/  10
 
Kota Gede
From Wikipedia, the free encyclopedia(Redirected from Kotagede)Jump to: navigation, searchKota Gede also known as Pasar Gede - is the site of the remains of a palace Kraton of thelate 1500s and early 1600s for the rulers of Mataram.Legend and myth surround much of the information available for the time the palace wasintact, and only the Kota Gede Royal Graveyard (precursor to Imogiri) and a few smallsections of wall of the palace remain.In the expansion of the city of Yogyakarta in the late twentieth century, Kota Gede ismerely a suburb within the city. At the time of Indonesian independence in the 1940s andafter considerable publicity was given to the silver workers within this locality.The name of the location in higher more respectful level (Kromo) Javanese is Pasar Gede.The Royal Graveyard holds important graves that trace connections of Mataram withearlier kingdoms, and the placement of the graves within the covered area of thegraveyard can be considered as a physical representation of 'silsilah' or geneaology of therulers and their progenitors. It is guarded and maintained by Juru Kunci who are employedby the two palaces of Yogyakarta and Surakarta.In the twentieth century the location became synonomous with silver workers and traders.[edit] See also* Yogyakarta* Plered* Javanese sacred places[edit] Further reading* Mook, H.J van, (1958) Kuta Gede before the Reorganization in 'The IndonesianTown/Studies in Urban Sociology', The Hague: W. van Hoeve* Nakamura, M. (1976) The Crescent arises over the Banyan Tree Yogyakarta: GadjahMada University Press.* Witton, Patrick (2003). Indonesia (7th edition). Melbourne: Lonely Planet. p. 220. ISBN1-74059-154-2.
 
[edit] External links* Yogyakarta Tourism Catalog page on Kota GedeDari Kotagede untuk Indonesia PDF Cetak E-mailDitulis oleh Elanto WijoyonoRabu, 31 Desember 2008 15:03Lokakarya Jelajah Pusaka yang Bertanggung JawabSeakan berlebihan, tetapi memang itulah semangat yang coba dibangun dalam sebuahlokakarya sederhana di Kotagede, 21 Desember 2008 silam. Sebagai salah saturangkaian acara Temu Komunitas Jelajah Pusaka Nusantara, Tim Peta Hijau Yogyakartadidaulat oleh organisasi penyelenggara, Senthir - The Youth Spirit of Yogyakarta HeritageSociety, untuk memfasilitasi lokakarya yang diikuti oleh para pegiat organisasi jelajahpusaka dari Solo, Surabaya, Bandung, Borobudur, dan Yogyakarta sendiri. Apa yangdilakukan di Kotagede ini diharapkan dapat dikembangkan pula di kota-kota lain diIndonesia. The morning session in the pendapa of Omah Loring Pasar, Kotagede and the journeyhas begun; at the front of Pasar (Market) Kotagede. Just renovated under the coordinationof Kanthil KotagedeBerkaca dari pengalamanPendapa Omah Loring Pasar, markas besar para pegiat Yayasan Kanthil Kotagede,menjadi ruang diskusi di awal kegiatan. M. Natsier (45) membuka diskusi denganmemaparkan latar belakang sejarah kawasan pusaka Kotagede dan menguraikan pulaberbagai praktik jelajah pusaka yang selama ini dilakukan oleh banyak pihak di Kotagede,termasuk oleh Kanthil Kotagede sendiri. Dengan fasilitasi oleh Elanto W. dan Punto W.,kemudian peserta dibagi ke dalam dua kelompok, setelah sebelumnya diberikan sedikitpengantar mengenai tujuan lokakarya.Membangun sebuah program jelajah pusaka yang bertanggung jawab, denganmengadopsi paradigma pariwisata yang bertanggung jawab atau pariwisata yangberkelanjutan, adalah hasil yang dituju dalam kegiatan ini. Kotagede, bekas kompleksibukota kerajaan Mataram Islam di penghujung abad XVI M, memiliki pengalamanperkembangan yang menarik. Secara nyata, kawasan ini adalah kawasan permukimanlama yang padat penduduk, padat pula dengan beragam kegiatan keseharianmasyarakatnya. Ada beberapa situs penting peninggalan Mataram Islam dari masaPanembahan Senopati dan Sultan Agung yang berusia lebih dari 400 tahun. Di sela-selaitu, tersebar banyak ragam lingkungan bangunan tradisional Jawa di seluruh penjurukawasan, berbaur dengan berbagai giat kerajinan dan kesenian tradisional yang tetaplestari di masyarakatnya yang telah beranjak urban sejak beratus tahun lamanya.Kedatangan pengunjung, wisatawan, hingga peneliti ke Kotagede tentu saja menjadisebuah konsekuensi logis sebuah kawasan yang sarat nilai sejarah dan budaya.Kelestarian pusaka tentu saja juga menjadi sebuah syarat yang dituntutkan kepadamasyarakat Kotagede. Sebabnya, objek itulah yang menjadi daya tarik untuk dikunjungi.Namun, di sisi lain, masyarakat Kotagede yang selalu ramah menyambut pengunjung itu, juga memiliki harapan bahwa mereka tidak ingin menjadi penonton atau bahkan objek
 
yang ditonton saja. Harus ada sebuah hal yang bisa dikerjakan bersama oleh masyarakatKotagede sendiri dengan siapapun yang berkunjung, menuju kelestarian kawasan pusakadan kemanfaatan ekonomi masyarakat setempat. Dua kelompok pun kemudian mendiskusikan ragam kasus tersebut dalam dua fokus.Kelompok pertama, mencoba memetakan para pihak yang selama ini ikut berperan danberkepentingan dengan praktik jelajah pusaka di Kotagede. Kemudian, kelompok kedua,mencoba menggambarkan bagan alir kegiatan jelajah pusaka yang selama ini telahdilangsungkan di kawasan pusaka Kotagede. Lalu, alur seperti apa yang mungkin idealditerapkan, akan menjadi salah satu hasil lokakarya ini. Dari presentasi hasil diskusikelompok ini, para peserta mendapatkan pemahaman awal mengenai praktik jelajah yangbiasa terjadi dan pegiat Kanthil Kotagede sendiri, sebagai tuan rumah kegiatan, diajakuntuk bersama berkaca dan belajar dari pengalaman yang ada terebut.Selamat datang di labirin KotagedeYup, tentu saja sebuah acara jelajah tetap dilakukan walaupun sudah jelang tengah hari.Dua kelompok dengan dipandu oleh pegiat Kanthil Kotagede sebagai fasilitator lokal,mencoba menelusuri langsung setiap relung pusaka di Kotagede untuk mengetahuisecara nyata kasus-kasus yang tadi didiskusikan di muka. Jalur yang mereka lewatidicatat dan dipetakan. Potensi yang terkandung direkam dan diuraikan. Menarik, tentusaja, bagi peserta dari luar kota yang belum pernah berkunjung menelusur labirinKotagede. Setiap ruas dan sudut labirin yang mampu memberikan kejutan suasanatradisional dan kejutan ruang pandang arsitektural yang menginspirasi jelasmenjadikannya sebuah pengalaman meruang yang sulit dilupakan. Ya, peserta lokakaryadiajak langsung untuk merasakan menjadi peserta jelajah pusaka alias wisatawan.Kembali ke Omah Loring Pasar, usai istirahat dan makan siang maka diskusipundilanjutkan. Kedua kelompok diminta untuk memetakan jalur dan potensi jelajah pusaka diKotagede sesuai tempat yang dilewatinya tadi. Kemudian, sebuah analisis SWOT (analisisterhadap nilai kelebihan - kekurangan - peluang - dan hambatan/tantangan) diterapkanpada paket yang mereka kemas tersebut. Diskusi yang kaya akan pemahaman teoritisdan pengalaman kasus terjadi diantara para peserta dan pegiat Kanthil Kotagede yangturut tergabung dalam kedua kelompok. Pada akhir sesi lokakarya, masing-masingkelompok mempresentasikan hasil diskusinya untuk kemudian ditanggapi oleh forum danM. Natsier sebagai pegiat utama Yayasan Kanthil Kotagede. Langkah awal membangun keberlanjutanSeluruh data dan rumusan diskusi hasil kegiatan ini diserahkan kepada rekan-rekanYayasan Kanthil Kotagede. Harapannya, materi-materi itu akan bisa dipelajari dandikembangkan bersama oleh pegiat Kanthil dan para pihak yang ingin belajar bersamapula. Jadi, pun jika para peserta ingin mendalaminya lebih lanjut, mereka tentu saja haruskembali ke Kotagede. Lebih baik lagi jika mereka bisa kembali bersama teman jelajahyang lebih banyak. Bukankah itu juga tujuan yang bisa diwujudkan?Tim Peta Hijau Yogyakarta sendiri akan meneruskan program ini sebagai sebuah peranpenelitian dan pengembangan untuk membantu para pejuang pelestarian pusaka di

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...