Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Proses Perumusan, Implementasi, dan Evaluasi Kebijakan Publik

Proses Perumusan, Implementasi, dan Evaluasi Kebijakan Publik

Ratings: (0)|Views: 1,048|Likes:
Published by meyrzashrie
Tugas mata kuliah Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik.
Tugas mata kuliah Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik.

More info:

Published by: meyrzashrie on Sep 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/12/2014

pdf

text

original

 
A.
 
PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK Proses perumusan kebijakan adalah salah satu alat penting dalam tahapan kebijakanyang berkaitan dengan pengelolaan kebijakan, baik pemerintah maupun non-pemerintah.Banyak faktor yang perlu dipertimbangkam dalam proses perumusan kebijakan. Selain itu, para ahli harus menguasai makna kebijakan dan perumusan kebijakan, perumusan kebijakandalam siklus kebijakan, lingkungan kebijakan dan prosedur perumusan kebijakan, sertafaktor-faktor lainnya.Pembuatan kebijakan publik merupakan fungsi penting dari sebuah pemerintahan. Oleh karena itu, kemampuan dan pemahaman yang memadai dari pembuatkebijakan terhadap proses pembuatan kebijakan menjadi sangat penting bagi terwujudnyakebijakan publik yang cepat, tepat, dan memadai. Kemampuan dan pemahaman terhadap prosedur pembuatan kebijakan tersebut juga harus diimbangi dengan pemahaman dari pembuat kebijakan publik terhadap kewenangan yang dimiliki.Hal itu terkait dengan kenyataan sebagaimana diungkapkan oleh Gerston bahwakebijakan publik dibuat dan dilaksanakan pada semua tingkatan pemerintahan, karenanyatanggung jawab para pembuat kebijakan akan berbeda pada setiap tingkatan sesuai dengankewenangannya. Selain itu, menurut Gerston hal yang penting lainnya adalah bagaimanamemberikan pemahaman mengenai akuntabilitas dari semua pembuat kebijakan kepadamasyarakat yang dilayaninya. Dengan pemahaman yang seperti itu dapat memastikan pembuatan kebijakan publik yang mempertimbangkan berbagai aspek dan dimensi yangterkait, sehingga pada akhirnya sebuah kebijakan publik dapat dipertanggungjawabkan secaramemadai.Mengingat peran penting dari kebijakan publik dan dampaknya terhadap masyarakat,maka para ahli juga menawarkan sejumlah teori yang dapat digunakan dalam proses perumusan kebijakan serta kriteria yang dapat digunakan untuk mempengaruhi pemilihanterhadap suatu kebijakan tertentu. Teori dan kriteria tersebut dapat ditemukan dalam bukuAnderson tahun 2006 yang berjudul
 Public Policy Making: An Introduction
. MenurutAnderson, terdapat tiga teori utama yang dapat digunakan dalam proses pembuatan sebuahkebijakan yaitu:
 
a.
 
Teori rasional-komprehensif; adalah teori yang intinya mengarahkan agar pembuatansebuah kebijakan publik dilakukan secara rasional-komprehensif dengan mempelajari permasalahan dan alternatif kebijakan secara memadai. b.
 
Teori incremental; adalah teori yang intinya tidak melakukan perbandingan terhadap permasalahan dan alternatif serta lebih memberikan deskripsi mengenai cara yangdapat diambil dalam membuat kebijakan.c.
 
Teori mixed scanning
;
adalah teori yang intinya menggabungkan antara teori rasional-komprehensif dengan teori inkremental.Selain itu, Anderson juga mengemukakan enam kriteria yang harus dipertimbangkandalam memilih kebijakan, yaitu: nilai-nilai yang dianut baik oleh organisasi, profesi,individu, kebijakan maupun ideologi; afiliasi partai politik; kepentingan konstituen; opini publik; penghormatan terhadap pihak lain; serta aturan kebijakan.Berangkat dari gambaran kondisi tersebut, ini memberikan pemahaman mengenai proses pembuatan kebijakan dan berbagai pertimbangan yang meliputinya, khususnya yangterkait dengan tahapan perumusan kebijakan (
 policy formulation
). Terdapat sejumlah halyang akan menjadi fokus pembahasan dari tulisan ini yaitumakna kebijakan dan perumusankebijakan, perumusan kebijakan dalam siklus kebijakan,lingkungan kebijakan, serta prosedur  perumusan kebijakan. Menurut Jann dan Wegrich, di dalam tahap perumusan kebijakan, permasalahan kebijakan, usulan proposal, dan tuntutan masyarakat ditransformasikankedalam sejumlah program pemerintah.Perumusan kebijakan dan juga adopsi kebijakan akan meliputi definisisasaran, yaituapa yang akan dicapai melalui kebijakan serta pertimbangan-pertimbanganterhadap sejumlah alternatif yang berbeda. Perumusan kebijakan dalam prakteknya akanmelibatkan berbagai aktor, baik yang berasal dari aktor negara maupun aktor non-negara atauyang disebut sebagai pembuat kebijakan resmi (
official policy-makers
) dan peserta non- pemerintahan (
non-governmental participants
).Pembuat kebijakan resmi adalah mereka yang memiliki kewenangan legal untuk terlibat dalam perumusan kebijakan publik. Mereka terdiri atas legislatif, eksekutif, badanadministratif, serta pengadilan. Legislatif merujuk kepada anggota kongres/dewan yangseringkali dibantu oleh para stafnya. Eksekutif merujuk kepada Presiden dan jajarankabinetnya. Administratif menurut merujuk kepada lembaga-lembaga pelaksana kebijakan.Di lain pihak, pengadilan juga merupakan aktor yang memainkan peran besar dalam
 
 perumusan kebijakan melalui kewenangan mereka untuk mereview kebijakan serta penafsiran mereka terhadap undang-undang dasar. Dengan kewenangan ini, keputusan pengadilan bisa mempengaruhi isi dan bentuk dari sebuah kebijakan publik.Selain pembuat kebijakan resmi, terdapat pula peserta lain yang terlibat dalam proseskebijakan yang meliputi di antaranya kelompok kepentingan; partai politik; organisasi penelitian; media komunikasi; serta individu masyarakat. Mereka ini disebut sebagai pesertanon-pemerintahan (
nongovernmental participants
) karena penting atau dominannya peranmereka dalam sejumlah situasi kebijakan, tetapi mereka tidak memiliki kewenangan legaluntuk membuat kebijakan yang mengikat. Peranan mereka biasanya adalah dalammenyediakan informasi; memberikan tekanan; serta mencoba untuk mempengaruhi. Mereka juga dapat menawarkan proposal kebijakan yang telah mereka siapkan.Terkait keterlibatan peserta dalam pembuatan kebijakan ini, khususya dalam tahapan perumusan kebijakan, maka tahap perumusan kebijakan diharapkan melibatkan peserta yanglebih sedikit dibandingkan dalam tahapan penetapan agenda. Dalam tahapan ini yang lebih banyak diharapkan adalah kerja dalam merumusakan alternatif kebijakan yang mengambiltempat diluar mata/ perhatian publik. Dalam sejumlah teks standar kebijakan, tahap perumusan disebut sebagai sebuah fungsi ruang belakang. Detail dari kebijakan biasanyadirumuskan oleh staff dari birokrasi pemerintah, komite legislatif, serta komisi khusus. Proses perumusan ini biasanya dilakukan di ruang kerja dari para aktor perumus tersebut.Tahapan perumusan kebijakan merupakan tahap kritis dari sebuah proses kebijakan.Hal ini terkait dengan proses pemilihan alternatif kebijakan oleh pembuat kebijakan yang biasanya mempertimbangkan pengaruh langsung yang dapat dihasilkan dari pilihan alternatif utama tersebut. Proses ini biasanya akan mengekspresikan dan mengalokasikan kekuatan dantarik-menarik di antara berbagai kepentingan sosial, politik, dan ekonomi. Tahap perumusankebijakan melibatkan aktivitas identifikasi dan atau merajut seperangkat alternatif kebijakanuntuk mengatasi sebuah permasalahan serta mempersempit seperangkat solusi tersebutsebagai persiapan dalam penentuan kebijakan akhir.Dengan mengutip pendapat dari Cochran dan Malone, menurut Sidney perumusankebijakan mencoba menjawab sejumlah pertanyaan, yaitu: apa rencana untuk menyelesaikanmasalah? Apa yang menjadi tujuan dan prioritas? Pilihan apa yang tersedia untuk mencapaitujuan tersebut? Apa saja keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan? Eksternalitas apa, baik  positif maupun negatif yang terkait dengan setiap alternatif?

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->