Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
20Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Klasifikasi dan kajian spasial kawasan PKL

Klasifikasi dan kajian spasial kawasan PKL

Ratings: (0)|Views: 2,230|Likes:
Published by emma

More info:

Published by: emma on Jun 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/28/2013

pdf

text

original

 
KLASIFIKASI DAN KAJIAN SPASIALKAWASAN PEDAGANG KALI LIMA DI KOTA BOGOR 
 
Oleh : Bambang Wahyu Sudarmadji
1
dan Sri Lestari Munajati
2
 
ABSTRAK 
 
Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor dengan tujuan untuk mengkaji klasifikasi PedagangKaki Lima (PKL) di Kota Bogor beserta kajian spasialnya. Metode pengambilan sampel yangdigunakan adalah purposif sampling dan penilaian terhadap berbagai aspek-aspek PKL dilakukandengan menggunakan variabel-variabel yang bersifat kualitatif, dengan skala pengukuran nominal (adaatau tidak) dan ordinal (tinggi, sedang dan rendah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan faktor keramaian, omset dan tenaga kerja serta modal usaha dan durasi kegiatan, dari 39kawasan PKL yang diteliti, dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok pembinaan, penataan dan penertiban. Kawasan yang perlu dilakukan penertiban dan mendapatkan perhatiankhusus adalah Kawasan Jembatan Merah dan Pasar Bogor.
ABSTRACT
 
This research was done in Bogor City with the objective to evaluate classification of the street vendors in Bogor, along with the spatial assessment. The sampling method used was purposive sampling and valuation to several aspects of the street vendors was done by using quantitativevariables, in nominal and ordinal valuations. Result of this research showed that based on massconcentration, omset and labor, also capital and activity duration, the 39 areas of street vendorsbeing assessed can be classified into 3 classes: management, arrangement and straightening up.The areas which needs to be straighten up and get special attention are Jembatan Merah and  Pasar Bogor.
Key Word
: Pedagang Kaki Lima (PKL), Purposif Sampling, Kajian Spasial
{SpatialAssesment)
PENDAHULUAN
 
Latar Belakang
 Kajian ini merupakan kajian lanjutan setelah dilakukan penelitian terhadapkarakteristik pedagang kaki lima (PKL) di Kota Bogor (Sudarmadji, 2005). Dari studikarakteristik PKL didapatkan bahwa persebaran kawasan PKL di Kota Bogor mengikuti pola jaringan jalan, pedagangnya sebagian besar didominasi oleh penduduk yang berasal dari luar Kota Bogor dan lebih banyak mereka melakukan aktivitasnya secara permanen. Secaraumum, kontribusi keberadaan PKL terhadap gangguan arus lalu lintas memiliki tingkatasosiasi yang relatif rendah, para pemilik toko tidak mengalami penurunan omset, jumlah pengunjung maupun gangguan terhadap keamanan.Modal awal PKL rata-rata sebesar Rp.1.632.000, omset harian rata-rata sebesar Rp.243.000 dan rata-rata penggunaan tenaga kerja 2 orang, serta rata-rata lama berjualanadalah 12 jam per hari. Dari segi pengguna jasa PKL, sebagian besar mereka berasal dari KotaBogor yang dalam mencari kebutuhan komoditas tertentu dipenuhi dari PKL, serta tidak merasa terganggu oleh keberadaan PKL.Secara umum kawasan yang diperlukan PKL untuk melakukan aktivitasnya adalahkerumunan manusia, bukan kemacetan. Dari studi yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada tulisan ini akan dilakukan kajian-kajian berikutnya seperti klasifikasi PKL dan kajian
1
Drs. Bambang Wahyu Sudarmadji adalah Peneliti pada Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi,BAKOSURTANAL
2
Ir. Sri Lestari Munajati M.Agr. adalah Peneliti pada Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi, BAKOSURTANAL
 
spasialnya.
Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah klasifikasi dan kajian spasial PKL di KotaBogor untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah guna menetapkan kebijakan-kebijakan yang optimal terhadap keberadaan PKL di Kota Bogor.
METODOLOGI
 
Pendekatan yang digunakan dalam studi ini, adalah analisis kualitatif. Dalam studisebelumnya telah dilakukan pengumpulan data melalui wawancara terbimbing, yangdilakukan dengan menggunanakan teknik purposif sampling, dimana hasilnya telah diketahui berbagai karakteristik PKL di Kota Bogor (Sudarmadji, 2005).Penilaian terhadap berbagai aspek-aspek PKL dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel yang bersifat kualitatif, dengan skala pengukuran nominal (ada atau tidak) danordinal (tinggi, sedang dan rendah). Sistimatika kajian dalam studi ini disajikan pada Gambar 1, dimana studi karakteristik PKL telah dilakukan pada studi awal (Sudarmadji, 2005) dan pada tulisan ini adalah merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya yaitu studi klasifikasiPKL dengan berbagai aspeknya sehingga dapat dilakukan berbagai rekomendasi yangmeliputi pembinaan, penataan dan penertiban terhadap PKL di Kota Bogor.PKL diklasifikasikan berdasarkan beberapa variabel kunci antara lain adalah:
1.
Skor komponen kemacetan
2.
Skor dampak node yang ada di sekitar kawasan
3.
Rata-rata tenaga kerja yang digunakan setiap pedagang
4.
Rata-rata omset harian setiap pedagang
5.
Rata-rata modal usaha setiap pedagang
6.
Rata-rata durasi waktu berjualanDua variabel pertama dihitung untuk setiap kawasan PKL, sedangkan 4 variabellainnya dihitung berdasarkan sampel. Komponen kemacetan yang dikaji dalam studi ini,mencakup 8 buah. Ke-8 komponen tersebut, adalah :
1.
Ada-tidaknya tempat menunggu kendaraan umum
2.
Ada-tidaknya tempat berganti rute perjalanan
3.
Ada-tidaknya penggunaan badan jalan oleh PKL
4.
Ada-tidaknya penyeberangan pejalan kaki
5.
Ada-tidaknya penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir 
6.
Ada-tidaknya terminal bayangan
 
7.
Ada-tidaknya pedagang asongan
8.
Ada-tidaknya tempat putaran kendaraanJika di kawasan PKL terdapat semua komponen kemacetan tersebut, maka kawasan itumemiliki skor 8, dan sebaliknya jika suatu kawasan PKL tidak memiliki satupun darikomponen itu, maka kawasan tersebut memiliki skor 0 (nol). Secara matematis, skor komponen kemacetan dihitung dengan rumus pada Persamaan 1.dimana,SKM = skor komponen kemacetanX
i
= komponen kemacetan ke-i (i=l,2,....,8)Skor dampak ”node” atau pusat pertemuan (keramaian) dihitung dari ada-tidaknya pengaruh pusat keramaian yang mempunyai dampak tinggi, sedang dan rendah. Nilai skor dampak pusat keramaian, dihitung secara tertimbang. Pusat keramaian dampak tinggi diberi bobot 3, sedang 2 dan rendah diberi bobot 1. Nilai skor dampak node suatu kawasan PKL,dihitung dengan rumus pada Persamaan 2.dimana,SDN = skor dampak nodeT = node dampak tinggiS = node dampak sedangR = node dampak rendahMengingat diantara variabel klasifikasi terdapat korelasi yang tinggi, maka tidak baik dilakukan analisis “cluster” secara langsung. Berdasarkan fakta ini, terhadap ke-6 variabelkunci untuk klasifikasi PKL tersebut dilakukan analisis faktor terlebih dahulu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
 
Klasifikasi PKL
 Dari hasil perhitungan skor komponen kemacetan (SKM), maka didapatkan bahwakategori pusat dampak tinggi mencakup Stasiun Kereta Api, Terminal Baranang Siang,Kawasan Pertokoan Jembatan Merah dan Pasar Bogor. Pusat kemacetan dampak sedangmencakup Pjasa Jambu Dua, Pasar Gembrong, Terminal Merdeka, Kawasan Empang, MegaM, Bogor Indah Plasa, Kawasan Air Mancur serta Hero Pajajaran. Selanjutnya pusatkemacetan dampak rendah mencakup Pasar Kemang, Kantor Bank, Sekolah, Kantor Pemerintahan yang memberikan pelayanan publik, Hotel, Sarana Ibadah, Pasar Depris,Lapangan Olah Raga, Rumah Sakit, Pasar Gunung Batu, Pasar Kebon Jahe, TPU, GedungPertemuan serta Tempat Hiburan. Simpul-simpul kemacetan di Kota Bogor tersaji padaLampiran Peta 1.Dari hasil analisis faktor menunjukkan bahwa dari ke-6 variabel awal, terbentuk 3faktor baru (Tabel 1). Faktor pertama (faktor keramaian) dicirikan (loading > 0,5) olehdampak node atau keramaian. Faktor kedua (faktor omset dan tenaga kerja) dicirikan oleh penggunaan tenaga kerja dan volume omset. Faktor ketiga (faktor modal usaha dan durasi)dicirikan oleh besarnya modal usaha dan durasi kegiatan. Ketiga faktor tersebut, mampumenjelaskan sebesar 69,6 % (Tabel 2). Dalam analisis selanjutnya, ketiga faktor yang

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this
Zuli Wakhidatin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->