentakziah ini ikut menghantarkan jenazah sampai ke pekuburan -walau terpecah pecah kelompoknya - sambil berhujan basah kuyup. Yang amat mengharukan kata wartawan tersebut, di pekuburansudah banyak generasi muda Islam yang menunggu. Ketika iring-iringan jenazah mencapai Karet, kelompok-kelompok pemuda itu
Leave a Comment
ouch, materi dakwah koq nda bole di donlot bos :(