• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Stages of Faith and Joy
A.Pendahuluan
 Tulisan ini adalah sebuah
book report 
dari buku “Stages of Faith: The Psychologyof Human Development and the Quest for Meaning” karya James W. Fowler khususnyaakan menyoroti
 part 
IV tentang “Stages of Faith” dan
 part 
V tentang “Mary’sPilgrimage.”
1
 Fowler menyusun sebuah teori baru di dalam psikologi agama pada tahun 1980yang diberi nama “Faith Development Theory” (FDT)
2
yang secara panjang lebardijelaskan di dalam buku ini. Ada tiga kata kunci yang menunjukkan kekhasan
1
 James W. Fowler,
Stages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning
(San Fransisco: Harper Collins Publishers, 1995), 117-213 dan 219-268.
2
 Teori ini banyak dipengaruhi strukturalisme kognitif genetik dari J. Piaget (epistemologigenetik); Lawrence Kohlberg (etika genetik); R.L. Selman (sosial genetik); R.Kegan (ego genetik),selain pendekatan psikososial dari Erik Erikson dan teori jalannya riwayat hidup dari Levinsonserta tulisan teologis tentang iman dari H.Richard Niebuhrs dan Paul Tillich. Lihat jugapembahasannya di Part III Dynamic of Faith and Human Development.
 
pendekatan baru ini yaitu masalah “faith,”
3
“development,”
4
dan “theory.”
5
Namun,yang menjadi tinjauan penting di dalam tulisan ini adalah masalah “
stages of faith
/tahap-tahap iman/kepercayaan eksistensial”
6
dan bagaimana relasi ataukaitannya dengan konsep “
 joy 
/sukacita” di dalam Perjanjian Baru (PB) khususnyamenurut rasul Paulus.
7
Oleh karena itu di dalam tulisan ini, penulis akan mencobamengkaji relasi antara “iman” menurut konsep FDT dari Fowler yang di dalamnya jugamencakup cara orang-orang percaya beriman
8
dan “joy” menurut konsep rasul Paulusyang mewakili apa dan bagaimana sukacita orang-orang percaya, yang pada akhirnyaakan di dapat jawaban sejauh mana perkembangan iman itu mempengaruhi sukacitaorang-orang percaya yang sesuai dengan konsep sukacita Alkitab tentunya. Penulisakan membahas beberapa hal yaitu pertama, uraian secara garis besar dan skematistujuh tahap kepercayaan eksistensial/iman. Kedua, tujuh aspek struktural dalam setiaptahap kepercayaan eksistensial/iman. Ketiga, secara garis besar konsep sukacitamenurut Paulus dan ketiga, relasi antara kedua konsep tersebut untuk menjawabsejauh mana perkembangan iman itu dengan sukacita orang-orang percaya.
B.Tujuh Tahap Kepercayaan Eksistensial
Berdasarkan analisis data-data yang diperoleh lewat wawancara-wawancarasemi-klinis, Fowler berhasil membuktikan adanya tujuh tahap kepercayaan yangberurutan. Dengan urutan tahap-tahap itu proses perkembangan dan transformasi polapengertian dan penghayatan arti dalam kepercayaan dapat diuraikan. Secara ringkas,skematis, dan global penulis akan menyajikan pandangan komprehensifnya tentangtujuh tahap kepercayaan. Harus dicatat bahwa Fowler sendiri sering hanya menyebutenam tahap. Tahap pertama kepercayaan awal dan elementer masa kanak-kanak yangpaling awal (0-3 tahun) sering disebut sebagai pratahap atau tahap 0, karena tahappraverbal itu belum diselidiki memadai.
9
 
Tahap 0: Infancy and Undifferentiated Faith (Kepercayaan Eksistensial yang belumterdiferensiasi)
10
 Tahap ini timbul sebagai tahap 0 atau Pratahap (
 pre-stage
yaitu masa bayi 0-2atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “undifferentiated faith” karena:(1) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dandisadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (2) daya-daya sepertikepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta belum dibedakan lewat prosespertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu sama lain dalam suatu keadaankesatuan yang samar-samar. Pola kepercayaan ini disebut elementer, awal dan2
 
dasariah, karena tahap ini mendasari dan meresapi – secara positif dan negatif, denganmenunjang atau menodai – segala hal yang timbul kemudian selama perkembangankepercayaan elementer. Rasa percaya elementer dan dasariah ini timbul sebagaikecondongan spontan yang bersifat pralinguistis – sebelum munculnya kemampuanberbahasa – untuk mengandalkan seluruh hubungan timbal balik antara bayi danlingkungan sekitar, terutama orang-orang yang secara tetap, teratur dan setiamengasuh dan memeliharanya(orang tua, terutama ibu). Kepercayaan elementer inibersifat organismik. Seluruh interaksi timbal balik tersebut menimbulkan dalam diri
3
Fowler membahasnya di bukunya pada bab pertama (1-36). Secara ringkas bagi Fowleryang dimaksud iman atau kepercayaan eksistensial di sini bukanlah iman yang khusus untukreligius seperti kekristenan (Fowler tidak menafsirkan iman secara teologis yaitu sebagaianugerah ilahi yang diberikan secara cuma-cuma, Fowler membatasi diri pada penelitiantentang kepercayaan sebagai dinamika proses sebagaimana tampak dalam perjalanan riwayathidup seorang pribadi atau kelompok, dengan kata lain Fowler mempelajari kepercayaanmenurut dimensi manusia, bukan menurut dimensi Allah), tetapi iman di sini lebih darikeyakinan religius/kepercayaan/
belief 
dan agama/
religion
, merupakan kategori palingfundamental dalam pencarian manusia akan relasinya dengan yang transenden. Tampaknyaiman adalah sesuatu yang umum, suatu ciri universal kehidupan manusia yang dikenal secarasama di mana-mana meski amat bervariasi dalam bentuk dan isinya sesuai dengan praktekkeagamaan dan kepercayaan nyata (14),
faith
berarti kepercayaan eksistensial pribadi atauiman. Pada pemikiran Fowler,
faith
mendapatkan suatu isi semantik yang sangat luas. Ternyata“faith” di sini tidak harus dimengerti sebgai “belief” tetapi terutama sebagai “kepercayaanhidup” atau “kepercayaan eksistensial.” Bersama Cantwell Smith, Fowler membedakan antarafaith, belief dan religion (9-15). Pembedaan ini sangat penting dalam pemikiran Fowler.Menurutnya, faith dapat diuraikan secara tepat sebagai sesuatu yang terpisah dari ajarandoktrinal, keyakinan-keyakinan dan kepercayaan/belief, dan seluruh ekspresinya dalam berbagaiupacara dan simbol keagamaan/
religion
.
Belief 
merupakan keseluruhan isi keyakinan danpandangan religius yang diungkapkan dalam sejumlah representasi tertentu dan dianggapbenar sebagai ajaran resmi agama yang bersangkutan. Religion diartikan sebagai suatukumpulan tradisi kumulatif di mana semua pengalaman religius dari masa lampau dipadatkandan diendapkan ke dalam seluruh sistem bentuk ekspresi tradisional yang bersifat kebudayaandan lembaga. Fowler sangat dipengaruhi oleh konsep kepercayaan Paul Tillich, E.H. Erikson,H.Richard Niebuhr dan Cantwell Smith soal faith, faith adalah perbuatan percaya yang intens,fundamental, dan sangat pribadi di mana seseorang secara kreatif percaya akan nilai-nilai yangpaling akhir dan akan hal transenden yang ultimate, dengan penuh cinta dan kesetiaan. Faithadalah “orientasi seluruh pribadi” dan “merupakan cara fundamental untuk percaya danmenanggapi hidup, entah terjadi dalam bentuk keagamaan tradisional seperti Kristen dan Islam,atau tidak.” Jika faith merupakan suatu tindakan fundamental dari kepercayaan hidup dankesetiaan eksistensional, faith dapat dipandang sebagai “kepercayaan hidup” atau“kepercayaan eksistensi” yang jauh lebih fundamental dan pribadi daripada religion dan belief.Bahkan faith menjadi sumber dan asal yang memungkinkan serta mendasari religion maupunbelief. Fowler tidak pernah bermaksud memisahkan ketiga hal itu tetapi saling keterkaitan eratseperti yang dia nyatakan bahwa faith hendak dimengerti secara dinamis. Faith ini meliputikenyataan bahwa pribadi menemukan arti atau ditemukan oleh arti itu. Faith mencakup baikkonstruktif aktif atas keyakinan dan komitmen maupun sikap pasif dalam menerimanya. Faithmencakup segala ekspresi religius eksplisit dan seluruh pembentukan belief, dan juga segalacara untuk menemukan dan mengarahkan diri pada koherensi dalam lingkungan yang palingakhir, namun yang tidak bersifat religius (Fowler, “The Enlightenment and Faith Development Theory,”
 Journal of Empirical Theology 
vol.I no.1 (1988): 30). Ada berbagai dimensi strukturintern dari faith atau kepercayaan eksistensial yang dirumuskan oleh Fowler (lihat buku C.Dysktra dan S.Parks (eds.),
Faith Development and Fowler 
(Birmingham, Alabama: ReligiousEducation Press, 1986), 15-25) yaitu pertama, dimensi paling dasar adalah dimensi “pemberian
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...