Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
31Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Desentralisasi Fiskal dan Pajak - Retribusi Daerah pada Era Otonomi Daerah - Words 2007

Desentralisasi Fiskal dan Pajak - Retribusi Daerah pada Era Otonomi Daerah - Words 2007

Ratings: (0)|Views: 2,356 |Likes:
Published by Nyoman Rudana

More info:

Published by: Nyoman Rudana on Jun 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

 
Mata Kuliah :
KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH
Dosen : Dr. Roy V. Salomo
KOMENTAR, IDENTIFIKASI MASALAH DAN REKOMENDASITENTANG
PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH(Sumber : Kompas 22 Mei 2009 )
KEBIJAKAN DESENTRALISASI FISKAL DANPENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ( NKAPBN2009)
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ( PDRD )( Terkait UU no 34 tahun 2000 )
Nyoman Rudana
NPM 08.D.040
Magister Administrasi Publik Manajemen Pembangunan DaerahSTIA LAN Jakarta
I.TANGGAPAN TENTANG KOMPAS 22 MEI 2009.
 
 Artikel yang akan dibahas adalah : (1) Sewindu Otda, Masih Jauh dari Harapan, (2)Kacamata Kuda danHancurnya SDA, (3)Kewenangan Tumpang tindih menjadi tidak produktif, (4)Sejarah Panjang PengaturanOtonomi, (5)Kuncinya di Kapasitas Birokrasi. Namun sesuai dengan mata kuliah Keuangan Negara danDaerah, pembahasan dititikberatkan kepada hal – hal terkait dengan transfer dana dari pusat ke daerah.Dalam tulisan ini ada kerancuan mengenai pengertian
 pembangunan daerah
dan
otonomi daerah
 yang dikaitkan dengan transfer dana dari pusat ke daerah. Pada dasarnya semua pembangunan dilakukandi daerah termasuk di DKI Jaya. Hanya sebelum otonomi daerah, daerah hanya menjadi pelaksana padakegiatan dekonsentrasi dan menyediakan dana serta pelaksana pada tugas pembantuan. Jadipembangunan ada di daerah dengan kebijakan , sumber dana dan serta pelaksanaan semua ditentukanoleh pemerintah pusat. Dana yang digunakan ditransfer dari pusat ke daerah dan merupakan danadekonsentrasi, dimana pelaksana kegiatan adalah orang pusat yang ada di daerah. APBN sebagian besar untuk membiayai daerah baik belanja modal,99% untuk daerah dan hanya 1%,untukbelanja Deplu, namun dana transfer dari APBN yang langsung ke kas Daerah ( APBD ) mencapai67,4%. Juga dilihat dari jumlah PNS yang ditransfer ke daerah 2,5 juta orang sehingga lebih banyak PNSdi daerah daripada di puat.Ini baru proses dan belum memberi hasil (output) dan belum mencapai tujuanotonomi daerah memajukan daerah dan kesejahteraan rakyat Indonesia.Setelah ada otonomi, sebagian urusan pemerintahan diserahkan ke daerah dengan asasdesentralisasi. Untuk menunjang berjalannya desentralisasi kewenangan di daerah , dilakukandesentralisasi fiskal dengan instrumen utamakebijakan transfer ke daerah, yang terdiri atas DanaPerimbangan dan Dana Otonomi Khusus. Dana Perimbangan terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK), yang merupakan komponen terbesar dari danatransfer ke daerah. Selain PAD, dana yang ditransfer dari pusat ini merupakan salah satu bentupendapatan daerah.Dalam bagan Alur Belanja APBN ke Daerah yg ada pada artikel Kewenangan Tumpang TindihMenjadi Tidak Produktif, Nampak bahwa PNPM, BOS, Jamkesmas dikategorikan sebagai dana bantuan yang merupakan Belanja Pemerintah Pusat, padahal seharusnya termasuk ke dalam DAK, yaitu specificgrant, yang jelas dan spesifik tujuan penggunaan dananya.Kewenangan yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah menimbulkan banyak halmerugikan termasuk dalam pembuatan kebijakan yang tumpang tindih yang berakibat ekonomi biayatinggi yang membebani pengusaha sehingga menurunkan daya saing investasi daerah tersebut. Jugasangat besar peluangnnya menjadi temuan BPK pada saat melaksanakan audit keuangan dari kinerjaDaerah, temuan BPK terus menerus dari tahun 2002 – 2007 masih sangat buruk, bahkan ada predikatdisclaimer (tidak dapat memberi keterangan) seperti contoh : Daerah Kaltim, Papua, Sumatra Barat dll).Ke depan diharapkan akuntabilitas dalam menggunakan anggaran akan lebih baik.
II.KEBIJAKAN DESENTRALISASI FISKAL DAN PENGELOLAANKEUANGAN DAERAH 2009
1
 
Beberapa tantangan dan kendala terkait dengan Kebijakan Desentralisasi Fiskal dan PengelolaanKeuangan Daerah 2009 adalah sebagai berikut :
 1.Implikasi desentralisasi fiskal terhadap perkembangan ekonomi daerah.
Meskipun peningkatantransfer dari Pemerintah ke daerah diiringi perbaikan tingkatkesejahteraan masyarakat,perlu diperhatikan kondisi daerah dan korelasi antara transferdan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari data Depkeu dan BPS ditemukan bahwa(1) indikator tingkat kesejahteraan masyarakat secara nasional menunjukkan perbaikan, tetapitidak semua daerah mengalami perbaikan. Dari 33 propinsi, terdapat 15 propinsi denganpenurunan % penduduk miskin dan 18 propinsi dengan peningkatan % penduduk miskin.(2) Peningkatan transfer diiringi dengan perbaikan tingkat kesejahteraan, tetapi korelasinyasangat rendah yaitu kurang dari o,5 bahkan mendekati nol. Dari NAPBN 2009 nampak bahwa beberapa daerah yang rata-rata transfer per kapitanya tinggi justru menunjukkan rata- rata %penduduk miskin yang tinggi pula. Ini mengindikasikan transfer pemerintah ke daerah masihterkonsentrasi pada daerah yang tingkat kesejahteraannya masih rendah.
2.
 Efektivitas Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD )
 Akan dibahas di topik selanjutnya mengenai evaluasi UU 34 tahun 2000 tentang PDRD.
 3.Penerapan Standar Pelayanan Minimum ( SPM )
Menindaklanjuti ketentuan dalam UU no 34 tahun 2004 dan mendorong implementasi SPM,pemerintah menerbitkan
 PP no 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimum
. Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapakendala terkait dengan :(1) kompleksitas penyusunan indikator SPM, (2 ketersediaan danketerbatasan anggaran, (3) kompleksitas proses konsultasi publik dalam menentukan normadan standar untuk menghindari perbedaan persepsi dalam memberikan pelayanan publik sesuai SPM.
 4.Efektivitas kebijakan pengeluaran APBD
Efektivitas pengeluaran APBD sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternalpemda, antara lain proses penyusunan APBD, partisipasi masyarakat, dukungan politis dariDPRD, kesinambungan dengan APBD sebelum dan sesudah tahun anggaran yang bersangkutan, dan sinergi dengan program Pemerintah. Proses penyusunan APBD terkaitdengan mekanisme perencanaan yang melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan yangsangat beragam. Juga harus mampu mencerminkan kepentingan masyarakat yang tercermin
2

Activity (31)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Albart Slalu Ceria added this note
pajak apasih yg harus dikenakan oleh sorang pengusaha yg memberikan dampak negatif bagi lingkunagan?
Mochamad Solihin liked this
Ronny Gunawan liked this
Andika Pambudi liked this
Djunaidi Tauda liked this
Muhammad Haiqal liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->