dasariah, karena tahap ini mendasari dan meresapi – secara positif dan negatif, denganmenunjang atau menodai – segala hal yang timbul kemudian selama perkembangankepercayaan elementer. Rasa percaya elementer dan dasariah ini timbul sebagaikecondongan spontan yang bersifat pralinguistis – sebelum munculnya kemampuanberbahasa – untuk mengandalkan seluruh hubungan timbal balik antara bayi danlingkungan sekitar, terutama orang-orang yang secara tetap, teratur dan setiamengasuh dan memeliharanya(orang tua, terutama ibu). Kepercayaan elementer inibersifat organismik. Seluruh interaksi timbal balik tersebut menimbulkan dalam diri
3
Fowler membahasnya di bukunya pada bab pertama (1-36). Secara ringkas bagi Fowleryang dimaksud iman atau kepercayaan eksistensial di sini bukanlah iman yang khusus untukreligius seperti kekristenan (Fowler tidak menafsirkan iman secara teologis yaitu sebagaianugerah ilahi yang diberikan secara cuma-cuma, Fowler membatasi diri pada penelitiantentang kepercayaan sebagai dinamika proses sebagaimana tampak dalam perjalanan riwayathidup seorang pribadi atau kelompok, dengan kata lain Fowler mempelajari kepercayaanmenurut dimensi manusia, bukan menurut dimensi Allah), tetapi iman di sini lebih darikeyakinan religius/kepercayaan/
belief
dan agama/
religion
, merupakan kategori palingfundamental dalam pencarian manusia akan relasinya dengan yang transenden. Tampaknyaiman adalah sesuatu yang umum, suatu ciri universal kehidupan manusia yang dikenal secarasama di mana-mana meski amat bervariasi dalam bentuk dan isinya sesuai dengan praktekkeagamaan dan kepercayaan nyata (14),
faith
berarti kepercayaan eksistensial pribadi atauiman. Pada pemikiran Fowler,
faith
mendapatkan suatu isi semantik yang sangat luas. Ternyata“faith” di sini tidak harus dimengerti sebgai “belief” tetapi terutama sebagai “kepercayaanhidup” atau “kepercayaan eksistensial.” Bersama Cantwell Smith, Fowler membedakan antarafaith, belief dan religion (9-15). Pembedaan ini sangat penting dalam pemikiran Fowler.Menurutnya, faith dapat diuraikan secara tepat sebagai sesuatu yang terpisah dari ajarandoktrinal, keyakinan-keyakinan dan kepercayaan/belief, dan seluruh ekspresinya dalam berbagaiupacara dan simbol keagamaan/
religion
.
Belief
merupakan keseluruhan isi keyakinan danpandangan religius yang diungkapkan dalam sejumlah representasi tertentu dan dianggapbenar sebagai ajaran resmi agama yang bersangkutan. Religion diartikan sebagai suatukumpulan tradisi kumulatif di mana semua pengalaman religius dari masa lampau dipadatkandan diendapkan ke dalam seluruh sistem bentuk ekspresi tradisional yang bersifat kebudayaandan lembaga. Fowler sangat dipengaruhi oleh konsep kepercayaan Paul Tillich, E.H. Erikson,H.Richard Niebuhr dan Cantwell Smith soal faith, faith adalah perbuatan percaya yang intens,fundamental, dan sangat pribadi di mana seseorang secara kreatif percaya akan nilai-nilai yangpaling akhir dan akan hal transenden yang ultimate, dengan penuh cinta dan kesetiaan. Faithadalah “orientasi seluruh pribadi” dan “merupakan cara fundamental untuk percaya danmenanggapi hidup, entah terjadi dalam bentuk keagamaan tradisional seperti Kristen dan Islam,atau tidak.” Jika faith merupakan suatu tindakan fundamental dari kepercayaan hidup dankesetiaan eksistensional, faith dapat dipandang sebagai “kepercayaan hidup” atau“kepercayaan eksistensi” yang jauh lebih fundamental dan pribadi daripada religion dan belief.Bahkan faith menjadi sumber dan asal yang memungkinkan serta mendasari religion maupunbelief. Fowler tidak pernah bermaksud memisahkan ketiga hal itu tetapi saling keterkaitan eratseperti yang dia nyatakan bahwa faith hendak dimengerti secara dinamis. Faith ini meliputikenyataan bahwa pribadi menemukan arti atau ditemukan oleh arti itu. Faith mencakup baikkonstruktif aktif atas keyakinan dan komitmen maupun sikap pasif dalam menerimanya. Faithmencakup segala ekspresi religius eksplisit dan seluruh pembentukan belief, dan juga segalacara untuk menemukan dan mengarahkan diri pada koherensi dalam lingkungan yang palingakhir, namun yang tidak bersifat religius (Fowler, “The Enlightenment and Faith Development Theory,”
Journal of Empirical Theology
vol.I no.1 (1988): 30). Ada berbagai dimensi strukturintern dari faith atau kepercayaan eksistensial yang dirumuskan oleh Fowler (lihat buku C.Dysktra dan S.Parks (eds.),
Faith Development and Fowler
(Birmingham, Alabama: ReligiousEducation Press, 1986), 15-25) yaitu pertama, dimensi paling dasar adalah dimensi “pemberian
3
Leave a Comment