[edit] External links* Yogyakarta Tourism Catalog page on Kota GedeDari Kotagede untuk Indonesia PDF Cetak E-mailDitulis oleh Elanto WijoyonoRabu, 31 Desember 2008 15:03Lokakarya Jelajah Pusaka yang Bertanggung JawabSeakan berlebihan, tetapi memang itulah semangat yang coba dibangun dalam sebuahlokakarya sederhana di Kotagede, 21 Desember 2008 silam. Sebagai salah saturangkaian acara Temu Komunitas Jelajah Pusaka Nusantara, Tim Peta Hijau Yogyakartadidaulat oleh organisasi penyelenggara, Senthir - The Youth Spirit of Yogyakarta HeritageSociety, untuk memfasilitasi lokakarya yang diikuti oleh para pegiat organisasi jelajahpusaka dari Solo, Surabaya, Bandung, Borobudur, dan Yogyakarta sendiri. Apa yangdilakukan di Kotagede ini diharapkan dapat dikembangkan pula di kota-kota lain diIndonesia. The morning session in the pendapa of Omah Loring Pasar, Kotagede and the journeyhas begun; at the front of Pasar (Market) Kotagede. Just renovated under the coordinationof Kanthil KotagedeBerkaca dari pengalamanPendapa Omah Loring Pasar, markas besar para pegiat Yayasan Kanthil Kotagede,menjadi ruang diskusi di awal kegiatan. M. Natsier (45) membuka diskusi denganmemaparkan latar belakang sejarah kawasan pusaka Kotagede dan menguraikan pulaberbagai praktik jelajah pusaka yang selama ini dilakukan oleh banyak pihak di Kotagede,termasuk oleh Kanthil Kotagede sendiri. Dengan fasilitasi oleh Elanto W. dan Punto W.,kemudian peserta dibagi ke dalam dua kelompok, setelah sebelumnya diberikan sedikitpengantar mengenai tujuan lokakarya.Membangun sebuah program jelajah pusaka yang bertanggung jawab, denganmengadopsi paradigma pariwisata yang bertanggung jawab atau pariwisata yangberkelanjutan, adalah hasil yang dituju dalam kegiatan ini. Kotagede, bekas kompleksibukota kerajaan Mataram Islam di penghujung abad XVI M, memiliki pengalamanperkembangan yang menarik. Secara nyata, kawasan ini adalah kawasan permukimanlama yang padat penduduk, padat pula dengan beragam kegiatan keseharianmasyarakatnya. Ada beberapa situs penting peninggalan Mataram Islam dari masaPanembahan Senopati dan Sultan Agung yang berusia lebih dari 400 tahun. Di sela-selaitu, tersebar banyak ragam lingkungan bangunan tradisional Jawa di seluruh penjurukawasan, berbaur dengan berbagai giat kerajinan dan kesenian tradisional yang tetaplestari di masyarakatnya yang telah beranjak urban sejak beratus tahun lamanya.Kedatangan pengunjung, wisatawan, hingga peneliti ke Kotagede tentu saja menjadisebuah konsekuensi logis sebuah kawasan yang sarat nilai sejarah dan budaya.Kelestarian pusaka tentu saja juga menjadi sebuah syarat yang dituntutkan kepadamasyarakat Kotagede. Sebabnya, objek itulah yang menjadi daya tarik untuk dikunjungi.Namun, di sisi lain, masyarakat Kotagede yang selalu ramah menyambut pengunjung itu, juga memiliki harapan bahwa mereka tidak ingin menjadi penonton atau bahkan objek
Add a Comment