• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
UNI INTERNTIONALE DEVADATTA 2009
KOMPLIKASI PENEGAKAN HUKUM KITA
 Pengantar 
: Prof. Dr. Moh. Mahfud MD
Kesimpulan yang tampaknya tak perlu diperdebatkan lagi oleh para pecinta hukum dinegeri ini adalah kenyataan bahwa penegakan hukum tidak efektif sehingga fungsi hukum untuk menegakkan keadilan dan membangun ketertiban tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tujuanreformasi yang salah satunya adalah membangun supremasi hukum tak juga tampak hasilnyasecara signifikan meski reformasi sudah berjalan 8 tahun (terhitung Mei 1998). KKN bukannya berkurang melainkan menyebar ke daerah-daehah dan lembaga perwakilan rakyat. CorruptionPerception Index yang dibuat oleh Transparency International Indonesia (TI-Indonesia) padatahun 2004 masih menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup keempat setelah Bangladesh, Nigeria, dan Myanmar atau urutan terbersih 137 dari 146 negara; sedangkan pada tahun 2005 TI-Indonesia melihat ada peningkatan peringkat untuk Indonesia dan menempatkannya menjadinegara terkorup keenam dari 159 negara. Ini berati tak ada peningkatan yang cukup berarti sebabhanya naik menjadi negara keenam terkorup dari 159 negara, dan bukan lagi dari 146 negarayang disurvey. Meski di tahun 2005 ada perbaikan sangat kecil, pada tahun 2004 Indonesia yangmenempati negara terbersih ke 137 jauh ketinggalan dari Singapura yang menjadi negaraterbersih ke 5 atau Malaysia yang menajadi negara terbersih ke 39.Banyak pelaku korupsi besar di Indonesia yang pelakunya bisa lolos dan mampumenghindar dari jeratan hukum bahkan banyak di antaranya yang mendapat pengampunan,sementara pencuri kecil-kecilan yang mencuri karena keperluan makan sehari-hari yang sangatmendesak, karena tak punya uang dan pelindung, dihukum tanpa ampun. Itulah sebabnyaTransparansi Internasional Indonesia tetap menempatkan Indonesia sebagai salah satu negaraterkorup di dunia. Lembaga-lembaga sigi internasional mencatat bahwa peradilan dan sistemhukum di Indonesia sebagai yang paling buruk di dunia. Dan kita tak bisa mengelak ataumembantah penilaian itu karena disamping metodologinya bisa dipertanggungjawabkan kita punmerasakan hal itu sebagai kenyataan.
Keniscayaan Perubahan Hukum
 
UNI INTERNTIONALE DEVADATTA 2009
Dalam pada itu produk-produk hukum pokok yang dirtinggalkan oleh pemerintahankolonial Belanda masih terus diberlakukan karerna bangsa ini belum bisa membuat penggantinya. Masih tersisa tak kurang dari 400 produk hukum peninggalan Belanda yang berlaku sampai sekarang di negeri ini termasuk hukum-hukum penting seperti KUH Pidana,KUH Perdata, KUH Dagang, dan sebagainya. Padahal hukum itu harus sesuai dengan anutanfilosofis, sosiologis, warisan historik masyarakatnya sehingga jika masyarakat berubah makahukum pun harus ikut berubah. Hukum berubah mengikuti perubahan masyarakatnya.Ketika masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat kolonial menjadi masyarakatnasional yang merdeka maka hukumnyapun mestinya berubah. Dan perubahan itu adalahkeniscayaan. Mengapa? Seperti dikemukakan oleh sosiolog hukum Satjipto Rahardjo hukum itumelayani masyarakatnya dan tidak pernah ada dalam situasi vakum. Hukum kolonial tentudimaksudkan untuk melayani kolonialisme, sehingga jika masyarakat kolonial diganti olehmasyarakat nasional yang merdeka maka hukum-hukum kolonial juga harus diubah; jikakonfigurasi politik berubah maka karakter-karakter hukum juga berubah sesuai dengankonfigurasi politik yang melahirkannya.Tetapi kenyataannya sampai usia lebih dari 60 tahun kemerdekaannya, hukum-hukum pokok masyarakat Indonesia masih banyak juga yang bergantung pada hukum peniunggalankolonial. Bukan hanya itu, banyak hukum-hukum baru maupun kebijakan-kebijakan baru dalam penyelesaian kasus hukum yang disinyalir dibuat karena ‘pesanan’ atau ‘tekanan’negara lain yang lebih kuat. Meski penggunaan istilahnya masih ada yang mempersoalkan, mafia peradilan yang melibatkan catur warsa penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, dan pengacara)terus saja terjadi walaupun berbagai langkah untuk memperbarui materi hukum yang mengatur tentang itu telah banyak dilakukan seperti penyatuatapan kekuasaan kehakiman di bawah MA,dikeluarkannya UU Advokat, dan sebagainya.
Ancaman Neokolonisme
 Itulah sebabnya pegiat penegakan hukum seperti Martiamus Amin, mengkonstatir bahwa bangsa kita terserang penyakit neokolonialisme. Hal ini meimal bisa dilihat dari judul bukukaryanya,
 Negara Hukum vs Neokolonialisme
, yang ada di hadapan pembaca ini. Judul tersebut, paling tidak, serta merta menimbulkan kesan bahwa upaya membangun negara hukum diIndonesia senantiasa berhadapan dengan neokolonialisme.
 
UNI INTERNTIONALE DEVADATTA 2009
Istilah neokolonialisme itu sendiri pernah sangat popular ketika Bung Karno, PresidenRepublik Indonesia yang pertama, mengatakannya sebagai bentuk penjajahan baru yang sangatmembahayakan. Bung Karno yang memang sangat piawai membuat istilah-istilah yangmemukau menyebut neokolonialisme itu dengan istilah “nekolim.â
Nekolim yangdimaksudkan sebagai penjajahan dalam bentuk baru itu tidak lagi memandang kolonialismesebagai penjajahan fisik dimana pemerintahan dan penguasaan atas semua sumberdayadilakukan secara langsung oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain. Nekolim berujud keterpengaruhan yang sangat kuat bahkan ketergantungan satu bangsaterhadap bangsa lain untuk melakukan berbagai hal terhadap apa pun yang diinginkan oleh bangsa lain misalnya dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Dalamkeadaan seperti itu maka kedaulatan negara yang bersangkutan menjadi semu karena tak pernah bisa untuk sepenuhnya menetukan kebijakannya sendiri. Nekolim bisa juga diartikan sebagai penjajahan model baru dari internal satu bangsayakni penjajahan terhadap rakyat oleh pimpinan (pemerintah) nasionalnyanya sendiri yangsebenarnya masih satu bangsa, misalnya, bangsa Indonesia dijajah oleh pimpinan bangsanyasendiri. Di sini pimpinan nasional suatu bangsa mengikatkan kepentingan-kepetingannyaterhadap kekuatan asing sehingga bangsanya sendiri menjadi tersandera.Itulah gambaran sederhana tentang neokolonialisme. Martimus Amin di dalam bukunyaini mengekspessikan kegelisahan dan kecurigaannya bahwa cita hukum (rechtsside) yang hendak kita bangun berdasar konstitusi dihadapkan dengan (atau dirusak oleh) neokolonialisme yangditengaranya dari beberapa hal dalam kehidupan hukum kita belakangan ini. Dalam pandangansaya neokolonialisme dalam konteks ini bisa dilihat dari tiga hal.
 Pertama,
sampai sekarang hukum-hukum kita masih banyak yang merupakan peninggalan zaman kolonial padahal berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 (sebelumdiamandemen) dan Pasal I Aturan Peralihan UUD Negara RI 1945 (setelah empat kalidiamandemen) politik hukum kita mengharuskan segera dibuat hukum baru karena faktanyamasyarakat Indonesia sudah berubah dari masyarakat kolonial-terjajah menjadi masyarakatnasional-merdeka dan berdaulat. Akibat buruk dari ini, antara lain, adalah tetap digunakannyahukum-hukum peninggalan kolonial untuk memberangus hak-hak rakyat yang paling mendasar seperti dalam menyatakan pendapat dan sikap menyatakan politik terhadap pilihan kebijakan pemerintah (penguasa). Pasal-pasal di dalam KUH Pidana yang biasa dikenal sebagai
haatzai
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...