Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kompilasi PI - Lampiran 9 - Dda - Apa PI Itu?

Kompilasi PI - Lampiran 9 - Dda - Apa PI Itu?

Ratings: (0)|Views: 2,308|Likes:
Published by Oktavia Maludin
APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman*

*Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. Dr. Komar Kantaadmaja, S.H., LL.M. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull, Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud, Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, DEPLU. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU.

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com
APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman*

*Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. Dr. Komar Kantaadmaja, S.H., LL.M. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull, Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud, Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, DEPLU. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU.

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com

More info:

Published by: Oktavia Maludin on Jun 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/18/2010

pdf

text

original

 
”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”,demikian pertanyaan Almarhum Prof. DR. Komar Kantaatmadja S.H., LL.M, kepadapenulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasionalpada tahun 1986. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknyaadalah negara, sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum. ”Tapinegara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”, lanjut beliau dengan tersenyum.Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi, penulis masih belum dapat menemukan jawabannya.Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasionalguna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa. Pemahaman publik tentang apaitu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popularyaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. Distorsi publik ini pulalah yang mendoronglahirnya klaim bahwa
Production Sharing Contracts (PSC)
antara Pemerintah RI adalah”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya
 judicial revie
terhadap Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi padatahun 2007. Kasus
 judicial review 
ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensiIndonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjianinternasional.Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu
issue
kontroversi dalamliteratur hukum perjanjian internasional. Perdebatan sengit bahkan berlangsung puladalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional.Menurut Konvensi ini, perjanjian internasional adalah:
“An International Agreement concluded between States and InternationaOrganizations in written form and governed by International Law, whether embodied 
97
 APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU?
BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL 
 
Oleh Damos Dumoli Agusman*
LAMPIRAN 9
*Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof.Dr. Komar Kantaadmaja, S.H., LL.M. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull, Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud, Direktorat JenderalHukum dan Perjanjian Internasional, DEPLU. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukanmeruakan andanan resmi DEPLU.
 
in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” 
Selanjutnya, definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentangPerjanjian Internasional yang merumuskan sebagai
 setiap perjanjian di bidanghukum publik, yang diatur oleh hukum internasional, dan dibuat olehPemerintah dengan Negara, organisasi internasional, atau subjek hukuminternasional lain
.
Dari pengertian hukum ini, maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhioleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasionalmenurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional, yaitu:
an International Agreement;
by Subject of International Law;
in Written Form;
“Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional sertamenimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik);
Whatever Form.
Parameter tentang
”Governed by International Law” 
merupakan elemen yang seringmenimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya dikalangan praktisi namun juga akademisi. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina1969, suatu dokumen disebut sebagai ” 
Governed by International Law” 
 jika memenuhidua elemen, yaitu “
intended to create obligations and legal relations under international law:
a.Intended to create obligations and legal relations.
There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. They could be in the form of a “Joint Statement”, or “MOU”, depends onthe subject-matter and the intention of the parties
(
ILC Draft and Commentary, 1967 
).
b.…Under International Law.
There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisitionof premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i.e. loanagreements” (Report of the ILC Special Rapporteur, 1962).
98
 
Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah
”Governed by International Law” 
 juga masih menimbulkan perdebatan akademis. Apakahhal ini dapat ditarik dari
the intention of the Parties? the Subject-Matter of theagreement?,
atau
should there be a presumption that an inter-state agreement which isintended to create legal relations is governed by international law? 
Pakar hukum D.J.Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ” 
unanswered questions
” 
.
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telahmenekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang iniadalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diaturdalam hukum internasional serta
menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata.
Namun praktek Indonesia tentangpembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-UndangNo. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini,semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara, sepanjang yang menjadi pihak adalahPemerintah RI, diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam
”Treaty Room”.
Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagaiperjanjian internasional.
 Agreement 
yang dibuat oleh
Pertamina and PT Caltex, PT Stanvac and PT Shell 
 juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional
 
dan bahkandiratifikasi melalui Undang-Undang No. 1 Tahun 1963
.
Setelah lahirnya Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional,praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masihterdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan
Governed by International Law” 
 , sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh PemerintahRI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjianinternasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loanagreements” 
.
Keputusan MK terhadap
 judicial review 
Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentangMinyak dan Gas Bumi (UU Migas), dimana penulis juga terlibat untuk mewakilipemerintah, merupakan jurisprudensi
landmark 
bagi perkembangan hukum perjanjianinternasional di Indonesia. Dalam kasus ini, beberapa anggota DPR mempermasalahkanbahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yangsudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RIdianggapbertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalammembuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan
99

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Octary liked this
naga_hijau liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->