Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kompilasi PI - Lampiran 11 - Judicial Review PI

Kompilasi PI - Lampiran 11 - Judicial Review PI

Ratings: (0)|Views: 1,820|Likes:
Published by Oktavia Maludin
KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI - JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati, et. al*

*Diambil dari Jurnal Konstitusi, volume 3, nomor 1, Februari 2006.

For any Question and further information please send it to :damos_dumoli@yahoo.com
KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI - JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati, et. al*

*Diambil dari Jurnal Konstitusi, volume 3, nomor 1, Februari 2006.

For any Question and further information please send it to :damos_dumoli@yahoo.com

More info:

Published by: Oktavia Maludin on Jun 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/29/2010

pdf

text

original

 
Latar Belakang
Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukanberbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalahdengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain, organisasiinternasional dan subyek hukum lainnya. Dengan meningkatnya intensitas hubungan daninterdependensi antarnegara, menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasionalyang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional.Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11UUD 1945, menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuatperjanjian internasional dengan persetujuan DPR. Pembuatan dan pengesahan perjanjianinternasional antara Pemerintah Indonesia denganpemerintah negara-negara lain,organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatanhukum yang sangat penting, karena mengikat negara dengan subyek hukuminternasional lainnya. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatuperjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU.Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjiantidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjiantersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untukdapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelumperjanjian tersebut disahkan.Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkanoleh perjanjian internasional tersebut. Pengesahan suatu perjanjian internasionaldilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. Perjanjian internasional
123
KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI - JUDICIALREVIEW – KAN
oleh Lita Arijati,
et. al*
LAMPIRAN 11
*Diambil dari
 Jurnal Konstitusi,
volume 3, nomor 1, Februari 2006.
 
yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahanyang diatur dalam undang-undang.Dalam penelitian ini, akan dibahas pokok permasalahan sbb:1.Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia?2.Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK?3.Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalamhal diajukan kehadapan MK?4.Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkanperjanjian internasional jika dibatalkan ole MK?
Proses Pengesahan Perjanjian Internasional
Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia denganpemerintah negara-negara lain, organisasi internasional dan subyek hukum internasionallainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negaradengan subyek hukum internasional lainnya. Oleh sebab itu, pembuatan dan pengesahansuatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU.Sebelum adanya UU No. 24 tahun 2000, kewenangan untuk membuat perjanjianinternasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945, menyatakan bahwa Presidenmempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuanDPR. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatuperjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. Untuk itu melaluiSurat Presiden No. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945tersebut.
1
Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentukSurat Presiden No. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960, yang ditujukan kepadaKetua DPR, dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjianinternasional selama bertahun-tahun. Pengesahan perjanjian internasional menurut SuratPresiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres, tergantung dari materi yang diaturdalam perjanjian internasional. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presidenini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatursecara khusus mengenai perjanjian internasional.
1
Surat Presiden No. 2826/HK/1960, tanggal 22 Agustus 1960.124
 
Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UUNo. 24 tahun 2000. Dalam UU tersebut, adapun isi yang diatur adalah
2
:a.Ketentuan Umumb.Pembuatan perjanjian internasionalc.Pengesahan perjanjian internasionald.Pemberlakuan perjanjian internasionale.Penyimpangan perjanjian internasionalf.Pengakhiran perjanjian internasionalg.Ketentuan peralihanh.Ketentuan PenutupDalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu:1.Ratifikasi, yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjianinternasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional;2.Aksesi, yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasionaltidak turut menandatangani naskah perjanjian;3.Penerimaan atau penyetujuan, yaitu pernyataan menerima atau menyetujui darinegara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjianinternasional tersebut;
4.
Selain itu juga ada perjanjian- perjanjian internasional yang sifatnya
self-executing
(langsung berlaku pada saat penandatanganan).Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjiantidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjiantersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untukdapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelumperjanjian tersebut disahkan.Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatanganinaskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional,memerlukan surat uasa (
Full Powers
).
3
Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasaadalah presiden dan menteri.
2
Indonesia (a),
UU No. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional,
Lembaran Negara RI Tahun 2000 No.185
3
 Ibid,
Pasal 7125

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
naga_hijau liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->