UNI INTERNTIONALE DEVADATTA 2009
Dalam pada itu produk-produk hukum pokok yang dirtinggalkan oleh pemerintahankolonial Belanda masih terus diberlakukan karerna bangsa ini belum bisa membuat penggantinya. Masih tersisa tak kurang dari 400 produk hukum peninggalan Belanda yang berlaku sampai sekarang di negeri ini termasuk hukum-hukum penting seperti KUH Pidana,KUH Perdata, KUH Dagang, dan sebagainya. Padahal hukum itu harus sesuai dengan anutanfilosofis, sosiologis, warisan historik masyarakatnya sehingga jika masyarakat berubah makahukum pun harus ikut berubah. Hukum berubah mengikuti perubahan masyarakatnya.Ketika masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat kolonial menjadi masyarakatnasional yang merdeka maka hukumnyapun mestinya berubah. Dan perubahan itu adalahkeniscayaan. Mengapa? Seperti dikemukakan oleh sosiolog hukum Satjipto Rahardjo hukum itumelayani masyarakatnya dan tidak pernah ada dalam situasi vakum. Hukum kolonial tentudimaksudkan untuk melayani kolonialisme, sehingga jika masyarakat kolonial diganti olehmasyarakat nasional yang merdeka maka hukum-hukum kolonial juga harus diubah; jikakonfigurasi politik berubah maka karakter-karakter hukum juga berubah sesuai dengankonfigurasi politik yang melahirkannya.Tetapi kenyataannya sampai usia lebih dari 60 tahun kemerdekaannya, hukum-hukum pokok masyarakat Indonesia masih banyak juga yang bergantung pada hukum peniunggalankolonial. Bukan hanya itu, banyak hukum-hukum baru maupun kebijakan-kebijakan baru dalam penyelesaian kasus hukum yang disinyalir dibuat karena ‘pesanan’ atau ‘tekanan’negara lain yang lebih kuat. Meski penggunaan istilahnya masih ada yang mempersoalkan, mafia peradilan yang melibatkan catur warsa penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, dan pengacara)terus saja terjadi walaupun berbagai langkah untuk memperbarui materi hukum yang mengatur tentang itu telah banyak dilakukan seperti penyatuatapan kekuasaan kehakiman di bawah MA,dikeluarkannya UU Advokat, dan sebagainya.
Ancaman Neokolonisme
Itulah sebabnya pegiat penegakan hukum seperti Martiamus Amin, mengkonstatir bahwa bangsa kita terserang penyakit neokolonialisme. Hal ini meimal bisa dilihat dari judul bukukaryanya,
Negara Hukum vs Neokolonialisme
, yang ada di hadapan pembaca ini. Judul tersebut, paling tidak, serta merta menimbulkan kesan bahwa upaya membangun negara hukum diIndonesia senantiasa berhadapan dengan neokolonialisme.
Leave a Comment