• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
BERKELEY MAFIA DAN EKONOMI
INDONESIA
Oleh Muh. Indrajit

Ketika Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan, orientasinya sangat berbeda dengan
Bung Karno. Bung Karno tidak mempunyai perhatian terhadap ekonomi. Bukan hanya
itu, tetapi politiknyapun dinilai hanya membuat onar saja. Amerika dan Inggris dimusuhi
dengan slogan Amerika kita Setrika dan Inggris kita linggis. Lantas negara- negara
tetangga yang comrade in arms dalam memerdekakan bangsanya masing-masing dari
penjajahan dimusuhi dengan politik ganyang Malaysia. Terus mau bikin PBB sendiri
yang dinamakan CONEFO atau Conference of the New Emerging Forces dan GANEFO
yang dinamakan Games of New Emerging Forces yang mau menyaingi olimpiade. Setiap
hari rakyat dimobilisasi untuk mendengarkan pidatonya yang berapi-api, sehingga apapun
kemauannya mendapat dukungan oleh rakyat. Begitu buruk keadaan ekonominya,
sehingga kemakmuran dan kesejahteraan porak poranda. Maka rakyat diminta makan
batu kalau perlu. Pokoknya ngawur.

Karuan saja bahwa Soeharto sebagai penggantinya memberlakukan slogan "Eokonomi
Yes, Politik No." Obsesinya membangun ekonomi memakmurkan rakyatnya. Karena
Soeharto (seperti yang dituturkan sendiri dalam biografinya) hanya lulusan Sekolah
Dasar, dia tidak terlampau banyak pengetahuannya. Tetapi sangat cerdas. Seandainya
diukur IQ-nya dapat dipastikan sangat tinggi. Maka dalam perjalanannya sebagai
Presiden dia belajar sangat cepat menguasai segala permasalahan yang teknokratik
sekalipun dengan muatan ilmu pengetahuan yang banyak. Namun memahaminya tanpa
teori, melainkan dengan logika, nalar yang sangat kuat dimilikinya. Maka istilah-
istilahnya dan cara-cara pendekatannya sederhana, tetapi menyentuh esensi yang paling
hakiki.

Pola pikirnya sederhana. Kalau mau membangun ekonomi harus ada dua faktor. Yang
pertama adalah keamanan dan ketenangan, stabilitas sosial dan politik. Hanya dalam
suasana seperti itulah ekonomi dapat dibangun. Tentang stabilitas itu dia mempunyai
pengalaman banyak karena dia seorang militer. Dan konsepnya juga konsep kemiliteran
yang paling elementer. Yaitu yang mengganggu keamanan dan ketenangan dilibas habis.
Indonesia lantas menjadi negara diktatur militer. Militer boleh melakukan apa saja
asalkan ada stabilitas sosial, politik, ketenangan. Militer boleh menculik, boleh
membunuh, boleh mempenjarakan orang tanpa proses hukum. Pokoknya asal tercapat
kedamaian. Nilai-nilai kemanusiaan, HAM, demokrasi dan sebagainya tidak difahami.
Untungnya, orang Indonesia sangat kurang pendidikannya, sehingga hal-hal yang abstrak
sepert itu juga tidak dimiliki. Baginya yang penting aman, cukup sandang, cukup pangan
dan cukup papan.

Jadi segi keamanannya sudah ada konsepnya yang dijalankan dengan sangat konsisten
sepanjang kepresidenannya. Eksesnya jelas ada, yaitu penyalah gunaan kekuasaan oleh

militer yang diberi kuasa begitu besar. Maka militer sepanjang zaman Soeharto warga negara kelas wahid. Sangat ditakuti dan rata-rata sangat kaya. Tentu bukan prajuritnya yang paling bawah, tetapi begitu menjadi perwira menengah pasti enak hidupnya, dan yang perwira tinggi sangat enak. Para pensiunanannya semuanya menjadi orang-orang berkuasa.

Di negara-negara maju hal seperti ini dikutuk sebagai diktatur militer yang bahkan
simbolnya Mussolini dan Hitler. Tetapi di Indonesia tidak demikian, karena seperti yang
digambarkan oleh Maslow, kebutuhan manusia yang mulai primitif sampai maju berubah.
Manusia yang primitif, kebutuhannya hanyalah kebendanaan yang paling mendasar yaitu
survival fisik. Setelah kemakmurannya meningkat, kebutuhannya juga semakin lama
semakin nilai-nilai seperti kebebasan berserikat, kebebasan menyatakan pendapat dan
sebagainya seperti yang tercantum dalam Declaration of Independence Amerika Serikat.

Dengan stabilitas sosial politik yang diserahkan kepada militer dengan cek mandat
blanko seperti ini, ekonominya diserahkan kepada yang oleh Soeharto dianggap mengerti.
Ketika itu ada Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia yang didirikan oleh Soemitro
Djojohadikoesoemo. Dia ekonom lulusan sekolah ekonomi di Rotterdam yang di
Indonesia sudah terkenal, karena sebelumnya, Moh. Hatta juga lulusan dari sekolah yang
sama, dan ikut memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam benak
Soeharto, fakultas ekonomi ini yang terbaik. Tidak hanya dalam benak Soeharto, yang
ekonom di Indonesia hanyalah Soemitro. Itulah sebabnya sampai akhir hayatnya seluruh
masyarakat Indonesia, terutama persnya menyebutnya begawan ekonomi atau Ayatollah
ekonomi. Soemitro melahirkan ekonom-ekonom. Yang paling menonjol adalah Widjojo
Nitisastro. Dia lulusan UI, tetapi mengambil doktornya di Amerika Serikat. Dia
mempunyai kelompok para ekonom muda yang semuanya dari UI. Soeharto
menyerahkan pembangunan ekonomi kepada kelompok Widjojo secara bongkokan.
Kepada kelompok ini juga diberikan mandat blanko. Mereka boleh berbuat apa saja.
Soeharto tidak mengerti apa-apa tentang ekonomi. Maka mereka boleh berbuat apa saja,
asalkan ekonomi maju, rakyat lebih makmur dan seterusnya. Para ekonom ini lulusan UI,
tetapi karena yang menaikkan Soeharto pada puncak kekuasaan adalah Amerika Serikat,
maka segera saja pengaruh Amerika sangat kuat. AS langsung saja memberikan segala
fasilitas kepada Indonesia. Antara lain bea siswa sangat banyak buat para ekonom UI ini.
Ketika itu kebanyakan belajar lebih lanjut untuk memperoleh gelar doktor dari
Universitas Berkeley. Karena sudah bersahabat sejak mahasiswa tingkat pertama di UI
sampai dengan dewasa dan menjadi alumni Universitas Berkeley, mereka sangat kompak.
Mereka bukan saja bersahabat seumur hidupnya, tetapi juga mencari jodoh bersama-
sama, berweek-end bersama-sama. Itulah sebabnya kompaknya lantas seperti membabi
buta, dan mereka dengan cara yang sangat halus dan canggih juga melakukan korupsi
bersama-sama. Bahwa mereka tidak bersih baru ketahuan ketika skandal PT Bahana
meledak yang nanti akan diuraikan lebih lanjut.

Sementara kita kembali pada cetak biru pembangunan ekonomi mereka. Kelompok
ekonom berkuasa dan berpengaruh sepanjang pemerintah Soeharto yang 32 tahun
lamanya itu dikenal dengan nama Berkeley Mafia. Mereka sangat bangga dengan sebutan
Mafia. Ini yang agak aneh. Tetapi semangatnya memang semangat Mafia. Barang siapa
tidak mau menurut kode etik mereka dikucilkan dari apa saja, bahkan dari dunia

pemikiran ekonomi. Dan yang lebih dahsyat lagi dikucilkan dari kekuasaan ekonomi.
Maka ekonom-ekonom seperti Rizal Ramli, Sritua Arif, Sarbini Somawinata dan masih
banyak sekali yang jauh lebih pandai dari para ekonom Berkeley Mafia tidak pernah
diberi kesempatan menduduki jabatan penting dalam jajaran pemerintahan, walaupun
yang eselon 2 saja.

Walaupun namanya Berkeley Mafia, para anggotanya tidak perlu dari UI yang
melanjutkan pendidikannya di Universitas Berkeley. Sebaliknya banyak ekonom dari UI
bukan anggota Berkeley Mafia. Yang tidak pernah menginjak UI tetapi jelas anggota
Berkeley Mafia adalah Frans Seda, Radius Prawiro dan Arifin Siregar. Yang generasi
sekarang adalah Boediono dan Anggito Abimanyu yang dari Gajah Mada dan untuk
jangka waktu sangat lama dihina dan dipinggirkan oleh para anggota Berkeley Mafia.

Sampai sekarang, tetapi terutama di dunia Barat, mereka sangat disanjung. Pada satu
penerbitan, ketika pembentukan kabinet tertentu oleh Soeharto, wajah-wajah mereka
dipasang di lembar cover dari majalah Time dengan judul the most qualified cabinet in
the world. Cover story dari majalah Time memang tentang mereka. Diuraikan satu per
satu bahwa mereka semuanya adalah Profesor Doktor. Dikatakan oleh Time tidak pernah
ada dalam sejarah bahwa Menteri-Menteri Ekonomi semuanya Profesor Doktor.

Apa sebenarnya blue print mereka yang terkenal itu ? Widjojo sampai sekarang masih
terkenal sebagai arsitek pembangunan ekonomi Indonesia. Kalau Soemitro adalah
begawan atau Ayatollah Ekonomi.

Segera setelah Soeharto mengambil kekuasaan dan kabinet terbentuk dengan menteri-
menteri ekonomi yang semuanya Berkeley Mafia, mereka di tahun 1967 langsung
mengadakan konperensi di Jenewa yang dipimpin oleh dua dari Triumfirat Orde Baru,
yaitu Sri Sultan Hamengkubowono IX dan Adam Malik. Mereka ini fugur-figur
poitiknya, tetapi tidak mengerti apa-apa tentang ekonomi. Para teknokrat ekonominya
adalah Berkeley Mafia itu. Salah seorang terpenting ketika itu adalah Moh. Sadli, karena
dia Menteri Investasi. Di Jenewa itu mereka berunding dengan captains of industries
Barat, terutama Amerika Serikat. Pimpinan mereka ketika itu adalah David Rockefeller.
Isinya adalah paket penjualan negara kepada para investor Barat. Mereka dengan para
ahli ekonom mereka yang mendikte secara persis apa semua yang harus dilakukan oleh
Indonesia. Modalnya disediakan oleh banyak negara Barat yang bergabung dalam CGGI.
Sampai sekarang eksistensinya masih kokoh. Namanya yang berubah menjadi CGI.

Politik ekonominya ditentukan seluruhnya oleh ahli-ahli Barat dengan bantuan apa saja mesti sukses. Tetapi biaya yang harus dibayar adalah bahwa semua yang dikatakan oleh negara-negara pemberi utang dituruti 100 %. Dengan demikian dalam waktu singkat hasilnya memang menakjubkan.

Utang Indonesia ketika itu hanya US $ 2 milyar, dan sudah tidak dapat membayar. Jadi
utang luar negeri yang diwariskan oleh Soekarno hanyalah US $ 2 milyar. Mestinya IGGI
dengan sangat mudah mau menghapusnya, tetapi tidak. Yang dilakukan adalah
penundaan pembayarannya dengan kewajiban pembayaran bunga masih tetap. Mengapa ?
Supaya merasa utang budi dan supaya Indonesia tidak akan bisa keluar dari

of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...