Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bilirubin Neonatus

Bilirubin Neonatus

Ratings: (0)|Views: 7 |Likes:
Published by Ryan Ismail
billirubin
billirubin

More info:

Published by: Ryan Ismail on Sep 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2013

pdf

text

original

 
IKTERUS FISIOLOGIS
Secara umum, setiap neonatus mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin serum, namun kurang 12mg/dL pada hari ketiga hidupnya dipertimbangkan sebagai
ikterus fisiologis
. Pola ikterus fisiologis pada bayibaru lahir sebagai berikut: kadar bilirubin serum total biasanya mencapai puncak pada hari ke 3-5kehidupan dengan kadar 5-6 mg/dL, kemudian menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir.Kadang dapat muncul peningkatan kadar bilirubin sampai 12 mg/dL dengan bilirubin terkonyugasi <1 2mg/Dl.
 
Pola ikterus fisiologis ini bervariasi sesuai prematuritas, ras, dan faktor-faktor lain. Sebagai contoh, bayiprematur akan memiliki puncak bilirubin maksimum yang lebih tinggi pada hari ke-6 kehidupan danberlangsung lebih lama, kadang sampai beberapa minggu. Bayi ras Cina cenderung untuk memiliki kadar puncak bilirubin maksimum pada hari ke-4 dan 5 setelah lahir.Faktor yang berperan pada munculnya ikterus fisiologis pada bayi baru lahir meliputi peningkatan bilirubinkarena polisitemia relatif, pemendekan masa hidup eritrosit (pada bayi 80 hari dibandingkan dewasa 120hari), proses ambilan dan konyugasi di hepar yang belum matur dan peningkatan sirkulasi enterohepatik.Ikterus fisiologis menurut Tarigan (2003) dan Callhon (1996) dalam Schwats (2005) adalah ikterus yangmemiliki karakteristik sebagai berikut:
• Timbul pada hari kedua –
ketiga
• Kadar bilirubin indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan dan 10 mg %
per hari pada kurang bulan
• Kecepatan peningk
atan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari
• Kadar bilirubin direk kurang
dari 1 mg %
• Ikterus hilang pada 10 hari pertama
 
• Tidak mempunyai dasar patologis
 
IKTERUS PATOLOGIS
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi. Tingginya kadar bilirubinyang dapat menimbulkan efek patologi pada setiap bayi berbeda-beda. Dapat juga diartikan sebagai ikterusdengan konsentrasi bilirubin, yang serumnya mungkin menjurus ke arah terjadinya
kerinkterus
bila kadar bilirubin tidak dikendalikan.Ikterus yang kemungkinan menjadi patologi atau dapat dianggap sebagai hiperbilirubinemia ialah:1.
 
Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran2.
 
Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.3.
 
Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonates kurang bulan dan 12,5 mg% pada neonatescukup bulan4.
 
Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dansepsis).5.
 
Ikterus yang disertai berat lahir kurang dari 2000 gram, masa gestasi kurang dari 36 minggu, asfiksia,hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitasdarah.
Kernikterus
ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonates cukup bulandengan ikterus berat (bilirubin indirek lebih dari 20 mg% dan disertai penyakit hemolitik berat danpada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kernikterus secara klinis berbentuk kelainan sarafspastic yang terjadi secara kronik.
ETIOLOGI
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :1.
 
Produksi yang berlebihan. Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya padahemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, AB0, golongan darah lain, defisiensi enzimG-6-PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.2.
 
Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi akibat dari gangguan fungsi hepar. Gangguan ini dapatdisebabkan oleh bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidakterdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom criggler-Najjar). Penyebab lain yaitu defisiensi
protein. Protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
 3.
 
Gangguan transportasi karena kurangnya albumin yang mengikat bilirubin.Bilirubin dalam darahterikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapatdipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyakterdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.4.
 
Gangguan ekskresi yang terjadi akibat sumbatan dalam liver (karena infeksi atau kerusakan sel liver).Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar hepar. Kelainan diluar hepar 
 
biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi ataukerusakan hepar oleh penyebab lain.
TANDA DAN GEJALA
Gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :1.
 
Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi,tidak mau minum dan hipotoni.2.
 
Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayiyang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguanpendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membranemukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat pula disertai dengangejala-gejala:1. Dehidrasi.Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum, muntah-muntah)2. Pucat. Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. Ketidakcocokan golongan darah ABO, rhesus,defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular.3. Trauma lahir. Bruising, sefalhematom (peradarahan kepala), perdarahan tertutup lainnya.4. Pletorik (penumpukan darah). Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong talipusat.5. Letargik dan gejala sepsis lainnya.6. Petekiae (bintik merah di kulit). Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis.7. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksikongenital, penyakit hati8. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa)9. Omfalitis (peradangan umbilikus)10. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid)11. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus)12. Feses dempul disertai urin warna coklat. Pikirkan ke arah ikterus obstruktif, selanjutnya konsultasikan kebagian hepatologi.
PENILAIAN IKTERUS MENURUT KRAMER
 Menurut Kramer, ikterus dimulai dari kepala, leher dan seterusnya. Untuk penilaian ikterus, Kremer membagi tubuh bayi baru lahir dalam lima bagian yang di mulai dari kepala dan leher, dada sampai pusat,pusat bagian bawah sampai tumit, tumit pergelangan kaki dan bahu pergelangan tangan dan kakiserta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan.Cara pemeriksaannya ialah dengan menekan jari telunjuk di tempat yang tulangnya menonjol seperti tulanghidung, tulang dada, lutut, dan lain lain. Kemudian penilaian kadar bilirubin daritiap tiap nomor di sesuaikandengan angka rata-rata dalam gambar. Cara ini juga tidak menunjukkan intensitas ikterus yang tepat didalam plasma bayi baru lahir. Nomor urut menunjukkan arah meluasnya ikterus.Tabel. Derajat ikterus pada neonatus menurut kramer Zona Bagian tubuh yangkuningRata-rata serum bilirubin indirek1 Kepala dan leher 1002 Pusat-leher 1503 Pusat-paha 2004 Lengan + tungkai 2505 Tangan + kaki >250
PATOFISIOLOGI
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Keadaan yang sering ditemukanadalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapatditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal inidapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang
 
memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atauneonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutamaditemukan ada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat inimemungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus darah otak.Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kern ikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syarafpusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaanneonatus. Bilirubin indirek akan mudah melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat BadanLahir Rendah, hipoksia, dan hipolikemia.
KLASIFIKASI
 
 
Ikterus HemolitikIkterus hemolitik disebabkan oleh lisis (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus hemolitikmerupakan penyebab prahepatik karena terjadi akibat faktor-faktor yang tidak harus berkaitan denganhati. Ikterus hemolitik dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati tidak dapatmengkonjugasikan semua bilirubin yang dihasilkan. Ikterus ini dapat dijumpai pada reaksi transfuse, ataulisis sel darah merah akibat gangguan hemoglobin, misalnya anemia sel sabit dan talasemia. Destruksi seldarah merah karena proses otoimun yang dapat menyebabkan ikterus semolitik.Pada ikterus hemolitik apapun sebabnya, sebagian bilirubin akan terkonjugasi (disebut bilirubin bebas atauhiperbilirubinemia indirek) akan meningkat.
 
Ikterus Hepatoseluler Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi hepatosis dan disebutikterus hepatoseluler. Disfungsi hati dapat terjadi apabila hepatosit terinfeksi dan oleh virus, misalnya padahepatitis, apabila sel sel hati rusak akibat kanker atau sirosis. Sebagian kelainan kongenital jugamempengaruhi kemampuan hati untuk menangani bilirubin, Obat-obatan tertentu termasuk hormonesteroid, sebagian anti biotic dan anestetik halotan juga dapat mengganggu sel hati. Apabila hati tidak dapatmengkonjugasikan bilirubin, kadar bilirubin terkonjugasi akan meningkat sehingga timbul ikterus.
 
Ikterus ObstruktifSumbatan terhadap aliran empedu keluar hati atau duktus biliaris disebut ikterus obstruktif. Ikterusobstruktif dianggap berasal intrahepatik apabila disebabkan oleh sumbatan aliran empedu melintasi duktusbiliaris. Obstruksi intra hepatik dapat terjadi apabila duktus biliaris tersumbat oleh batu empedu atautumor.Pada kedua jenis obstruksi tersebut, hati tetap mengkonjugasikan bilirubin, tetapi bilirubin tidak dapatmencapai usus halus. Akibatnya adalah penurunan atau tidak adanya ekskresi urobilinogen di tinja sehinggatinja berwarna pekat. Bilirubin terkonjugasi tersebut masuk ke aliran darah dan sebagian besar diekskresikan melalui ginjal sehingga urin berwarna gelap dan berbusa. Apabila obstruksi tersebut tidak diatasi maka kanalikulus biliaris di hati akhirnya mengalami kongesti dan rupture sehingga empedu tumpahke limfe dan aliran darah.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PENUNJANG
 
 
Visual
Metode visual memiliki angka kesalahan yang tinggi, namun masih dapat digunakanapabila tidak ada alat. Pemeriksaan ini sulit diterapkan pada neonatus kulit berwarna,karena besarnya bias penilaian. Secara evidence pemeriksaan metode visual tidakdirekomendasikan, namun apabila terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakanuntuk tujuan skrining dan bayi dengan skrining positif segera dirujuk untuk diagnostikdan tata laksana lebih lanjut.WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual, sebagaiberikut:
 a) Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karenaikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat padapencahayaan yang kurang.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->